Denting Nada cinta yang lain (lanjutan)

Cerita Malam

Fiuhh … murobathoh lagi! Tapi … ya sudah, ini sudah tugasku, harus kujalankan.
Sebenarnya, sore belum beranjak dari tempat duduknya, ia masih mencangkung menunggu pulangnya matahari, yang kulihat sudah agak bosan kencan dengan siang. Aku sendiri saat ini bersiap untuk tugas nanti. Pun semua orang yang ada di desa ini, terlebih ponpes yang terletak di sudut desa tersebut, tampak semua penghuninya sibuk dengan aktivitas masing-masing, menyongsong adzan Maghrib. Kebanyakan berkerumun di tempat wudlu dan kamar mandi, sebagian di dapur siap-siap buka puasa.
Waktu terus merayap. Bedug Maghrib telah ditabuh. Saat sholat telah tiba dan kusambut dengan gembira. Kulihat, semua orang berbondong-bondong menuju masjid Jami’ ini. aku sendiri mengambil air wudlu, dengan air sisa hujan deras yang mengguyur desa ini barusan. Titik-titik air pun masih nampak satu persatu bertetesan menerpa dedaunan, sebelum jatuh ke bumi membaur dengan air hujan yang mendahuluinya. Kunikmati percikan-percikan air yang terjun bebas dari langit itu.
Sejenak kemudian terdengar koor “Aaamiiin” dari masjid yang diimami seorang pak Haji, berselang tak lama disusul koor dengan lirik sama dari ponpes putri, dekat sekali dengan telingaku. Mengalun syahdu jauh menembus relung kalbuku, “Subhaanakallohumma” tasbihku.
Usai Maghrib, tinggal menunggu Isya”. Kucermati semua kegiatan di desa ini, di ponpes ini juga. Aku berderak kagum, semarak lafadz-lafadz Qur”an mengalun dari mulut-mulut mungil tak berdosa. Masih belum terkontaminasi senyawa karbondioksida kegilaan zaman yang katanya Ronggo Warsito, edan ini. Tak bergeming oleh serbuan gencar acara kartun TV yang sengaja diputar senja hari, saat tabuh berbunyi. Tetap berpegang teguh menelaah UUD yang tak lapuk oleh zaman, yang tak bosan diulang-ulang dan yang tak pernah kena amandemen itu.
Di sisi lain, di serambi masjid, seorang Kiai dikelilingi oleh santri-santrinya, hanyut dalam aliran barokah kitab kuning. Berbagai syarh, ta’liq, mengalir dari bibir beliau, didengarkan, ditingklingake dengan seksama oleh santri-santri mituhu itu, sebagai bekal di hari depan. Aku terkesima.
Tak hanya itu, kudengar alunan lain, paduan suara kompak tanpa dirijen, tanpa instrumen mendendangkan Rotibul Haddad mengalun dari arah Ponpes putri, lebih merdu daripada lagu India, Kuch-kuch Hota Hai, Mann, Kabhi Kushi Kabhi Gham dan sejenisnya. Perasaanku melayang, bersyukur kepada Alloh, ternyata masih ada komunitas yang masih mau menggenggam bara di tengah gemerlapnya dunia yang makin tidak karu-karuan ini. Kutersenyum, malamku masih agak terang, pancaran warna merah merona hitam, belum gelap, Isya” pun berkumandang, sholat tiba.
Sengaja kuberjalan mengelilingi lingkungan santri ini. Entah mengapa aku suka berada di tempat ini. Asma”ulloh al-Husna, untaian sholawat kepada Nabi selalu menghiasi langit daerah ini. Seolah-olah lampu mercusuar berpendar benderang dari tempat ini, membedakan dirinya dari tempat lain yang hanya digaduhkan oleh tawa sengak pemuda-pemuda tidak ada kerjaan. Yang cuma diterangi oleh sinar-sinar kecil yang bermuara dari rokok yang mereka hisap, itu pun masih dikepung oleh asap-asap rokok yang mengkabut, aroma minuman keras menambah busuknya bau gerombolan itu. Mata-mata kuyu tak bergairah namun dipaksa, jelas sekali terukir di wajah tirus morfinis mereka. Ditingkahi dengan petikan gitar berirama tidak karu-karuan. Di sudut lain sekelompok pemuda joget sempoyongan diiringi musik neraka Britney Spears yang diputar dari VCD. Aku menghindar pergi, cih! Jijik memandang mereka, kelakuan mereka lebih tepat. Tapi aku memohon, semoga Alloh memberi mereka hidayah, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti.
Aku berkeliling lagi, lamat kudengar tetabuhan riang berirama rancak, lagi-lagi dari ponpes itu. Bergegas kudekati sumber suara, aku terpesona, ingin rasanya ikut berjingkrak. Denting nada dan instrumental itu bukannya Asereje-nya Las Ketchup atau La Copa De La Vida-nya Ricky Martin. Tapi nadhoman Alfiyah, di sudut lain al-‘Amrithy mengimbangi, tak mau kalah ‘Aqidatul ‘Awwam sama Shorof Jombang melengkapi. Semakin betah daku di sini, mereguk segarnya sirup agama, menghilangkan dahaga, kesegaran yang makin mengering menguap oleh ganasnya kemarau budaya Barat, astaghfirulloh ….
Malamku makin pekat, jarum pendek jam sudah mengarah pada angka 10, semua aktivitas belajar-mengajar di pondok itu telah usai, para santri mulai rehat, bersiap berpergian ke negeri kapuk, diiringi suara jangkrik dan kodok yang saling bersahutan, sebagai musik pengantar tidur yang paling cocok. Bermacam kesibukan jeda ta’lim mewarnai pesantren Salaf ini. Ada yang melanjutkannya dengan muthola’ah, belum puas dengan ilmu yang diterima. Ada juga yang langsung mengganti baju taqwanya dengan kaos, sarungnya dengan celana training, selimut sebagai pengganti surban, juga mengganti kitab dengan bantal atau pena dengan guling. Dan so pasti ada yang menemaniku jaga, murobathoh, atau muroqobah istilah mereka, sekitar 4 santri, yang jelas semua sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Bosan ah, rutukku pelan, sengaja untuk menghilangkannya aku jalan keliling pondok ini. Kulihat seorang santri sendirian berdiri menghadap bangunan di sebelah selatan masjid, asyik melihat “proyek”nya itu. Di bagian lain, seorang santri tampak berlari-lari kecil kesana-kemari sembari menenteng berbagai alat-alat pertukangan yang ada di tas mungilnya. Sengaja juga aku berputar keliling ndalem, iseng kulihat balkon lebar yang menghadap ke timur, di sana ada 3 santri putri, yang dua asyik berbincang membahas majalah pesantren edisi terbaru, sementara yang satunya tampak termenung, entah ia berdzikir karena di tangan kanannya seuntai tasbih tak mau berhenti berputar, entah juga kalau ia melamun, mengingat kekasihnya yang merantau jauh mencari ilmu. Bisa jadi sang kekasihnya itu saat ini juga sedang mengenangnya, memutar kaset perjalanan cinta di antara keduanya. Keindahannya juga kedukaan tak terwujudnya pertautan apalagi jika ternyata jatuh ke teman sepenanggungan. Entah juga kalau ia bertafakkur, menghitung bintang-bintang kecil yang bertaburan mengiringiku, mencoba berbicara dengan bulan yang kini tersenyum lebar dengan kepurnamaannya. Tapi, ah … kalau bulan bisa ngomong (kayak lagunya Doel Sumbang), nampak si gadis itu sedang menikmati panorama ketampananku, anugerah Tuhan duli semesta alam. Malamku makin kelam, cericit kelelawar bersautan bersaing dengan musik Rock ‘n Roll jangkrik dan katak di bawahnya.
Aku berkeliling terus, satu persatu rumah mulai mematikan lampunya, gelap bak pemakaman. Namun tidak dengan masjid ini, juga ponpes ini, otomatis ndalem sang Ustadz pula, meski semua gulita, tetapi tidak dengan kawasan ini, ia tetap hidup dalam kematian, 24 jam. Alunan dzikir tak hentinya membumbung tinggi ke angkasa, membentuk tangga, tangga yang tiada putusnya. Kurasakan kepakan sayap malaikat ramai terdengar di sini, laksana serangga malam yang mengerubuti satu-satunya lampu di taman.
Empat kawanku yang “begadang ibadah” sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang menemaniku keliling, ada yang masak untuk makan tengah malamku nanti, ada juga yang serius konsentrasi dengan kitab kuningnya. Tak ketinggalan musik dzikir Langitan dan Raihan diputar bergiliran, sebagai selingan di tengah kesepian malamku ini.
Dan sekali lagi aku iseng melongok, eh melirik asrama putri, waktu makin gelap, masih ada beberapa santri yang belum terbuai mimpi. Dua gadis ngobrol ngalor-ngidul sembari menunggu sapaan kantuk, terdengar juga bunyi al-Qur”an, bukan dari kaset, lamat terdengar dari Ponpes ini. Getaran halus yang sanggup mendirikan bulu kuduk merinding merayapi diriku, mengalir di seluruh persendianku. Ingin kuteteskan airmata karena terharu, tapi kali ini tiada mendung, aku hanya tersenyum. Kulihat balkon lagi soalnya jendela barat sudah dipaku pati. Mungkin si gadis masih ada … eh … sudah tidur rupanya, atau … mungkin saja bisikan suci ayat-ayat langit itulah yang keluar dari bibir gadis tadi, ah … wallohu a’lam, kuteruskan perjalananku, dini hari hampir tiba, berarti hampir habis pula waktu tugas jagaku.
Sebenarnya ada satu yang kurindukan, bunyi kentengan tiang telepon, yang dulu selalu berdentang tiap jam, diketuk oleh seorang bapak, yang dulu konon pendekar. Namun ia telah menghadap ke Dzat yang dicintainya, 10 Dzul Hijjah yang lalu. Dia istiqomah mengetuk tiang telepon itu, yang kini sudah tidak terdengar lagi, membisu dengan kesunyian malamku.
Sekarang sudah pukul dua hari, seharusnya tugasku sudah selesai, tapi kegelapan menahanku. Waktu terus berjalan, akhirnya yang kutunggu tiba, sholah-sholah terlantun dari salah satu teman jagaku, menggugah alam yang tertidur sejak ba’da Isya” tadi, kala malamku merambat gelap.
Beberapa santri yang asyik bergurau dengan mimpi, terusik dan segera bangun, untuk bertahajjud, kencan munajat dengan Penciptanya, berduaan diantara jutaan makhluk yang tenggelam oleh air liurnya. Aku terharu, semoga mereka dirahmati Alloh, Kreator alam semesta ini, dimasukkan surga-Nya dengan sebuah happy ending, khusnul khotimah. Kuresapi adengan ini, skenario indah Ilahi.
Sejenak kemudian, koor hasbunalloh wa ni’mal wakiil mengalun, yang diawali oleh Sholawat Munjiyat untuk sang Kakek Guru. Berbagai hibz, mulai Nashr, Bahr, Zajr, Syaikh, Nawawiy, Ikhfa”, sampai Sakron, turut menjadi instrumen konser ukhrowi ini. Sesekali pertunjukan ini diselingi oleh tarian, goyangan jari yang membentuk sketsa pagar mengelilingi diri, suur-suur-suur.
Tersusunlah semacam konvigurasi indah di atas kopyah-kopyah mereka, bak rangkaian bunga-bunga mawar, melati, dahlia, anggrek, sedap malam yang akan dihaturkan pada sang pujaan hati. Ribuan entah jutaan malaikat mulai mengepak sayapnya, bersiap membawa rekaman aurad ini untuk diputar di hadirat-Nya, seraya tebaran rahmat dan hujan maghfiroh mengguyur mereka, halaqoh berkopyah juga halaqoh berkerudung. Semua sama, basah kuyup tersiram barokah, walaupun ada beberapa malaikat yang cemberut karena melihat beberapa santri yang ngantuk. Tetapi Alloh telah memberi garansi, ”Hum al qoumu laa yasyqoo bihim jaalisuhum.”
Aku bergumam; Allohumma nikmatnya, Allohumma syahdunya, Allohumma indahnya. Tak tertinggal juga orang-orang yang mau menjauhkan lambungnya dari dipan di beberapa rumah di desa ponpes ini, turut riang berpesta pora, haflah.
Aku berbangga, inilah sepertiga akhir malamku, waktu di mana Robbku turun ke langit dunia seraya berkata,: “Siapa yang mohon ampun kuampuni, siapa yang meminta suatu hajat pasti kukabulkan,” aku tergetar, Allohumma hebatnya. Batu, pohon, binatang malam pun tidak mau kalah, berlomba-lomba mensucikan-Nya, subhaanalloh, Allohumma merdunya.
Waktu makin merayap, pagi masih buta, sang Raja Siang sama sekalipun belum terbangun dari tidurnya, ia masih terlelap, berselimutkan kabut kepekatan diriku yang tebal. Hawa dingin pun masih menyergap membekukan tulang sumsum siang, membuatnya masih enggan menyingsingkan lengan ufuk timurnya, sekedar menyingkap sedikit kuning langsat kulit mulus cahayanya.
Ayam jago pun masih kalah cepat dengan para santri itu, ia malas berkokok, asyik meringkuk di kehangatan kandangnya. Tapi, ah … sebentar lagi Shubuh, dalam hati aku bersenandung, “Malam panjanglah, kantuk hilanglah, Shubuh berhentilah, jangan terbit dulu,” menirukan lagu religius para Sufi.
Namun giliranku sudah hampir habis, adzan Shubuh telah memecah kesunyian, menyambut kawanku yang kini sedang menggeliat. Sebelum istirahat, kusempatkan berwudlu dengan sejuknya embun pagi. Lalu, salam dan senyum siang merekah menyapaku, kubalas salam dan senyuman itu, aku harus bergeser ke barat, rehat dahulu, pun aktivitas ponpes ini telah mendenyutkan kembali nadinya, menyongsong hari baru yang penuh barokah. Disambut dengan iftitah Sholawat Nurul Anwar, diikuti wirid-wirid Robbani blanko kewalian, diramaikan pagelaran Qoso”id dan Anasyid, Allohumma amboi asyiknya.
Kutinggalkan daerah ini dengan penuh kepuasan, ingin rasanya aku tugas lagi, bergegas kembali kesini, bercengkrama dengan santri-santri mituhu ini, tapi ah masih 12 jam lagi. Aku hanyalah malam yang harus berputar. Tiada apalah, toh nanti ke sini lagi, yang penting sam’an wa tho’atan sama Raja Diraja alam ini, menggapai ridlo-Nya.
Kuucapkan untuk kalian, ma’as salamah ilal liqo”, selamat menempuh hari baru, mereguk ilmu, merengkuhnya. Semoga kalian bisa mengamalkannya. Memanfaatkannya untuk diri, keluarga, masyarakat dan bangsa kalian, semoga, Aaamiiin Allohumma, akan selalu kurindu kalian, tunggu daku … 12 jam lagi.
Pujon, akhir 1423 H
* Reshuffle:
Tanah kelahiran. Janib syari’ mauroq al-ijhy,
Jumad 1426 H.
7

Setetes Embun Pagi
By: M. Amiruddin

“Nak, apa kamu sudah mantap melanjutkan cari ilmu di pondok, nggak getun nanti?” kata emakku waktu itu.
“Nggak, Mak. Aku sudah mantap kok. Lagian kata emak, emak kan pingin punya anak yang pinter ngaji, dan berbakti pada orang tua, ya khan?” kataku polos. Mak waktu itu tersenyum tanda setuju kemudian menggeleng seolah kagum dan mengerti benar tekadku untuk mondok, mencari ilmu bekal di hari nanti.
“Mondok iku melarat lho, kudu betah melek, jam telu wes kudu tangi kanggo tahajjud, mangane yo ngono ora enak-enak, gelem mangan karo krupuk utowo iwak asin thok, nek kepingin pedes yo nyeplus lombok, kepingin asin yo ndulit uyah”, nasehat emak sekali lagi.
“Ndak apa-apa, Mak. Sholeh siap kok dengan keadaan itu”, sifat luguku tak bisa dihilangkan, mak spontan memelukku erat tak kuasa menahan haru, berderai air matanya, diciumnya aku berkali-kali.

QQQ

Akhirnya hari itu datang juga, hari pertama kakiku melangkah di kawasan pesantren Salaf yang diasuh ulama alim nan sholeh. Detik, menit, dan jamku yang pertama terisi dengan adegan penelitian dan pengamatan yang terasa asing oleh mata ini. Selanjutnya, malam tak terbendung untuk memaksa mata ini terpejam kemudian bermimpi.
Aneh, tak biasa aku bangun sepagi ini, terdengar sayup-sayup santri tukang mbangunin yang belum sampai di kamarku, tapi tumben, aku bisa bangun sendiri. Pikiranku terheran, padahal biasanya kalau pantatku tidak ditendang delapan kali, aku nggak bakalan bangun. Ini kok bisa bangun sendiri sepagi ini? Mungkin sejak awal ketika ingin kubaringkan tubuh ini, aku dihantui perasaan takut molor, takut kesiangan seperti kebiasaan di rumah, aku harus bangun pagi, malu sama santri di sini tekadku.

QQQ

Siang berganti malam, dan malam pun terbilang hari bersama jati diriku yang baru. Ya, mulai dari aktivitasku yang banyak diisi dengan mempelajari ilmu agama, bangunku yang harus pagi, sholatku yang harus tepat waktu, kalau tidak kepingin dijemur sambil nulis sholawat, atau mengeruk selokan dekat pondok putri, mandi yang selalu antri, dan hal-hal baru yang masih banyak lagi. Nahwu, pelajaran baru yang namanya baru aku dengar tadi pagi. Aku nggak ngerti pelajaran apa itu, yang jelas aku mulai berkenalan dengan ini pelajaran, ada kalam, kalimat, kalim. Waduh mbulet amat pikiranku, padahal baru membedakan tiga biji definisi saja. Iki piye toh, tapi lama kelamaan ngerti juga, aku dapat membedakannya.
Masalah tidak sampai di sini, ngaji Qur”anku pun masih lamban sekali, belum lancar, mungkin dengan anak Diniyah pun aku kalah. Pelajaran yang namanya Shorof Jombang pun nggak ketinggalan menuntut untuk dihafalkan. Entah berapa kali aku harus dijemur di lapangan gara-gara nggak hafal-hafal, atau pas lagi suntuk aku pun mbulet nggak mau menghafalkan.
Hingga waktu berjalan, tak terasa sudah beberapa tahun aku tinggal di pondok. Yang penting kini aku menginjak untuk menghafalkan nadhoman al-‘Amrithy yang katanya ada 250 biji itu. alhamdulillah, dalam jangka satu bulan aku menghafalkan pembukaannya dan mulai menginjak bab Kalam, alhamdulillah dalam waktu tiga minggu pun selesai, meskipun harus dijemur beberapa kali, belum lagi ejekan dari teman-teman yang membuat dada ini sesak seperti mau meledak.

QQQ

Entah, setan apa yang merasukiku, dedemit apa yang berhasil merayuku hingga semangatku tiba-tiba ambruk. Aku benar-benar nggak kuat lagi, aku benar-benar putus asa. Memang aku menerima, aku ikhlas Tuhan telah menciptakan aku dengan otak yang tidak cerdas. Tapi, kenyataan berbicara lain, aku benar-benar lemah, aku tak kuat lagi menyelesaikan tugas ini. Ya Alloh, tolonglah hambamu … Ya Rosulalloh bantu umatmu yang banyak dosa ini .…
Tuhan tunjukkanlah jalan
Agar kulupakan semua
Kegagalan hidup ini
Bisa berlalu dalam hidupku

QQQ

Kaleng susu kosong itu kutendang keras-keras hingga terpental jauh kemudian berputar-putar tak teratur seperti ruwetnya pikiranku saat ini. Langkah kakiku kian lama kian gontai, seakan tak kuat lagi meyanggah tubuh yang berat ini, seakan tak kuat meyanggah beban yang memusingkan ini. Haruskah aku meninggalkan pondok kesayanganku, teman tercinta, apalagi guru terbaik?
“Haruskah aku menyerah sampai di sini dan putus asa?” Tak terasa tubuhku ambruk di tanah becek bekas hujan, mulutku meringis, hatiku menangis, menangis sejadi-jadinya, air mataku kian deras mengalir, menjadi saksi bisu. Oh Tuhan … haruskah riwayatku tamat sampai di sini dan belum setetes pun madu yang kuharapkan berhasil kucicipi? Oh Tuhan .…

QQQ

Kuketuk pintu kamarku dengan lesu sembari mengucapkan salam dengan suara perlahan. Suara ibu dari arah dapur lirih aku dengar menjawab salamku.
“Eh, kamu toh le, lho kenek opo sampeyan? Kok pucat, kamu sakit ya le? Bilang sama emak!” Aku hanya diam dengan kepala tertunduk lesu.
“Ada apa toh le … cerita sama emak, ayo ngomong sama emak!”
Selanjutnya aku tak kuat lagi menahan air mata ini untuk menetes, dan emak pun memelukku tak mengerti. Aku merasa hangat, hangat sekali meskipun belum bisa menghilangkan kegundahan jiwaku saat ini.

QQQ

Hari-hariku di rumah dipenuhi dengan tidur dan tidur, atau merenung di belakang rumah. Aku yakin emak heran melihat perubahan sikapku yang drastis, yang biasanya ceria, kini tiba-tiba murung dan senang menyendiri di kamar, makan kalau tidak diundang beberapa kali baru mau makan. Sudah beberapa kali emak mempertanyakan tentang diriku dan berusaha membujuk aku supaya mau menceritakan apa yang terjadi, tapi jawabanku selalu sederhana, “Nggak ada apa-apa kok, Mak. Cuma Sholeh kurang enak badan.” Untuk saat ini mak nggak boleh tahu dulu bahwa aku ingin keluar dari pondok, aku nggak ingin membuat emak kecewa secepat ini.
Hidupku kini tiada arti.
Bagaikan burung di dalam sangkarnya.
Aku ingin bebas dari derita.
Tuhan tolonglah diriku
Dari belenggu nestapa

QQQ

“Le … kapan sampeyan berangkat le …? Nanti sampeyan banyak ketinggalan pelajaran lho, engko dimarahi pak guru nek ditakoni ora biso.” Emak yang melihat aku kembali segar mengingatkan aku lagi pada pondokku.
“Cukup emak saja yang nggak bisa ngaji, jadilah santri yang penurut, patuhi nasehat guru, patuhi segala peraturan, teruskan cita-cita emak yang kandas, emak dulu pengen bisa ngaji tapi nggak punya ongkos untuk naik angkot ke rumah pak Kiai, dan emak nggak bisa beli kitab karena adik-adik emak yang masih kecil saat itu. Pokoknya kamu harus membuat emak bangga, emak mengidamkan bila punya anak yang pinter ngaji, rasanya hati ini disiram es yang sejuk”, mata emak menerawang ke luar jendela sembari tersenyum, seolah beliau yakin apa yang dia idamkan bakal tercapai.
Melihat pemandangan ini dan mendengar kata-kata emak barusan, mataku tak kuat untuk tidak berkaca-kaca, segera kupalingkan wajah dari pandangan emak sebelum akhirnya butiran bening itu menetes lagi. Aku masuk ke dalam kamar, kutumpahkan sepuas-puasnya isak tangisku, hingga akhirnya aku tertidur pulas, pulas sekali.

QQQ
Kepalaku tertunduk menekuri lantai, sementara Syaikhunaa marah hebat, nasehatnya kini benar-benar membuat mataku berkaca-kaca.
“Bukan jantan orang yang pasrah pada Qodlo Qodar. Rubah nasibmu, tingkatkan taqwamu, maka ilmumu akan ditambah, ilmu itu dari Alloh bukan dari kekuatan belajar, ingat:
اَلْعِلْمُ مَوْهِبَةٌ
Wis, pokoke sing tenanan, ngaji sing tenanan, ojo kumantel karo awak, kumantelo karo Alloh, mangkane jaluko maring Alloh.
Ojo takluk karo Nahwu,
هِمَّةُ الرِّجَالِ تَهْدِمُ الْجِبَالَ
Pokoke dadio wong giat, sing temenan, madepo maring Alloh. ngerti nggak kang!!!”
Dawuh-dawuh Syaikhunaa barusan bagaikan sebuah obat kuat, bagaikan spirit, laksana bayam bagi Popeye si pelaut, hingga membuat tubuhku melayang, seakan terbang tinggi. Tapi tiba-tiba jatuh, bruk …. Kulihat sekelilingku, pemandangan yang tak asing bagiku, terlihat tembok-tembok kamarku. Ternyata aku jatuh dari tempat tidur.
Tapi sungguh aneh … aku merasakan perasaan yang luar biasa, aku seperti menemukan semangat baru dalam hidupku.

Akhirnya aku bangkit, kukemasi lagi barang-barangku, besok tepat hari Rabu aku akan kembali ke pondok dengan niat menghilangkan kebodohan diri sendiri, selanjutnya menyebarkan ke tengah-tengah masyarakat. Aku bertekad untuk membahagiakan orang tua, aku tidak ingin mengecewakan mereka, meskipun Alloh menciptakanku dengan kecerdasan yang sangat kurang, aku nggak perduli.
Hanya satu kenyakinanku
Bintang kan bersinar
Menanti hidupku
Bahagia kan datang

Matahari pagi
Pancarkan sinarmu
Agar aku merasakan kehangatanmu
Biarlah mimpi buruk kemarin
Tetap menjadi sebuah mimpi.

QQQ

Untuk yang merasa, jangan menyerah yah. Mulai hari ini, buka sebuah lembaran baru, tatap dunia, tatap masa depan tuk meraih cita-citamu. Ingat!! Gusti Alloh Maha Rohman Rohim. Setuju? Wassalam.

8

Sang Gus

Percakapan empat mata itu tiba-tiba hening, sehening malam itu.
“Jadi, benar apa yang kamu katakan itu?”
“Hmm, setidaknya begitu, melihat gerak-gerik mencurigakan selama ini, juga bisik-bisik yang terdengar nyaring. Tapi … kita harus ada bukti juga, insya Alloh aku akan mencari informasi lebih lanjut.”
Tak ada jawaban, hanya terdengar gemeletuk gigi disertai desahan nafas berat, sebelum sekepal tangan memukul dampar kayu yang biasa dibuat ngaji, yang ada di depannya, ada kemarahan di sana.
“Memang, jendela itu harus kututup, sejak dulu ia sering menimbulkan fitnah”, ujarnya seraya sepasang matanya menyorot tajam mendongak ke arah jendela pondok putri, yang malam itu sudah menutup dan gelap.
Teman bicaranya hanya diam, tidak menyahut. Cuma desau angin malam yang menjawab rangkaian kata-kata itu barusan.

QQQ

Seantero ndalem dan pondok putri sudah berdenyut kembali dengan aktifitas ta’lim, begitu juga pondok putra, setelah istirahat sejenak untuk masak, mandi, cuci, muthola’ah, dan sebagainya, pagi itu pukul delapan lebih sedikit. Dengungan do’a “Sa”altu” dan qoso”id terdengar dari semua sudut pondok itu, terutama dari kelas yang ada di ruang tamu, kelas Nahwu, terdengar lebih jelas.
Tetapi seorang pemuda masih nampak berdiri mematung di depan TV, dahinya terlihat berkerut, ada sesuatu sepertinya yang kini memenuhi pikirannya.
“Mahmud, kamu nggak ngajar?” suara teguran dari meja makan membuyarkan lamunan pemuda itu.
“Oh … Sebentar lagi, Ba .…” Hanya jawaban pendek itu yang muncul, Syaikhunaa meneruskan sarapan paginya itu.
Sejenak kemudian, desahan berat terdengar keluar dari bibirnya, ia matikan TV dengan remote yang ada di genggamannya. Gontai ia berjalan ke kamarnya.
Dan di ruang tamu, pemuda itu sejenak menghentikan langkahnya, ketika melewati santri putri yang asyik berbincang satu sama lain mendiskusikan pelajaran Nahwu mereka, buat persiapan menghadapi rentetan pertanyaan dari sang guru yang pasti marah besar jika pertanyaannya tak mampu atau keliru dijawab.
“Eh, gimana I’robnya Aamantu billah?” ucap pemuda itu setelah diam sebentar. Serentak wajah-wajah berbalut jilbab itu mengarahkan pandangan lembut mereka ke sang pemuda yang berdiri di belakang mereka, sebelum diikuti senyuman sembari menunduk dari wajah-wajah ayu itu, malu.
Tak ada jawaban kecuali bisik-bisik sambil sedikit tawa kecil dan saling pandang di antara mereka.
“Masak tidak bisa? Apa malu? Jangan takut. Nahwu itu gampang, kalian harus hafal semuanya di luar kepala, rugi lho kalo nggak hafal. Nahwu nggak sulit kok, aku dulu juga sering dimarahin seperti kalian, tapi hasilnya? Masya Alloh .…” dicobanya memberikan semangat dan kekuatan ke sekelompok santri putri itu, santri-santri asuhan Abah-Uminya. Kini, sembari mengulas senyum manis penuh makna yang menghiasi wajah teduh berkaca mata itu, meski agak sedikit dipaksakan. Lantas diteruskannya langkah ke kamar, bersiap mengajar.

QQQ

Tak ada keterangan istimewa yang disampaikan Mahmud di ta’lim Nahwu untuk fashl awwal pagi itu. Tidak seperti biasanya, ia malas juga tidak streng, pun bubar lebih dini. Setidaknya santri fashl awwal hari ini keluar kelas dengan perasaan lega, karena tidak ada satupun umpatan “Goblok!!” dari si Gus yang terkenal killer kalau mengajar itu.
Setelah mengajar, dengan agak mendadak, Mahmud mengumpulkan senior-senior. Ada sesuatu hal yang pelik rupanya, mereka segera duduk-duduk di tempat biasanya Ustadz Ishom mengajar, fashl robi’, kelas tertinggi di pondok itu.
“Kalian telah dengar isu tersebut kan?” Mahmud membuka percakapan, dingin, semua mengangguk dan mengarahkan pandangan kepadanya.
“Apa yang harus kita lakukan Gus?” Ustadz Zainuddin mencoba memancing pertanyaan, Mahmud hanya menerawang, tak ada jawaban.
“Masalahnya, kalo ini terjadi antar santri sih mungkin tidak serumit ini, tapi ini keluarga ndalem,” agak hati-hati Ustadz Ishom mengucapkan kalimat itu, takut sang Gus tersinggung.
“Ternyata, berat juga memikul sebuah amanah, apalagi kalau menyangkut langsung orang-orang yang kita cintai,” akhirnya, keluar juga suara Gus Mahmud.
“Tahu kan, asbabul wurudnya Lau kaanat Faathimatu bintu Muhammad saroqot, la qotho’tu yadahaa?” ujarnya lagi seraya menatap wajah-wajah senior itu.
“Bagaimana pendapat kalian?” Semua terdiam.
“Tapi sungguh, desas-desus itu membuat hatiku panas, peraturan telah dilanggar. Mungkin, kalau sekedar cinta, aku masih bisa mentolelir, tasaamuh, karena itu wajar. Tapi, kalau lebih dari itu .…” Kalimat itu terputus, berganti dengan pukulan pelan dari tangan yang terkepal erat ke arah meja di depan Gus muda itu.
“Apa langsung ke Syaikhunaa, Gus?” seorang ustadz muda berkacamata yang terkenal suka membaca mengeluarkan usulnya.
“Tidak, jangan langsung ke Syaikhunaa”. Tiba-tiba usulan itu dihalang oleh Mundzir, Ro”is Aam yang juga sepupu Mahmud.
“Sebisa mungkin, kita terlebih dahulu yang menyelesaikan masalah ini, baru ke Syaikhunaa. Tapi … yah … terserah Gus Mahmud juga, soalnya .…” Mundzir tak meneruskan kalimatnya, matanya melirik ke Ustadz Ishom.
“Benar, Mundzir benar .…” Gus Mahmud mengangguk-angguk sembari memegang dagunya.
“Lagipula, aku masih kasihan dengan dia, juga dengan adikku sendiri. Aku tahu betul bagaimana Syaikhunaa bila mendengar kata pacaran, aku tak sampai hati juga hal ini terdengar Syaikhunaa. Malah, aku lebih berani melaporkan kasus pencurian daripada pacaran kepada beliau.” Urainya.
“Ah … ‘ala kulli haal, ketegasanku kali ini diuji dan ditantang,” Gus Mahmud duduk tegak, pandangan dibalik kaca itu lurus ke depan.
“Tapi … aku akan tutup dulu jendela-jendela keparat itu!” Tiba-tiba nada suara Gus Mahmud sedikit meninggi, ada emosi tertahan disana.
“Lalu, langkah kita, Gus?” Ustadz Ishom mencoba bertanya lagi.
“Ah, Ustadz, antum paling senior di pondok ini, termasuk murid pertama Abah saya, qudamaa”. Aku kira antum lebih tahu langkah yang harus kita lakukan. Tetapi tetap, kita selidiki lebih dulu agar lebih jelas beritanya. Kamu juga Ustadz Zainuddin, aku tahu kamu lebih dekat dengan dia.”
“Terus sampeyan sendiri, Gus?”
“Sebagai sadd-ud dzari’ah, akan kupanggil dia dulu, akan aku tahdzir dia. Kalau memang ini benar, setidaknya dia hati-hati. Dan kalian bergantian menanyai dan terus menggali informasi, ini demi kebaikan kita bersama, terutama bolo pleknya,” Mahmud menerangkan strateginya.
“Ehm … tapi sampeyan setuju nggak Gus, seumpama dia .…” Ustadz Zainuddin mencoba mencairkan suasana tegang itu.
Mahmud paham pertanyaan itu, dia hanya tersenyum tipis, “Yang diinginkan adikku harus hafal Alfiyah, Qur’an dan bisa melewatiku.” Semua tersenyum simpul.
“Oh iya, tidak pakai intel-intel Dephan, Gus?” Mundzir mengingatkan.
“Kali ini tidak, aku agak kecewa, Udin yang sejak awal kupasang sebagai intelku ternyata …” Gus Mahmud tidak meneruskan kalimatnya. Tetapi dia membongkar satu nama intel yang begitu dia rahasiakan selama ini dan menjadi momok menakutkan bagi setiap santri itu.
“Oh iya, Gus,” Ustadz muda berkacamata tiba-tiba mengalihkan semua mata menuju padanya.
“Aku ingat sesuatu, selama ini menjelang tidur, sayup-sayup aku dengar Udin bicara dengannya. Sepertinya bukan Neng Salwa yang mereka bincangkan. Ada nama lain, Rani,” terangnya.
“Rani?! Huh .…” Gus Mahmud hanya tersenyum tipis, sinis.
Dan pertemuan singkat itu harus diakhiri, karena semua santri sudah menata shof, Dluha berjama’ah.

QQQ
Hari-hari ini pondok nampak begitu menggerahkan, setidaknya bagi seorang santri yang kali ini terpekur di kamarnya. Namun tidak bagi teman-temannya, rupanya ada santapan hangat nan empuk di depan mereka. Paling tidak lumayanlah buat intermezzo, selingan dari ketegangan belajar, sudah lama juga pondok tidak ada bahasan aneh, nggak KISS, Kisah Seputar Santri.
Malah lebih seru dari mading, begitu salah satu santri bilang. Dan gosip itu tak akan sesanter ini andaikata pelakunya “hanya” santri biasa, wong gitu aja udah heboh, apalagi ini, melibatkan langsung Neng Salwa, putri Syaikhunaa!
Entah angin apa yang bertiup, tiba-tiba sang Neng terlibat cinta dengan seorang santri yang memang selama ini terlihat unik di depan teman-temannya. Antiknya, ternyata si santri membalas cintanya tanpa tahu kalau yang ia cintai adalah Neng!
“Sangar tenan, wis pinter opo de’e?!”
“Sopo seng disenengi?”
“Neng Salwa, jarene .…”
“Dudu’, ora Neng Salwa, gendeng tah lah?! Wong jarene Rani kok .…”
“Rani? Mosok? Jarene mbakku Neng Salwa, gak ono jenenge Rani na’ pondok iku .…”
“?????”
Tak hanya pondok putra, di pondok putri kasak-kusuk itu lebih panas lagi.
“Apa kehebatan dia sih? Kok Neng Salwa sampai tergila-gila?”
“Pake’ pelet kali”
“Huss …!!!”
Hal itulah yang memusingkan Mahmud, dia seolah ditampar dua kali, kiri kanan. Pertama dari peraturan yang jelas dilanggar adiknya, kedua dari adiknya yang memicu pelanggaran itu … kedudukannya sebagai ketua keamanan serasa dilecehkan.
Dan rahang si Gus semakin mengeras, bibirnya mengatup rapat dengan suara derak gigi yang terdengar jelas, ketika dia mendengar informasi, ternyata keduanya sering surat menyurat, janji jumpa di pasar, saling senyum dari jendela! Bahkan kala tahu adiknya mengajak temannya ke rumahnya, meski tidak bertemu, wajahnya seolah dicoreng lumpur dicampur kotoran.
“Ini penghinaan, mencoreng nama baik, melanggar syara’, adab! Kurang ajar! Setan apa yang membisiki Salwa sehingga seberani itu! Bangsat!” Mahmud mengumpat keras sendiri, sengaja masalah keluarga ini dia simpan, Abah-Uminya sengaja tidak diberi tahu. Sikapnya di depan Salwa pun masih pura-pura tidak tahu apa-apa, menunggu waktu, pikirnya.

QQQ

Tanpa menunggu lama, sore itu Mahmud segera memerintahkan penutupan semua jendela barat. Siang sebelumnya, dia konsolidasi dengan pengurus pondok putri memperketat waktu dan jumlah santri yang keluar.
Sore itu juga, si Gus memanggil si santri. Meski kemungkinan dia mengira bahwa masalahnya, paling tidak siapa yang dia cintai belum bocor. Tapi, Gus Mahmud rupanya sudah tahu semuanya.
“Kamu mengerti kan, apa aturan di pondok ini?” santri itu hanya mengangguk, matanya tak berani memandang Mahmud.
“Kamu juga mengerti kan apa undang-undang di pondok ini?” Mahmud menatap tajam pada pemuda itu, yang ditatap makin menunduk, sepertinya ia benar-benar ketakutan.
“Akhir-akhir ini aku mendengar desas-desus masalah percintaan seorang santri pondok ini. mulanya sih aku menganggap hal itu sepele, saolnya sebulan yang lalu pernah beredar gosip semacam itu, jadi aku anggap gosip kali ini juga sama”. Gus Mahmud berdiri seraya membelakangi pemuda itu.
“Dalam hal ini, masalah ini aku yang akan menangani langsung, keamanan ada dibawahku”. Mahmud berujar tenang, kata-katanya penuh wibawa, mirip sekali dengan Abahnya. Dia masih memberi kesempatan santri itu untuk “memperbaiki diri”. [ Baca kembali “Awal yang Indah Akhir yang Didamba”, AM. Ilalloh, DCP 2003.]

QQQ
Salwa hanya bisa menangis. Mahmud kakaknya, menasehatinya dan mencecarnya habis-habisan.
“Kali ini kamu hanya bisa menangis, Salwa, kamu tidak bisa lapor Abah-Umi, kalau tidak kamu bunuh diri kamu sendiri, ” Mahmud berkata tenang.
“Aku sarankan, jangan teruskan, aku tidak setuju pemuda itu, lagipula kamu masih kecil. Ngerti apa kamu?! Terus setan apa yang membisikimu sehingga kamu seberani dan senekat itu? Merusak nama Abah, pondok, mbah dengan cara seperti ini?!” Tak henti Mahmud menyudutkannya.
“Kakak kejam, hanya mau menang sendiri, lihat diri kakak juga! Bagaimana dengan Mbak Fauziyah?!” Dalam tangis Salwa melontarkan pertanyaan sangat memojokkan itu, Mahmud terdiam mendengar nama Fauziyah disebut.
“Kamu benar Salwa, tapi akibat yang ditimbulkan laki-laki tidak separah yang ditimbulkan perempuan. Kehormatan keluarga tergantung di perempuan,” Salwa lagi-lagi terdiam, dalam hati dia membenarkan ucapan kakaknya itu.
“Lagipula, keadaan tidak memungkinkan bagiku untuk tidak bertemu Fauziyah, aku masih pulang ke rumah, Fauziyah kalau ngaji pun turun ke bawah. Setidaknya aku tidak pernah berduaan, surat-suratan dengannya. Aku hanya mencintainya dan itu normal. Lagipula … aku tidak pernah ke rumahnya”, kalimat terakhir Mahmud benar-benar membungkam Salwa, ditinggalkannya adik kesayangannya itu dalam kesendirian.
“Ini karena … aku menyayangimu, Salwa,” Mahmud berbisik lirih sendiri seraya melangkahkan kakinya ke masjid.

QQQ

Sejak Mahmud memanggil santri itu, dan menatar adiknya, berangsur namun pasti keadaan membaik, keduanya nampak mengambil sikap hati-hati.
Dua bulan pun berlalu, seolah kasus itu selesai sama sekali, semua pun berjalan normal seperti sedia kala. Mahmud bisa menghirup nafas lega.
Tapi kelegaan itu hanya berumur dua bulan. Ya! Dua bulan. Tanda-tanda ke arah situ tampak berdenyut lagi. Kerinduan tampaknya yang mendorong si santri beraksi lagi. Di saat yang sama pula, satu persatu mata-mata Mahmud melaporkan hasil di lapangan. Termasuk tingkah Udin yang selalu mencurigakan akhir-akhir ini, apalagi saat jaga.
Dan kemarahan sang Gus mencapai puncaknya, saat dia mendengar dari mata-mata santri putri, bahwa santri itu bertemu kembali dengan Salwa, dan di antara keduanya ada seorang santri putri lain, di salah satu toko dekat kompleks pondok.
Sayang memang, Mahmud tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya. Tapi pegangan dia hanya satu, ini adalah pelanggaran, pertemanan lain jenis non mahrom adalah terlarang! Hanya itu.
Mahmud juga merasa kehormatannya sebagai ketua keamanan diinjak-injak. Juga … ghoiroh, ya… api itu berkobar hebat.
Satu tekad tiba-tiba menggumpal di hatinya, kebenaran harus ditegakkan meski pahit. Ini adalah tantanganku, ketegasanku diuji, jangan coba-coba mempermainkanku. Benak Mahmud bergejolak hebat. Semua harus tetap dijalankan, meski menyangkut adikku sendiri, apalagi sepupuku.
Andaikata Fathimah putri Muhammad mencuri, maka sungguh akan aku potong tangannya!
Tiba-tiba hadits itu berngiang di telinga Mahmud, sesungging senyum kemantapan tergores di wajahnya.

QQQ
Semua serba kebetulan, pagi itu Syaikhunaa berangkat ke Ibu Kota menghadiri musyawaroh para Kiai.
Dan sebelum ta’lim kelasan jam delapan, usai Dluha, kelihatan dengan penuh amarah, Mahmud memerintahkan semua senior berkumpul di kantor keamanan dan menyuruh anak memanggil santri itu.
Setibanya di kantor, tanpa basa-basi dan sejenak setelah melepas kacamata minusnya, Mahmud segera memukuli pemuda itu habis-habisan. Dan ia hanya merintih pelan seraya mendesir, sama sekali tidak ada usaha membela diri.
Wajah pemuda itu benar-benar hancur, darah mengucur dari mulut dan hidungnya. Dalam keadaan seperti itu, dia masih berdiri tegap seraya bersandar di dinding.

Suasana di dalam kantor itu yang semula tegang kini menjadi haru. Para keamanan dan senior berusaha mencegah Si Gus agar tidak meneruskan penyiksaan lagi, karena terlihat jelas ini bukanlah ta’zir yang biasa, lebih mirip dendam yang membara.
“Sudah Gus, hentikan Gus”. Ustadz Ishom mencoba menahan Gus Mahmud, berangsur kemarahannya mereda.
“Kini … kini … kam … mu boleh … meninggalkan pondok ini, kem … kemas … kemasilah barang-barang kamu, tafadlol!” Suara Gus Mahmud tersendat, dan dengan tanpa nada marah sama sekali.
Beringsut pemuda itu keluar, ia melangkah dengan tenang, meninggalkan tanda tanya dan sumbangan simpati yang tampak pada wajah-wajah para senior dan sebagian santri yang berdiri menunggu di luar kantor.
Suasana saat itu benar-benar lain dari biasanya, tenang, sunyi, kompleks pondok putra nyaris tak berpenghuni. Dan setelah berbicara sebentar di kantor, Gus Mahmud berjalan menuju tempat wudlu.[ Baca lagi “Awal yang Indah Akhir yang Didamba” bag, 10, DCP 2003.]
Usai wudlu, saat masih di kolam kaki, Ustadz Zainuddin menghadang langkah Gus Mahmud.
“Gus, apa tidak berlebihan mengusirnya?!” Ada nada protes di sana. Mahmud hanya tersenyum, dia memahami apa yang terpendam di hati lawan bicaranya itu.
“Tidak, aku tidak mengusirnya sungguh-sungguh, karena aku tidak punya hak untuk itu. Hanya Syaikhunaa yang bisa mengusir di pondok ini, aku tidak,” ujarnya tenang.
“Lantas, kenapa sampeyan seperti itu? apa faedahnya?” Zainudin agak menahan emosi.
“Santai, Zain, aku hanya memberi pelajaran pada yang lain, lebih baik korban satu daripada seisi pondok ini rusak. Aku juga ingin memberitahu, bahwa keamanan benar-benar tegas, juga … seperti itulah akibat yang melanggar. Aku … ingin seperti Sayyidina Umar, Zain,” Mahmud menatap Zain dengan teduh.
“Nanti, seumpama dia kembali, aku akan tetap menerima kehadirannya dengan tangan terbuka, dengan catatan dia tidak mengulangi perbuatannya. Meski aku sadar, aku berdosa, karena tindakanku dengan memukulinya, menghantam wajahnya adalah kedzoliman tersendiri. Tapi … ini adalah akhoffu dzororoin, Zain. Bahaya yang paling ringan,” panjang lebar Mahmud berbicara, matanya menerawang ke langit biru, seolah minta ampunan.
“Walau dengan ini, aku masih punya haq adami padanya. Suatu saat, aku akan meminta maaf padanya, meskipun dia nanti balas memukulku.” Mahmud kini tersenyum penuh makna. Zainuddin hanya terdiam, tak berkata apa-apa lagi.
“Sudah aku pertimbangkan dengan matang semua akibat dari tindakanku ini, Zain.” Ucap Mahmud seraya berjalan meninggalkan Zainuddin sendirian. Dan Zainuddin memandang tubuh sang Gus yang berlalu dengan masih mematung di samping kolam kaki.
Dan dari kejauhan, sesosok tubuh dengan wajah lebam amburadul berjalan gontai sembari memanggul tas di punggungnya. Dia berjalan melewati depan ndalem, sejenak dia berhenti, memandang ndalem Syaikhunaa, ada sesuatu yang dikenangnya. Santri itu, pergi dengan diiringi pandangan iba beberapa pasang mata.
Di saat yang sama pula, dari serambi masjid, sang Gus menghela nafas, melihat kepergian pemuda itu, yang selama ini ternyata akrab dengannya juga, berat.
Sementara itu, di sudut yang lain, terlihat Udin mendadak salah tingkah, keringat dingin mengucur dari dahinya, saat matanya bertatapan dengan mata sang Gus yang tiba-tiba bersinar tajam.
Sesaknya, nafas di dadaku, mengenang percintaan kita.
Dapatkah, kita meneruskan impian dan harapan kita.
Di hatiku masih luka, namun ku tetap bersabar, ku mengerti perasaanmu, duhai … ooo … sayang.
Rindu bergelora, resah gelisah nafas cinta, biar pun seribu luka, tak bisa menghapus cinta.
Entah mengapa aku, masih sayang padamu, karena engkau adalah kekasihku.
Nafas cinta … ooo … [ Nafas Cinta, Inka Cristie/ Amy Search.]
Pagi itu berlalu dengan tenang, menyisakan selaksa kenangan.

QQQ

Malam Jum’at, dapur ndalem.

“Mbak, sampeyan belum ngomong, siapa orang ketiga yang menghubungkan dia dengan Salwa. Pasti dia mak comblangnya, tidak mungkin tidak”, pemuda itu berkata tenang seraya menyeruput wedang jahe yang dibikinkan si Mbak.
“Engg … itu … nggak usah Gus, lagian sudah selesai kan?! Cukup sudah.”
“Hmm …begitu?! Apa sampeyan ikut menutupi kesalahan yang nyata? Memungkiri yang hak? Membuka peluang yang lain?! Seolah ini tidak apa-apa, membiarkannya bebas?!” cecar pemuda yang dipanggil “Gus” tadi.
“Bukannya begitu, Gus, tetapi …”
“Katakan kalau begitu. Terus terang, lancang betul perempuan itu, berani-beraninya dia, cari mati apa?!” Alis sang Gus mulai bertaut, matanya agak memerah.
“Dia … sebenarnya nggak setuju, Gus.”
“Tapi masih jadi tukang pos, begitu!?!” Si Mbak hanya terdiam sembari menunduk, dimain-mainkannya kain lap yang ada di tangannya.
“Siapa dia, Mbak .…”
“Tapi jangan diapa-apakan Gus yach, kasihan dia nanti, cukup saudaranya saja,” mohon si Mbak, hanya ada senyuman begitu sinis dari sang Gus.
“Qul-il haqq, wa lau kaana murro!” Si Mbak tidak bisa berkutik.
“Emm … itu Gus … Ruri”.
Terlihat sang Gus mengangguk-angguk pelan, tiba-tiba terukir segaris senyum di wajah sang Gus. Bukan! Itu bukan senyuman, tetapi … lebih mirip sebuah seringai yang menakutkan. Ya! Sebuah seringai … kebenaran, lebih tepat.
“Ooo … Ruri, dia rupanya … hmmm”.

QQQ

Tundhobawi, Makkah.
27 Sya’ban 1425 H.
Cerpen ini bisa disebut, sekuel lain dari “Tak Ada yang Tak Ada di Dalam Cinta” nya Mas A.M. Ilalloh.
Gimana, pas ga’?? He … he … he …
Sekedar pengusir sepi dan rindu.

Kata Mereka

Kalo komentarku gini, salut sambil manggut-manggut, apalagi saat ngebaca cerpen yang judulnya itu Sang Goes, aku sampek tegang bukan main, kalo bukan gara-gara “meskipun secara variatif cerita dan kekreatifan imajenasi Dst…” di kepalaku udah ada rencana bikin sekuel-sekuel lanjutan yang lain, semisal Aku Bukan Orang Ketiga atau si Gus bertemu lagi dengan anak itu di sebuah pesantren lain yang judulnya Aku di Sini Untukmu, aduh seru nich kayaknya…
Kalo dilihat dari segi bisnis, kumcer ini nggak punya prospek yang cerah, maksudnya gini, seandainya yang ngebaca itu bukan santri, tapi ada cita-cita ingin nyantri di hati, anak itu pasti mengubur keinginan mondok itu, soalnya emage tentang kesengsaraan nyantri begitu jelas, didukung warna keganasan seorang gus yang begitu mencolok.
Tapi kalo diteliti dengan cermat, usai membaca cerpen-cerpen di buku ini, juga cerpen lain karangan penulis, aku mau bilang salut lagi, dan muncul satu pertanyaan, lebih tepatnya permintaan, kapan sosok “mundzir” dalam cerpen sang Gus di fiktifkan sebagai tokoh utama, juga? Soalnya aku rasa akan banyak hikmah dan contoh kedewasaan di sana!

Ahmad Muhajir Ilalloh
(Mantan Pimred & Redpel majalah Ad-Dliya)

Apik, komentarku wes ngono ae, sebenernya aku belum tuntas membacanya, tapi dilihat dari kesemua cerita sudah jelas bagus, soalnya aku ndiri belum bisa buat yang kayak gitu, soale belum banyak pengalaman, yang fiksi aja aku juga belum bisa, jadi kalian-kalian yang baca nih komentar, doaian aku agar bisa nulis yang kayak gituan dan bermanfaat tuk semua pembaca. Yah karena hanya itu yang bisa saya omongin tuk ngomentari buku DNC ini moga-moga aja aku juga bisa nyusunin kata-kata yang tepat untuk nyusul kumcer ini. Maapku juga kalo komentarku paling jelek diantara komentator. Al afwu minkum.

M. Hasan al-Chodlir
(Redaksi majalah ad-Dliya)

“Mad, tolong mas Hifny, Amiruddin, Zabid, yek Husein, Hajir (kalau ada) dan kamu, beri tanggapan atas cerpen ini.” kurang lebih begitulah sedikit catatan yang ditulis oleh penulis kumcer ini. Beliau minta agar redaksi Dliya’ memberikan tanggapan atas kumcernya. Dan salah satu dari mereka adalah aku, Aly Zabidy Ahmad.
“Nggak usah banyak-banyak, sedikit wahe, biar nggak ngentekno halaman” begitu lanjutan keinginan penulis.
Sebuah tanggapan akan berkesan dan mempunyai nilai yang dalam serta patut dipertimbangkan apabila tanggapan itu muncul dari seorang ahlinya. Dan terus terang saja, aku dalam hal ini, bukanlah seorang ahli yang bisa menyatakan kumcer ini bagus atau jelek. Yang bisa dengan ganas meremas-remas kata-kata yang panas. Mengelus-ngelus agar bisa menjadi halus. Menimang-nimang agar bisa meninabobokkan. Meneliti, mengamati dan mencermati setiap senti dari pundi-pundi narasi.
Kalau penelitian dan pengamatan dilakukan pada setiap hal yang perlu pembahasan, maka kertas yang terbatas ini akan sulit memaparkan dengan jeli. Tapi secara sekilas semua bisa tuntas dan jelas meski diambil “sebatas-batas”.
Secara garis besar, kumcer ini bisa dibilang bagus. Tapi terus terang kumcer ini tak luput dari kekurangan. Mengikuti “secara sekilas dan mengambil sebatas-batas” diantara kekurangan adalah; kadang penulis kurang jeli menempatkan kata yang nge-gaul (kalau arek Dliya’ bilang) dengan kata yang mencocoki EYD. Juga, penulis sepertinya dalam setiap tulisannya terlalu menjurus ke areal NA, sepertinya yang dikhitobi itu adalah santri NA saja, dari sinilah terkadang ada hal/keadaan/tulisan yang sulit ditanggap oleh orang selain NA. Dari keseluruhan OK banget. Nggak usah dipaparkan disini, pembaca bisa menikmatinya sendiri. Tul?
Aly Zabidy Ahmad
(Redaksi majalah ad-Dliya)
Nggak usah banyak-banyak ya, dari sekian cerpen yang disuguhkan, ada yang menggambarkan kekerasan watak anak manusia, ini yang kurang saya sukai dari watak si pelaku. Suka menghegemoni bawahan.
Yang aku paling seneng ya cerpen yang berjudul “SEREMONI PEMANUSIAAN”, majasnya lumayan, hingga bisa membuatku tersenyum, kemudian tertawa kecil, yakni ketika si pelaku dihajar dan digebuki kemudian diceburkan ke sungai berkali-kali.
Selesai membacanya pun aku mengulangi lagi tawa kecil, banyak pengalaman, makna, nasehat yang bisa kita ambil. Selamat.

M. Amiruddin
(Pimpinan umum ad-Dliya)

Sebelumnya saya ucapkan selamat atas terbitnya karya baru Anda, juga saya minta maaf apabila komentar saya tidak memuaskan Anda.
Langsung saja, karena saya tidak ahli dalam bidang membuat cerpen, maka saya hanya berkomentar dengan singkat saja:
– Saya kira karya Anda sangat bagus walaupun saya tidak membaca semuanya, tapi saya berani mengatakan begitu karena saya tidak meragukan kemampuan Anda dalam membuat cerpen, terbuklti di antara redaksi ad-Dliya, Andalah yang paling banyak mengarang cerpen.
– Ketika saya membaca kumpulan cerpen Denting Nada Cinta yang di dalamnya terdapat cerpen karya M. Amiruddin, saya sangat terharu karena sangat banyak terdapat makna di dalamnya.

M. Sun’an Asyiqin
(Redaksi majalah ad-Dliya)

Setelah membolak-balik halaman cerpen-cerpen ini, saya merasakan atmosfir dunia pesantren yang begitu kental dengan kepemimpinan otoriter sang Gus. Saya mengagumi cerpen “Sang Gus”. Dalam karya ini, si penulis memberikan gambaran dari problematika sehari-hari di masyarakat pesantren. Namun di situ, ada kisah-kisah yang indah dalam percintaan dan persahabatan.
Dan cerpen berjudul “Seremoni Pemanusiaan” memiliki langgam bahasa yang menarik dan nilai-nilai sufistik yang terkandung di dalamnya.
Tetapi latar belakang/ background dan setting kumcer ini terlalu sempit, hanya tertuju pada masyarakat NA saja. Hal ini menyebabkan kesulitan bagi para pembaca di luar NA untuk menanggapi kumcer ini, sehingga para pembaca dari luar NA kurang bisa memberikan komentar apakah kumcer ini bagus atau jelek, karena setiap pembaca punya relativitas tersendiri dalam menilai suatu narasi, termasuk saya sendiri.
Seandainya saya disuruh mengomentari kumcer ini, saya katakan terus terang bukan ahli dalam menilai suatu karya sastra. Akan tetapi saya ucapkan selamat atas penulis kumcer santri “Denting Nada Cinta yang Lain” ini atas usaha dan kerja kerasnya dalam membuahkan karya ini. Teruslah berkarya semaksimal mungkin untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Sayyid Husein Kherid
(Mantan redaksi majalah ad- Dliya)Cerita Malam

Fiuhh … murobathoh lagi! Tapi … ya sudah, ini sudah tugasku, harus kujalankan.
Sebenarnya, sore belum beranjak dari tempat duduknya, ia masih mencangkung menunggu pulangnya matahari, yang kulihat sudah agak bosan kencan dengan siang. Aku sendiri saat ini bersiap untuk tugas nanti. Pun semua orang yang ada di desa ini, terlebih ponpes yang terletak di sudut desa tersebut, tampak semua penghuninya sibuk dengan aktivitas masing-masing, menyongsong adzan Maghrib. Kebanyakan berkerumun di tempat wudlu dan kamar mandi, sebagian di dapur siap-siap buka puasa.
Waktu terus merayap. Bedug Maghrib telah ditabuh. Saat sholat telah tiba dan kusambut dengan gembira. Kulihat, semua orang berbondong-bondong menuju masjid Jami’ ini. aku sendiri mengambil air wudlu, dengan air sisa hujan deras yang mengguyur desa ini barusan. Titik-titik air pun masih nampak satu persatu bertetesan menerpa dedaunan, sebelum jatuh ke bumi membaur dengan air hujan yang mendahuluinya. Kunikmati percikan-percikan air yang terjun bebas dari langit itu.
Sejenak kemudian terdengar koor “Aaamiiin” dari masjid yang diimami seorang pak Haji, berselang tak lama disusul koor dengan lirik sama dari ponpes putri, dekat sekali dengan telingaku. Mengalun syahdu jauh menembus relung kalbuku, “Subhaanakallohumma” tasbihku.
Usai Maghrib, tinggal menunggu Isya”. Kucermati semua kegiatan di desa ini, di ponpes ini juga. Aku berderak kagum, semarak lafadz-lafadz Qur”an mengalun dari mulut-mulut mungil tak berdosa. Masih belum terkontaminasi senyawa karbondioksida kegilaan zaman yang katanya Ronggo Warsito, edan ini. Tak bergeming oleh serbuan gencar acara kartun TV yang sengaja diputar senja hari, saat tabuh berbunyi. Tetap berpegang teguh menelaah UUD yang tak lapuk oleh zaman, yang tak bosan diulang-ulang dan yang tak pernah kena amandemen itu.
Di sisi lain, di serambi masjid, seorang Kiai dikelilingi oleh santri-santrinya, hanyut dalam aliran barokah kitab kuning. Berbagai syarh, ta’liq, mengalir dari bibir beliau, didengarkan, ditingklingake dengan seksama oleh santri-santri mituhu itu, sebagai bekal di hari depan. Aku terkesima.
Tak hanya itu, kudengar alunan lain, paduan suara kompak tanpa dirijen, tanpa instrumen mendendangkan Rotibul Haddad mengalun dari arah Ponpes putri, lebih merdu daripada lagu India, Kuch-kuch Hota Hai, Mann, Kabhi Kushi Kabhi Gham dan sejenisnya. Perasaanku melayang, bersyukur kepada Alloh, ternyata masih ada komunitas yang masih mau menggenggam bara di tengah gemerlapnya dunia yang makin tidak karu-karuan ini. Kutersenyum, malamku masih agak terang, pancaran warna merah merona hitam, belum gelap, Isya” pun berkumandang, sholat tiba.
Sengaja kuberjalan mengelilingi lingkungan santri ini. Entah mengapa aku suka berada di tempat ini. Asma”ulloh al-Husna, untaian sholawat kepada Nabi selalu menghiasi langit daerah ini. Seolah-olah lampu mercusuar berpendar benderang dari tempat ini, membedakan dirinya dari tempat lain yang hanya digaduhkan oleh tawa sengak pemuda-pemuda tidak ada kerjaan. Yang cuma diterangi oleh sinar-sinar kecil yang bermuara dari rokok yang mereka hisap, itu pun masih dikepung oleh asap-asap rokok yang mengkabut, aroma minuman keras menambah busuknya bau gerombolan itu. Mata-mata kuyu tak bergairah namun dipaksa, jelas sekali terukir di wajah tirus morfinis mereka. Ditingkahi dengan petikan gitar berirama tidak karu-karuan. Di sudut lain sekelompok pemuda joget sempoyongan diiringi musik neraka Britney Spears yang diputar dari VCD. Aku menghindar pergi, cih! Jijik memandang mereka, kelakuan mereka lebih tepat. Tapi aku memohon, semoga Alloh memberi mereka hidayah, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti.
Aku berkeliling lagi, lamat kudengar tetabuhan riang berirama rancak, lagi-lagi dari ponpes itu. Bergegas kudekati sumber suara, aku terpesona, ingin rasanya ikut berjingkrak. Denting nada dan instrumental itu bukannya Asereje-nya Las Ketchup atau La Copa De La Vida-nya Ricky Martin. Tapi nadhoman Alfiyah, di sudut lain al-‘Amrithy mengimbangi, tak mau kalah ‘Aqidatul ‘Awwam sama Shorof Jombang melengkapi. Semakin betah daku di sini, mereguk segarnya sirup agama, menghilangkan dahaga, kesegaran yang makin mengering menguap oleh ganasnya kemarau budaya Barat, astaghfirulloh ….
Malamku makin pekat, jarum pendek jam sudah mengarah pada angka 10, semua aktivitas belajar-mengajar di pondok itu telah usai, para santri mulai rehat, bersiap berpergian ke negeri kapuk, diiringi suara jangkrik dan kodok yang saling bersahutan, sebagai musik pengantar tidur yang paling cocok. Bermacam kesibukan jeda ta’lim mewarnai pesantren Salaf ini. Ada yang melanjutkannya dengan muthola’ah, belum puas dengan ilmu yang diterima. Ada juga yang langsung mengganti baju taqwanya dengan kaos, sarungnya dengan celana training, selimut sebagai pengganti surban, juga mengganti kitab dengan bantal atau pena dengan guling. Dan so pasti ada yang menemaniku jaga, murobathoh, atau muroqobah istilah mereka, sekitar 4 santri, yang jelas semua sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Bosan ah, rutukku pelan, sengaja untuk menghilangkannya aku jalan keliling pondok ini. Kulihat seorang santri sendirian berdiri menghadap bangunan di sebelah selatan masjid, asyik melihat “proyek”nya itu. Di bagian lain, seorang santri tampak berlari-lari kecil kesana-kemari sembari menenteng berbagai alat-alat pertukangan yang ada di tas mungilnya. Sengaja juga aku berputar keliling ndalem, iseng kulihat balkon lebar yang menghadap ke timur, di sana ada 3 santri putri, yang dua asyik berbincang membahas majalah pesantren edisi terbaru, sementara yang satunya tampak termenung, entah ia berdzikir karena di tangan kanannya seuntai tasbih tak mau berhenti berputar, entah juga kalau ia melamun, mengingat kekasihnya yang merantau jauh mencari ilmu. Bisa jadi sang kekasihnya itu saat ini juga sedang mengenangnya, memutar kaset perjalanan cinta di antara keduanya. Keindahannya juga kedukaan tak terwujudnya pertautan apalagi jika ternyata jatuh ke teman sepenanggungan. Entah juga kalau ia bertafakkur, menghitung bintang-bintang kecil yang bertaburan mengiringiku, mencoba berbicara dengan bulan yang kini tersenyum lebar dengan kepurnamaannya. Tapi, ah … kalau bulan bisa ngomong (kayak lagunya Doel Sumbang), nampak si gadis itu sedang menikmati panorama ketampananku, anugerah Tuhan duli semesta alam. Malamku makin kelam, cericit kelelawar bersautan bersaing dengan musik Rock ‘n Roll jangkrik dan katak di bawahnya.
Aku berkeliling terus, satu persatu rumah mulai mematikan lampunya, gelap bak pemakaman. Namun tidak dengan masjid ini, juga ponpes ini, otomatis ndalem sang Ustadz pula, meski semua gulita, tetapi tidak dengan kawasan ini, ia tetap hidup dalam kematian, 24 jam. Alunan dzikir tak hentinya membumbung tinggi ke angkasa, membentuk tangga, tangga yang tiada putusnya. Kurasakan kepakan sayap malaikat ramai terdengar di sini, laksana serangga malam yang mengerubuti satu-satunya lampu di taman.
Empat kawanku yang “begadang ibadah” sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang menemaniku keliling, ada yang masak untuk makan tengah malamku nanti, ada juga yang serius konsentrasi dengan kitab kuningnya. Tak ketinggalan musik dzikir Langitan dan Raihan diputar bergiliran, sebagai selingan di tengah kesepian malamku ini.
Dan sekali lagi aku iseng melongok, eh melirik asrama putri, waktu makin gelap, masih ada beberapa santri yang belum terbuai mimpi. Dua gadis ngobrol ngalor-ngidul sembari menunggu sapaan kantuk, terdengar juga bunyi al-Qur”an, bukan dari kaset, lamat terdengar dari Ponpes ini. Getaran halus yang sanggup mendirikan bulu kuduk merinding merayapi diriku, mengalir di seluruh persendianku. Ingin kuteteskan airmata karena terharu, tapi kali ini tiada mendung, aku hanya tersenyum. Kulihat balkon lagi soalnya jendela barat sudah dipaku pati. Mungkin si gadis masih ada … eh … sudah tidur rupanya, atau … mungkin saja bisikan suci ayat-ayat langit itulah yang keluar dari bibir gadis tadi, ah … wallohu a’lam, kuteruskan perjalananku, dini hari hampir tiba, berarti hampir habis pula waktu tugas jagaku.
Sebenarnya ada satu yang kurindukan, bunyi kentengan tiang telepon, yang dulu selalu berdentang tiap jam, diketuk oleh seorang bapak, yang dulu konon pendekar. Namun ia telah menghadap ke Dzat yang dicintainya, 10 Dzul Hijjah yang lalu. Dia istiqomah mengetuk tiang telepon itu, yang kini sudah tidak terdengar lagi, membisu dengan kesunyian malamku.
Sekarang sudah pukul dua hari, seharusnya tugasku sudah selesai, tapi kegelapan menahanku. Waktu terus berjalan, akhirnya yang kutunggu tiba, sholah-sholah terlantun dari salah satu teman jagaku, menggugah alam yang tertidur sejak ba’da Isya” tadi, kala malamku merambat gelap.
Beberapa santri yang asyik bergurau dengan mimpi, terusik dan segera bangun, untuk bertahajjud, kencan munajat dengan Penciptanya, berduaan diantara jutaan makhluk yang tenggelam oleh air liurnya. Aku terharu, semoga mereka dirahmati Alloh, Kreator alam semesta ini, dimasukkan surga-Nya dengan sebuah happy ending, khusnul khotimah. Kuresapi adengan ini, skenario indah Ilahi.
Sejenak kemudian, koor hasbunalloh wa ni’mal wakiil mengalun, yang diawali oleh Sholawat Munjiyat untuk sang Kakek Guru. Berbagai hibz, mulai Nashr, Bahr, Zajr, Syaikh, Nawawiy, Ikhfa”, sampai Sakron, turut menjadi instrumen konser ukhrowi ini. Sesekali pertunjukan ini diselingi oleh tarian, goyangan jari yang membentuk sketsa pagar mengelilingi diri, suur-suur-suur.
Tersusunlah semacam konvigurasi indah di atas kopyah-kopyah mereka, bak rangkaian bunga-bunga mawar, melati, dahlia, anggrek, sedap malam yang akan dihaturkan pada sang pujaan hati. Ribuan entah jutaan malaikat mulai mengepak sayapnya, bersiap membawa rekaman aurad ini untuk diputar di hadirat-Nya, seraya tebaran rahmat dan hujan maghfiroh mengguyur mereka, halaqoh berkopyah juga halaqoh berkerudung. Semua sama, basah kuyup tersiram barokah, walaupun ada beberapa malaikat yang cemberut karena melihat beberapa santri yang ngantuk. Tetapi Alloh telah memberi garansi, ”Hum al qoumu laa yasyqoo bihim jaalisuhum.”
Aku bergumam; Allohumma nikmatnya, Allohumma syahdunya, Allohumma indahnya. Tak tertinggal juga orang-orang yang mau menjauhkan lambungnya dari dipan di beberapa rumah di desa ponpes ini, turut riang berpesta pora, haflah.
Aku berbangga, inilah sepertiga akhir malamku, waktu di mana Robbku turun ke langit dunia seraya berkata,: “Siapa yang mohon ampun kuampuni, siapa yang meminta suatu hajat pasti kukabulkan,” aku tergetar, Allohumma hebatnya. Batu, pohon, binatang malam pun tidak mau kalah, berlomba-lomba mensucikan-Nya, subhaanalloh, Allohumma merdunya.
Waktu makin merayap, pagi masih buta, sang Raja Siang sama sekalipun belum terbangun dari tidurnya, ia masih terlelap, berselimutkan kabut kepekatan diriku yang tebal. Hawa dingin pun masih menyergap membekukan tulang sumsum siang, membuatnya masih enggan menyingsingkan lengan ufuk timurnya, sekedar menyingkap sedikit kuning langsat kulit mulus cahayanya.
Ayam jago pun masih kalah cepat dengan para santri itu, ia malas berkokok, asyik meringkuk di kehangatan kandangnya. Tapi, ah … sebentar lagi Shubuh, dalam hati aku bersenandung, “Malam panjanglah, kantuk hilanglah, Shubuh berhentilah, jangan terbit dulu,” menirukan lagu religius para Sufi.
Namun giliranku sudah hampir habis, adzan Shubuh telah memecah kesunyian, menyambut kawanku yang kini sedang menggeliat. Sebelum istirahat, kusempatkan berwudlu dengan sejuknya embun pagi. Lalu, salam dan senyum siang merekah menyapaku, kubalas salam dan senyuman itu, aku harus bergeser ke barat, rehat dahulu, pun aktivitas ponpes ini telah mendenyutkan kembali nadinya, menyongsong hari baru yang penuh barokah. Disambut dengan iftitah Sholawat Nurul Anwar, diikuti wirid-wirid Robbani blanko kewalian, diramaikan pagelaran Qoso”id dan Anasyid, Allohumma amboi asyiknya.
Kutinggalkan daerah ini dengan penuh kepuasan, ingin rasanya aku tugas lagi, bergegas kembali kesini, bercengkrama dengan santri-santri mituhu ini, tapi ah masih 12 jam lagi. Aku hanyalah malam yang harus berputar. Tiada apalah, toh nanti ke sini lagi, yang penting sam’an wa tho’atan sama Raja Diraja alam ini, menggapai ridlo-Nya.
Kuucapkan untuk kalian, ma’as salamah ilal liqo”, selamat menempuh hari baru, mereguk ilmu, merengkuhnya. Semoga kalian bisa mengamalkannya. Memanfaatkannya untuk diri, keluarga, masyarakat dan bangsa kalian, semoga, Aaamiiin Allohumma, akan selalu kurindu kalian, tunggu daku … 12 jam lagi.
Pujon, akhir 1423 H
* Reshuffle:
Tanah kelahiran. Janib syari’ mauroq al-ijhy,
Jumad 1426 H.
7

Setetes Embun Pagi
By: M. Amiruddin

“Nak, apa kamu sudah mantap melanjutkan cari ilmu di pondok, nggak getun nanti?” kata emakku waktu itu.
“Nggak, Mak. Aku sudah mantap kok. Lagian kata emak, emak kan pingin punya anak yang pinter ngaji, dan berbakti pada orang tua, ya khan?” kataku polos. Mak waktu itu tersenyum tanda setuju kemudian menggeleng seolah kagum dan mengerti benar tekadku untuk mondok, mencari ilmu bekal di hari nanti.
“Mondok iku melarat lho, kudu betah melek, jam telu wes kudu tangi kanggo tahajjud, mangane yo ngono ora enak-enak, gelem mangan karo krupuk utowo iwak asin thok, nek kepingin pedes yo nyeplus lombok, kepingin asin yo ndulit uyah”, nasehat emak sekali lagi.
“Ndak apa-apa, Mak. Sholeh siap kok dengan keadaan itu”, sifat luguku tak bisa dihilangkan, mak spontan memelukku erat tak kuasa menahan haru, berderai air matanya, diciumnya aku berkali-kali.

QQQ

Akhirnya hari itu datang juga, hari pertama kakiku melangkah di kawasan pesantren Salaf yang diasuh ulama alim nan sholeh. Detik, menit, dan jamku yang pertama terisi dengan adegan penelitian dan pengamatan yang terasa asing oleh mata ini. Selanjutnya, malam tak terbendung untuk memaksa mata ini terpejam kemudian bermimpi.
Aneh, tak biasa aku bangun sepagi ini, terdengar sayup-sayup santri tukang mbangunin yang belum sampai di kamarku, tapi tumben, aku bisa bangun sendiri. Pikiranku terheran, padahal biasanya kalau pantatku tidak ditendang delapan kali, aku nggak bakalan bangun. Ini kok bisa bangun sendiri sepagi ini? Mungkin sejak awal ketika ingin kubaringkan tubuh ini, aku dihantui perasaan takut molor, takut kesiangan seperti kebiasaan di rumah, aku harus bangun pagi, malu sama santri di sini tekadku.

QQQ

Siang berganti malam, dan malam pun terbilang hari bersama jati diriku yang baru. Ya, mulai dari aktivitasku yang banyak diisi dengan mempelajari ilmu agama, bangunku yang harus pagi, sholatku yang harus tepat waktu, kalau tidak kepingin dijemur sambil nulis sholawat, atau mengeruk selokan dekat pondok putri, mandi yang selalu antri, dan hal-hal baru yang masih banyak lagi. Nahwu, pelajaran baru yang namanya baru aku dengar tadi pagi. Aku nggak ngerti pelajaran apa itu, yang jelas aku mulai berkenalan dengan ini pelajaran, ada kalam, kalimat, kalim. Waduh mbulet amat pikiranku, padahal baru membedakan tiga biji definisi saja. Iki piye toh, tapi lama kelamaan ngerti juga, aku dapat membedakannya.
Masalah tidak sampai di sini, ngaji Qur”anku pun masih lamban sekali, belum lancar, mungkin dengan anak Diniyah pun aku kalah. Pelajaran yang namanya Shorof Jombang pun nggak ketinggalan menuntut untuk dihafalkan. Entah berapa kali aku harus dijemur di lapangan gara-gara nggak hafal-hafal, atau pas lagi suntuk aku pun mbulet nggak mau menghafalkan.
Hingga waktu berjalan, tak terasa sudah beberapa tahun aku tinggal di pondok. Yang penting kini aku menginjak untuk menghafalkan nadhoman al-‘Amrithy yang katanya ada 250 biji itu. alhamdulillah, dalam jangka satu bulan aku menghafalkan pembukaannya dan mulai menginjak bab Kalam, alhamdulillah dalam waktu tiga minggu pun selesai, meskipun harus dijemur beberapa kali, belum lagi ejekan dari teman-teman yang membuat dada ini sesak seperti mau meledak.

QQQ

Entah, setan apa yang merasukiku, dedemit apa yang berhasil merayuku hingga semangatku tiba-tiba ambruk. Aku benar-benar nggak kuat lagi, aku benar-benar putus asa. Memang aku menerima, aku ikhlas Tuhan telah menciptakan aku dengan otak yang tidak cerdas. Tapi, kenyataan berbicara lain, aku benar-benar lemah, aku tak kuat lagi menyelesaikan tugas ini. Ya Alloh, tolonglah hambamu … Ya Rosulalloh bantu umatmu yang banyak dosa ini .…
Tuhan tunjukkanlah jalan
Agar kulupakan semua
Kegagalan hidup ini
Bisa berlalu dalam hidupku

QQQ

Kaleng susu kosong itu kutendang keras-keras hingga terpental jauh kemudian berputar-putar tak teratur seperti ruwetnya pikiranku saat ini. Langkah kakiku kian lama kian gontai, seakan tak kuat lagi meyanggah tubuh yang berat ini, seakan tak kuat meyanggah beban yang memusingkan ini. Haruskah aku meninggalkan pondok kesayanganku, teman tercinta, apalagi guru terbaik?
“Haruskah aku menyerah sampai di sini dan putus asa?” Tak terasa tubuhku ambruk di tanah becek bekas hujan, mulutku meringis, hatiku menangis, menangis sejadi-jadinya, air mataku kian deras mengalir, menjadi saksi bisu. Oh Tuhan … haruskah riwayatku tamat sampai di sini dan belum setetes pun madu yang kuharapkan berhasil kucicipi? Oh Tuhan .…

QQQ

Kuketuk pintu kamarku dengan lesu sembari mengucapkan salam dengan suara perlahan. Suara ibu dari arah dapur lirih aku dengar menjawab salamku.
“Eh, kamu toh le, lho kenek opo sampeyan? Kok pucat, kamu sakit ya le? Bilang sama emak!” Aku hanya diam dengan kepala tertunduk lesu.
“Ada apa toh le … cerita sama emak, ayo ngomong sama emak!”
Selanjutnya aku tak kuat lagi menahan air mata ini untuk menetes, dan emak pun memelukku tak mengerti. Aku merasa hangat, hangat sekali meskipun belum bisa menghilangkan kegundahan jiwaku saat ini.

QQQ

Hari-hariku di rumah dipenuhi dengan tidur dan tidur, atau merenung di belakang rumah. Aku yakin emak heran melihat perubahan sikapku yang drastis, yang biasanya ceria, kini tiba-tiba murung dan senang menyendiri di kamar, makan kalau tidak diundang beberapa kali baru mau makan. Sudah beberapa kali emak mempertanyakan tentang diriku dan berusaha membujuk aku supaya mau menceritakan apa yang terjadi, tapi jawabanku selalu sederhana, “Nggak ada apa-apa kok, Mak. Cuma Sholeh kurang enak badan.” Untuk saat ini mak nggak boleh tahu dulu bahwa aku ingin keluar dari pondok, aku nggak ingin membuat emak kecewa secepat ini.
Hidupku kini tiada arti.
Bagaikan burung di dalam sangkarnya.
Aku ingin bebas dari derita.
Tuhan tolonglah diriku
Dari belenggu nestapa

QQQ

“Le … kapan sampeyan berangkat le …? Nanti sampeyan banyak ketinggalan pelajaran lho, engko dimarahi pak guru nek ditakoni ora biso.” Emak yang melihat aku kembali segar mengingatkan aku lagi pada pondokku.
“Cukup emak saja yang nggak bisa ngaji, jadilah santri yang penurut, patuhi nasehat guru, patuhi segala peraturan, teruskan cita-cita emak yang kandas, emak dulu pengen bisa ngaji tapi nggak punya ongkos untuk naik angkot ke rumah pak Kiai, dan emak nggak bisa beli kitab karena adik-adik emak yang masih kecil saat itu. Pokoknya kamu harus membuat emak bangga, emak mengidamkan bila punya anak yang pinter ngaji, rasanya hati ini disiram es yang sejuk”, mata emak menerawang ke luar jendela sembari tersenyum, seolah beliau yakin apa yang dia idamkan bakal tercapai.
Melihat pemandangan ini dan mendengar kata-kata emak barusan, mataku tak kuat untuk tidak berkaca-kaca, segera kupalingkan wajah dari pandangan emak sebelum akhirnya butiran bening itu menetes lagi. Aku masuk ke dalam kamar, kutumpahkan sepuas-puasnya isak tangisku, hingga akhirnya aku tertidur pulas, pulas sekali.

QQQ
Kepalaku tertunduk menekuri lantai, sementara Syaikhunaa marah hebat, nasehatnya kini benar-benar membuat mataku berkaca-kaca.
“Bukan jantan orang yang pasrah pada Qodlo Qodar. Rubah nasibmu, tingkatkan taqwamu, maka ilmumu akan ditambah, ilmu itu dari Alloh bukan dari kekuatan belajar, ingat:
اَلْعِلْمُ مَوْهِبَةٌ
Wis, pokoke sing tenanan, ngaji sing tenanan, ojo kumantel karo awak, kumantelo karo Alloh, mangkane jaluko maring Alloh.
Ojo takluk karo Nahwu,
هِمَّةُ الرِّجَالِ تَهْدِمُ الْجِبَالَ
Pokoke dadio wong giat, sing temenan, madepo maring Alloh. ngerti nggak kang!!!”
Dawuh-dawuh Syaikhunaa barusan bagaikan sebuah obat kuat, bagaikan spirit, laksana bayam bagi Popeye si pelaut, hingga membuat tubuhku melayang, seakan terbang tinggi. Tapi tiba-tiba jatuh, bruk …. Kulihat sekelilingku, pemandangan yang tak asing bagiku, terlihat tembok-tembok kamarku. Ternyata aku jatuh dari tempat tidur.
Tapi sungguh aneh … aku merasakan perasaan yang luar biasa, aku seperti menemukan semangat baru dalam hidupku.

Akhirnya aku bangkit, kukemasi lagi barang-barangku, besok tepat hari Rabu aku akan kembali ke pondok dengan niat menghilangkan kebodohan diri sendiri, selanjutnya menyebarkan ke tengah-tengah masyarakat. Aku bertekad untuk membahagiakan orang tua, aku tidak ingin mengecewakan mereka, meskipun Alloh menciptakanku dengan kecerdasan yang sangat kurang, aku nggak perduli.
Hanya satu kenyakinanku
Bintang kan bersinar
Menanti hidupku
Bahagia kan datang

Matahari pagi
Pancarkan sinarmu
Agar aku merasakan kehangatanmu
Biarlah mimpi buruk kemarin
Tetap menjadi sebuah mimpi.

QQQ

Untuk yang merasa, jangan menyerah yah. Mulai hari ini, buka sebuah lembaran baru, tatap dunia, tatap masa depan tuk meraih cita-citamu. Ingat!! Gusti Alloh Maha Rohman Rohim. Setuju? Wassalam.

8

Sang Gus

Percakapan empat mata itu tiba-tiba hening, sehening malam itu.
“Jadi, benar apa yang kamu katakan itu?”
“Hmm, setidaknya begitu, melihat gerak-gerik mencurigakan selama ini, juga bisik-bisik yang terdengar nyaring. Tapi … kita harus ada bukti juga, insya Alloh aku akan mencari informasi lebih lanjut.”
Tak ada jawaban, hanya terdengar gemeletuk gigi disertai desahan nafas berat, sebelum sekepal tangan memukul dampar kayu yang biasa dibuat ngaji, yang ada di depannya, ada kemarahan di sana.
“Memang, jendela itu harus kututup, sejak dulu ia sering menimbulkan fitnah”, ujarnya seraya sepasang matanya menyorot tajam mendongak ke arah jendela pondok putri, yang malam itu sudah menutup dan gelap.
Teman bicaranya hanya diam, tidak menyahut. Cuma desau angin malam yang menjawab rangkaian kata-kata itu barusan.

QQQ

Seantero ndalem dan pondok putri sudah berdenyut kembali dengan aktifitas ta’lim, begitu juga pondok putra, setelah istirahat sejenak untuk masak, mandi, cuci, muthola’ah, dan sebagainya, pagi itu pukul delapan lebih sedikit. Dengungan do’a “Sa”altu” dan qoso”id terdengar dari semua sudut pondok itu, terutama dari kelas yang ada di ruang tamu, kelas Nahwu, terdengar lebih jelas.
Tetapi seorang pemuda masih nampak berdiri mematung di depan TV, dahinya terlihat berkerut, ada sesuatu sepertinya yang kini memenuhi pikirannya.
“Mahmud, kamu nggak ngajar?” suara teguran dari meja makan membuyarkan lamunan pemuda itu.
“Oh … Sebentar lagi, Ba .…” Hanya jawaban pendek itu yang muncul, Syaikhunaa meneruskan sarapan paginya itu.
Sejenak kemudian, desahan berat terdengar keluar dari bibirnya, ia matikan TV dengan remote yang ada di genggamannya. Gontai ia berjalan ke kamarnya.
Dan di ruang tamu, pemuda itu sejenak menghentikan langkahnya, ketika melewati santri putri yang asyik berbincang satu sama lain mendiskusikan pelajaran Nahwu mereka, buat persiapan menghadapi rentetan pertanyaan dari sang guru yang pasti marah besar jika pertanyaannya tak mampu atau keliru dijawab.
“Eh, gimana I’robnya Aamantu billah?” ucap pemuda itu setelah diam sebentar. Serentak wajah-wajah berbalut jilbab itu mengarahkan pandangan lembut mereka ke sang pemuda yang berdiri di belakang mereka, sebelum diikuti senyuman sembari menunduk dari wajah-wajah ayu itu, malu.
Tak ada jawaban kecuali bisik-bisik sambil sedikit tawa kecil dan saling pandang di antara mereka.
“Masak tidak bisa? Apa malu? Jangan takut. Nahwu itu gampang, kalian harus hafal semuanya di luar kepala, rugi lho kalo nggak hafal. Nahwu nggak sulit kok, aku dulu juga sering dimarahin seperti kalian, tapi hasilnya? Masya Alloh .…” dicobanya memberikan semangat dan kekuatan ke sekelompok santri putri itu, santri-santri asuhan Abah-Uminya. Kini, sembari mengulas senyum manis penuh makna yang menghiasi wajah teduh berkaca mata itu, meski agak sedikit dipaksakan. Lantas diteruskannya langkah ke kamar, bersiap mengajar.

QQQ

Tak ada keterangan istimewa yang disampaikan Mahmud di ta’lim Nahwu untuk fashl awwal pagi itu. Tidak seperti biasanya, ia malas juga tidak streng, pun bubar lebih dini. Setidaknya santri fashl awwal hari ini keluar kelas dengan perasaan lega, karena tidak ada satupun umpatan “Goblok!!” dari si Gus yang terkenal killer kalau mengajar itu.
Setelah mengajar, dengan agak mendadak, Mahmud mengumpulkan senior-senior. Ada sesuatu hal yang pelik rupanya, mereka segera duduk-duduk di tempat biasanya Ustadz Ishom mengajar, fashl robi’, kelas tertinggi di pondok itu.
“Kalian telah dengar isu tersebut kan?” Mahmud membuka percakapan, dingin, semua mengangguk dan mengarahkan pandangan kepadanya.
“Apa yang harus kita lakukan Gus?” Ustadz Zainuddin mencoba memancing pertanyaan, Mahmud hanya menerawang, tak ada jawaban.
“Masalahnya, kalo ini terjadi antar santri sih mungkin tidak serumit ini, tapi ini keluarga ndalem,” agak hati-hati Ustadz Ishom mengucapkan kalimat itu, takut sang Gus tersinggung.
“Ternyata, berat juga memikul sebuah amanah, apalagi kalau menyangkut langsung orang-orang yang kita cintai,” akhirnya, keluar juga suara Gus Mahmud.
“Tahu kan, asbabul wurudnya Lau kaanat Faathimatu bintu Muhammad saroqot, la qotho’tu yadahaa?” ujarnya lagi seraya menatap wajah-wajah senior itu.
“Bagaimana pendapat kalian?” Semua terdiam.
“Tapi sungguh, desas-desus itu membuat hatiku panas, peraturan telah dilanggar. Mungkin, kalau sekedar cinta, aku masih bisa mentolelir, tasaamuh, karena itu wajar. Tapi, kalau lebih dari itu .…” Kalimat itu terputus, berganti dengan pukulan pelan dari tangan yang terkepal erat ke arah meja di depan Gus muda itu.
“Apa langsung ke Syaikhunaa, Gus?” seorang ustadz muda berkacamata yang terkenal suka membaca mengeluarkan usulnya.
“Tidak, jangan langsung ke Syaikhunaa”. Tiba-tiba usulan itu dihalang oleh Mundzir, Ro”is Aam yang juga sepupu Mahmud.
“Sebisa mungkin, kita terlebih dahulu yang menyelesaikan masalah ini, baru ke Syaikhunaa. Tapi … yah … terserah Gus Mahmud juga, soalnya .…” Mundzir tak meneruskan kalimatnya, matanya melirik ke Ustadz Ishom.
“Benar, Mundzir benar .…” Gus Mahmud mengangguk-angguk sembari memegang dagunya.
“Lagipula, aku masih kasihan dengan dia, juga dengan adikku sendiri. Aku tahu betul bagaimana Syaikhunaa bila mendengar kata pacaran, aku tak sampai hati juga hal ini terdengar Syaikhunaa. Malah, aku lebih berani melaporkan kasus pencurian daripada pacaran kepada beliau.” Urainya.
“Ah … ‘ala kulli haal, ketegasanku kali ini diuji dan ditantang,” Gus Mahmud duduk tegak, pandangan dibalik kaca itu lurus ke depan.
“Tapi … aku akan tutup dulu jendela-jendela keparat itu!” Tiba-tiba nada suara Gus Mahmud sedikit meninggi, ada emosi tertahan disana.
“Lalu, langkah kita, Gus?” Ustadz Ishom mencoba bertanya lagi.
“Ah, Ustadz, antum paling senior di pondok ini, termasuk murid pertama Abah saya, qudamaa”. Aku kira antum lebih tahu langkah yang harus kita lakukan. Tetapi tetap, kita selidiki lebih dulu agar lebih jelas beritanya. Kamu juga Ustadz Zainuddin, aku tahu kamu lebih dekat dengan dia.”
“Terus sampeyan sendiri, Gus?”
“Sebagai sadd-ud dzari’ah, akan kupanggil dia dulu, akan aku tahdzir dia. Kalau memang ini benar, setidaknya dia hati-hati. Dan kalian bergantian menanyai dan terus menggali informasi, ini demi kebaikan kita bersama, terutama bolo pleknya,” Mahmud menerangkan strateginya.
“Ehm … tapi sampeyan setuju nggak Gus, seumpama dia .…” Ustadz Zainuddin mencoba mencairkan suasana tegang itu.
Mahmud paham pertanyaan itu, dia hanya tersenyum tipis, “Yang diinginkan adikku harus hafal Alfiyah, Qur’an dan bisa melewatiku.” Semua tersenyum simpul.
“Oh iya, tidak pakai intel-intel Dephan, Gus?” Mundzir mengingatkan.
“Kali ini tidak, aku agak kecewa, Udin yang sejak awal kupasang sebagai intelku ternyata …” Gus Mahmud tidak meneruskan kalimatnya. Tetapi dia membongkar satu nama intel yang begitu dia rahasiakan selama ini dan menjadi momok menakutkan bagi setiap santri itu.
“Oh iya, Gus,” Ustadz muda berkacamata tiba-tiba mengalihkan semua mata menuju padanya.
“Aku ingat sesuatu, selama ini menjelang tidur, sayup-sayup aku dengar Udin bicara dengannya. Sepertinya bukan Neng Salwa yang mereka bincangkan. Ada nama lain, Rani,” terangnya.
“Rani?! Huh .…” Gus Mahmud hanya tersenyum tipis, sinis.
Dan pertemuan singkat itu harus diakhiri, karena semua santri sudah menata shof, Dluha berjama’ah.

QQQ
Hari-hari ini pondok nampak begitu menggerahkan, setidaknya bagi seorang santri yang kali ini terpekur di kamarnya. Namun tidak bagi teman-temannya, rupanya ada santapan hangat nan empuk di depan mereka. Paling tidak lumayanlah buat intermezzo, selingan dari ketegangan belajar, sudah lama juga pondok tidak ada bahasan aneh, nggak KISS, Kisah Seputar Santri.
Malah lebih seru dari mading, begitu salah satu santri bilang. Dan gosip itu tak akan sesanter ini andaikata pelakunya “hanya” santri biasa, wong gitu aja udah heboh, apalagi ini, melibatkan langsung Neng Salwa, putri Syaikhunaa!
Entah angin apa yang bertiup, tiba-tiba sang Neng terlibat cinta dengan seorang santri yang memang selama ini terlihat unik di depan teman-temannya. Antiknya, ternyata si santri membalas cintanya tanpa tahu kalau yang ia cintai adalah Neng!
“Sangar tenan, wis pinter opo de’e?!”
“Sopo seng disenengi?”
“Neng Salwa, jarene .…”
“Dudu’, ora Neng Salwa, gendeng tah lah?! Wong jarene Rani kok .…”
“Rani? Mosok? Jarene mbakku Neng Salwa, gak ono jenenge Rani na’ pondok iku .…”
“?????”
Tak hanya pondok putra, di pondok putri kasak-kusuk itu lebih panas lagi.
“Apa kehebatan dia sih? Kok Neng Salwa sampai tergila-gila?”
“Pake’ pelet kali”
“Huss …!!!”
Hal itulah yang memusingkan Mahmud, dia seolah ditampar dua kali, kiri kanan. Pertama dari peraturan yang jelas dilanggar adiknya, kedua dari adiknya yang memicu pelanggaran itu … kedudukannya sebagai ketua keamanan serasa dilecehkan.
Dan rahang si Gus semakin mengeras, bibirnya mengatup rapat dengan suara derak gigi yang terdengar jelas, ketika dia mendengar informasi, ternyata keduanya sering surat menyurat, janji jumpa di pasar, saling senyum dari jendela! Bahkan kala tahu adiknya mengajak temannya ke rumahnya, meski tidak bertemu, wajahnya seolah dicoreng lumpur dicampur kotoran.
“Ini penghinaan, mencoreng nama baik, melanggar syara’, adab! Kurang ajar! Setan apa yang membisiki Salwa sehingga seberani itu! Bangsat!” Mahmud mengumpat keras sendiri, sengaja masalah keluarga ini dia simpan, Abah-Uminya sengaja tidak diberi tahu. Sikapnya di depan Salwa pun masih pura-pura tidak tahu apa-apa, menunggu waktu, pikirnya.

QQQ

Tanpa menunggu lama, sore itu Mahmud segera memerintahkan penutupan semua jendela barat. Siang sebelumnya, dia konsolidasi dengan pengurus pondok putri memperketat waktu dan jumlah santri yang keluar.
Sore itu juga, si Gus memanggil si santri. Meski kemungkinan dia mengira bahwa masalahnya, paling tidak siapa yang dia cintai belum bocor. Tapi, Gus Mahmud rupanya sudah tahu semuanya.
“Kamu mengerti kan, apa aturan di pondok ini?” santri itu hanya mengangguk, matanya tak berani memandang Mahmud.
“Kamu juga mengerti kan apa undang-undang di pondok ini?” Mahmud menatap tajam pada pemuda itu, yang ditatap makin menunduk, sepertinya ia benar-benar ketakutan.
“Akhir-akhir ini aku mendengar desas-desus masalah percintaan seorang santri pondok ini. mulanya sih aku menganggap hal itu sepele, saolnya sebulan yang lalu pernah beredar gosip semacam itu, jadi aku anggap gosip kali ini juga sama”. Gus Mahmud berdiri seraya membelakangi pemuda itu.
“Dalam hal ini, masalah ini aku yang akan menangani langsung, keamanan ada dibawahku”. Mahmud berujar tenang, kata-katanya penuh wibawa, mirip sekali dengan Abahnya. Dia masih memberi kesempatan santri itu untuk “memperbaiki diri”. [ Baca kembali “Awal yang Indah Akhir yang Didamba”, AM. Ilalloh, DCP 2003.]

QQQ
Salwa hanya bisa menangis. Mahmud kakaknya, menasehatinya dan mencecarnya habis-habisan.
“Kali ini kamu hanya bisa menangis, Salwa, kamu tidak bisa lapor Abah-Umi, kalau tidak kamu bunuh diri kamu sendiri, ” Mahmud berkata tenang.
“Aku sarankan, jangan teruskan, aku tidak setuju pemuda itu, lagipula kamu masih kecil. Ngerti apa kamu?! Terus setan apa yang membisikimu sehingga kamu seberani dan senekat itu? Merusak nama Abah, pondok, mbah dengan cara seperti ini?!” Tak henti Mahmud menyudutkannya.
“Kakak kejam, hanya mau menang sendiri, lihat diri kakak juga! Bagaimana dengan Mbak Fauziyah?!” Dalam tangis Salwa melontarkan pertanyaan sangat memojokkan itu, Mahmud terdiam mendengar nama Fauziyah disebut.
“Kamu benar Salwa, tapi akibat yang ditimbulkan laki-laki tidak separah yang ditimbulkan perempuan. Kehormatan keluarga tergantung di perempuan,” Salwa lagi-lagi terdiam, dalam hati dia membenarkan ucapan kakaknya itu.
“Lagipula, keadaan tidak memungkinkan bagiku untuk tidak bertemu Fauziyah, aku masih pulang ke rumah, Fauziyah kalau ngaji pun turun ke bawah. Setidaknya aku tidak pernah berduaan, surat-suratan dengannya. Aku hanya mencintainya dan itu normal. Lagipula … aku tidak pernah ke rumahnya”, kalimat terakhir Mahmud benar-benar membungkam Salwa, ditinggalkannya adik kesayangannya itu dalam kesendirian.
“Ini karena … aku menyayangimu, Salwa,” Mahmud berbisik lirih sendiri seraya melangkahkan kakinya ke masjid.

QQQ

Sejak Mahmud memanggil santri itu, dan menatar adiknya, berangsur namun pasti keadaan membaik, keduanya nampak mengambil sikap hati-hati.
Dua bulan pun berlalu, seolah kasus itu selesai sama sekali, semua pun berjalan normal seperti sedia kala. Mahmud bisa menghirup nafas lega.
Tapi kelegaan itu hanya berumur dua bulan. Ya! Dua bulan. Tanda-tanda ke arah situ tampak berdenyut lagi. Kerinduan tampaknya yang mendorong si santri beraksi lagi. Di saat yang sama pula, satu persatu mata-mata Mahmud melaporkan hasil di lapangan. Termasuk tingkah Udin yang selalu mencurigakan akhir-akhir ini, apalagi saat jaga.
Dan kemarahan sang Gus mencapai puncaknya, saat dia mendengar dari mata-mata santri putri, bahwa santri itu bertemu kembali dengan Salwa, dan di antara keduanya ada seorang santri putri lain, di salah satu toko dekat kompleks pondok.
Sayang memang, Mahmud tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya. Tapi pegangan dia hanya satu, ini adalah pelanggaran, pertemanan lain jenis non mahrom adalah terlarang! Hanya itu.
Mahmud juga merasa kehormatannya sebagai ketua keamanan diinjak-injak. Juga … ghoiroh, ya… api itu berkobar hebat.
Satu tekad tiba-tiba menggumpal di hatinya, kebenaran harus ditegakkan meski pahit. Ini adalah tantanganku, ketegasanku diuji, jangan coba-coba mempermainkanku. Benak Mahmud bergejolak hebat. Semua harus tetap dijalankan, meski menyangkut adikku sendiri, apalagi sepupuku.
Andaikata Fathimah putri Muhammad mencuri, maka sungguh akan aku potong tangannya!
Tiba-tiba hadits itu berngiang di telinga Mahmud, sesungging senyum kemantapan tergores di wajahnya.

QQQ
Semua serba kebetulan, pagi itu Syaikhunaa berangkat ke Ibu Kota menghadiri musyawaroh para Kiai.
Dan sebelum ta’lim kelasan jam delapan, usai Dluha, kelihatan dengan penuh amarah, Mahmud memerintahkan semua senior berkumpul di kantor keamanan dan menyuruh anak memanggil santri itu.
Setibanya di kantor, tanpa basa-basi dan sejenak setelah melepas kacamata minusnya, Mahmud segera memukuli pemuda itu habis-habisan. Dan ia hanya merintih pelan seraya mendesir, sama sekali tidak ada usaha membela diri.
Wajah pemuda itu benar-benar hancur, darah mengucur dari mulut dan hidungnya. Dalam keadaan seperti itu, dia masih berdiri tegap seraya bersandar di dinding.

Suasana di dalam kantor itu yang semula tegang kini menjadi haru. Para keamanan dan senior berusaha mencegah Si Gus agar tidak meneruskan penyiksaan lagi, karena terlihat jelas ini bukanlah ta’zir yang biasa, lebih mirip dendam yang membara.
“Sudah Gus, hentikan Gus”. Ustadz Ishom mencoba menahan Gus Mahmud, berangsur kemarahannya mereda.
“Kini … kini … kam … mu boleh … meninggalkan pondok ini, kem … kemas … kemasilah barang-barang kamu, tafadlol!” Suara Gus Mahmud tersendat, dan dengan tanpa nada marah sama sekali.
Beringsut pemuda itu keluar, ia melangkah dengan tenang, meninggalkan tanda tanya dan sumbangan simpati yang tampak pada wajah-wajah para senior dan sebagian santri yang berdiri menunggu di luar kantor.
Suasana saat itu benar-benar lain dari biasanya, tenang, sunyi, kompleks pondok putra nyaris tak berpenghuni. Dan setelah berbicara sebentar di kantor, Gus Mahmud berjalan menuju tempat wudlu.[ Baca lagi “Awal yang Indah Akhir yang Didamba” bag, 10, DCP 2003.]
Usai wudlu, saat masih di kolam kaki, Ustadz Zainuddin menghadang langkah Gus Mahmud.
“Gus, apa tidak berlebihan mengusirnya?!” Ada nada protes di sana. Mahmud hanya tersenyum, dia memahami apa yang terpendam di hati lawan bicaranya itu.
“Tidak, aku tidak mengusirnya sungguh-sungguh, karena aku tidak punya hak untuk itu. Hanya Syaikhunaa yang bisa mengusir di pondok ini, aku tidak,” ujarnya tenang.
“Lantas, kenapa sampeyan seperti itu? apa faedahnya?” Zainudin agak menahan emosi.
“Santai, Zain, aku hanya memberi pelajaran pada yang lain, lebih baik korban satu daripada seisi pondok ini rusak. Aku juga ingin memberitahu, bahwa keamanan benar-benar tegas, juga … seperti itulah akibat yang melanggar. Aku … ingin seperti Sayyidina Umar, Zain,” Mahmud menatap Zain dengan teduh.
“Nanti, seumpama dia kembali, aku akan tetap menerima kehadirannya dengan tangan terbuka, dengan catatan dia tidak mengulangi perbuatannya. Meski aku sadar, aku berdosa, karena tindakanku dengan memukulinya, menghantam wajahnya adalah kedzoliman tersendiri. Tapi … ini adalah akhoffu dzororoin, Zain. Bahaya yang paling ringan,” panjang lebar Mahmud berbicara, matanya menerawang ke langit biru, seolah minta ampunan.
“Walau dengan ini, aku masih punya haq adami padanya. Suatu saat, aku akan meminta maaf padanya, meskipun dia nanti balas memukulku.” Mahmud kini tersenyum penuh makna. Zainuddin hanya terdiam, tak berkata apa-apa lagi.
“Sudah aku pertimbangkan dengan matang semua akibat dari tindakanku ini, Zain.” Ucap Mahmud seraya berjalan meninggalkan Zainuddin sendirian. Dan Zainuddin memandang tubuh sang Gus yang berlalu dengan masih mematung di samping kolam kaki.
Dan dari kejauhan, sesosok tubuh dengan wajah lebam amburadul berjalan gontai sembari memanggul tas di punggungnya. Dia berjalan melewati depan ndalem, sejenak dia berhenti, memandang ndalem Syaikhunaa, ada sesuatu yang dikenangnya. Santri itu, pergi dengan diiringi pandangan iba beberapa pasang mata.
Di saat yang sama pula, dari serambi masjid, sang Gus menghela nafas, melihat kepergian pemuda itu, yang selama ini ternyata akrab dengannya juga, berat.
Sementara itu, di sudut yang lain, terlihat Udin mendadak salah tingkah, keringat dingin mengucur dari dahinya, saat matanya bertatapan dengan mata sang Gus yang tiba-tiba bersinar tajam.
Sesaknya, nafas di dadaku, mengenang percintaan kita.
Dapatkah, kita meneruskan impian dan harapan kita.
Di hatiku masih luka, namun ku tetap bersabar, ku mengerti perasaanmu, duhai … ooo … sayang.
Rindu bergelora, resah gelisah nafas cinta, biar pun seribu luka, tak bisa menghapus cinta.
Entah mengapa aku, masih sayang padamu, karena engkau adalah kekasihku.
Nafas cinta … ooo … [ Nafas Cinta, Inka Cristie/ Amy Search.]
Pagi itu berlalu dengan tenang, menyisakan selaksa kenangan.

QQQ

Malam Jum’at, dapur ndalem.

“Mbak, sampeyan belum ngomong, siapa orang ketiga yang menghubungkan dia dengan Salwa. Pasti dia mak comblangnya, tidak mungkin tidak”, pemuda itu berkata tenang seraya menyeruput wedang jahe yang dibikinkan si Mbak.
“Engg … itu … nggak usah Gus, lagian sudah selesai kan?! Cukup sudah.”
“Hmm …begitu?! Apa sampeyan ikut menutupi kesalahan yang nyata? Memungkiri yang hak? Membuka peluang yang lain?! Seolah ini tidak apa-apa, membiarkannya bebas?!” cecar pemuda yang dipanggil “Gus” tadi.
“Bukannya begitu, Gus, tetapi …”
“Katakan kalau begitu. Terus terang, lancang betul perempuan itu, berani-beraninya dia, cari mati apa?!” Alis sang Gus mulai bertaut, matanya agak memerah.
“Dia … sebenarnya nggak setuju, Gus.”
“Tapi masih jadi tukang pos, begitu!?!” Si Mbak hanya terdiam sembari menunduk, dimain-mainkannya kain lap yang ada di tangannya.
“Siapa dia, Mbak .…”
“Tapi jangan diapa-apakan Gus yach, kasihan dia nanti, cukup saudaranya saja,” mohon si Mbak, hanya ada senyuman begitu sinis dari sang Gus.
“Qul-il haqq, wa lau kaana murro!” Si Mbak tidak bisa berkutik.
“Emm … itu Gus … Ruri”.
Terlihat sang Gus mengangguk-angguk pelan, tiba-tiba terukir segaris senyum di wajah sang Gus. Bukan! Itu bukan senyuman, tetapi … lebih mirip sebuah seringai yang menakutkan. Ya! Sebuah seringai … kebenaran, lebih tepat.
“Ooo … Ruri, dia rupanya … hmmm”.

QQQ

Tundhobawi, Makkah.
27 Sya’ban 1425 H.
Cerpen ini bisa disebut, sekuel lain dari “Tak Ada yang Tak Ada di Dalam Cinta” nya Mas A.M. Ilalloh.
Gimana, pas ga’?? He … he … he …
Sekedar pengusir sepi dan rindu.

Kata Mereka

Kalo komentarku gini, salut sambil manggut-manggut, apalagi saat ngebaca cerpen yang judulnya itu Sang Goes, aku sampek tegang bukan main, kalo bukan gara-gara “meskipun secara variatif cerita dan kekreatifan imajenasi Dst…” di kepalaku udah ada rencana bikin sekuel-sekuel lanjutan yang lain, semisal Aku Bukan Orang Ketiga atau si Gus bertemu lagi dengan anak itu di sebuah pesantren lain yang judulnya Aku di Sini Untukmu, aduh seru nich kayaknya…
Kalo dilihat dari segi bisnis, kumcer ini nggak punya prospek yang cerah, maksudnya gini, seandainya yang ngebaca itu bukan santri, tapi ada cita-cita ingin nyantri di hati, anak itu pasti mengubur keinginan mondok itu, soalnya emage tentang kesengsaraan nyantri begitu jelas, didukung warna keganasan seorang gus yang begitu mencolok.
Tapi kalo diteliti dengan cermat, usai membaca cerpen-cerpen di buku ini, juga cerpen lain karangan penulis, aku mau bilang salut lagi, dan muncul satu pertanyaan, lebih tepatnya permintaan, kapan sosok “mundzir” dalam cerpen sang Gus di fiktifkan sebagai tokoh utama, juga? Soalnya aku rasa akan banyak hikmah dan contoh kedewasaan di sana!

Ahmad Muhajir Ilalloh
(Mantan Pimred & Redpel majalah Ad-Dliya)

Apik, komentarku wes ngono ae, sebenernya aku belum tuntas membacanya, tapi dilihat dari kesemua cerita sudah jelas bagus, soalnya aku ndiri belum bisa buat yang kayak gitu, soale belum banyak pengalaman, yang fiksi aja aku juga belum bisa, jadi kalian-kalian yang baca nih komentar, doaian aku agar bisa nulis yang kayak gituan dan bermanfaat tuk semua pembaca. Yah karena hanya itu yang bisa saya omongin tuk ngomentari buku DNC ini moga-moga aja aku juga bisa nyusunin kata-kata yang tepat untuk nyusul kumcer ini. Maapku juga kalo komentarku paling jelek diantara komentator. Al afwu minkum.

M. Hasan al-Chodlir
(Redaksi majalah ad-Dliya)

“Mad, tolong mas Hifny, Amiruddin, Zabid, yek Husein, Hajir (kalau ada) dan kamu, beri tanggapan atas cerpen ini.” kurang lebih begitulah sedikit catatan yang ditulis oleh penulis kumcer ini. Beliau minta agar redaksi Dliya’ memberikan tanggapan atas kumcernya. Dan salah satu dari mereka adalah aku, Aly Zabidy Ahmad.
“Nggak usah banyak-banyak, sedikit wahe, biar nggak ngentekno halaman” begitu lanjutan keinginan penulis.
Sebuah tanggapan akan berkesan dan mempunyai nilai yang dalam serta patut dipertimbangkan apabila tanggapan itu muncul dari seorang ahlinya. Dan terus terang saja, aku dalam hal ini, bukanlah seorang ahli yang bisa menyatakan kumcer ini bagus atau jelek. Yang bisa dengan ganas meremas-remas kata-kata yang panas. Mengelus-ngelus agar bisa menjadi halus. Menimang-nimang agar bisa meninabobokkan. Meneliti, mengamati dan mencermati setiap senti dari pundi-pundi narasi.
Kalau penelitian dan pengamatan dilakukan pada setiap hal yang perlu pembahasan, maka kertas yang terbatas ini akan sulit memaparkan dengan jeli. Tapi secara sekilas semua bisa tuntas dan jelas meski diambil “sebatas-batas”.
Secara garis besar, kumcer ini bisa dibilang bagus. Tapi terus terang kumcer ini tak luput dari kekurangan. Mengikuti “secara sekilas dan mengambil sebatas-batas” diantara kekurangan adalah; kadang penulis kurang jeli menempatkan kata yang nge-gaul (kalau arek Dliya’ bilang) dengan kata yang mencocoki EYD. Juga, penulis sepertinya dalam setiap tulisannya terlalu menjurus ke areal NA, sepertinya yang dikhitobi itu adalah santri NA saja, dari sinilah terkadang ada hal/keadaan/tulisan yang sulit ditanggap oleh orang selain NA. Dari keseluruhan OK banget. Nggak usah dipaparkan disini, pembaca bisa menikmatinya sendiri. Tul?
Aly Zabidy Ahmad
(Redaksi majalah ad-Dliya)
Nggak usah banyak-banyak ya, dari sekian cerpen yang disuguhkan, ada yang menggambarkan kekerasan watak anak manusia, ini yang kurang saya sukai dari watak si pelaku. Suka menghegemoni bawahan.
Yang aku paling seneng ya cerpen yang berjudul “SEREMONI PEMANUSIAAN”, majasnya lumayan, hingga bisa membuatku tersenyum, kemudian tertawa kecil, yakni ketika si pelaku dihajar dan digebuki kemudian diceburkan ke sungai berkali-kali.
Selesai membacanya pun aku mengulangi lagi tawa kecil, banyak pengalaman, makna, nasehat yang bisa kita ambil. Selamat.

M. Amiruddin
(Pimpinan umum ad-Dliya)

Sebelumnya saya ucapkan selamat atas terbitnya karya baru Anda, juga saya minta maaf apabila komentar saya tidak memuaskan Anda.
Langsung saja, karena saya tidak ahli dalam bidang membuat cerpen, maka saya hanya berkomentar dengan singkat saja:
– Saya kira karya Anda sangat bagus walaupun saya tidak membaca semuanya, tapi saya berani mengatakan begitu karena saya tidak meragukan kemampuan Anda dalam membuat cerpen, terbuklti di antara redaksi ad-Dliya, Andalah yang paling banyak mengarang cerpen.
– Ketika saya membaca kumpulan cerpen Denting Nada Cinta yang di dalamnya terdapat cerpen karya M. Amiruddin, saya sangat terharu karena sangat banyak terdapat makna di dalamnya.

M. Sun’an Asyiqin
(Redaksi majalah ad-Dliya)

Setelah membolak-balik halaman cerpen-cerpen ini, saya merasakan atmosfir dunia pesantren yang begitu kental dengan kepemimpinan otoriter sang Gus. Saya mengagumi cerpen “Sang Gus”. Dalam karya ini, si penulis memberikan gambaran dari problematika sehari-hari di masyarakat pesantren. Namun di situ, ada kisah-kisah yang indah dalam percintaan dan persahabatan.
Dan cerpen berjudul “Seremoni Pemanusiaan” memiliki langgam bahasa yang menarik dan nilai-nilai sufistik yang terkandung di dalamnya.
Tetapi latar belakang/ background dan setting kumcer ini terlalu sempit, hanya tertuju pada masyarakat NA saja. Hal ini menyebabkan kesulitan bagi para pembaca di luar NA untuk menanggapi kumcer ini, sehingga para pembaca dari luar NA kurang bisa memberikan komentar apakah kumcer ini bagus atau jelek, karena setiap pembaca punya relativitas tersendiri dalam menilai suatu narasi, termasuk saya sendiri.
Seandainya saya disuruh mengomentari kumcer ini, saya katakan terus terang bukan ahli dalam menilai suatu karya sastra. Akan tetapi saya ucapkan selamat atas penulis kumcer santri “Denting Nada Cinta yang Lain” ini atas usaha dan kerja kerasnya dalam membuahkan karya ini. Teruslah berkarya semaksimal mungkin untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Sayyid Husein Kherid
(Mantan redaksi majalah ad- Dliya)

Leave a comment »

Denting Nada Cinta yang lain

Diary:
Syaibatul Hamdi

Dliya

Creative
Production


Kumpulan Cerita
Santri:

Denting
Nada Cinta yang Lain


Penulis:

Syaibatul Hamdi


Illustrator:

Ahmad Luthfi
Thiflani


Desain sampul, Tata
letak & perwajahan isi:

Sajadah Hijau
Grafis

Cet. 1, Dzul Hijjah
1426 H

Hak cipta dilindungi
Alloh Ta’ala


Dicetak oleh:

PARBAR Printing


Diterbitkan oleh:

Halaqoh
Dakwah Bil Qolam (HDQ) Makkah

dengan

Dliya Creative
Production

Al-Ma’had al-Islamy
as-Salafy Nuur al-Anwaar

Jl. Raya Parengan
no. 90 Maduran Lamongan Jatim 62261 Telp. 0322-392572

Senandung
Melodi Cinta


Guru-guru
besarku … yang menata jiwaku … yang mengajariku denting dan
nada-nada cinta sejati, cinta yang sesungguhnya ….


Teman-temanku,
saudara-saudaraku, Dliya-Zahro, NA, semuanya … yang aku memainkan
dengan riang denting, alunan nada-nada cinta itu ….


Mereka,
siapa pun … yang menyenan-dungkan, mendengtingkan nada cinta …
untukku ….

Terima
kasih,
jazakumulloh
khoiro ….

Syaibatul
Hamdi

Pengantar
Penerbit

Bismillahirrahmaanirrahiim

Segala
puji bagi Alloh
,
sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita
Rosululloh
,
keluarga, para sahabat, serta orang-orang yang membelanya. Wa ba’du:

Alloh
menciptakan manusia sebagai kholifah di bumi dengan dibekali berbagai
kelebihan di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain. Dan di
antara manusia sendiri, keahlian yang dimiliki masing-masing individu
pun beragam. Tetapi tetap, penciptaan mereka hanyalah untuk satu
misi: beribadah kepada-Nya.

Dengan
berbeda-bedanya kemampuan, maka cara yang bisa ditempuh manusia untuk
mewujudkan misi di atas juga beragam, tak terkecuali dalam mengajak
sesama pada kebenaran.

Jika
seorang alim bisa berdakwah lewat pengajaran dan ceramahnya, maka
kesempatan berdakwah pun dimiliki seorang sastrawan, tentunya lewat
karya tulisnya.

Dan
itu yang kami lihat dalam Kumpulan cerpen
Syaibatul
Hamdi, dengan background pendidikan pesantren, tak sulit baginya
untuk memasukkan pesan-pesan agama dalam setiap baris cerpennya.
Dengan cara ini, Syaibatul Hamdi tidak cuma menggapai kepuasan
berkarya – sebagaimana yang selalu menjadi kebutuhan para sastrawan
– tetapi juga menyalurkan ilmu serta pemikirannya pada para
pembaca, sehingga misi ibadah pun dapat ditempuh lewat corat-coret
tulisannya.

Dan
salah satu keunggulan misi ibadah melalui sebuah karya sastra adalah
kemampuan menyampaikan pesan agama – bagi mereka yang tak mau
digurui – dengan cara yang lebih halus.

Akhirnya,
semoga buku ini dapat memberikan manfaat (pencerahan tak terduga)
bagi para pembacanya sebagaimana keinginan dari penulis sendiri,
meskipun itu hanya lewat sebuah kumpulan cerpen.

Penerbit

Sepuing
Kenangan …

Segala
puji bagi Alloh, yang segalanya ada di genggaman tangan-Nya. Sholawat
salam semoga selalu terguyurkan untuk baginda Rosululloh beserta
keluarga dan sahabatnya.

Setelah
itu:

Mungkin,
semua cerpen dalam kumcer ini akan menjadi kenangan abadi bagiku,
insya
Alloh
.

Sebelum
menulis kata pengantar ini, sebenarnya sudah kutulis dua kali sebuah
kata pengantar yang sekira cocok jadi pembuka kumcer ini.

Tapi,
kedua
muqoddimah
itu harus aku sisihkan, setelah tanpa kuduga – dan semuanya – aku
harus melewati (serta menyaksikan) sebuah hari yang benar-benar tidak
akan terlupa, hari yang – sampai saat ini – aku masih
menganggapnya mimpi, hari saat kaki serasa tidak berpijak di bumi,
hari yang memporak-porandakan semua prediksi yang sempat tersusun di
benakku. Mungkin, aku tidak akan pernah percaya, jikalau tidak semua
ini memang sudah qodlo-qodar dari Yang Punya Kehidupan.

Ya
… hari itu, 15 Romadlon 1425 atau 29 Oktober 2004, Jum’at, tepat di
fajar hari, saat … beliau … Sang Guru … pergi untuk
selama-lamanya, meninggalkan setumpuk kenangan yang tersisa, diiringi
oleh bajir banding airmata. Tepat di setengah tahun, lebih setengah
bulan, lebih setengah hariku di Makkah al-Mukarromah,
rohimallohu
‘alaika rohmatan waas’iah ya Abuya, wa askanakallohu fasiiha
jannatihi, amiiin.

Dan
kumcer ini, adalah satu di antara dua karya yang sempat kugoreskan di
saat hayat beliau, saat Alloh memberiku kesempatan manis nan indah
bisa
khidmah
pada beliau (walau sejenak), saat aku setiap Shubuh duduk seraya
memegang kaki beliau sembari memijatinya, sebelum akhirnya beliau
intiqool
ila rofiq a’la.

5
cerpen dalam kumcer ini, kuhasilkan dalam tempo dua hari, setelah
inspirasi-inspirasi itu keluar secara beruntun, usai tanganku ditepuk
3 kali oleh tangan lembut beliau diiringi sebuah senyuman yang
menyejukkan hatiku di suatu Shubuh! Inilah yang kubanggakan dan
kujadikan kenangan.

1
cerpen, kutulis di sela-sela aku dapat tugas khusus terakhir kali
dari beliau, setelah membaca novelette-nya A.M. Ilalloh.

1
cerpen yang lain, kutulis di Pujon. Kumuat kembali karena aku lihat
ada makna tergali dari cerpen itu.

1
cerpen lagi, milik sahabatku, Amiruddin, sebuah cerpen yang selalu
membuatku terkagum setiap kali kubaca, terdapat pesan indah dan dalam
di cerpen itu.

Tak
satu pun kedelapan cerpen kali ini yang berbicara cinta – kecuali
sekedar kilas balik dan bumbu saja – tak biasanya seperti
cerpen-cerpen yang telah kutulis selama ini.

Oleh
karena itu, aku berharap kumcer ini barokah, disamping penulisannya
semua di tanah suci.

Nama-nama
dalam kumcer ini, sengaja ada yang kuambil dari nama teman-teman NA.
Kucantumkan, biarkan jadi sebuah kenangan dan memori bagiku. Namun
ingat … tidak usah dimaknakan macam-macam, ta’wil apalagi tafsir,
ini adalah fiksi bukan fakta, pintarlah mengatur
husnudzon,
bukankah kita sudah cukup dewasa?

Makna
tersilatlah yang kumaksudkan bisa diambil manfaatnya, bukan yang
tersurat (kalau itu hanya sekedar hiburan), dan hal itu tentu saja
setelah kamu membaca setiap cerpen ini.

Akhir
catatan, aku berharap tulisan tak berfaedah ini dijadikan oleh Alloh
berfaedah, tentu juga dengan memohon ampunan di sana. Dan kumcer ini,
kupersembahkan untuk santri Nuur al-Anwaar secara khusus (karena
cintaku pada mereka) dan siapa pun yang mengaku serta bangga bahwa
dirinya adalah santri, secara umum (karena posisiku yang sama dengan
mereka). meskipun, secara variatif cerita dan kekreatifan imajinasi
serta kadar kepenasarannya, tak selincah goresan sang sahabat, A.M.
Ilalloh.

Lalu
… Bismillah dahulu dan …

Al-Fatihah
… untuk Sang Guru Besar, yang dunia Islam semua meratapi
kepergiannya dan benar-benar kehilangan sosok agung berwibawa
dirinya.

Alawy
Aly Imron

(Syaibatul
Hamdi)

Mekkah
al-Mukarromah 19 Romadlon 1425 H

Jam
02.00 dini hari

Saat
belum sadar dari mimpi nyata.

Daftar
Isi


Senandung
Melodi Cinta …
5


Pengantar
Penerbit …
6


Sepuing
Kenangan (Pengantar Penulis) …
8


Daftar
Isi …
12

1.
Seremoni Pe”manusia”an …
13

2.
Semoga Engkau Kembali, Sahabatku …

3.
Menumpang Kisah …

4.
Denting Nada Cinta yang Lain …

5.
Merindu Kasih …

6.
Cerita Malam …

7.
Setetes Embun Pagi …

8.
Sang Gus …


Kata
Mereka …


Tentang
Penulis …

1

Seremoni

Pe-“manusia”-an

Malam
pekat, mendung menggelayut tebal, gelap, dan berat. Angin pun mulai
berhembus dengan desisan yang mendirikan bulu roma, meski hujan belum
mengguyur dan petir belum menyambar, kecuali kilatan-kilatan temaram
bak blitz kamera.

Aku
berjalan tenang sembari mendongakkan kepala, kulalui sebuah jalan
sepi, sedikit gersang. Pohon-pohon meranggas, menggugurkan daunnya,
kuseret sarungku yang melewati mata kakiku.

Tiba-tiba
angin bertiup kencang, menerbangkan segalanya, aneka dedaunan kering,
dedebuan, kerikil-kerikil kecil, ranting-ranting pohon, bahkan
sampah-sampah, yang bercampur di udara yang telah berubah tidak
bersih itu, serentak silih berganti menghantam menerpa wajahku.

Aku
hanya tertawa lirih, tawa sinis, tenang saja, aku memiliki mantel
tebal itu, toh semua orang mengetahui kehebatanku, mereka kan tahu
aku punya mantel itu, pernah kupakai di hadapan mereka, mondar-mandir
layaknya peragawati di catwalk. Tak cuma itu saja, mereka tahu
ceritaku memperoleh mantel itu, topinya sekalian juga, sebuah cermin
yang barusan kuperoleh pun kini erat pula dalam dekapanku.

Kuterobos
dengan gagah angin ribut itu, dan yeah … aku sukses melewatinya,
tawaku membahana di tengah deru angin, tapi aku tidak sadar, sesuatu
telah terjadi.

Jauh
kemudian di depanku, kulihat ada api berkobar, asapnya mengepul pekat
menutupi pandangan, hendak menghalangi jalankukah? Tidak akan bisa,
santai saja, kan aku punya mantel dan topi itu. Kubusungkan dadaku
menerobosnya. Dan seperti diduga, mudah saja kulewati asap hitam itu,
tanpa aku harus kehilangan jalan apalagi tersesat.

Sampai
akhirnya, aku tiba pada sebuah pohon, kurebahkan diriku melepas
penat, tidur. Lelah mesra merangkulku, lagian tidak ada apa-apa,
lebih baik tidur, itu yang melintas di benakku.

QQQ

Hangatnya
sinar matahari pagi membelai wajahku, kubuka mataku, tapi segera
kupejamkan lagi, silau. Kuraba cermin yang ada di sampingku, “Mengaca
dulu ah.” Pikirku.

Namun
aku sedikit terkejut, kantuk yang masih menggelayut segera hilang,
setelah dengan penuh keheranan, cermin yang sedianya kupakai mengaca
itu terlihat buram, menghitam! Aku agak gusar, sebentar kemudian
berubah menjadi kekalutan. Mengapa ini terjadi?! Aku tidak bisa
mengaca! Ada debu campur jelaga pekat di sana! Dari mana ini?!?

Lebih
terkejut lagi ketika kulihat tubuhku, penuh pasir, dekil, koyak moyak
dan bau! Kuraba wajahku, kulihat tanganku, kotor! Hitam! Apa yang
terjadi?!

Mantelku!
Topiku! Ke mana ia?! Aku panik, ternyata aku tidak terasa kalau
mantel dan topi pelindung tubuhku tanggal dan terbang! sehingga
dengan mudahnya debu, ranting, kerikil, sampah, asap itu mengotori
dan menerjang cermin serta tubuhku.

Aku
mencium bau tidak sedap dari bajuku, sampahkah? atau keringat? kuseka
peluh yang menggucur dari dahiku, dan … Hah!?! Hitam?! Asap tebal
itukah?

Lalu
kenapa aku tertidur semalam tanpa kusadari keadaan seperti ini?
untung tidak ada orang yang tahu sehingga aku tidak dianggap orang
gila, bagaimana harga diriku jika orang yang mengenaliku tahu
kondisiku yang hina bagaikan gelandangan tuna wisma di bawah jembatan
ini? Rambutku yang kusut masih penuh pasir dan debu makin meyakinkan
penampilanku sebagai orang gila. Ah … kututupi wajahku, malu.

Masih
untung bajuku tidak lepas, sarungku tidak melorot meski sudah robek
semua di sana-sini sehingga aku telanjang, lantas jadi apa aku?

Tapi
cermin itu masih ada, fiuhh …

Segera
kuingat beberapa hal, apa sebab ketelanjangan ini? Mengapa cermin itu
buram oleh debu, buram oleh asap? Mending tidak retak apalagi pecah.

Bergegas
aku berdiri, kulangkahkan kakiku ke sungai dekat pohon aku rebah,
ingin kubersihkan tubuhku dan cermin itu, tapi cermin itu dulu yang
ingin kubersihkan.

Kuambil
secakup air, santai kubasuh cermin itu. Namun … kok tidak hilang?
Kucoba memakai segenggam rumput kering … hah?!? Tetap!? Apa
gerangan ini?! Aku bingung bukan main.

QQQ

“Payah!
Kayak ayam jago kamu! Malu-maluin!”

“Aku
tidak suka sikapmu, merak!”

“Elang
memang gagah, hanya saja ….”

“Pantas,
gagak kalau seperti kamu ini.”

“Anak
muda, mesti kau lumatkan itu, seharusnya dan saatnya kau Ibrohim-kan
dirimu.”

QQQ

Susah
payah kubersihkan cermin yang belum sempat kupakai mengaca sama
sekali itu, kusingkirkan debunya, kutisik jelaga tebal itu, sedikit
demi sedikit.

Tak
kupedulikan tubuhku yang masih compang-camping, kusut masai, dan
makin bau

oleh
keringat yang mengucur deras, yang penting cermin ini harus ber
sih
dulu.

Lama
aku berusaha, matahari hampir lurus di atas kepalaku, akhirnya aku
sukses membersihkannya lewat 1001 cara, Alhamdulillah. Sekarang harus
kujaga, meski nanti akan ada satu atau dua debu yang menempel
kembali, tapi itu hal yang wajar, toh akan hilang jika segera
dibersihkan.

Oh
Iya! Kenapa tidak mengaca dulu? Kucoba untuk mengaca yang pertama
kalinya, aku tersenyum, kubayangkan wajah tampanku sebelum
kuhadapkan cermin itu ke wajahku. Kupejamkan mataku, tetapi lagi-lagi
keterkejutan yang membekapku, saat kudapati muka kera yang terpantul
dari cermin itu!

Aku
tidak percaya dengan pemandangan ganjil ini, kugosok-gosok mataku,
tidak mungkin! Segera aku berlari lagi ke sungai, kubasuh wajahku,
kusiram rambut gondrongku hingga benar-benar bersih, lalu kucoba
mengaca lagi.

Dan
sekali lagi pantulan cermin itu membuatku tidak percaya, kenapa sama
sekali tidak berubah? Masih tetap, kera!

Aku
terduduk, tertegun kusaksikan wajahku, terus kuamati “wajah
kera” itu dengan penuh keheranan dan ketidak mengertian. Dan
berlahan namun pasti, siluet kera itu berubah! Tiba-tiba ia
bermetamorfosa, aku semakin terkejut kala moncongnya makin maju,
taring yang memanjang keluar dan menyeringai liar, telinga yang makin
lebar! Apa ini?! Serigala?! Hah! Tidak mungkin! Aku berteriak kalut
sekali, kulemparkan cermin “aneh” itu dengan penuh
ketakutan, kututupi wajahku dengan kedua tanganku, yang masih asli
manusia.

QQQ

Aku
masih duduk terpekur di tepi sungai, kupandangi saja alirannya,
kudengarkan saja gemersiknya. Keletihan susah payah membersihkan
cermin itu masih membekas di wajahku, hanya termenung yang bisa
kulakukan, apa yang terjadi denganku? Kenapa wajah serigala yang
muncul?

Lama
aku disitu hingga sore menjenguk , bak orang gila aku tertawa
sendirian, bajuku masih compang-camping, wajahku kumuh lagi oleh
debu, percuma mandi kalau aku hanyalah “serigala “.

Tiba-tiba
dari arah berlawanan tempatku merenung, datang seseorang
menghampiriku, dia memperhatikanku, roman mukanya teduh, bersih,
dengan cahaya yang memancar, dia berkopyah haji putih, berbaju putih,
bersarung tenun khas sebuah daerah yang kukenal. Seuntai tasbih kayu
tergenggam di tangannya, setelah dekat, ternyata dia menghampiriku,
kucium bau wangi darinya.

“Ada
apa anak muda?” sapanya, diambilnya cermin yang tergeletak di
sampingku, dilihatnya, lantas di tiupnya debu yang menempel kembali
di permukaan cermin itu, ditepuk-tepuknya pundakku.

“Rawat
dengan baik cermin ini, jaga. Bukankah sudah banyak pengalaman hidup
yang kau rasakan? Ingat ….” dia putus kata-kata itu,
dilanjutkannya dengan isyarat lirikan matanya yang memandang ke atas,
seraya telunjuknya diacungkan ke arah yang sama, sebelum dia
melihatku kembali. Aku lihat dia melakukannya sembari menyimpulkan
senyum.

“Sholawat,
dzikir …”, ujarnya pendek, sambil pergi meninggalkanku dalam
ketermanguan. Aku belum sepenuhnya sadar, tapi bisa kutangkap maksud
perkataan sang bijak tadi, aku berdiri mengantarnya berlalu dengan
pandangan kedua mata sayuku.

Belum
selesai keherananku dengan peristiwa barusan, tiba-tiba kudengar
suara langkah kaki dari arah sang bijak datang tadi, sama. Dia juga
berkopyah haji, hanya saja dia bergamis putih, serasi dengan jenggot
dan rambutnya yang sudah memutih pula, wajahnya teduh, bersih,
bercahaya juga. Kulihat dia tersenyum padaku saat melewatiku, di
hampirinya diriku.

“Anak
muda, Apa yang kau lakukan di sini?” Seraya di ambilnya cermin
dari tanganku.

“Hmm
… Bagus, jaga baik-baik, jangan sampai retak”, nasehatnya
sambil berlalu, ada semangat baru timbul di hatiku karena perhatian
mereka, aku mulai bisa tersenyum.

Belum
selesai juga sebenarnya diriku dalam kelegaan. Ketika datang lagi
seorang, agak gemuk, dengan ciri wajah sama, datang dari arah yang
sama juga, Kiblat. Hanya saja pakaiannya agak berbeda, dia berbaju
lebih dinas, mirip safari orang kantoran, jas dengan potongan baju
takwa, kopyah putih bulat, dan sarung tenun khas sebuah desa yang
kukenal. Hampir saja dia berlalu, tapi akhirnya ditengoknya aku, dan
dia menghampiriku, dia pegang kedua pundakku.

“Yang
ikhlas anak muda,” seraya tersenyum, diliriknya cermin yang ada
di dekapanku, dan dengan senyuman yang makin mengembang dia
mengangguk-angguk, aku paham akan isyarat itu.

“Jangan
beranjak dulu anak muda, tunggu seorang yang akan datang, beliau guru
kami,” dia pun berlalu meninggalkanku sendirian.

Benar,
tak lama kemudian datang seseorang tinggi besar, berwajah arab, dia
nampak agung, wibawanya memancar kuat, bergamis putih di rangkap
jubah hitam dengan sorban putih besar yang melilit kepalanya, tangan
kanannya membawa tongkat, jenggotnya memutih sebagian. Namun auranya,
pandangan matanya, kebeningan dan kejernihan wajahnya yang
memancarkan cahaya membuat tubuhku bergetar hebat, bahkan siapa pun,
aura khas para
habaib,
tapi ini lebih kuat.

Setelah
dekat dengan tempatku berdiri, mendadak dipintanya cermin yang ada di
tanganku, kuberikan cermin itu, lumayan bersih, tinggal
menyempurnakannya saja, mungkin hal

itulah
yang terlintas di benakku, ah

…. Aku GR.

Tiba-tiba
tanpa kuduga, dipukulnya tubuhku bertubi-tubi dengan tongkat yang
dibawanya, tak hanya itu, lelaki tinggi besar tadi menonjoki wajah
dan tubuhku dengan tinjunya berkali-kali, dibanting-bantingkannya
tubuh ringkih, kotor, bau, dan berdebuku, aku merintih kesakitan.
Tapi aneh, dalam keadaan yang sadis seperti itu, kurasakan kenikmatan
yang luar biasa di sana, seraya jiwaku ringan sekali dan jernih.

Diangkatnya
tubuhku, dia ceburkan diriku ke sungai, berkali-kali aku dibenamkan
olehnya, aku berteriak-teriak, nafasku tersengal-sengal, banyak air
masuk ke perutku, ditamparinya wajahku, dan dalam keadaan samar,
kulihat siluet-siluet unik, merak kesombongan, bangga diri, gagak
kedengkian, elang haus kekuasaan, ayam jantan nafsu, dan anjing hitam
ketamakan semburat berlarian dan beterbangan dari diriku. Lelaki itu
pun masih terus menggebukiku, menampari wajahku, dilepasnya juga
bajuku, hingga tinggal sehelai sarung koyak yang melilit di tubuhku,
tak bosan dia memperlakukanku seperti itu, aku tidak bisa apa-apa,
sampai tenagaku habis barulah dia melepaskanku.

Entah
dari mana, dia melemparkan kepadaku pakaian-pakaian kering, bersih,
baru dan berwarna putih. Dengan bahasa isyarat, disuruhnya aku
mengganti sarungku yang basah dengan pakaian-pakaian itu, aku
mengerti, segera aku ke balik semak dekat situ.

Setelah
itu, dia melambaikan tangan memanggilku, yang aku herani, dia sama
sekali tidak keletihan padahal sudah sesepuh itu, tenaganya hebat,
walau sempat kusentuh tadi, kaki beliau bengkak.

Diangsurkannya
cermin itu kepadaku, disuruhnya aku mengaca, tapi sempat kutolak, aku
masih trauma. Namun beliau terus memaksaku, kupegang cermin itu,
kuberanikan diriku, kupejamkan mataku, dan ….

Aku
hampir melonjak gembira, kala cermin itu memantulkan wajah manusia!
Bersih dan Jernih, aku tertawa senang, gembira bukan main.

Sebenarnya
aku masih tenggelam dalam kegembiraanku, ketika tanpa kusadari lelaki
itu sudah berjalan agak jauh meninggalkanku, kukejar dia sekedar
ingin mengucapkan terima kasih, kucium tangan dan lututnya. Lantas
dengan suara penuh wibawa, dia berucap diiringi seulas senyum yang
melegakanku … “
Tawakkal
‘ala Rabbak
.”

Ditinggalkannya
aku sendirian, saat benar-benar kurasakan diriku sempurna sebagai …
manusia.

QQQ

Makkah
al-Mukarramah

15
Rajab 1425 H

Dalam
temaran malam bulan Purnama
.

Tak
akan kulupakan senyummu yang menyejukkan hatiku, candamu yang
menghilangkan kegundahanku, dinginnya keningmu, kakimu yang kusentuh
oleh kedua tangan kotorku, halus, dan harumnya tanganmu saat kucium
dengan bibirku dan …

kata-katamu
yang melambungkan jauh anganku … “Hani-an lak.”

Yaa
Alimas Siri minna, la tahtiki-s Sitra ‘Annaa.

Wa
‘Aafina wa’fu ‘Annaa, wa kun lanaa Haitsu Kunnaa.

Semoga
Engkau

Kembali…
Sahabatku

“Apa?!
Bekerja?! Kamu mau kerja?! Lalu … bagaimana dengan kesepakatan kita
dahulu?! Yang kerap kita banggakan selama ini?!”
kugoncang–goncang di pundak sahabatku yang hanya berdiri mematung
seraya menunduk.

“Keputusanku
sudah bulat, Qib. Aku terpaksa, Qib “, ujarnya lirih.

“Iya!
Tapi bukankah itu tarlalu dini, bisa kamu pertimbangkan lagi kan?!”
kucecar ia dengan nada yang masih tinggi, penuh kegusaran.

“Memang,
Qib. Tetapi ternyata selama ini orang tuaku memberi isyarah untuk .…”
belum selesai kalimat itu yang segera kuputus.

“Ah
… Roy, kalau tahu sekarang ini kamu mau kerja, kenapa tidak sejak
dahulu–dahulu saja?! Buat apa kamu jungkir balik, capek duduk,
capek bangun selama 5 tahun ini untuk cari ilmu?! Menghabiskan waktu,
menghabiskan uang selama ini Roy, buat apa?!” aku masih agak
emosi.

“Roy,
akan kukenang selalu kedekatan kita dulu, kesepakatan yang 4 tahun
selalu kita ucapkan dengan kesemangatan dan kegirangan,” kini
aku terduduk, capek.

“Entahlah,
Qib. Aku sendiri tidak mengira, ternyata hal yang kuperkirakan tidak
berubah, buktinya … yah, hanya perubahan itu sendiri yang tidak
berubah. Biarkanlah aku, Qib .…” ujarnya datar dan lirih.

“Mungkin
aku ke Jakarta, do’akan aku bisa mencengkram erat aqidahku, Qib”,
imbuhnya lagi.…

Tak
ada jawaban dariku, aku hanya mendesahkan nafasku, berat. Tetapi itu
sudah keputusannya, dan kukenal ia selama ini adalah sosok yang keras
kepala jika punya sebuah keputusan. Malam hening, sehening hatiku
yang masih sangat kecewa dengan keputusan yang sama sekali tak kukira
itu. Lama kudengar suara desah angin malam bertiup, menggoyang
ranting pepohonan, menggugurkan dedaunan rontok, dan menerbangkan
kenanganku. Halaman ponpes, serambi masjid, belimbing tua, turut
membisu menyaksikan kemasygulanku, musik malam konser gabungan kodok,
jangkrik, tokek turut menginstrumeni kesepian itu. Tetabuhan atas
kekecewaan yang memekakanku.

QQQ

5
Tahun lalu

“Qib,
dari mana Ente?! itu ada anak baru, urusi!!!” Aku yang barusan
dari pesarean, terkejut ketika tiba-tiba Gus Alawy memanggilku dari
balik jendela ndalem. Tangan kirinya menahan jendela yang dibukanya
separoh itu, kulihat tangan kanannya masih memegang mushaf.

“Dia
dengan orang tuanya, di kamar Muslim. Beri tahu peraturan, jadwal
ngaji di sini, jangan pula catat di buku induk, yah. Ajak dia
ngomong-omong dulu, nggak usah langsung disuruh ikut ngaji, wirid,
murobathah,
atau
tandzif,
biarkan kerasan dulu. Setelah satu minggu, baru kita garap.”
Lanjutnya lagi, aku mengangguk.

Bergegas
aku ke pondok, kebetulan posisiku personalia, yang ngurusi anak baru
dan semua administrasi santri. Namun kulihat, di teras antara depan
kantor dan kamarnya Pak Ta’in, beberapa teman membentuk halaqoh,
sembari
kletakkletik
nyemil kacang, mungkin ini oleh-oleh anak baru itu, pikirku.

“Hei,
bagi-bagi rek,
ise’
komanan tah
?!”
Teriakku sambil berlari, kulupakan sementara perintah Gus Alawy tadi.
Dan belum sempat aku duduk nimbrung, tiba-tiba sebungkus kacang
terbang ke arahku, entah siapa yang melempar, spontan refleks
kutangkap, tapi posisiku tidak memungkinkan, sehingga aku pun
terjengkang ke belakang.

Wo’!!
Sialan!” umpatku, untung tanganku masih sempat menahan berat
tubuhku, aku pun tidak sampai terjatuh. Teman-teman tertawa, acara
cemil-menyemil berlanjut tanpa ada kata.

“Ada
anak baru ya? Dari mana?” tanyaku.

“Gresik”,
jawab salah satu temanku singkat.

“Temui
dulu Qib, mumpung orang tuanya masih di sini”, Ainul, sang Rois
mengingatkanku, aku hanya mengangguk. Setelah sedikit memuaskan air
liurku, aku pun beranjak, kutemui anak baru itu, di kamar Muslim. Dan
dengan sedikit basa-basi. kuketahui anak itu bernama Royhan.

QQQ

“Ehm
… Mas …”, kudengar sebenarnya sapaan itu, malam ini aku
murobathah.
Baru tiga hari anak baru itu di sini, sengaja kuajak dia, namun tidak
kujawab panggilan itu, karena telingaku agak asing dengan kata “mas”
tadi.

“Kang
…”, kupikir lagi, mungkin bukan aku yang dipanggil, di situ
ada Zabid, Amiruddin, Yachsya, juga Muhib yang menyertaiku.

Tiba-tiba
kurasakan di pundakku ada yang mencolek, anak baru itu, aku hanya
tersenyum, kulihat juga empat temanku tersenyum pula melihat adegan
itu.

“Oh,
kamu memanggilku yah, nggak usah pake mas aku atau kang, langsung
aja, Qib.” ujarku.

“Nggak
pa-pa, Qib, kan dia punya Mbak di atas.” Zabid mencandaiku.

“Pedekate
sisan
Qib,
lumayan
ise’ payu
.”
Muhib pun turut serta, kulirik wajah innocent Roy memerah malu,
“Gundulmu Hib !” balasku.

He!
Arek anyar, ga’ krasan engko’

Amiruddin meningkahi.

“Ada
apa?” kucoba mencairkan suasana sedikit kikuk itu.

“Eng
… tidak ada apa-apa kok.”

“Nggak
usah malu ….”

“Apa
setiap malam ada yang jaga?”

Dan
sejak itu, Royhan dekat denganku.

QQQ

“Naqib,
kulihat kamu dekat dengan anak baru itu, ya sudah, kamu pegang aja,
kamu kader, sepertinya ia bakat dan potensial. Siapa ngerti pintar
nulis juga. Ia lulusan SLTP Negeri terfavorit di Gresik,” pagi
itu sebelum ngaji Nahwu Gus Alawy menemuiku.

“Kayaknya
sih iya Gus, kalau kulihat gaya bicaranya, sepertinya ia mahir buat
puisi, juga gayanya kalau melamun.”

“Terus
kira-kira, yang pas masuk kelas berapa dia?”

“Kelas
yang Gus ajar saja, biar dia sungguhan, sementara ini kuamati
potongan anak ini agak
mbeler,
dari raut mukanya terlihat, cocok kalau sampeyan bentak-bentak gitu,
sampeyan goblok-goblokin, biar jiwanya tertata, juga biar ada yang
ditakuti,” Gus Alawy tersenyum, dia sentil telingaku. Memang Gus
yang satu ini kalau ngajar Nahwu nggak mau kompromi, setiap hari
meski sekali, kata “Goblok,
dhedhel,
ga’
pinter-pinter
keluar dari mulutnya. Kemauannya kuat walau aku juga heran, kerasnya
seperti itu, tapi di luar kelas ia begitu akrab dengan adik-adik
didiknya itu.

Setahun
berlalu

Aku
makin dekat dengan Royhan, beberapa kali aku ke rumahnya. Dan
dugaanku betul, ia ahli puisi, itu kuketahui dari mading. Tapi Roy
benar-benar misterius, sama sekali aku tidak tahu kalau ia
berkali-kali mengirim puisi dan dimuat, dia pun tidak memberitahu
aku. Hanya saja dari Gus Alawy kudengar, anak-anak putri tiba-tiba
demam puisi karya “Sang Musafir.”

Di
“Dliya 24434 ” pun banyak sekali atensi untuknya. Tak hanya
itu, akhir-akhir ini teman-teman juga banyak berbicara tentang
cerpen-cerpen antik di mading itu, dengan nama pengarang sama. Aku
“terpaksa” ikut nimbrung ngomong juga, padahal sebelumnya,
meski aku juga menulis, tapi aku tidak terlalu memperhatikan mading
itu saat terbit kecuali jikalau tulisanku dimuat.

Aku
mengetahui siapa “Sang Musafir” pun secara tidak sengaja,
saat iseng-iseng membuka buku diary dan catatan pribadinya, sampai
kutemukan puisi-puisi dan cerpen-cerpen itu, sekaligus nama
samarannya, ringan aku tersenyum.

QQQ

Hingga
pada suatu hari, saat i’tikaf di bulan Ramadhan, aku dengan Roy
tidur-tiduran di “asrama sementara” santri di lantai dua
masjid, sayup kudengar suara tadarrus, meningkahi percakapanku dengan
Roy, suasana khas Ramadhan yang kental. Dan di sela pembicaraan itu
dia
nyeletuk.

“Aku
ingin Qib, kelak jadi pejuang agama, sengaja bapak mengirim ke sini
untuk itu. Yang kucita-citakan, aku ingin tetap di pondok sampai
menikah nanti, ingin kupersembahkan seluruh umurku untuk ilmu, dan
kelak aku ingin, kita bisa berjuang bersama, saling membantu antara
aku dengan kamu,” segera aku duduk dari tidurku mendengar
celotehan itu.

“Benar,
Roy? Apa kamu nggak ingin kerja? Kan semua teman sekampugmu yang di
sini “
klutik
kerja semua.” Kucoba menguji komitmennya itu dengan pertanyaan
sederhanaku. Roy menggeleng pelan, disadarkannya kelingking kanannya
ke arahku, kusambut juga dengan kelingkingku, aku tesenyum, Royhan
pun tersenyum.

Sejak
itu, tepatnya mulai Syawal, persahabatanku dengan Roy makin kental.
Dengan satu tujuan sama, cita-cita yang sama, sehingga aku pun selalu
mudzaakarah,
muqoobalah
dengannya dalam segala hal.

Kebetulan
umurnya pun sama denganku, kebetulan juga aku hanya satu tingkat di
atasnya sehingga kala
muthola’ah
bersama masih saling nyambung.
Takror
nadzom
pun kulakukan bergantian dengannya, cuma strata kesenioran dalam
organisasi saja yang berbeda, aku lebih senior dari dia. Kedekatanku
secara tidak sengaja dengan Gus Alawylah yang mengantarkanku pada
posisi penting di ponpes. Gara-gara saat aku baru dua hari tapi
berani memprotes usulannya. Saat aku benar-benar tidak tahu kalau dia
putra Syaikhunaa! Pas kenalan ngakunya sih rumahnya di belakang
ndalem. Aku selalu tersenyum jika ingat itu.

QQQ

Tak
terasa 4 tahun berjalan rajutan tali persahabatan indah itu, suka
duka kulewati bersama-sama dengan Roy. Saat aku atau dia kali pertama
jatuh cinta, caper di kupingan masjid setiap sore. Saat sama-sama
bokek
kehabisan uang, saat sama-sama tertawa menikmati nasi yang sangit
kala
murobathah,
saat kutertawakan dia gara-gara kena setrap nulis sholawat di halaman
masjid. Saat ia tertawa melihatku gelagapan disiram Gus Alawy pas aku
ngantuk dan sebagainya. Meski kadang-kadang terjadi percekcokan,
biasa bumbu penyedap ukhuwah.

Wajar
jika aku kecewa berat dengan keputusannya semalam. Mengapa dia punya
pikiran seperti itu? Aku juga tak habis pikir, angin apa yang meniup
Pak Udin, ayah Royhan, sampai punya keinginan seperti itu.

Kurasakan
hari-hari ini hubunganku agak merenggang dengan Roy. Dia pun seolah
ingin menghindariku, sepertinya ia tahu kalau aku nanti pasti
nerocos
ngalor ngidul
menasehatinya
tentang keputusannya itu, dia memang paham betul karakterku, begitu
juga aku kepadanya. Maklum, 5 tahun kumpul bersama.

Dan
sampai pada hari yang tidak kuperkirakan sama sekali. Pagi itu
Syaikhunaa memanggilku, beliau mengajakku untuk menyertai beliau
hadir
Multaqo
di Sarang, Rembang. Gembira memang, tapi seharian itu beliau
menyuruhku ke Sekaran, ada sesuatu hal penting yang kuurus di sana.

Hatiku
memang berbunga di ajak “
ndere’no
Syaikhunaa, tapi di sudut perasaanku yang lain, ada sesuatu yang
berbisik bahwa ada yang tidak beres, entah aku sendiri tidak enak.
Apalagi hubunganku yang kurang harmonis dengan Roy. Sebelum
berangkat, kutemui dia, aku minta maaf. Namun yang kuherankan, ia
merangkulku erat, kulihat matanya berkaca-kaca, tidak ada reaksi apa
pun dariku, dingin.

QQQ

Tiga
hari aku di Sarang, saat terlupakan semua kesusahanku melihat para
Ulama alumni Abuya melangsungkan gawe mereka.

Dan
setiba di pondok, tepat saat aku menginjakkan kakiku di tanah halaman
pondok, yang teringat pertama kali di benakku adalah Roy. Setelah
kuletakkan tasku, jajan oleh-oleh untuk teman-teman, segera kucari
dia. Hatiku sedang bahagia, banyak rencana, aku ke kamarnya, tapi
tidak kutemukan dia.

Sengaja
kucari dia dengan diam tanpa bertanya pada teman-temanku, ingin aku
menggembirakan diriku dengan mengejutkannya. Kubelikan dia kitab yang
selama ini diidam-idamkannya, kubawa kitab itu sembari mencarinya.

Namun
setelah aku berputar-putar mencarinya di kamar-kamar, di masjid, di
bawah tangga, di
sentung
atas, di madrasah, di dapur, bahkan kamar mandi dan semua tempat yang
Roy biasa di situ, hatiku mulai berdebar-debar kala tidak kutemukan
sosoknya, pelipisku sudah berkeringat dingin, ada perasaan kalut yang
tiba-tiba menyelimuti hatiku.

Agak
berlari aku menuju kamarnya, tapi langkahku terhenti kala Hajir
memanggilku.

“Qib!
cari siapa?”

“Royhan!
tahu?!

Hajir
terdiam sejenak, ia agak terkejut dengan pertanyaanku, “Aneh, ia
sudah boyong tiga hari lalu.” Ucapnya kemudian.

Serasa
tersambar petir kala aku dengar kata-kata Hajir barusan, tak sadar
tanganku bergerak mencengkeram keras kaos Juve Hajir.

Sing
tenan kon
,
Jir !” Bentakku, Hajir mengeleng-geleng pelan, ia diam, dan
kulepas cengkeramanku, segera aku berlari ke kamarku kini dengan
kegalauan dan kekalutan yang luar biasa.

Kulihat
Hifny di sana asyik berbincang dengan Yek Husein dan Gus Mad. Saat
melihat kehadiranku, Hifny segera berdiri, di rogohnya saku baju
takwanya.

“Qib,
surat dari Royhan,” aku masih tidak percaya, wajahku penuh
peluh, kudesak Hifny menceritakan apa yang terjadi dengan Roy.

Dan
aku hanya biasa lemas, lidahku kelu. Kusadarkan tubuhku di lemariku,
Royhan izin boyong di antar oleh orang tuanya saat malam aku datang
dari Sekaran. Aku tidak tahu, karena saat itu aku tertidur kecapekan.
Yang aku sesali, kenapa aku tidak menyadari rangkulan terakhir itu?

Hening,
sampai aku sendiri tidak menyadari kalau Hifny, Gus Mad dan Yek
Husein sudah sedari tadi meninggalkanku termangu sendirian.

Dengan
tanpa gairah, kulemparkan kitab yang sedianya untuk hadiah tadi, di
dampar yang ada di sampingku. Berlahan dan seolah tanpa daya kubuka
surat itu, tak ada tulisan apa-apa kecuali sedikit kata maaf,
permintaan do’a dan selembar puisi. Kuresapi puisi yang digoreskannya
untukku itu, yang terakhir darinya.

Tak
terasa air mataku meleleh, ada rasa sesal di sana, rasa kecewa.
Kuremas amplop surat yang kupegang itu. Dalam tangis, lirih aku
berdoa, “Kawanku, semoga engkau kembali.” Kuukir hari itu
dengan air mata.

“Kucoba
melukis hariku di sini, merangkai dalam hati, bunga
,
dahan
dan duri, sesekali kucoret pedih dan sakit lukisan, berat kuingat
kenangan.

Burat,
Buram namun kerap tinggalkan kesan, sedikit-sedikit percik warna
cerah indah menarik, merah biru pelangi, kadang hitam kelabu, malu.

Kupertegas
lagi dengan garis senyum manis, tangis, dan kububuhi back ground
sketsa halus yang menjerat erat kasih para sahabat.

Ternyata
indah juga lukisanku

Lebih
hidup dari gambar Monalisanya Leonardo da Vinci yang lamat-lamat
tersenyum kala lama kita lihat.

Lukisan
amatir namun dengan berani gambarkan getir perasaan acara perpisahan
saat cerita belum berakhir.

Kusudahi
lukisanku dengan senyum, namun aneh! ada sesuatu yang menetesinya,
keringatkah ini?

Berderet-deret
melintas kulum senyum, isak sembab dan nada yang mengalun iringi
sebuah lamun.

Kupaksa
bahkan kuperkosa image ini agar tak lagi ciptakan cuplikan yang
dengan sadis menyayat kanvas lukisku yang baru aku bingkai.

Anehnya
lagi, kunikmati perasaan yang mengamuk, bagai pelajar yang saling
timpuk, hingga mata ini seakan tersiram terhujani air jeruk.”

1

QQQ

Dibawah
indahnya temaran malam bulan Purnama Makkah,

Jumad
Tsani 1425

Teruntuk:
seorang sahabat, semoga Alloh melindungimu selalu, Aaamiiin.

[Madinah,
awal Rojab Fard].

3

Menumpang
Kisah

Diary
Syaibatul Hamdi

30
Januari 2004

“Shubuh
basah oleh gerimis, rintik-rintik lembut itu terjun bebas ke bumi,
melembabkan dedebuan, melapukkan dedaunan kering, aroma tanah
tersiram hujan yang khas itu, menusuk hidung. Pagi masih berselimut
gelap, meski waktu seharusnya sudah memaksa matahari keluar sejak
tadi. Tetapi nampaknya ia lebih memilih berkerudung awan, walaupun
begitu, aktivitas di pesantren yang menempaku ini terus berjalan, tak
lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.”

(Wuik)
lho,
lha
kok
puitis
gini ry, ngapain?!
wong
gue cuma mau cerita, pagi ini gerimis, gitu aja nggak pake bahasa
ndakik-ndakik
gini ry he … he … he … Yach beginilah January, hujan
sehari-hari .

Tapi
yang jelas hari ini gue ngantuk buerat ry, semalam begadang, dan pagi
ini gue nggak ngaji ry, untung aja nggak ketahuan Syaikhunaa kalau
gue ngelanggar dua kali, pertama nggak ngaji, yang kedua
murobathoh
bukan pada waktunya, ya gini akibatnya, nyesel aku.

Tapi
kalau gue pikir-pikir, bodoh juga yach aku ini, ngapain jauh-jauh
mondok, ngehabisin uang, kalo cuman pindah numpang tidur aja?
Emangnya ini hotel emakmu? Eh … nggak
ding
ry.

Nah,
sebenarnya aku sekedar curhat, cukup sekali ini deh aku ngelanggar,
(ehm … suer … kesamber cewek). Insya Alloh nanti malem gue mau
tidur jam sepuluh,
manut
dawuhe

Syaikhunaa, demi ridlo beliau,
gak
ngono ha,
ry?

14
Februari 2004

Muda-mudi
bilang, hari ini hari … em … apa ya? Oh, iya … Palentin ry
(bukan Paneli lho, apalagi Palestin), tapi tak pikir, ngapain mau
begituan?

Kok
(lagi-lagi) goblok juga (ups …) khan itu adatnya orang kafir,
so
nggak boleh niru (ehm). Padahal kata Rosul,:
“Man
Tasyabbaha Bi Qoumin Fa Huwa Minhum

2
(wih,
ndalil
nih yeee …) (hee …he …
sitik
ry, khan udah mondok lumayan lama, buat apa ilmunya?). Katanya sih
ini hari cinta, hari kasih sayang, harinya mereka-mereka yang
pacaran.

Nah,
aku (sst … he … he

…)
ikutan juga ry! malah aku buat wirid, sholawat segela ry (He! ini
bid’ah, bahaya ini), kalo biasanya aku wirid 100 sekarang nolnya
tambah dua.
So,
kalo aku, Valentine-nya khusus untuk Alloh dan Rasul-Nya, ry.
Cemerlang kan? Daripada tukar coklat
Musang,
ry.

9
Maret 2004

Nasib
ry, aku tadi pagi disiram air segayung sama Gus Salim, ia marah besar
lihat aku ngantuk pas ngaji Riyadl, basah kuyup aku dan kitabku ry
hiks … hiks


hiks
…. Ya gini akibatnya kalau

nggak
nurut
Ustadz,
disuruh tidur jam 10 eh malah
mendolong
sampe Shubuh.

Mulai
sekarang, aku bertekad … kan tidur dini lagi, ngaji yes ngantuk no
(
Tenan
nih ?)

10
April 2004

Aduh,
apes lagi ry, aku tadi Shubuh pas Qiyamul Lail kesemprot sama
keamanan, gara-gara ketiduran pas wirid, lumayan kalo cuma ngantuk
doang, aku nggak tahu ry, kalo
Min
Huquqis Syekh
ku
jatuh ry,
wiisin
ry
aku, kesemprot
pas
bathuk
.

Sialnya,
paginya terulang lagi ry, aku tidur lagi pas wirid! Giliran Syaikhuna
marahin aku habis-habisan, cuma nyengir dan menunduk yang bisa
kulakukan ry.

Penginnya
sih wirid
khusyu’,
makanya kupejamkan mataku, meresapi bacaan wirid, me
wushulkan
diri (gaya he), eh … malah
bablas
ngorok

ry.

Dawuh
Syaikhuna,
“Wis,
ga’ usah nggayah ne’ wirid, Melek! ojo merem, durung wali kowe!”

Nasib
ry.

17
Mei 2004

Sorry
ry, yah, gue ngisi kamu cuma sebulan sekali, gue sibuk belajar ry
(
prut
!!) Nggak pa-pa kan ry? Cuma tuk ngabadiin kejadian yang pualing
berkesan dalam hidupku ry (yeee …), lagian aku nggak bisa nulis,
nggak bisa buat kata-kata seperti redaksi yang lain (lo … lo …
ini kan kalimat di
kupas
tuntas
nya
redaksi Zahro, ngapain
njeladur,
Dul ?)

Semalam
gue musyawarah Nahwu ry, iseng gue ngelempar batu, eh … pertanyaan,
biar rame aja. Kebetulan guru Nahwuku, Pak Habib yang
spanengan
itu
jadi
Mushohihnya,
gue nanyanya beginian ry,:

I’robnya
‘Zaidun
kariimin’
itu bagaimana?”

Eh,
sang guru ngejawab gini ry, “He! Kamu! kalau belajar yang bener,
ngaji ngantuk terus, salah pertanyaanmu itu!”

So,
aku nggak terima digituin ry, aku ngotot kalo pertanyaanku benar ry.
Eh, dia tambah muuarah besar ry (tuh, u-nya sampe dua kali),
mencak-mencak
kalo yang salah yang nanya.

Malah
sampe begini ry, “Dul! Kamu khan tahu,
mubtada-khobar
itu
marfu’,
abadan
ila yaumil qiyaamah

(hah? Ngapain bawa-bawa kiyamat segala?), kok kamu
kariimin,
yang
shoh,
kariimun“.

“Wah,
sampeyan kurang teliti, Pak.”

Jduer“,
dia marah ry, damparku ia gebrak ry.

“Sampeyan
yang salah Pak”, “
Jbruak
waduh, dampar ia tendang ry.

Wong
ini
khobar
syibeh jumlah
,
zaidun
kariimin

itu artinya Zaid kayak rem, jadi
kariimin
itu
jar-majrur“.

Wuih,
seketika mukanya abang, ijo, kuning, biru, kayak pelangi ry. Lha iya
khan? soalku benar? Ngapain dia marah?

28
Mei 2004

He

he

he …

aku
buat ulah lagi ry, tadi pas ngaji, aku ngantuk sedikit, Ustadz Mujib
baca ayat “
Hal
Yastawii Alladzina Ya’lamun walladzina Laa Ya’lamun
“,
nggak sama orang bego ama orang yang ngerti, bethoul?

Nah,
ia ngelempar pertanyaan gini ry, “Ini
laa,
laa
apa?”
satu persatu, nggak ada yang bisa njawab, sampai pada giliranku.
Wong
aku ngantuk, tapi kujawab “sangat tepat”, “
jami’-mani’“.
Pak Mujib sampe nggak bisa ngomong ry, nyengir aja. Gimana ceritanya?

“Hei
Dul, itu
laa,
laa
apa?!
Ojo
ngantuk wahe
!”

“Ehm
laa

laa

laa
apa ya? Oh iya,
laa
adri
3
pak!”
cocok khan? he … he … he … (sableng loe!!!).

6
Juni 2004

Aduh,
penceng
tanganku ry, kulitku juga tambah hitam, padahal aku sudah imut (item
mutlak) ry, belum lagi malu ditonton santri putri (perasaanku ry, he
… he … he …). Barusan aku dijemur Gus Salim sama Yek Bakar,
sambil nulis Fatih 50 kali, gara-gara nggak ikut jama’ah ry.

Tak
kira
nggak ketahuan, eh rupanya ada intelnya ry, tapi siapa? Ah, yang
penting gue nggak disuruh beli umpak, masalahnya, mau ditaruh mana
umpak itu? masak beli cuman satu biji, bener sih murah, malunya ini
tho
… mana belum
uthuk-uthuk
nuntun
sendiri
lagi. Malu lagi pas ditanyain sama bakulnya, “Mas, beli satu
untuk apa? Ganjel lemari
thah?”
(ya gundulmu itu), sialnya lagi pas kita orang balik mo ninggalin
toko, dianya nyeletuk, “Ketahuan nih, nggak jama’ah.”

Tapi
sekarang aku bertekad (lagi) ry, setelah ini nggak akan ketinggal
jama’ah, demi 27.

24
Juni 2004

Ya
gini ini kalau namanya apes ry, Dluhur tadi aku nggak jama’ah,
ketiduran di
sentong
masjid. Yang jadi soal bukan
ta’zirnya,
udah pasti itu. Tapi Syaikhunaa sendiri yang memergoki aku sedang
asyik ngiler ry, tak ayal ry,
ma’
jbug“,
kakiku beliau tendang ry, “
Qum!!”
bentak beliau.

Wih
sontak aku bangun, pas tahu siapa yang bangunin, waduh malunya ini,
nggak
ketulungan,
teman-teman yang sedang duduk wiridan pada senyam-senyum yang melihat
aku berjalan masih sambil
kethap-kethop.

Kapok
ry.

Namun,
biarlah buat pelajaran ry, biarlah aku yang selalu sial, asal temanku
tidak sepertiku ry (lho, kok jadi mengharukan gini? ini khan bahasa
cerpen).

15
Juli 2004

Malam
ini aku
murobathoh,
tapi yang selalu aku heranin, mengapa pas tugas, buerat dan
ngantuknya bukan main? Tapi pas nggak waktunya jaga,
melek
sampe elek

nggak pa-pa ry. Apa begini yah bedanya nafsu ama nggak?
So’ale
aku dengar, kalau sesuatu dibarengi syetan, ringan, tapi kalau berat,
disitulah ikhlas dan pahala menunggu.

Kebosanan
tiba-tiba menyergapku ry, kitab yang kubawa nggak kebaca, wirid pun
selesai semua, daripada bengong, main tebak-tebakkan aja dengan teman
jagaku.

“Dhe,
kenapa Super Man keritingnya cuman satu?”

Pak
Dhe diam aja, nampak berpikir.

“Kalo
keritingnya banyak, Super Mie namanya, hore 1-0.”

“Ayo
Dhe, sekarang, khotib apa setelah khotbah Idul Adha boleh disembelih
jadi kurban?”

“Hush,
ngawur, ngaco kamu Dul!”

“Yah,
kamu Dhe, jawabnya, khotib yang dilahirin kambing
4,
hore 2-0.”

Pak
Dhe nggak mau kalah rupanya, “Sekarang giliranku Dul, sholat apa
hayo yang 4 rokaat duduk tasyahud terus?” Tanyanya.

Belum
sempat kujawab, ia jawab sendiri, “Yaitu Sholat Maghrib
ketinggalan dua, ngikutin imamnya pas duduk tasyahud awal di rokaat
kedua, hore 2-1.”

“Lagi
Dul, apa bedanya demo dengan aksi?”
wadduh,
apa ya?

“Kalo
demo rodanya 3, kalo aksi rodanya 4, hore 2 sama.” Kami pun
tertawa, malam-malam, ngusir sepi dan yach … ngilangin stress lah.

20
Juli 2004

Ada
pertanyaan nggak
nggenah
di hatiku ry, gimana rasanya jatuh cinta? Wah … nah, lho … gue
yakin yang mbaca ini sekarang pasti sueneng (he … he … ketembak
ni yee …), tapi sorry lah yauw, siapa “yang mencuri hatiku”,
rahasimon dulu.

Ogut
lagi males ngomongin cinta, mending ngaji, ngapalin,
mutholaah,
wirid, daripada nurutin kata hati, nurutin nafsu yang nggak
mudeng,
bingung
dewe
,
tul
ndak
?

Oh
iya ry, katanya HAMKA di “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”
(hee … jelek-jelek gini aku seneng baca lho), cinta itu:
“Penyakit
tapi nikmat; nikmat tetapi penyakit, orang-orang yang ditimpanya,
orang itu tidak berkehendak sembuh daripadanya.”

Nah, itulah cinta.

Udah
tambah kan
ma’rifat
tentang cinta? Buat intermezzo ya? (
panganan
opo iku?
).

27
Juli 2004

Ini
bukannya meringati “kuda tuli”-nya PDI-P itu ry, cuma
semalam aku barusan undangan
maryaman
(baca surat Yusuf-Maryam,
tingkepan)
ke tetangga sebelah,
bareng
karo yek-yek
,
eh disitu ada familinya si
“mutangkap
‘alaiha”

(yang ditingkepin), nanya, “Oh, jadi sampeyan orang Arab,
marganya apa?”, “Khird.”

“Al-
Jufry.”

“Al-Hamid.”

“Aidid.”

Tiba-tiba
itu orang noleh ke aku, “Kalau sampeyan??” tanyanya tanpa
merasa bersalah.

“Oh
… eh … alhamdulillah”, jawabku sembari nyengir, orang itu
bengong doang, dalam hati, ini orang pake kacamata kawat apa kacamata
kuda sih, kok nggak ngeliat hidungku mancung ke dalam? Dassar!

1
Agustus 2004

Yang
ini rada-rada mengharukan ry. Hari ini aku bahagia banget ry.
Syaikhunaa tadi kedatangan familinya yang barusan pulang dari Makkah,
eh aku
ditimbali
ry,
beliau menghadiahiku sehelai surban ry, aku terharu ry, tak terasa
aku menangis ry, aku ini orang nggak punya ry, bisa mondok aja syukur
alhamdulillah, Syaikhunaa dawuh, “
Sing
tawakkal, rizki iku na’ tangane Alloh, wis mantepo wahe belajar
“,
oleh karena itu aku bertahan ry.

Tapi
yang tidak kusangka, Syaikhunaa memperhatikanku ry, beliau ternyata
sayang padaku ry, walau aku nuakalnya minta ampun, ngelanggar terus,
bahkan aku punya prinsip
saleho,
“Nggak lengkap jadi santri kalo nggak nglanggar” (jangan
ditiru yaa …). Bagiku, beliau adalah pelita di kegelapan,
jazakumulloh
Syaikhunaa, engkaulah yang mengenalkanku pada Alloh, semoga Alloh
menjagamu (aaamiiin). Engkaulah yang menuntunku pada cinta sejati,
kau kenalkan aku seorang yang patut dicintai. Rosululloh
.

“Na’am
saroo thoifu man ahwa fa’arroqoni; wal hubbu ya’taridzu-l laddzati
bil alami.”
5

16
Agustus 2004

Hari
ini aku … ulang tahun? Enggak ry, itu kan tanggal lahirnya Gus
Alawy, oh iya ry, ada yang lupa, sebenarnya ini diary, hadiah dari
Gus Alawy habis hari raya kemaren.

Nah,
di halaman pertama, tertulis “Diary Syaibatul Hamdi” dan
kata-kata puitis itu, sebenarnya tulisan dia, kan nama samarannya
Syaibatul Hamdi, ceritanya dia pengin bikin cerpen tapi mandeg,
idenya hilang. Sebenarnya juga, dia nyuruh aku ngerobek halaman itu,
tapi belum kulaksanakan, untung saja nggak jadi, buat
kenang-kenangan. Apalagi Mei kemarin, tepatnya pertengahan Shofar, si
Gus berangkat ke Makkah, aku merasa kehilangan ry
6,
setiap ia pulang
dari
pondok, selalu memperhatikanku ry.

Pasti
kalau ketemu, selalu tersenyum, aku kangen senyuman manisnya ry
7.
Kini aku selalu merindukannya ry, entah kapan aku bisa bertemu dia
lagi
8.
Aku berharap bisa menyusulnya ke Makkah ry
9.
Kemarin waktu perpisahan, saat dia menangis merangkul kami semua, aku
pun turut berkaca-kaca ry, kubayangkan akulah saat itu yang berangkat
10
diiringi suara adzannya kang Yachsya.

Yah
kini aku berdoa, dan kesemangatan sang Guslah yang ingin kucontoh
11,
juga kedisiplinannya
12,
kan mungkin
toh
itu ry?
wong
podo mangan segohe
.

Aku
juga, mulai sekarang, kalo ingat sang Gus, aku selalu bertekad, ingin
disiplin,
ingin
giat, nggak ingin melanggar lagi
.
Nuruti semua dawuh Syaikhunaa, biar bisa ngarang kitab,
Makkah-Madinah kayak dia, masyaAlloh ry.

Kuharap
keinginan itu tidak hanya menjadi sekedar keinginan belaka, tetapi
terwujud, doakan aku ry yach.

Dan
di sini, di NA, dari jauh kuucapkan untukmu Gus,: Met ultah,
moga-moga umurmu barokah, dapet ilmu manfaat dan terkabul semua
cita-citamu, aamiiin
13.
Akan kutunggu kehadiran sampeyan selalu, semoga ketemu lagi, insya
Alloh. Aaamiiin.

Udahan
dulu ry, met jumpa bulan depan, tanganku capek, besok-besok sambung
lagi yaaa …

Sahabatmu,
Dul ….

QQQ

Rushaifah,
Makkah al-Mukarromah.

Dini
hari, awal Agustus 2004.

Al-Aaaqil:
Man I’tabaro bimaa ro’aa, wa itta’adzo bimaa sami’a.

4

Denting
Nada Cinta

yang
Lain

Udara
siang terasa gerah, segerah hatiku juga, sobekan kardus yang kubuat
kipas tak mampu mengusir kegerahan itu. Begitu juga kitab “
Qowaid
Lughoh Arobiyah

yang renyah bahasanya dan kubuat
muthola’ah
itu, tidak sanggup mendinginkan hatiku, pikiranku buyar tidak
konsentrasi.

“Mbak
Lila, nambal
Fiqh
Manhaji

buat setor besok pagi, Mbak”, tiba-tiba seorang santri datang
mengejutkanku, Kholidah, adik kelasku.

“Adduh
Lid, Mbak lagi pusing nih, dengan Mbak Ni’ saja yach”, tak sadar
kuucapkan kata itu.

“Pusing?
Pusing kenapa, Mbak?” mata Olid pun membulat tidak mengerti,
menyiratkan tanda tanya.

“Oh
… eh, nggak, nggak ada apa-apa kok”, tergagap aku jawab
pertanyan Olid, gadis cantik itu.

QQQ

“Mbak,
sampeyan ini bagaimana? Kok nggak ada yang tercatat sih data-datanya?
Terus … lhoh! Ini juga! Gimana sih! Kan sudah banyak santri baru,
kok baru tercatat dua
thok?!”
Giliran Mbak Ririn,
Naqibah
Idaroh

yang menegurku, seraya membolak-mbalik Jurnal Kegiatan Harian dan
Buku Induk.

“Nggak
biasanya sampeyan seperti ini, Mbak Lila, ada apa?” Cewek yang
terkenal cerdas itu bertanya menyelidik.

“Ndak,
ndak ada apa-apa, aku cuma … ah, nanti aku beresin deh semua
datanya”, aku tak tahu, masalah itu benar-benar mengganggu semua
program dalam diriku, Mbak Ririn hanya menghela nafas panjang melihat
keteledoranku.

Ne’
ngene aturane, remek Idarohe, Mbak!

Ia menyindir ketidakdisiplinanku seraya berlalu meninggalkanku
sendiri dalam ketermanguan, aaa… pusiiing!!!

QQQ

Bagiku,
mondok adalah cita-cita sejak masih MI. Maklum, meski orang desa,
keluargaku bahkan orang kampungku kebanyakan pondokan. Wajar jika aku
punya niatan yang sama.

Dan
itu terkabul. Pengennya sih ke pondok-pondok besar seperti Langitan,
Sarang, Bangil, Lasem. Tapi, ternyata oleh orang tuaku aku “dibuang”
ke pondok mungil. Lain dari yang lain diantara teman-teman
sekampungku yang masih tren memilih pondok-pondok besar, alasan
gengsi katanya.

Tetapi
ternyata, kualitas pondok yang kuhuni, yang terletak di tengah sebuah
desa yang lebih maju daripada desa-desa tetangganya itu, tidak kalah
juga. Awalnya sih minder juga waktu ditanya teman-teman sepermainanku
dulu, “Kamu mondok dimana?” Seolah tidak ada ke-pede-an
untuk menjawab. Lebih-lebih mereka mengerutkan dahi kala aku menyebut
nama pondok sekaligus desanya. Dari mereka justru terlontar
pertanyaan, “
Lhoh,
disitu ada pondoknya
tah?”
Dengan penuh keheranan. Kalau Kyai yang mengasuhku sih sudah banyak
yang dengar nama beliau, soalnya termasuk alumni Makkah.

Akan
tetapi ketidak pede-an itu hilang sama sekali ketika ternyata
pondokku mampu bersaing bahkan mengungguli pondok lain. banyak alumni
sini yang sepulangnya ke rumah atau sepindahnya ke pondok lain jadi
tokoh. Barokah sholawat, ritual wajib dan ciri khas pondokku.

Kegiatan
pun begitu, malah aku berani
muqobalah
dengan temanku dari pondok lain tentang sistem di pondokku, mulai
sistem organisasi, sistem
tarbiyah,
sistem
dirosah,
sistem
kitabah,
sampai sistem
iqtishodiyah
(perkantinan). Belum tingginya taraf mutu pendidikan di pesantrenku,
belum lagi full wiridnya, refrigator, pendingin panasnya ilmu.
Sesuatu hal yang sangat langka di pondok-pondok besar sekalipun saat
mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk
muthola’ah
dan menghafal
mandzumah.
Pernah suatu ketika aku mondok Romadlon di suatu pesantren Salaf, dan
mereka sangat heran saat melihatku ke mana pun bawa tasbih!!!
(padahal nggak wirid).

Masya
Alloh-nya, itu semua dilakukan hanya di balik dinding, tanpa tahu
dunia luar. Di saat pondok manapun memberi kelonggaran santrinya
untuk keluar, meski terikat aturan. Yang penting
tathbiq,
praktek, itulah sistem pondokku. Jangan heran kalau kita berkaos kaki
(kapan yach bercadar?).

Pasantrenku
memang antik, benar komplek putra dan putri tidak ada jarak, tapi
jangankan bebas bicara, ketemu saja sulitnya minta ampun (kecuali
yang pergi ke pasar). Bahkan beberapa tahun lalu, dengan “kejam”
sang Gus menutup semua jendela pondok putri. Satu-satunya hiburan
kami.

Sempat
sih protes (baru kali itu Gus diprotes teman-temanku) yang membuatnya
marah besar. Tapi itu hanya berdasar nafsu dan naluri kewanitaan kami
saja, tanpa kita tahu apa maksud sang Gus. Dan kami benar-benar
mengakui kebenaran tindakannya itu. sebab banyak fitnah muncul dari
jendela itu. Kan kita bisa ngintip bahkan ngecengin santri cowok
lewat, mereka pun setiap lewat pasti melihat ke arah jendela. Tapi
sejak ditutup, tak ada lagi hal itu. Menyesal bila ingat protes itu,
khususnya aku, yang paling sengit memprotes langkahnya.

Namun,
dengan penutupan jendela itu tidak lantas membuat kami terkekang.
sang Gus memberikan kami “hiburan” lain, yang malah justru
lebih menghibur, tidak hanya sekedar “menyegarkan” mata
(sebagaimana “fungsi” jendela itu), tetapi juga pikiran
yang makin terbuka, hati yang terhibur ilmu yang bertambah dan secara
tidak langsung, terjadi persaingan sehat yang berhubungan dengan ilmu
sejak adanya hiburan baru itu. Mading.

Nah,
alasan-alasan itu yang membuatku betah di sini, bangga jadi santri
sini. Benar secara fisik tertutup, tetapi pengalaman … masya Alloh
memang. Itulah juga yang membuat semangatku selalu “santri baru”
dalam belajar dan menghafal Qur”an, seakan tidak pernah surut.

Belum
lagi kehangatan dan kekompakan ukhuwah, perhatian sang Gus yang
begitu masya Alloh. dan yang aku herankan, itu tetap berlanjut meski
ia sudah tidak di tengah kami, sudah berangkat ke Makkah. Bayangkan,
ia masih sempat sobek kertas, corat-coret kertas untuk akhowatnya di
sini, salah satunya aku
14.
Belum lagi Umminaa, ini yang
mumtaz,
pondok di mana pun, Bu Nyai atau Neng-nya begitu sakral, sulit
didekati. Tapi ini, masak bareng! Nonton TV bareng! Sehingga
kurasakan benar fungsi mereka sebagai orang tua kedua (ketiganya kan
mertua).

Namun
akhirnya halangan itu menghadang juga, semangatku yang dulu sekencang
angin ribut, tiba-tiba berhenti, sama sekali. Selama ini memang
banyak kerikil dan ranting yang bertebaran, tetapi selalu mampu aku
tepikan. Sekarang yang menghalangku adalah, batu! Butuh keajaiban,
butuh palu godam untuk menghancurkannya, tidak sekedar tiupan angin,
dengan pukulan tenaga wanitaku yang selemah ini. Ah … hanya
kebingungan dan kepusingan yang berputar-putar di benakku.

Awalnya,
beberapa hari yang lalu emak datang, biasa, kiriman. Tetapi emak
tampaknya membawa udang di balik gendongan, sendirian beliau
mengajakku bicara empat mata di gudang kamar belakang ndalem.

Yang
aku herankan, emak kali ini bicara berbelit-belit, tidak biasanya
yang ceplas-ceplos denganku. Seperti ada yang beliau simpan, ada
muqoddimah
agar aku tidak tersinggung. Tetapi bagaimanapun, akhirnya aku harus
tergoncang juga ketika secara halus emak memintaku untuk … menikah!
Seketika aku menangis, kutolak mentah-mentah permintaan itu, sebab
terus terang, aku masih ingin mondok, masih ingin menuntut ilmu!

Namun
emak terus merayu dan membujukku, dan agar tidak menyakitkan hatinya,
tidak durhaka, akhirnya aku meminta beliau memberiku waktu untuk
berpikir barang dua-tiga bulan, sebelum keputusan final.

Sampai
saat ini, dua minggu setelah kedatangan emak, pikiranku masih puyeng,
aktivitasku kacau balau, berapa kali aku tidak setor ke Umi’ padahal
tidak
udzur.
Inginnya sih masalah ini kusimpan sendiri. Tapi sepintar-pintar orang
menyimpan terasi
ya
akhirnya bau juga.

Dari
gerak-gerik gelisahku, raut wajah piasku, semua terlukis jelas
permasalahan di hatiku. Teringat aku sebuah syair di Balaghoh yang
kupelajari,
“Laa
tas-al al-mar”a ‘an khola-iqihi … fi wajhihi syahidun ‘anil
khobari”
,
nggak usah nanya seorang apa yang terjadi di hatinya, wajahnya sudah
cerita sendiri.

Tentu
saja yang bisa menerka hatiku adalah Mbak-Mbak senior, yang udah
banyak makan asam garam masalah gini-ginian (padahal sama belum
kawinnya lho).

Dan
bagaimanapun kuatnya aku ingin tidak bicara tentang hal ini, akhirnya
tetap harus curhat juga. Malam itu,
ba’da
musyawaroh, Mbak Ru mengajakku membuat mie. Saat makan bersama
itulah, di
suthuh,
kala bulan purnama, kuutarakan isi hatiku, kujelaskan kegundahanku
ke Mbak Ru, teman sekelasku itu. Dia pun banyak memberikan masukan.
Tapi yang jelas dia kurang
sreg
aku menikah di usia dini, kebetulan umurku masih terpaut dua tahun
darinya, meski sekelas.

“Mbak
Lila, kesempatan belajarmu masih luas, umurmu pun masih segini,
pikiranmu pun masih dibutuhkan
idaroh.
La
kalau
aku, emang udah waktunya he … he … he …”, sedikit ia
bercanda yang membuatku terpaksa tersenyum. “Bilang saja ke
ortumu, kalau kamu masih ingin
tholabul
ilm
“,
tambahnya lagi.

“Tapi
Mbak, kata orang tuaku, ini kesempatan, mumpung yang nglamar orang
kaya.” Mbak Ru hanya menghela nafas mendengar jawabanku.

“Yah
begitulah orang tua kita, kebanyakan masih pakai ukuran dunia. Seolah
kita pasti mati kalau nggak bisa makan. Padahal rizki di tangan
Alloh, selama kita tawakkal, insya Alloh ada saja. Mati pun bukan
karena kelaparan, tapi habisnya jatah umur.” Kebetulan barusan
musyawaroh “
Husun
Hamidiyah
“,
dan aku hanya menunduk.

“Terus
makhrojnya?
Jalan keluarnya?” Mbak Ru hanya mengedikkan bahu.

“Rumit
memang, tapi rayu orang tuamu, atau … pakai saja jalan pintas,
bilang ke Umi’ atau Ustadz, nanti biar beliau keduanya yang bilang ke
orang tuamu.”

“Malu,
Mbak Ru …”.

“Tapi
demi ilmu Mbak, apa pun harus kita lakukan, jangan kita terputus
dengan ilmu hanya gara-gara pernikahan. Selama kita hidup, selama
itu pula kita harus jadi penuntut ilmu.” Aku hanya mendongak
bulan purnama yang memandangku, kusandarkan tubuhku ke tembok
suthuh,
menghalau gundah di hatiku.

Malam
pun berlalu, menyisakan sedikit gelap, dan baru pukul 00.01 aku baru
bisa tidur, setelah
qiyamul
lail,
Hajat,
baca sholawat
Faroj
dan
Darok,
dan setelah aku sedikit lega dengan perbincanganku dengan Mbak Ru
tadi.

QQQ

Entah
siapa yang meniup, isu perkawinanku tiba-tiba tersebar, banyak Mbak
yang sudah tahu, sebagian besar berdasar dugaan (kan cewek gitu
senengnya) terus diomongkan gitu saja, yang pasti aku tambah pusing,
semua aktivitasku makin amburadul, ngaji sih datang, tetapi pikiran
terbang.

Baru
saja tadi Mbak Mir’ah memintaku istirahat dulu dari kantin, gara-gara
catatan keuangannya nggak beres. Mbak Saidah juga, aku diminta
menenangkan pikiran untuk tidak nulis dulu di mading, kebetulan
rubrik yang aku pegang “
Wa
Kabidah
“,
jadinya kayak apa kalau aku dicurhatin masalah yang sama menimpa
diriku!

Jika
teringat seperti ini, ingin sekali aku curhat ke Gusku. dulu, sebelum
ia ke Makkah, aku sering curhat kalau ada masalah, dan selalu ada
jalan keluar plus nasehat-nasehat ringan darinya, itu pun dikemas
dengan bahasa yang lucu, sehingga kerap kali aku lupa kesusahanku. Ah
andai saja ia di sampingku, ups … andai saja ia belum berangkat.
Atau kutulis saja surat untuknya yah. Teringat juga aku Kak Eva,
kadang ke dia kadang ke sang Gus.

Hingga
terlintaslah ide untuk curhat ke Nengku saja, kutahu ia punya pikiran
dan pertimbangan dewasa, walau umurnya belum genap 20, kuberanikan
juga akhirnya curhat ke dia, sekaligus kubuat
wasilah
ke Ustadz sama Umi’

Dan
hasil curhatku, sama dengan yang dikatakan Mbak Ru, hanya saja ada
saran Istikhoroh darinya, benar juga ya? Kenapa tidak terlintas di
benakku?

QQQ

7
kali aku istikhoroh, dan yang jelas,
isyaroh
yang kuperoleh adalah: ngaji dulu, kawin nanti, 3 atau 4 tahun lagi.
Malam itu aku aku baru benar-benar bisa tersenyum, selaksa
ketenangan telah kembali, tinggal usaha dlohir, meluluhkan hati orang
tuaku.

QQQ

Ternyata
tidak mudah meluluhkan hati keduanya, mereka bersikeras dengan
pendiriannya. Kalau lihat “calonnya” sih lumayan cakep
untuk orang kampung, bekerja juga, tapi sayang … yang pasti, naluri
santriku menolak.

Dan
yang paling kususahkan, hubungan ortuku dengan ortunya, sang camer
makin lengket. Padahal cerita awalnya, si cowok itu
telmi,
salah paham dengan basa-basi emakku yang mengatakan bahwa ia sudah
dianggap anak sendiri.

Tapi
kalau dia hanya kerja di pabrik, meskipun ia bos, ah … eman ilmuku,
itu kata Nengku.

Setelah
melalui negosiasi alot, akhirnya orang tuaku tetap teguh dengan
pendiriannya.
Ba’da
hari raya nanti mesti akad. Tak bisa kulukiskan gelapnya mendung di
hatiku, tak terasa air mataku meleleh. Dan tak ada lagi kegiatan di
pondok yang menarik hatiku lagi, sia-sia saja.

Tetapi
yang aku herankan, selama itu pula yang selalu terlintas di benakku
adalah sosok maya sang Gus. Yah, hanya itulah satu-satunya yang
menghibur hatiku, dan surat-suratnya. Kurindukan senyumannya yang
menghilangkan segala duka
15.

QQQ

Kalau
tidak karena
birrul
walidain
,
hari raya ini aku lebih memilih tidak pulang. Itu pun sana sengaja
juga aku mudik usai sholat ‘Id di pondok.

Dan
seminggu setelah ‘Id, seminggu di rumah, akhirnya aku harus
berhadapan dengan ketakutan itu. Malam itu bapak memanggilku. Emak
juga duduk di sampingnya.

“Asma”
Jalilah, anakku, kamu sekarang sudah besar”, kudengar suara
kebapakan itu, aku hanya menunduk. Aku sudah pasrah, sebagian kitab
dan bajuku sudah kubawa pulang.

“Tadi
barusan aku sowan ke Ustadz”, yang jelas beliau mengundangnya
untuk meng-akid-kanku.

“Segalanya
memang Alloh yang menentukan”, pikiranku sudah tidak tertuju ke
omongan itu. Mataku telah basah dan kabur oleh air mata, kesedihan
berpisah dengan ilmu, dengan Qur”anku yang baru 8 juz.

“Dan
setelah bapak omong-omong dengan emakmu”, ah Pak, kenapa
bertele-tele, teriak hatiku, tinggal katakan, “Aku nikahkan
kamu”, kok repot-repot.

“Bapak
turuti saran Ustadz, lebih baik kamu menuntut ilmu dulu, umurmu pun
masih muda juga, Ustadz sudah punya calon untukmu, pinter juga kaya”,
seketika aku mendongak, tidak percaya! Benarkah keputusan itu?
secepat inikah?
Subhaanaka
ya muqollibal quluub,

segera aku menghambur ke pangkuan emak, juga bapak, kuciumi tangan
keriput beliau, tangan yang termakan usia. Kutumpahkan semua air
mataku, tangis bahagia, keharuan memenuhi rongga dadaku.

Dan
kurasakan aku benar-benar ber-‘Id, berhari raya, ya Alloh,
alhamdulillah, Alloh benar-benar mendengar keluh kesahku, dan
melepaskanku dari semua kesusahan itu, yang selama ini melilit
hatiku.
Yaksyifu
‘annii al-ghummah
,
menyibak semua mendung di hatiku. Barokah sholawat.

Malam
itu, kupuaskan diriku dengan sujud panjang ke hadirat-Nya, syukur
atas segala curahan nikmat-Nya, sekali lagi aku menangis. Yah,
begitulah cewek, senang-susah cuma bisa nangis, tapi itu tidak jadi
soal.

Dan
juga karena sejak awal, aku yakin, Alloh menghilangkan semua
kesusahan ini, selama kita mau mendekat kepada-Nya. Semua ini pun ada
hikmahnya, aku tersenyum diantara tangisku.

Yang
pasti, senyum manisku kini telah kembali, tunggu aku ilmu, aku
mencintaimu. Dan itu semakin lengkap setelah semalam, setelah
keputusan orang tuaku, Mbak Ummu datang ke rumahku, mengantar sepucuk
surat, kartu lebaran, minal ‘aidin al faizin, dari Makkah, dari Gusku
tersayang.

Perlahan
namun pasti, kurasakan kembali angin kesemangatan itu bertiup
kembali. Anugerah terindah dari Penciptaku dan alam semesta. Alloh
Jalla Jalaaluhu, alhamdulillah.

QQQ

Makkah
al-Mukarromah

Jum’at
pagi hari nan syahdu.

6
Agustus 2004

Hadiah
tuk akhowat NA,

duga
sewajarnya saja yaaa …(doakan aku selalu).

Ojo
kesusu kawin…!!!

5

Merindu
Kasih

Seraya
menggandeng sepi, kususuri jalan-jalan yang biasa kulalui di pondok
ini, kutuju “kamar” mungilku yang terletak di tempat paling
ujung di bangunan reot yang selalu bocor tiap hujan ini. Seperti
biasa, entah mengapa aku selalu sulit tidur malam, kalau seperti ini,
maka “kelayapan” yang aku lakukan.

Hening,
hanya beberapa santri yang bangun, biasa,
murobathoh,
kudongakkan kepalaku ke arah asrama pondok putri, gelap, sejak pukul
22.00 tadi.

Kudesah
nafasku pelan, kurasakan lapar melilit perutku, tapi … tirakat? Ah,
tidaklah. Yah, meski aku sudah lama di sini, namun aku tidak bisa
dikatakan santri senior, pun aku juga tidak bisa dibilang santri
junior. Gengsi dong, kan udah mending lama, udah mau kawin lagi he …
he ….

Hanya
saja aku memiliki satu keistimewaan daripada santri-santri lain, aku
bisa naik kapan saja dan sesukaku ke pondok putri, nah … khan?!
Lha
wong
Syaikhuna nggak marah kok, soalnya aku ada “kepentingan” di
pondok putri (zeee …). Kadang-kadang aku ke atas pagi hari, siang
hari. Yang paling sering malam hari, di saat santri putri sibuk
musyawarah, jadi mereka tidak tahu keberadaanku saat aku naik.
So,
dengan tenang aku melakukan aktivitas dan tugasku.

Tetapi,
hari ini, jujur perasaanku agak terusik, sejak kapan dia ada di situ?
Duduk di
durjan
itu? yah, dia, si gadis, sekilas cantik, dengan wajah oval, kulit
putih Jawa, bulu mata lentik, bibir mungil menggemaskan. Kelihatan
cuantik
lagi jika memakai baju cokelat gelap dipadu sarung cokelat susu
bercorak khas miliknya (lha milik siapa lagi?), dengan kerudung
senada, aku … wah,
wis
pokoknya gitu lah.

Yang
aku tanyakan, sejak kapan dia punya pikiran untuk
mutholaah,
wirid, baca Qur”an, merenung di tangga kayu yang menuju
suthuh
itu?
So
pasti aku agak terusik (ehm), meski lama-lama aku menikmati keadaan
ini (huuu …),
toh
aku pun tidak mengganggunya. Kebetulan juga, aku selalu sukses
menyelinap, sehingga dia tidak tahu kalau aku barusan lewat, jadi
lancar aja aktivitasku, malu dong kalo ketemu ama
ajnabiy.

Namun
harus kuakui, perasaan itu tiba-tiba menyelinap di balik bilik
hatiku. Aku selalu terpesona, kala gadis itu, dengan mata beningnya
menatap cakrawala sore yang menyapanya dari balkon utara. Dengan
menopang dagu manisnya ia duduk di
durjan
kayu itu, ada sesuatu yang dikenangnya. Tatapannya itu, bening
jernih, aku pun turut tersenyum saat ia juga tersenyum, sebelum
beberapa detik kemudian, gadis yang menginjak remaja, yang sedang
mekar-mekarnya itu mendesah nafas lantas mengucap “Subhanaloh”
diikuti oleh wajah ayunya yang merona merah.

Hal
itu, kuamati dengan pasti selalu dilakukan setiap ada burung yang
melintas, atau seekor kupu-kupu cantik yang menari-nari indah
diantara dedaunan mangga tetangga, dipadu suasana sore yang khas.
Seolah ia berkata pada burung yang lewat itu, “Duhai burung yang
berterbangan, sudikah dikau meminjamkan sayapmu untukku? Sehingga
daku bisa menjumpai kekasih yang menempati relung hatiku.”

Mendadak
parasku berubah, aku tersipu, GR, akukah itu? ah … kayaknya tak
mungkin, kemarin saja kala aku mencoba menampakkan diriku dengan
sengaja, ia menjerit lantas lari masuk ke dalam. Apakah malu? Atau?
Ah … aku agak kecewa yang jelas kemarin itu.

Kini,
tentu saja aku tidak mau kejadian kemarin terulang. Mungkin aku
terlalu mengejutkannya, sebab aku menampakkan diriku yang gagah ini
dengan tiba-tiba, sontak ia kaget, ah aku terlalu bodoh, untung nggak
kepergok Syaikhunaa.

QQQ

Kulihat
hari ini sang gadis berbunga-bunga, ia terlihat gembira, ada secarik
kertas di tangannya, tidak bosannya dibaca terus surat itu. aku
sedikit tersentak, dari mana surat itu? khan aku tidak mengirimnya,
jangan-jangan … Tidak! Segera kutepis perasaan cemburu itu.

Hah?
Apa? Cemburu?! Goblok! Aku merutuk dalam hati, buat apa cemburu,
wong
lain kok urusannya (bener nih).

Tapi
yang penting sang gadis ceria, kulihat ia menulis surat, di atas
kertas berwarna biru muda, untuk akukah surat itu? tidak mungkin,
tidak mungkin gadis itu melirikku.

Cuma
saja … kulihat kemarin ia tersenyum kepadaku … ya! Bettul!!
Horee! Kemarin kan ia tersenyum bahkan tertawa seraya teriak
(memanggil?) cenderung gemas (atau geram?) saat aku yang ganti lari
lintang pukang melihat kehadirannya, sepertinya ia tertawa sejurus
kemudian. Itu kulakukan setelah secara sembunyi-sembunyi kuintip
gadis ayu itu, yang sedang termenung di tangga. Kunikmati senyuman
manisnya itu, jemari lentiknya yang menari lincah memutar tasbih.
Sehingga gadis itu sadar ada sepasang mata tak berdosa (prut!!) yang
sedang memperhatikannya. Dan ia tahu kalau aku mengintipnya! Ia
menjerit memang, tapi tidak lari! Aku bengong, sampai aku sadar
ketika di tangannya tergenggam sebatang sapu. Segera aku ambil
langkah seribu sebelum urusannya berabe, soalnya kalo sampai ketahuan
Syaikhunaa, apalagi Umminaa, bisa jadi perkedel aku. Lha beberapa
hari lalu barusan aku buat ulah, ada santri “sawanen”
gara-gara aku.

Namun,
dari kejauhan aku tersenyum puas, beberapa hari yang lalu ia yang
lari saat melihatku, tapi kini tidak, kini dia mengejarku …
kejarlah daku, kau …
ya
aku kabur dong … he … he … he….

Angin
sore lembut membelai wajahku, dengan langkah ringan dan lincah aku
menyusuri jalan kembali ke kamarku di pondok kuno, besok aku akan
kembali “gadisku”, tunggu daku.

QQQ

Kutertegun,
pondok putri mengadakan pembersihan besar-besaran, semua dirubah,
dibolak-balik tempatnya oleh si Gus dan kawan-kawan, tak ada lagi
renovasi. Lalu, bisakah aku bertemu sang gadis? Gadis
durjan
yang menarik perhatianku itu? Gadis cantik yang wajahnya selalu
terhias senyum manis memikat setiap ada sesuatu yang menggembirakan
hatinya, yang tersenyum kala melihat binar bulan purnama, gadis
cantik yang terlihat makin cantik saat memakai baju cokelat gelap
dipadu sarung warna cokelat susu dengan kerudung atau jilbab senada.
Gadis cantik yang bak bidadari surga itu, yang kugiring sepiku ke
pelabuhan hatinya? Ah … aku … haruskah aku kehilangan kesempatan
ini? Apalagi barusan Syaikhunaa mengumumkan pelarangan naik bagi
siapa pun yang tidak memakai jilbab, selain cewek, gara-gara
provokasi si Gus. Ah, sialan benar si Gus itu!

Gontai
aku berjalan ke kamarku, mau lewat mana? Di atas buntu semua.
Sebenarnya sih bisa, tapi izin langsung kayaknya tidak mungkin, nggak
ada peluang 00,01% pun. Atau nekat menemuinya? Aku yakin ia akan
menjerit sejadi-jadinya. Menangis bahkan bisa pingsan. Bagaimana ya?

Menyelinap
lewat dapur? Semua ventilasi ditutup kasa oleh sang tukang. Sialan
juga dia! Lewat pintu? Si Naming, kucing putih
ndalem
yang nggemesin, lucu, cerdas itu dengan setia tidur di pintu dapur.
Atau lewat atas masjid? Menyusuri kabel!! Aha!! Tapi, kalau kesetrum?
Wah,
ma’as
salamah
deh.

Aku
putus asa, akankah ia hanya bisa kurindukan? Aku suka melihatnya,
karena kulihat ia “begitu dekat” dengan Penciptanya. Masya
Alloh, saat dunia sudah kayak gini.

Tetapi
lagi pula aku yakin ia tidak akan menerimaku. Gila! Sangat gila kalau
ia menerimaku, tidak takut sih mending.
Eman
kalau gadis secantik dia punya kelainan jiwa, apalagi temen-temennya,
buenci,
jijik dan alergi melihat kehadiranku. Padahal bagaimanapun … aku
juga punya cinta. Ah … biarlah, biarlah ia bernostalgia, berkasih
dalam angan dengan kekasih yang menempati relung hatinya, sesama dia.

Dan
aku? Biarlah aku juga melabuh cinta, merindu kasih dengan sebangsaku,
sejenisku, sesamaku. Sebab kulihat, tadi di sudut lain dari atap
pondok tua ini, entah datang dari mana, ada sepasang mata jelita
memperhatikanku. Seekor tikus mungil, yang aku yakin, ia seekor tikus
betina yang akan jadi … jodohku … tanpa harus pacaran.

QQQ

Rushaifah,
Makkah-Shultonah Madinah

17
Agustus 2004.

Pagi
hari, jelang ziaroh.

Terinspirasi
cerita teman saat masak. Coco The Coro.

“Sekedar
cerpen.”

1
Puisi A. M. Ilalloh, untuk penulis.

2
Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.

3
Laa
adri
,
artinya: aku tidak tahu.

4
Laghozaat Fiqhiyyah.

5
Nadzam Burdah.

6
Petikan surat “Mas Con’an”.

7
Petikan suratnya Yazid.

8
Petikan salah satu surat akhowat.

9
Sebagian besar isi surat santri NA.

10
Petikan surat “Albab”.

11
Petikan surat “Hamdan.”

12
Kata-kata Hakim Demak.

13
Petikan surat ucapan selamat dari Ririn-Za’im, saat ultahku yang ke
17 silam.

14
Petikan surat sang Naqibah.

15
Petikan surat
ba’dlun
minas sholihaat.


Leave a comment »

Jembatan Suramadu hampir selesai, Dampak sosial keagamaan bagi masyarakat Madura yang Agamis

Jembatan Suramadu yang pertama kali direncanakan tahun 202, kemudian mengalami proses pasang surut. Pada tanggal 1 April 2009 jam 23.30. sudah mulai terpasang main spain (bentang tengah). ini merupakan kali pertama dalan sejarah, kedua pulau tersebut, yaitu : Jawa dan Madura terhubung. Jembatan Suramadu yang memiliki total panjang 20,9 km (jembatan dan dua jalan akses), berukuran lebar 30 meter (2×15 meter). Jembatannya sendiri memiliki panjang 5,4 km. Kemungkinan, Insyallah tanggal 12 Juni mendatang pembangunannya kan tuntas dan diresmikan. Kita tinggal menghitung jari, kurang lebih 70 hari lagi. Jembatan tersebut diprediksikan akan bertahan sampai 100 (seratus) tahun. Dengna terbangunnya jembatan Suramadu, Jalur transportasi dan distribusi semakin lancar dan tidak akan mengalami kemacetan lalu lintas seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika terjadi arus mudik atau arus balik lebaran (hari raya Idul Fitri). Ditinjau dari segi Ekonomi dan teknologi Industri , pembangunan pabrik-pabrik Industri atau proses industrilisasi di pulau Madura semakin berkembang dan meningkat. Setiap orang asing  atau orang dari luar pulau Madura akan lebih mudah berlalu lalang memasuki pulau Garam tersebut. Akan tetapi pembangunan jembatan Suramadu akan memiliki dampak negatif dalam sosial, budaya dan keagamaan  bagi masyarakat madura yang dikenal sebagai kaum santri dan agamis. Proses Industrilisasi dan pembangunan objek-objek wisata akan semakin ditingkatkan dan berkembang. Dampaknya budaya-budaya prostitusi (pelacuran) akan mudah memasuki pulau tersebut dengan seiring terhubungnya pulau Jawa dan Madura melalui jembatan Suramadu. Selain itu, proses masuknya budaya-budaya Barat semakin meningkat melalui kunjungan-kunjungan wisatawan asing dari mancanegara, sehingga terjadi percampuran dan benturan budaya orang Madura yang agamis dengan budaya Barat yang liberal dan bebas. Akibatnya nilai-nilai budaya ISlam dan norma-norma kesusilaan  atau akhlaqul-Karimah mengalami degradasi atau penurunan dalam pengamalannya. Terjadinya degradasi moralitas mengarah kepada perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih konsumtif dan materialistik di daerah-daerah industri dan obajek-objek wisata di pulau Madura. Maka sebelum terjadi proses degradasi akhlak yang semakin parah, sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban bagi para da’I baik dari kalangan Ulama, cendikiawan Muslim, penulis dan penyair Islam serta tokoh masyarakat untuk mengantisipasi dan melakukan penetrasi atau memberikan  imun (daya kekebalan) bagi masyarakat Madura yang agamis terhadap budaya -budaya yang akan merusak nilai-nilai sosial budaya dan keagamaan di pulau tersebut. Peranan aktif dari para da’i tersebut untuk membentengi ummat dari serangan budaya-budaya yang negatif  dan merusak moralitas dengan cara meningkatkan ukhuwah al-Islamiyyah (persaudaraan Islam) , kepedulian terhadap sesama muslim. Seharusnya mereka tidak ikut terjun ke dalam dunia politik, berebut kursi-kursi jabatan dan kekuasaan. Efeknya krisis ketidakpercayaan dan sikap apatis ummat terhadap para da’i semakin meningkat karena citra buruk yang diperbuat oleh sebagian oknum dari mereka. Sangat ironis sekali, Namun Hal ini adalah fakta yang telah terjadi dalam masyarakat Madura yang agamis. Adapun solusi untuk meminimalisir (memperkecil) kerusakan moral dan budaya keagamaan dalam masyarakat madura yang agamis adalah kesadaran dari para da’i terutama para ulama dan tokoh masyarakat untuk mengisi kembali kursi-kursi yang telah ditelantarkan sebagai penegak amar-ma’ruf nahi munkar, pengayom dan pembimbing ummat ke jalan yang benar seperti yang telah dikerjakan oleh para ulama Salafus-sholeh. Kesadaran tersebut timbul dari setiap hati nurani yang mau mendengar dan menerima kebenaran dan hidayah, yaitu : hati yang bersih dari penyakit-penyakit hati. Mungkin hanya orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah SWT yang dapat menerimanya. Kedua, Media penyebaran dakwah lebih diperlebar dan diperluas jangkauannya secara intensif dan kontinyu (istiqomah) baik dakwah bil-Lisan, dakwah bil-Hal, maupun dakwah bil-Qolam. Ketiga,  Peranan setiap kepala keluarga (rumah tangga) untuk membimbing dan mengajak setiap anggota keluarganya untuk memperhatikan dan mepergunakan moral dan akhlaqul-Karimah dalam moralitas Islam termasuk tugas dan warisan yang selalu diamanatkan oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam kepada para pewaris dan ummatnya untuk menjaganya : ” Bu’itstu li Utammima makarimal-akhlak “. “Saya diutus tiada lain untuk menyempurnakan akhlak.” Tulisan ini sekedar untuk  wacana dan pandangan dari penulis mengenai prospek sosial-keagamaan yang akan menimpa masayarakat Madura yang agamis, ketiak proses industrilisasi terjadi di pulau tersebut. Bagaimana tanggapan dan pendapat Anda mengenai wacana? Wallahu A’lam.

Leave a comment »

Bagaimanakah cara menjadikan para hamba Allah bersaudara?

Judul di atas adalah pertanyaan yang mengetuk dan membuat gelisah  hati danpikiran saya. ketika sya selesai mendengarkan  sebuah khotbah  Jum’at dari seorang Ustdaz yang saya tidak mengenalnya  namun mengerti wajahnya. Isi cermah yang dia sampaikan mengenai cara menjalin Ukhuwah Al-Islamiyyah (Persaudaraan Islam0. Dia mendasarkan pada sebuah dalil atau argumentasi dari hadits Nabawi yang berbunyi :

Kuunuu ‘Ibadallahi  Ihwaanaa (Rawahu Ahmad)

Artinya : Jadilah kalina para hamba Allah yang bersaudara (H.R Ahmad).

Dalam redaksi tersebut,  memiliki satu pesan penting, yaitu : ajakan atau perintah untuk bersaudara sesama muslim yang merasa diri mereka sebagai hamba Allah. Namun pada kenyataannya , untuk mengaplikasikan ataua mengamalkan hadits ini,  Kita semua termasuk penulis mersakan kesulitan dan berat, dimana ummat Islam sudah terkotak-kotak dan terpecah-pecah dalam madzhab-madzhab 9 sekte-sekte) dan firqoh-firqoh (golongan-golongan) yang berbeda-beda. Hal tersebut memang termasuk penyakit ynag menimpa kaum muslimin pada dewasa ini. Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wassalam  sendiri telah meprediksikan gejal ini sejak 15 abad yang lalu. Di negara ini, sedang memasuki masa-masa kampanye, puluhan partai politik saling mempromosikan dirinya lewat media massa demi meraih pendukung dan suara di pemilu nanti.Efeknya, sesama saudara muslim saling bermusuhan demi membela parpol, caleg atau capres yang mereka idolakan. Fenomena ini sungguh ironis, lalu bagaimana langkah yang harus diambil agar mereka (sesama muslim) kembali bersatu dan bersaudara ? Pertanyaan ini mungkin sulit dilaksnakan dalam situasi dan kondisi semacam ini. Namun ini adalah sebuah harapan yang selalu didambakan kita semua. entah kapan akan terwujud ? Hanya Allah yang mengetahuinya. Semoga harapan tersebut dapat terwujudkan dlam jangka waktu yang dekat. Kemudian bagaimana cara menjadikan para hamba Allah bersaudara?  Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam telah meberikan sebuah resep yang cukup manjur, jika kita mau melaksankannya, yaitu : sebuah hadits Nabawi yang artinya :

“Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada 6 (enam

), yaitu : 1. Apabila salingbertemu, mengucapkan salam, 2. Apabila diundang, mau menjawab, 3. Apabila meminta sebuah nasehat, dia mau memberikan nasihat kepadanya, 4. Apabila dia sedang bersin, kemudian mengucapkan kalimt Hamdalah (Alhamdulillah ), maka dijawab dengan ucapan : Yarhamukallahu , 5. Apabila dia sakit , maka menjenguknya, 6. Apabila meninggal dunia, maka mensholati, mengantar dan menguburkannya.

Keenam hak tersebut merupakan sebuah hal yang kelihatannya mudah dan sepele,  Namun jika dilaksnakan kadang kala terasa sulit atau berat bagi kita. Jika hak-hak tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka perpecahan dan kebencian diantara kita dapat diminimalisir (diperkecilkan) dan akhirnya dapat diredam. Semoga kita dapat mendapat petunjuk untuk melaksanakan keenam hak tersebut.

Leave a comment »

Keistimewaan yang diberikan Allah kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam dalam kemudahan syariatnya untuk ummatnya

1.Dihalalkan barang rampasan perang.

2.Dijadikan tanah seluruhnya sebagai tempat sujud sedangkan ummat terdahulu harus bersembahyang di sinagog atau gereja-gereja.

3.Tanah (debunya) dijadikan suci untuk tayammum, sedangkan ummat terdahulu tidak diperbolehkan menggunakan debu untuk bersuci, hnay khusus bagi para Nabinya.

4.Membasuh sepatu Khuuf , Dalam ummat terdahulu tidak ada syariat semacam ini.

5.Dijadikan air sebagai penghilang najis, Sedangkan ummat terdahulu jika terkena najis harus dikelupas kulitnya atau dipotong pakaian yang terkena najis.

6.Melakukan istinja’ dengan benda padat, ummat terdahulu memiliki syariat semacam ini.

7.Menghadap kiblat Ka’bah, kalau ummat terdahulu harus menghadap ke rumah para Nabi-nya atau ke baitul-Maqdis.

8.Adzan, Iqomah, dan pembukaan sholat dengan takbir

9.Menjadikan shof dalam sholat seperti shof para Malaikat.

10.Penghormatan dengan salam, Salam adalah penghormatan para Malaikat dan penduduk surga.

11.Adanya bulan Ramadlan

12.Adanya malam Lailatul-Qadr.

13.Mengqashar sholat dalam perjalanan

(Disadur dari kitab Anmudzajul-Labib Fi Khoshoishil-Habib Shallahu ‘Alaihi Wassalam  karya : Imam Jalaluddin As-Suyuthy (w.911 H).

Leave a comment »

Jangan Jadi Orang Yang Nyebelin Yach !!!

Sampul Depan:

Seri Pembersihan Jiwa (2)

Penulis : Cak Al (Gus Alwy Muhammad)

Editor: Mas Hif/Muhim Haquni

Jangan Jadi Orang yang Nyebelin Yach..!!!

DCP Makkah Al-Mukarromah

Hal I

بسم الله الرحمن الرحيم

Hal II

Sama seperti sampul depan

Hal III

Hak cipta, tahun terbit, cetakan, dll

Hal IV


وإذا كانت النفوس كبارا # تعبت في مادها الأجسام [أبو طيب المتنبي]

Hal V

Tuk mereka-mereka yang kucintai

Hal VI

Pembukaan DCP

Hal VIII

Muqoddimah

Hal X

Daftar Isi


Isi buku ini

Hal terakhir

Lebih Dekat lagi Neeh

Sampul Belakang:

(Beri kata-kata ini):

“Adakalanya, sesuatu yang terjadi di hadapan kita, adalah justru merupakan suatu pelajaran yang sangat berharga, yang tidak bisa kita ketemukan di kitab manapun” [Ibnu Imron Al-Adzro’iy]

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh, sholawat salam semoga tercurahkan selalu pada baginda Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam juga keluarga dan segenap sohabatnya, serta siapapun yang mengikuti jejak langkah mereka sampai hari akhir nanti.

Dan setelah itu:

Sebenarnya, buku yang hadir di hadapan antum kali ini, adalah sekuel (lanjutan) dari seri pembersihan jiwa, bukuku sebelumnya, Bengkel Jiwa. Yach dengan kata lain, melanjutkan sukses.

Makanya, tetap kugunakan bahasa gaul, karena lebih meremaja, juga lebih mengena di hati kita, dus tidak terlalu terkesan menggurui. Yang pasti juga, santai, nggak tegang-tegang amat.

Hanya saja bahasan dalam bukuku yang kali ini, lebih spesifik. Juga tidak kugunakan banyak Maroji’/bibliografi sebagaimana Bengkel Jiwa. Cuma satu kitab yang kugunakan sebagai acuan, Akhbar As-Tsuqolaa` wal Mustatsqiliin, tulisan Syekh Muhammad Azzamzamy, dan… dari pengalaman kehidupan.

Judulnya pun nggak jauh amat dari arti kitab itu : Jangan Jadi Orang Nyebelin Yach. Santai banget kan?!

Inti tetap, pembersihan hati, cara menyikapi hidup serta menghadapinya.

Yach… dikatakan karangan murni nggak bisa, terjemahan juga nggak sempurna. Pokoknya tulisan lah, yang penting berguna, iya nggak?!

Proses Kreatif Buku ini

Awalnya sih nggak ada niatan apa-apa, Cuma corat-coret sekedar iseng daripada nganggur gitu, mau ta` kirimkan ke Dliya`, eh nggak tahunya keterusan, ya udah, bismillah, pikirku. Tentu saja juga karena ada hal-hal khusus yang nggak bisa kuungkapin di sini.

Dan buku ini, kugoreskan tepat saat haul, 1 tahun wafatnya Guru Besarku, yang mendidik kami makna kehidupan yang sebenarnya. Al-Quthb Al-Abbasiy Al-Imam Al-Arif Billah Assayyid Muhammad Alawy Al-Maliky, buku ini pun juga kupersembahkan untuk beliau dan Guruku kini, putra beliau Al-Imam Assayyid Ahmad Muhammad Al-Maliky.

Sebentar memang aku pribadi merasakan didikan langsung tangan dingin beliau, 6 bulan, namun justru dari kesejenakan barokah itu kudapatkan sesuatu yang sangat besar yang sangat luar biasa, Alhamdulillah Maa Sya Alloh Laa quwwata illa billah.

Dan sebagaimana kaidah kehidupan, sunnatulloh di muka bumi ini, wa maa yalil mudlofa ya’ti kholafa, segala sesuatu yang hilang pasti ada penggantinya, maka begitu pula beliau, kini putra beliaulah yang mengganti, sebagai Guru Besar kami, dengan manhaj dan sistem yang sama, dan sesuai dengan masa kini tentunya, sebuah nikmat agung yang tentu harus aku syukuri.

Lalu, semoga buku kecil dan tipis ini bisa kita ambil manfaatnya (khususnya diriku pribadi) dan semoga penulisannya hanya karena-Nya Ta’ala saja dan berpahala.

Kemudian… selamat membaca… temukan mutiara dalam buku ini, bi idznillah.

Penulis

Maktabah (Perpustakaan) Ribath Maliky

Makkah Al-Mukarromah

22 Romadlon 1426 H, Selasa dini hari

SEDIKIT TENTANG KEHIDUPAN

Hidup itu unik n` asyik, apalagi jika kita tahu makna kehidupan, kayak apapun keadaan kita, pasti deh bisa menikmatinya.

Dan kehidupan yang asyik itu bukan “muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga“, iya, dunianya mbahmu kalo itu, he..he… namun kehidupan yang benar-benar terlewati dengan penuh arti, penuh makna dan semua bernilai ibadah, dalam tiap kedipan dan hembusan nafas.

Sebab kita diciptakan tuk beribadah pada-Nya. So semuanya harus mengandung nilai ibadah, mulai hal-hal sepele sampe hal-hal sepolo.

Jangan terjebak pemikiran sekuler dan liberal lho, yang memisahkan agama dari kehidupan. Justru ia harus selalu sejalan dan sesuai dengan tatanan yang digariskan agama, agar seimbang dan tidak goncang. Jadi agama tu bukan hanya sholat di Masjid, puasa Romadlon, zakat (fitrah) atau haji doang. Kalo cuman itu, sempit sekali pikiran kita tentang agama. Sebab – katanya orang pinter – agama tu harus mencakup semua aspek/sisi kehidupan. Tentu klo emang jiwa kita ingin bahagia dan ga’ garing.

Itu tadi klo kita bicara tentang kehidupan. Nah, dalam hidup ini juga, kita ga sendirian, kita harus interaksi dan bertemu dengan makhluk-makhluk laen. Sesama kita, kucing, kambing (he…he…he…)

Dan orang itu macem-macem, ada yang pribadinya nyenengin, biasa-biasa, ada juga yang ngeselin n` nyebelin. Ini juga pengaruh lho ke penilaian hidup kita di dunia ini sebagai bekal di hari akhir kelak. Istilah gurun pasirnya, Al-Huquq bainal insan, ato Haqqul Adamiy.

Klo lihat orang yang nyenengin, hati kita bahagia, dan itu pahala, begitu juga orang yang buat seneng orang lain, idkholus surur, ada pahala sendiri. Klo ketemu orang biasa-biasa, ya wajar saja, ga ada apa-apa maksudnya, kehidupan masih relatif tenang.

Nah, sekarang, gimana klo kita ketemu orang yang nyebelin?

Mangkel n` ga seneng bukan? Itu yang pertama, klo kita bisa nahan diri sih enak, kalo sampe nggunjingin? Dosa satu, itu yang kedua, tul?

Ato jangan-jangan malah kita sendiri yang justru jadi orang yang suka buat orang lain sebel? Idiiiih….amit-amit, na’udzu billah deh. Berapa malah dosanya, mana klo cengkal (nggak bisa dibilangi) lagi.

So, sebagaimana kita ga’ seneng ada orang lain ngelakuin sesuatu yang nyebelin, maka kita juga jangan gawe perbuatan yang membuat orang lain sebel ke kita.

Bingung? Sebagaimana kita benci ada orang nyolong, maka kita sendiri jangan nyolong, faham kan?

Nah, gimana tuh ciri-ciri dan kelakuan orang yang nyebelin?

Perlu baca buku ini, biar kita nggak ngelakuin hal-hal yang orang lain sebel. Atau seumpama tanda-tanda tersebut ada pada diri kita, kita bisa ngilangin dan menghindarinya.

Alhasil, kita bisa muhasabah,introspeksi, nggrabak jithok, menyadari kesalahan pada diri kita, tuk lantas kita perbaiki.

PENYEBAB UTAMA JADI ORANG NYEBELIN

Sifat nyebelin itu munculnya dai satu sumber, ketidak mengertian atau bahasa kasarnya, kebodohan.

So, orang yang nyebelin tuh (sebenarnya) bodoh, karena itu, biasanya kita lihat dia tuh enjoy-enjoy aja nglakonin hal-hal yang nyebelin, padahal nyalahin tata krama, adat istiadat, anggah-ungguh, bahkan agama! Nggregetin ati nggak kira-kira?!

Dan sifat nyebelin tuh terapinya adalah hanya dengan belajar serta mempraktekkan akhlak. Dari sini, bisa kita temukan, banyak orang yang ilmunya seabreg, umum ataupun agama, tapi karena ga diisi ilmu akhlaq, sopan santun, berlaku nyebelin, istilah kasarnya, pinter tapi goblok, he..he…he…

Klo orang yang bodoh ilmu, ga pernah belajar, tapi nyebelin itu sih masih mending. Lha ini, pinter kok nyebelin? Itu sama aja dengan goblok kuadrat, atau jahal murokkab, jadi konconya Abu Jahal, sebab konon doi orangnya pinter, tapi karena dengki dengan Rosululloh Shallahu ‘Alaihi Wassalam dan Islam, maka dia jadi orang bodoh yang suka berbuat nyebelin n` ngeselin orang-orang islam.

Salah-salah orang nyebelin jadi GR, gendheng ra kroso, he..he…

Nah, seumpama tidak karena kebodohan yang nutupi akalnya, juga ngrungkepin perasaannya, maka seseorang tersebut tak akan rela jika dirinya memiliki sifat yang berhubungan dengan hal-hal yang nyebelin, iya nggak?

Ada sebuah perkataan berbunyi “Al-mu’min kayyis fathin“, orang mu’min tuh cerdas, pinter n` tanggap. Dan sikap nyebelin itu muncul karena kurangnya kepekaan terhadap keadaan sekitar, maa fii dzauq, nggak punya perasaan.

Maka dari itu, keimanan sudah seharusnya menjadikan pemiliknya cerdas dan tanggap, karena imanlah yang menahan pemiliknya dari segala perkara yang dikecam.

Dan sifat nyebelin adalah termasuh hal yang dikecam (bikin orang nggunjingin orang aja) yang tak bisa dilacak kecuali oleh orang yang tanggap yang mau menggunakan ketanggapannya.

Klo orang yang nyebelin? Tahu sendiri deh jawabannya.

Sebab khusus penyebab orang jadi nyebelin

Namun di sana (di samping karena tidak punya kepekaan), setidaknya ada dua sebab khusus yang njadiin orang punya sifat nyebelin.

Apaan tuh?

Kata Ibn Hibban di bukunya, Roudlotil Uqolaa` :

  1. Maksiat (berbuat dosa)

Dengan kata lain, pelanggaran terhadap hal-hal yang dilarang Alloh n` Rosulnya.

Lho kok? Iya, sebab orang yang melanggar batas-batas larangan Alloh tersebut, tentu dibenci Alloh, dan orang yang dibenci Alloh tentu dibenci malaikat, kemudian kebencian itu diiletakkan di bumi. Akibatnya, tentu tak lain semua orang jadi membenci si yang berbuat dosa itu, dan dengan tanpa terasa dia berbuat sesuatu yang nyebelin

2. Bersikap nyebelin

Orang tersebut bersikap ato berbuat sesuatu yang di benci oleh orang.

Nah, dari pendapat ini, Ibn Hibban menjadikan orang yang suka berbuat dosa tergolong orang-orang yang nyebelin juga. Hmm…masuk akal juga sih

JENIS-JENIS ORANG YANG NYEBELIN

Sebagaimana orang itu macem-macem, maka jenisnya orang nyebelin juga macem-macem:

  1. Ada orang, yang semua orang itu sebel padanya, baik dari tabiatnya, omongannya, tindakannya, ataupun potongan model orang itu sendiri. Dan nyebelin itu memang watak aslinya (parah klo ini)

  2. Ada orang, yang sebagian sebel padanya, sebagian lain tidak. Nah, ni orang yang sebel padanya, biasanya orang sirik, orang yang iri dan hasud (malah justru dia yang nyebelin, tul?)

  3. Ada orang, yang sebenarnya ga’ nyebelin, justru semua orang seneng padanya (kecuali yang hasud tentunya). Tapi, kadang-kadang dalam keadaan tertentu, nih orang tiba-tiba berubah jadi nyebelin banget.

Nah, dari ketiga jenis itu, kita jangan sampe masuk golongan pertama. So, nyebelin itu ada dari asal (gawan bayi) ada yang tiba-tiba aja.

Dalam istilah arab, orang nyebelin itu disebut “Tsaqil“, yang dalam etimologinya adalah “berat”. Dikatakan tsaqil/berat, karena dia mberatin hati (nyebelin) dalam makna/istilah. Sebagaimana batu yang berat bagi tubuh dari segi perasaan.

Kalo orang merokok, eh…Maroko (Maghrib, negara di Afrika utara), nyebut orang nyebeiln dengan istilah Basil, artinya pahit, yakni pahit di hati, sepet di mata (he3x).

Kalo orang Mesir bilang Barid, atau dingin, so orang-orang yang cool (dingin) sebenarnya tuh nyebelin, sok ngegaya, jual mahal, sombong lagi, tul?

Dan tingkat kesebelan (eh, bahasa apa ini?) itu macem-macem.

Orang yang nyebelin dari wataknya tentu lebih buruk daripada orang yang nyebelin tiba-tiba saja, dalam omongan atau tindakan. Tapi hal ini bisa dirubah dengan tadrib wa tarbiyah (latihan dan pendidikan). Sebagaimana anak yang pengen belajar naik sepeda, kan mesti belajar dulu, jatuh bangun lagi. Sebab sebenarnya latihan menghilangkan sifat nyebelin adalah pertempuran hati tersendiri.

SIKAP, CIRI, DAN TANDA ORANG NYEBELIN

Nah, ini adalah inti dari pembersihan yang dimaksud dalam buku ini. Tentu dengan kita tahu sikap atau ciri atau tindakan yang nyebelin, kita bisa menghindarinya atau menghentikan dan menghilangkannya dari diri kita. Supaya kita ini jadi pribadi yang selalu menyenangkan orang lain, yang hal itu memang termasuk ajaran Islam.

  • Banyak Omong n` ga punya malu

Iya ae, soalnya orang yang banyak omong pasti seneng ngikut campur urusan orang lain yang seharusnya dia tidak patut untuk ikut-ikut, sebel nggak kira-kira kamu klo urusanmu dicampuri orang lain?!

Juga orang yang banyak omong itu pasti sering bohong, seneng buat isu, seneng ngegosip dan yang pasti ga akan bisa nyimpen rahasia, berabe nih klo kamu punya rahasia terus ketahuan orang model gini, bisa jadi kabur-kaburi nih.

Kalo orang yang ga punya malu, biasanya (pasti) berani ngelakuin hal-hal yang ngganggu orang, dan hal yang malu-maluin, tentu saja orang lain ga seneng padanya, dan lama-lama akan menghindarinya

Rosul Shallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :”Sesungguhnya Alloh jika ingin menghancurkan seseorang, maka dicabutlah rasa malu dari hatinya. Dan kalau rasa malu telah tercerabut, maka dia tidak akan menemukan sesuatu kecuali kehidupan yang dibenci dari segala sudut” (HR. Ibnu Majah)

Nah, gimana dengan para model, artis, apalagi yang sampai berani pose telanjang?! Sudah jelas tuh jawabannya, dan hanya orang yang benar-benar sangat bodoh saja yang membela mereka, apalagi dalihnya seni, aduh…kebodohan model apalagi ini?!?!

  • Nanya hal-hal yang nggak perlu

Diceritakan, suatu hari ada orang nyebelin bertamu, sejenak sudut matanya menangkap ada mangkuk tertutup, eh dia nanya “apaan tu didalemnya, kok pake ditutup segala?” Dijawab oleh si tuan rumah “Makanya aku tutup, biar ga ada yang tahu, (ngapai ngurus barang orang?!)”

Tuh, Rosul Shallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:”Termasuk di antara kebagusan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak perlu”(HR.Tirmidzi)

  • Nanyain hal yang pribadi banget

Kayak orang nanya penghasilan kita, pertengkaran dalam keluarga, atau urusan tertentu yang ada hubungannya dengan kehormatan kita, sementara tuh orang nggak ada sangkut pautnya dengan kita, nggak teman, nggak sanak juga nggak kadang. Pasti deh kita sebel kalo ketemu orang kayak gitu, pengen nonjok aja.

Dan hal itu dilarang sama Rosululloh Shallahu ‘Alaihi Wassalam ,sebab pasti buat orang lain merasa keberatan dan sebel banget.

  • Seneng terlambat

Contohnya, kamu ama 10 temanmu ada janjian pergi jam 7, eh ada 1 temanmu yang nggak nepati waktu, sementara kamu dan yang lain nunggu, lama lagi, sebel kan? Apalagi dia datang dengan santai dan nggak merasa bersalah sama sekali, pake ketawa-ketiwi lagi! waduh, pasti mangkel betul hatimu, ya nggak? Sementara keterlambatannya akibat hal-hal yang nggak penting-penting banget.

Sebab ada lo, orang yang senengannya ngareni, terlambat terus (coba aja perhatikan, atau salah-salah kamu sendiri, hayooo, benerin tuh sifat, ok?!)

  • Banyak ketawa di depan umum

Nggak baik lho, apalagi ngakak sampe laler masuk, terlebih cewek, bisa-bisa cantiknya hilang. Sebab tertawa yang berlebihan, bisa menjatuhkan martabak eh martabat dan harga diri lho. Yang paling pas adalah tersenyum, ya klo ngakak sekali-kali, nggak terus-terusan, hilang nanti wibawamu, apalagi ketawanya dibuat-buat, pasti orang lain merasa sebel.

  • Ngetawain sesuatu yang…

Misalnya ada orang kentut nggak sengaja (he3x), terus kamu ketawain dia, di depan orang banyak lagi, apa nggak terluka perasaannya (cie..), dan pasti dijamin dia sebel banget sama kamu.

Soalnya, kenapa orang ngentut kok diketawain, wong itu ni’mat agung dari Alloh, coba aja kalo kamu ga bisa ngentut, ih na’udzu billah, serasa kena tsunami tuh perutmu, iya nggak

So kalo ada orang yang ngentut ga sengaja, jangan diketawain. Terus gimana sikap kita kalo ada orang kepentut, apalagi cewek (hi..hi..hi…)? Biar dia tidak malu, ya kita pura-pura gak dengar saja.

Ada cerita nih tentang itu, Hathim ibnu Alwan al-ashom, mendapat julukan ashom (si tuli), karena suatu hari dia bertemu dengan seorang gadis cantik, eh tiba-tiba si gadis kentut (he..he..cantik-cantik kok ngentutan), spontan si gadis malu bukan kepalang, tapi, untuk menjaga perasaannya, si Hathim ini pura-pura tuli dan meminta sang gadis mengulangi pertanyaannya dan mengatakan bahwa telinganya tuli, ga kedengeran omongannya. So, legalah sang gadis, karena kentutnya tadi ga kedengaran orang lain.

Dan di hadits Bukhori diterangkan bahwa Rosululloh melarang seseorang ketawa sebab kentut, nah lho.

Tapi ya gitu, jangan kentut sembarangan di depan umum, orang model ini ya tentu saja sangat nyebelin sekali, kurang ajar sekali, soale WC pindah tuh.

  • Bawa tamu tak diundang

Maksudnya gini, kamu diundang kenduren ama temanmu, khusus 10 orang, sementara yang diundang kamu doang, eh kamu datangnya bawa orang lain, alasanmu buat nemenin. Ini nggak bagus lho.

Atau kalau memang kamu terpaksa bawa temen, ya suruh dia nunggu di luar (tapi tega nggak kamu?), atau izinkan ke tuan rumah, kalau boleh masuk alhamdulillah, kalau ga boleh, ya gimana lagi. Tapi kebanyakan orang nggak akan tega nggak ngizinin orang, terpaksa deh dia ngizinin, dan di saat itu juga, si tuan rumah pasti deh sebel banget ama kamu.

  • Ngliat ke tempat-tempat yang nggak patut dilihatin

Seperti dalam rumah (apalagi klo kamu bertamu, jangan mendolong berusaha ngliat ke dalam), pemandian umum, dan lain-lain.

  • Duduk-duduk di pinggir jalan

Cangkruk, kalo istilah jawa. So, orang yang senengannya CSS (cangkruk sore-sore) di pinggir jalan adalah termasuk orang nyebelin orang lain, lha gimana tidak, siapapun orang lewat, kok di depannya ada orang-orang cangkrukan, pasti deh risih semua kalau mau lewat, nggak enak, sungkan karepe dewe dll. Apalagi klo yang lewat cewek, belum lagi klo yang cangkrukan di situ seneng usil, aduh. Makanya, hindari hal-hal seperti itu, lagian Rosul Shallahu ‘Alaihi Wassalam juga menghimbau umatnya agar ga seneng cangkruk, kalo terpaksa cangkruk, ya harus memberikan hak-hak pengguna jalan, yaitu menjaga pandangan dan tidak mengganggu orang lewat.

  • Ngliatin barang bawaan orang lain

Kamu pulang dari pasar, bawa bungkusan dalam plastik, terus eh ada orang yang ngliatin terus ke bungkusanmu, tersinggung nggak kamu? So, kamu juga jangan begitu.

  • Kalo bertamu, lamaaa banget

Makanya, bertamu aja seperlunya, urusan selesai, pulang. Jangan malah ngendon di situ, sebab hal itu pasti memberatkan tuan rumah (meski teman karibmu sendiri), bikin dia bosen berat.Apalagi kalau dia capek (atau sakit, lebih-lebih), mau disuruh pulang, nggak enak, nggak adab. Klo nggak disuruh pulang, badan ini capek. Pokoknya sebel semua deh, iya nggak?

  • Bertamu di saat yang nggak tepat

Seperti di waktu-waktu istirahat, selepas dluhur, atau malam banget, waktu makan, waktu mau sholat, atau waktu si tuan rumah lagi sibuk banget. Lain lagi kalo kamu orang jauh dan lama nggak jumpa, pasti tuan rumah memaklumi.

Seneng gak kamu, waktu enak-enak ngorok eh kedatangan tamu nggak diundang, pake teriak dan gedor-gedor lagi (he..he…kalo ini sih orang nagih hutang). So, kamu juga jangan kayak gitu.

  • Terlalu sering bertamu

Pasti deh yang kamu tamuin bosen dan sebel, kok lihat wajahmu terus, ya nggak? Makanya Rosul Shallahu ‘Alaihi Wassalam bilang, Zur ghibban tazdad hubban, kalo namu nggak usah sering-sering, jarang-jarang saja, pasti kecintaan persahabatan kalian akan makin bertambah. Lain lagi kalo sering jumpa, biasa-biasa aja, malah bisa-bisa garing.

  • Ngomong yang nyakitin ati/ nggojlok berlebihan

Seperti umpama temanmu sakit, eh kamu nyeletuk, “aku juga punya temen sakit kayak gini lho, dan dia mati”, hayo, apa nggak mangkel tuh temanmu, sudah sakit eh nggak di kasih semangat sembuh malah nakut-nakutin.

Atau gojlokan keterlaluan, niatnya guyon, eh malah sakit hati yang ada.

  • Bersin, batuk, menguap (angop) dengan tanpa menutupi wajah

Wah, bisa-bisa hujan deh, jorok banget kan orang kayak gitu. Nah, termasuk adab Islam, kita kalau batuk, bersin, menguap disuruh menutupi wajah, dan memalingkannya ke arah samping, juga merendahkan volume suara bersin/batuk, kecuali kalo emang itu berat ya lain ceritanya, ada dispensasinya.

  • Batuk ke arah makanan

Apalagi kalo makan bersama, bancaan, gimana hayo kalo salah satu dari kamu batuk terus “ada” sesuatu yang jatuh ke makanan yang sedang kita makan? Hi, jijay deh. Klo terasa ingin batuk, segera palingkan wajahmu menjauh dari makanan.

  • Cerongohan, Rakus

Kayak ada ambengan, eh saking takutnya nggak kebagian, makannya rakus banget, belum habis sudah di masukin lagi. Orang lain yang melihat pasti ga senang dan merasa sebel

Termasuk disini juga adalah koruptor, pokoknya siapapun yang rakus, takut nggak kebagian, adalah potongan orang-orang yang nyebelin.

  • Bicara hal-hal jijik saat makan

Eh, enak-enak makan, tiba-tiba kamu cerita tentang “barang-barang” WC, apa nggak langsung hilang tuh nafsu makan temanmu, nyebelin banget deh, atau cerita binatang yang temanmu takut, seperti kecoak, slompret, tikus, cacing, ulat, ular, kampret dll.

  • Nggak menjaga tata krama makan bersama

Seperti kalo makan bersuara (cepok-cepok, he3x), terus mainin sendok-garpu dipiring hingga berdenting, atau setelahnya, serbet tangan dibuat ngelap mulut. Juga bersendawa (glege’en) keras lagi, dan mengambil sisa makanan tanpa menutupi mulut

Terang aja, orang lain yang lihat hal ini gak seneng, bahkan kamu sendiri, kalo lihat orang lain gitu, pasti deh merasa terganggu dan sebel.

  • Seneng buka-buka, lihat-lihat barang orang lain

Kamu punya lemari, eh temanmu datang, usilnya, dia buka-buka lemarimu, ngliatin isinya tanpa izin dari kamu, sebel nggak kamu dibegituin? Nggak baik tuh lihat benda,buku (harian) orang lain tanpa seizinnya.

  • Seneng nguping, n` komentar spontan

Nah, ini nggak baik juga, semisal ada dua orang temanmu bicara, kamu sih asalnya punya kesibukan sendiri, eh tiba-tiba kamu nguping pembicaraan keduanya, nggak baik tuh, apalagi kalo kamu model orang yang seneng nyahutan, wah, sangat nggak baik lagi tuh.

Makanya, kalo ada orang lain omong, sementara kamu nggak diajak, jangan nyahut ngomentari, pasti orang lain sangat nggak seneng dan sebel (bocah iki! Kabele durung dipasang, wis nyahut, Huh!!!), iya nggak? Hilangin tuh sifat kayak gini. Kecuali kalo kamu terpaksa bicara, untuk meluruskan masalah misalkan, nah baru di saat gini kamu diperbolehkan. Lha kalo nggak, ngapain ngurusin orang lain?!

  • Banyak omong, nggak ada jluntrungnya

Pasti deh kamu sebel punya temen kayak ginian. Ada pepatah lho, diam itu emas.

  • Ngganggu orang tidur

Semisal kita tidur bareng-bareng temen kita, eh pas waktu malam kita bangun pengin kencing. Nah, saat mau ke kamar kecil, kamu jangan sampai berbuat gaduh atau apa yang bisa ngebuat temanmu terbangun sembari kaget. Gimana hayo klo temanmu jantungan?

Diceritakan, bahwa Kholifah Ma`mun bin Harun Rosyid jika terbangun malam dan ada kebutuhan ke belakang, dia berjalan dengan ujung-ujung kakinya (jinjit) agar tidak mengganggu tidur orang lain.

Begitu juga kalo mbangunin orang, jangan keras-keras, yang halus, lain kalo tuh orang molor banget, kalo nggak ditendang ato disiram nggak bangun, baru kasarin. Sebab orang yang baru bangun itu kesadarannya belum kembali penuh, butuh waktu sejenak mengembalikan kesadarannya. So, jangan terlalu diributin, kalau nggak pingin kamu diamuk sama dia.

  • Badan bau

Kalo ini jelas sangat nggak baik sekali, sebab Islam ngajarin kita untuk selalu bersih dan tampil mewangi. Masak hadir undangan, jum’atan belum mandi, baunya itu lho, apalagi klo bajunya nggak ganti, belum dicuci lagi. Waduh…Bulll, sedaaap boo!

So, perhatikan kebersihan badanmu, biar nggak mencemari lingkungan, he…he… Soale siapa saja orang di muka planet ini, pasti nggak seneng ngliat orang dekil, bau dan nggak mandi, bahkan orang dekil itu sendiri (???)

  • Masuk rumah tanpa pamit

Nggak baik lho, meski itu rumah kerabat kita sendiri. Yang adab, sebelum masuk salam dulu. Biar yang dalam rumah itu siap, gak awut-awutan. Repotnya seumpama kita nyelonong ke dalam rumah, eh yang si tuan rumah, pas gak bajuan (cewek lagi, hi..hi…huss!). apa nggak super mangkel, malu n` sebel, iya nggak.

Gimana coba klo kamu yang ngalami gitu, 100% dijamin dongkol. Lagipula, kebanyakan orang nggak seneng kalo rumahnya dimasuki sludar-sludur, penjajahan ini namanya (he3x), sebab rumah adalah rahasia keluarga.

  • Klo bicara muluk sego

Semisal kamu bicara dengan temanmu pake bahasa si-sian yang temanmu nggak faham. Nggak Cuma omongan doang, tulisan juga. Ada hikmah mengatakan “Seseorang yang cenderung bicara/menulis dengan frasa atau kata yang sekira menyulitkan pendengar atau pembacanya kesulitan memahaminya, maka orang yang seperti itu cenderung congkak, dan orang congkak adalah pemikir yang kecil”. So pasti, orang congkak adalah orang sangat amat nyebelin sekali (he3x)

Lagi, kalo bicara pake bahasa asing, sementara lawan bicara kita nggak faham bahasa itu. Kalo yang kita ajak bicara faham sih, ya maa yahtaj kalam , nggak usah dibicarakan, maklum itu.

Coba aja kamu, seumpama diajak orang omong, sementara orang tadi pake bahasa yang ndakik, yang kamu nggak ngerti, mangkel nggak kamu?

Ini juga peringatan untuk para orator lho, khutoba’, tukang pidato, jangan seneng pake bahasa yang repot-repot yach.

  • Bisik-bisik berdua di depan temen

Ini khusus untuk orang yang lagi ngumpul-ngumpul bareng, paling sedikit tiga orang, misalnya gini, kamu dan dua temanmu enak-enak ngobrol, eh tiba-tiba kamu bisik-bisik dengan satu temanmu, sementara yang satunya dibiarkan. Ini nggak boleh, sebab pasti menyusahkan dan membuat hati temenmu tadi sakit

Lebih parah lagi, kalo bisik-bisiknya pake nglirik temen yang sendirian tadi, wah!!! Payah ini! Siapapun pasti sebel dan mangkel bukan kepalang klo diperlakukan kayak gini, nggak terkecuali kamu

Dan hal ini tidak diperbolehkan sama Rosul Shallahu ‘Alaihi Wassalam di hadits riwayat Bukhori, “Jika kalian bertiga, maka jangan sampai yang dua berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga, sebab hal itu pasti menyusahkannya,” nah, kan?!

PERBUATAN NYEBELIN YANG LAEN

Tuh, banyak banget kan ciri atau tindakan yang bisa ngebuat orang lain sebel kan?! Makanya, sebisanya kita kudu ngehindarin yang kayak gitu tadi semua. Dan biar lebih ngeh dan mantep, juga ilmu tambah, berikut ini adalah perbuatan nyebelin yang lain yang sering kita temuin di kehidupan kita sehari-hari, atau malah bisa jadi kita punya perbuatan yang kayak gini, idiiiih.

  • Pake baju aneh biar terkenal; so kalo penampilan biasa-biasa aja, kayak orang kebanyakan. Ada istilah arab bilang, imsyi zayyan naas, berjalanlah sebagaimana kebanyakan orang (kalo karnaval ya lain dong, he..he…)

  • Mainmain di jalanan; seperti sepakbola, bulu tangkis, sebab itu pasti mengganggu orang yang lewat. Klo sepakbola ya sono di lapangan, jangan di jalan, tul?!

  • Mainan mercon; wah, siapapun pasti nggak seneng, khususnya kaum cewek, (dan ibu-ibu hamil, hi…hi…) apalagi kalau yang mainan tuh suka iseng nglempar tuh mercon. Bahaya tahu, salah-salah dituduh teroris nanti, he..he…

  • Buang sampah sembarangan; kalo yang ini sudah pasti orang nyebelin kelas top, sebab orang kayak gini jauh sekali dari kebersihan, makanya, buang sampah pada tempatnya (bukan promosi dinas kebersihan lho, he..he…)

  • Minjem nggak dikembalikan; kamu seumpama bukumu dipinjem temenmu, terus lama nggak balik-balik, apa nggak gusar kamu?! Atau ada temenmu minjem baju, lama nggak dikembalikan, pas dikembalikan tuh baju dalam keadaan kotor, nggak dicuci sama dia, gimana hayo perasaanmu?!

  • Merokok sembarangan; apalagi klo sambil naik angkudes yang penumpangnya numpuk kayak ikan pindang itu, terus ada yang jedal-jedul nyante rokokan, waduh, satu mobil batuk-batuk semua tuh, nyebelinnya lagi, dia nggak merasa bersalah!

  • Undangan sambil bawa anak; yang anaknya tadi masih kecil, compros semua, nggak ngerti tata krama, ngomong ngawur, makan nggak pas semua, parahnya si bapak ini malah ketawa melihat anaknya gitu, adduh.

  • Naik mobil, sembari ngecopros, keras lagi; klo mobil pribadi ya terserah kamu, teriak-teriak sampe penceng nggak pa-pa, lha ini mobil umum, desak-desakan, eh sempet-sempetnya kamu bercanda ama temenmu, keras lagi suaranya, belum kalau keluar jancuknya, atau omong jorok dan porno yang lain.

  • Ngomong sambil ketawa; banyak lho orang kayak gini, ngomong sambil ketawa, jadinya sulit tuh difahamin omongannya, malah rasa-rasanya kayak ngejek, nyebelin banget

  • Ngomong/rame sendiri di acara-acara resmi; so, kalau ada orang bicara, semisal di musyawarah, dengerin, kamu jangan ngobrol sendirian dengan temanmu, nggak baik.

  • Nggak kenal, nanya-nanya masalah pribadi; kadang-kadang kita nemuin lho orang model gini, wa laa kenal wa laa apa, eh tiba-tiba dia nyalamin kita terus ngecopros nanya hal-hal pribadi kita. Mana nggak sebel nih hati.

  • Berjalan, sembari ndlenger; contohnya gini, kita jalan bareng orang banyak, eh yang belakang ini, entah jalannya sambil ngelamun atau apa, dia berkali- kali nginjek sandal kita, sehingga hampir saja kita jatuh, atau nendang-nendang tumit kita. Bagi kita yang orangnya bukan penyabar, pasti sebel dan marah kalo dibeginiin.

  • Nunda-nunda ngembaliin utang; Ini juga sangat tidak baik, jika kamu hutang, terus sudah ada uang tuk ngembalikan, ya segera kembalikan, jangan ditunda-tunda, dzolim lho (Mathlul Ghoniy dzulmun, menunda mengembalikan hutang sementara kita punya hutang adalah dzolim) Hadits.

  • Ngetuk pintu malem-malem; ya siap-siap aja kamu didamprat ma bapakmu, soale pasti ngagetin dan ngganggu tidurnya. Rosul Shallahu ‘Alaihi Wassalam saja berlindung kepada Alloh dari Orang yang mengetuk di waktu malam.

  • Nyuruh orang nggak beres; kita umpamanya, suatu hari nyuruh temen, eh tolong kamu bilang ini gini-gini. Tapi sama si temen tadi dirubah pake bahasanya sendiri, yang malah ngrusak semuanya. So, kalo kamu diminta tolong temenmu, maka laksanakan apa adanya sesuai permintaannya, jangan dirubah atau ditambahi.

  • Nakut-nakutin temen; ngagar-ngagari kalo bahasa jawa, semisal kamu pura-pura ngacungin pisau, atau pas malem-malem nakutin pake nyamar jadi hantu dll.

  • Datang terlambat; pokoknya, orang yang senengane terlambat pasti nyebelin dan ngganggu orang lain, dalam hal apapun itu.

  • Bicara tanpa memberi kesempatan bicara; ada lho orang potongan gini, seperti waktu pas musyawarah, dianya bicara terus, yang lain mau omong nggak diberi kesempatan, mana suka memotong pembicaraan orang lagi. Orang kayak gini ini, anggap aja radio rusak, he..he…

  • Ngunggul-ngunggulin dirinya; misalnya kamu ngobrol ama temenmu, eh si temen tadi klo cerita, tentang dirinya melulu, kehebatannya, aku gini, aku gitu, pasti deh kamu sebel ngobrol bareng orang ginian. So yang baik adalah, jadilah pribadi yang tawadlu’, merendahkan diri, sebab semua adalah dari Alloh Ta’ala semata, iya nggak?!

  • Seneng memuji dihadapan orang; ini juga nggak baik lho, memuji dihadapan orang yang kita puji, sebab klo model orang GR-an bisa jatuh tuh dia, kan kasihan. Sama aja dengan membunuhnya. Kalo emang ingin muji, yang jangan dihadapan orangnya. Itu kalo memuji, apalagi kalo menghina, tambah nyebelin kuadrat. Kalo orangnya kebal pujian sih nggak pa-pa.

  • Nyelonjorin kaki di acara resmi; nggak baik lho, meski kita capek, mending keluar ngilangin penat terus nanti kembali lagi. Sebab perbuatan ini pasti dianggap sama orang lain nggak punya tata krama. Apalagi kalau di situ banyak orang tua.

  • Kalo salaman, pake ujung jari doang; paling nggak seneng ketemu orang kayak gini, mbok ya kalo salaman ya semua telapak tangan diberikan, biar mantep. Masak salaman pake ujung –ujung jari doang, dipikir tangan kita ini kudisan apa?! (he..he…)

  • Nggak ngehormatin orang tua; wah, kalo ini sih orang nyebelin kelas super berat, dosa besar tahu. Termasuk di sini adalah tidak nurut sama guru pembimbing (murobbi) kita, padahal beliau telah menunjukkan kita kepada Alloh, kepada Rosul-Nya, eh bukannya terima kasih malah membangkang dan mengacaukan tatanan, enaknya diapakan orang model begini ini ha?! Secara tidak sadar dia menyeburkan diri dia sendiri ke lumpur kebodohan, mana ilmunya sudah nggak manfaat lagi, Na’udzu Billah. Sebab yang terpenting adalah Ridlo kedua orang tua dan Ridlo Guru kita

  • Ngomong kotor tanpa malu; siapapun nggak akan seneng dengan orang seperti ini, semua pasti ngecap dia berandal,urakan, mbeling dsb.

  • Udah tua tapi tetep ngaku muda; kayak kakek-kakek tapi ngegaya kayak anak muda, dicukur kumis jenggotnya, rambutnya dicat (ini sih kakek nyentrik, he..he…) Atau nenek-nenek yang…….. (terusin sendiri deh, malu)

Dan masih banyak lagi, pokoknya sesuatu yang tidak sesuai dengan agama dengan kebiasaan umum jangan dilakonin, dadi wong sing mituhu, kan enak, nggak repot-repot.

ORANG YANG NYEBELIN DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Percaya nggak, bahkan dalam Al-Quran dan Hadits yang keduanya merupakan pegangan dasar orang islam, sifat nyebelin dibahas sendiri.

Sayyidah Aisyah bertutur bahwa Ayat 53 di surat Al-Ahzab turun karena mengecam orang-orang yang nyebelin. Yang arti ayat tersebut adalah sebagai berikut:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Alloh tidak malu (menerangkan) yang benar…”

Dan asbabun Nuzul (sebab turun) ayat ini adalah: pada suatu hari Nabi mengadakan resepsi pernikahan beliau dengan Sayyidah Zainab binti Jahsy. Ketika waktu usai acara jamuan makan, para undangan pun pulang, tapi di situ ada sebagian orang yang belum beranjak, mereka malah berlama-lama ngobrol, dan Rosul menunggu keluarnya mereka, sehingga beliau bosan, sementara mereka tetap duduk tanpa perasaan (nggak ngerasa kalo Nabi menunggu mereka). Lha kalo menyuruh mereka kok rasanya nggak enak.

Maka turunlah ayat yang melarang perbuatan yang mengganggu Nabi dan setiap orang. Dan makna spesifik dari ayat tersebut adalah, larangan duduk di rumah jamuan setelah makan dan selesainya acara.

Adapun Hadits Nabi, telah banyak kita lewati di sebagian tanda-tanda orang nyebelin pada pembahasan yang telah kita lalui.

Pendapat Ulama tentang orang yang nyebelin

Biar lebih mantap, juga agar kita segera ninggalin hal-hal yang nyebelin, atau menghindarinya, nih sebagian komentar ulama dan sahabat Nabi tentang sifat nyebelin.

  • S.Abu Huroiroh Radlillahu ‘Anhu

Konon jika lihat orang yang nyebelin segera berdoa, “Ya Alloh, ampunilah dia, dan istirahatkan (hindarkan) kita darinya”

  • Ayyub As-Sakhtiyani (Tabi’in)

Dia ditanya :”Kenapa kamu tidak menulis Hadits dari Imam Thowus?”, beliau menjawab, “Ogah, aku melihatnya duduk di antara orang-orang yang nyebelin, makanya aku tidak menulis hadits darinya”. Maksudnya, bukan menghindari Imam Thowus, tapi orang-orang yang nyebelin itu.

  • Amir bin Syarohil As-Sya’biy

Ada orang tanya padanya:”Apakah Ruh bisa sakit?”, “Ia, bisa, kalau ngelihat orang yang nyebelin”.

Beliau juga berkata: “barang siapa tidak sholat sunnah dua rokaat sebelum subuh, maka dia termasuk golongan orang yang nyebelin”.

  • Al-A’masy

Dia berkata :”Jika seumpama di samping kirimu ada orang yang nyebelin, dan kamu dalam keadaan sholat, maka satu salaman ke arah kanan sudah cukup!” yakni nggak usah salam dua kali.

  • Hammad bin Salamah

Jika ketemu orang yang nyebelin segera berdoa “Ya Alloh, angkatlah dari kami siksa ini, sesungguhnya kita orang yang beriman” (He…he… segitunya)

  • Ibnu Sirin

“Aku mendengar seseorang berkata:”Suatu hari aku nggak sengaja bertemu orang yang nyebelin, mendadak aku jatuh pingsan!”

Itu mereka, yang orang-orang besar semua, pun lari dan menghindar dari orang-orang yang nyebelin dan sangat nggak seneng dengan mereka. Dikisahkan juga, suatu hari ada seseorang memberi nasehat pada kholifah Al-Ma’mun, “Hai Amirul Mu’minin, ingat, duduk-duduk bareng orang yang nyebelin itu bisa membunuh jiwa lho”, Nah, kan?!

Imam Jalaluddin Assuyuti juga berkomentar dalam salah satu kitabnya, bahwa perkataan para ulama tentang orang yang nyebelin itu banyak banget, dan beliau tidak menyebutnya kecuali sekedar tahu: bahwa orang yang sanggup menahan diri bergaul dengan orang yang nyebelin, dan menyembunyikan rasa sebelnya adalah Orang yang paling lapang dadanya dan paling tinggi akhlaknya.

Kalo kita bisa bersikap seperti ini sih, tentu merupakan nilai plus tersendiri dan kita termasuk orang-orang yang memiliki jiwa besar, semoga kita masuk di antara mereka, orang-orang yang berjiwa besar, dan bukan orang yang suka buat sebel orang, Amiiiin.

SUDAH SIAP PA BELOM ?!

Nah, udah tambah kan pengalaman dan pengetahuan tentang kehidupan? Biar kita ini bisa bergaul dan diterima di masyarakat. Sebab Aghlabiyah (kebanyakan) orang itu hidup sebagai makhluk sosial, saling membutuhkan dan bantu membantu. Karena di sana juga ada sebagian individu yang uzlah (menyepi) sengaja memisahkan diri dari manusia dengan alasan-alasan tertentu.

Sekarang saatnya kita (setelah membaca buku ini) koreksi dan evaluasi, muhasabah atas diri kita masing-masing, introspeksi istilah antiknya (he..he..)

Jika kita, menemukan diri kita termasuk orang yang nyebelin (semoga nggak deh), maka kita mesti siap dan harus membuang serta membersihkan semua hal itu dari diri kita. Tentu dengan cara merenung tadi, mencari kesalahan dan kekurangan diri kita, sebab tak ada manusia yang sempurna (kecuali Rosululloh , Shallahu ‘Alaihi Wassalam Al-insan al-kamil). Makanya, kesempatan nih, nggak usah ngurusi orang lain.

Dan jika kita (kebetulan) tidak memiliki sifat nyebelin (Alhamdulillah dong) maka setidaknya kita tahu sifat-sifat itu dan bisa menghindarinya, dus lebih hati-hati, biar nggak jadi orang nyebelin juga.

Ya yang seperti tulisan yang telah lewat, pokoknya segala sesuatu yang nulayani adab, toto, tidak sesuai dengan akhlak mulia, sopan santun, mulai dari tindakan lahir sampai lintasan hati (semacam iri, dengki, bangga diri, sombong, GR dengan amalan, pamer amalan, dendam, nggunjing, seneng kedudukan, seneng harta, dan penyakit hati yang lain), adalah semuanya perkara yang nyebelin dan ngebuat orang lain sebel yang musti kita hindari.

Karena itu, otomatis pribadi yang tidak nyebelin adalah pribadi yang disukai semua orang dan bisa diterima di masyarakat (kecuali orang-orang yang iri tentunya). Dan itulah pribadi yang punya harga diri dan kehormatan tinggi.

Dan Rosululloh Shallahu ‘Alaihi Wassalam adalah contoh nyata dari pribadi sempurna yang memiliki tata krama tinggi nan agung, sebagaimana terekam abadi dalam Al-Qur’an di surat Al-Qolam, ayat 4 , “Wa innaka La`ala khuluqin Adzim“.

Akhir tulisan, sederhana saja…

Semoga kita dijadikan oleh Alloh sebagai orang-orang yang berkepribadian, yang memiliki adab, akhlak tinggi, juga kepekaan terhadap sekitar, Amiiin.

Dan kemudian…

Jangan Jadi Orang yang Nyebelin Yach…!!

Wallohu A’lam

Alawy Aly Imron Muhammad (Cak Al)

Mekkah Al-Mukarromah

20 – 22 Romadlon 1426 H.

Comments (1) »

Metode Edukasi Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam (bagian 2)

METODE 9

Allegori dan persamaan

Dalam banyak kesempatan saat mengajar, beliau S.a.w juga menggunakan metode allegori (perumpamaan), untuk menjelaskan suatu makna dari ajaran yang beliau sampaikan. Dalam penjelasannya, beliau menggunakan media benda yang banyak dilihat orang, atau yang mereka rasakan, atau yang mereka pegang.

Metode ini sangat memudahkan pelajar untuk mendeskripsikan suatu masalah yang mungkin kurang jelas baginya. Metode ini umum digunakan oleh pengajar-pengajar sastra, dan telah disepakati oleh mereka bahwa penggunaan alegori dan persamaan (tasybih) memiliki pengaruh besar dan sangat membantu dalam menjelaskan sebuah arti yang samar dan kurang jelas.

Di Al-qur’an sendiri banyak sekali ayat yang menggunakan perumpamaan, dan tentu saja Nabi S.a.w banyak mengikuti metode Al-qur’an ini dalam forum-forum pidato, orasi, dan cara mengajar beliau. 1

Salah satu contoh metode ini, sabda beliau S.a.w yang diriwayatkan Abu Daud: “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alqur’an itu laksana Jeruk, wangi aromanya dan enak rasanya. Sedangkan mukmin yang tidak baca Alqur’an itu seperti kurma, enak rasanya tetapi tidak ada aromanya. Adapun orang munafik yang membaca al-qur’an, itu seperti bunga, baunya harum, tapi rasanya pahit. Sedang orang munafik yang tidak baca qur’an, itu seperti jadam, pahit rasanya juga tidak ada aromanya”.

Atau sabda beliau yang lain: “Perumpamaan teman yang baik, itu seperti pedagang minyak wangi, jika kamu tidak diberinya sedikit, maka kamu mendapat harum wanginya. Sedangkan teman yang buruk, itu seperti pandai besi, jika kamu tidak terkena percikan kecil apinya, maka kamu terkena asapnya.”

Sebab dengan perumpamaan seperti itu, terkadang suatu permasalahan tampak lebih jelas dan lebih menancap kuat dalam hati dan ingatan.

1 Ada beberapa ulama’ yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi yang menggunakan perumpamaan (dhorbul Amtsal) dalam kitab yang menyendiri. Semisal Abul Hasan Al-Askari (w.310 H), atau Abu Ahmad Al-Askari, begitu juga Al-Qodhi Al-Hasan bin Abdurrahman Ar-Romahurmuzi. Kitab-kitab karya mereka telah dicetak dan beredar.

METODE 10

Visualisasi dengan Gambar

Ternyata jauh sejak 1400 tahun yang lalu Nabi kita telah terlebih dahulu menggunakan metode ini untuk mengajar. Beliau menjelaskan suatu hal dengan menggoreskan sebuah gambar, menggunakan media permukaan tanah.

Contoh dari itu, hadits riwayat Ahmad bin Hanbal dari Jabir bin Abdillah, beliau bertutur :

“Ketika kita duduk (belajar) bersama Rosul S.a.w, beliau lalu membuat garis lurus di atas tanah dengan tangannya, seraya berujar : “Ini adalah jalannya Allah Ta’ala”.

Setelah itu, beliau membuat masing-masing dua garis di sisi kanan dan kiri garis pertama tadi, sambil berkata : “Yang (empat garis) ini, adalah jalan-jalan syetan”. Kemudian beliau menaruh tangan beliau di garis pertama tadi (yang kini berada di tengah) sembari membaca Q.S. Al-An’am, ayat 153 :

Dan bahwa (yang Kami perintah) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.

(Skema yang digariskan Nabi)

Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Abdulloh bin Mas’ud:

“Nabi S.a.w membuat gambar persegi empat, lalu menggambar garis panjang di tengah persegi empat tadi dan keluar melewati batas persegi itu. Kemudian beliau juga membuat garis-garis kecil di dalam persegi tadi, di sampingnya:

(persegi yang digambar Nabi)

Dan beliau bersabda : “Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajal yang mengelilinginya, dan garis (panjang) yang keluar ini, adalah cita-citanya. Dan garis-garis kecil ini adalah penghalang-penghalangnya. Jika tidak (terjebak) dengan (garis) yang ini, maka kena (garis) yang ini. Jika tidak kena (garis) yang itu, maka kena (garis) yang setelahnya. Jika tidak mengenai semua (penghalang) tadi, maka dia pasti tertimpa ketuarentaan.”

Lewat visualisasi gambar ini, Nabi S.a.w menjelaskan di hadapan para sahabatnya, bagaimana manusia dengan cita-cita dan keinginan-keinginannya yang luas dan banyak, bisa terhalang dengan kedatangan ajal, penyakit-penyakit, atau usia tua. Dengan tujuan memberi nasehat pada mereka untuk tidak (sekedar melamun) berangan-angan panjang saja (tanpa realisasi), dan mengajarkan pada mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Diriwayat lain, Nabi S.a.w juga membuat 4 garis di atas tanah, lalu bertanya pada sahabat-sahabatnya : “Kalian tahu, apa maksudku menggambar garis-garis ini?”

“Allah dan Rosul-Nya lebih tahu,” jawab mereka.

“Ini adalah empat wanita termulia dari penduduk surga, Khadijah binti Khuwailid (istriku), Fathimah binti Muhammad (putriku), Maryam binti Imron (Ibunda Nabi Isa A.s), dan Asiah binti Muzahim, Istri Fir’aun.”

METODE 11

Penggunaan Isyarat gerak tangan saat menerangkan

Menggunakan gerakan dan isyarat tangan saat mengajar adalah termasuk salah satu cara untuk membuat murid memahami materi yang disampaikan, daripada guru hanya sekedar duduk sambil membacakan atau menerangkan pelajaran tanpa gerak sama sekali.

Rosululloh S.a.w pun sangat memperhatikan hal ini, tak jarang saat menerangkan beliau juga melakukan gerakan tangan agar lebih menancapkan kepahaman di benak sahabatnya. Terlebih saat berpidato dan berkhotbah.

Sebagaimana riwayat Bukhori-Muslim, Rosul S.a.w bersabda :

“Antara sesama orang mukmin itu laksana sebuah bangunan, saling mengkuatkan antara satu dengan yang lainnya.” Ujar beliau seraya mencengkeramkan erat antara jari jemari kedua tangan mulia beliau.

Begitu juga diriwayat lain Bukhori, Rosul S.a.w bersabda: “Aku dan pengasuh anak yatim seperti halnya ini di surga nanti.” Sambil mengangkat dan menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah beliau yang saling berhimpitan.

METODE 12

Penggunaan Alat Peraga

Termasuk cara untuk membantu murid dalam memahami suatu materi pelajaran, adalah menggunakan alat peraga. Dan hampir semua pendidikan modern saat ini menggunakan metode ini.

Dan Nabi S.a.w telah terlebih dahulu menggunakannya, semisal ketika beliau melarang penggunaan suatu benda, beliau mengangkat dan menunjukkan benda itu di hadapan sahabat, untuk lebih menekankan larangan dan keharaman benda tersebut.

Diriwayatkan oleh Abu daud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, dari S.Ali bin Abi Tholib, beliau bertutur: “Rosululloh S.a.w mengambil (dan membawa) sutera di tangan kirinya, dan emas di tangan kanannya. Lalu kedua benda itu di angkat olehnya (agar para sahabat bisa melihatnya). Kemudian beliau bersabda : “sesungguhnya dua benda ini (emas dan sutera) haram bagi kaum laki-laki, tapi halal bagi kaum wanita.”

Di kesempatan lain, Nabi S.a.w mengambil sejumput bulu unta hasil rampasan perang, seraya menunjukkan bulu itu ditangannya, beliau bersabda : “Bagian (jatah) yang aku dapat dari harta rampasan ini, sama dengan yang kalian dapat. Awas! Jangan korupsi! Sebab sesungguhnya korupsi adalah kehinaan bagi pelakunya pada hari kiamat nanti.” (H.R.Ahmad).

METODE 13

Keterangan Langsung

Dalam hal-hal yang dianggap sangat penting, Rosululloh S.a.w kerap kali menyampaikannya dengan menerangkan secara langsung suatu permasalahan tadi tanpa menunggu pertanyaan dari sahabatnya, atau beliau memancing pertanyaan.

Semisal beliau mengajarkan jawaban atas sebuah keraguan, sebelum keraguan itu terjadi, mengantisipasi agar keraguan itu tidak mengakar dalam jiwa, dan berdampak negatif di kemudian hari.

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah : “Rosululloh S.a.w bersabda :”setan datang kepadamu dan berbisik dalam hatimu, “siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?”, sehingga sampai pada pertanyaan, “Siapa yang menciptakan Tuhanmu?”, jika sampai pada pertanyaan ini di hati kalian, segeralah berlindung pada Allah ta’ala (dari bisikan setan) dan putus pikiran itu ! dan meludahlah 3x ke samping kiri kalian”.

METODE 14

Menjawab setiap pertanyaan, dan menstimulasi murid untuk berani bertanya

Sebagai salah satu sifat pengajar yang baik, adalah menjawab dengan bijak setiap pertanyaan yang keluar dari murid, apapun jenis pertanyaan itu, dan mendorong mereka untuk selalu berpikir kritis dan berani bertanya. Sebab bisa jadi ada hal-hal yang penting yang tidak terlintas di hati pengajar, namun terlintas di benak muridnya yang berhubungan dengan materi yang sedang dibahas dan disampaikan.

Rosululloh S.a.w telah mencontohkan hal tersebut dan sangat menganjurkannya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya”.

Di Alqur’an surat Al-Nahl ayat : 43 disebutkan

…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.

Sebuah pameo terkenal mengatakan, “malu bertanya, sesat di jalan”.

Bahkan sebenarnya banyak sekali hukum, syariat, dan ajaran agama yang diajarkan Nabi S.a.w timbul terlebih dahulu melalui pertanyaan sahabat-sahabatnya sebelumnya. Dan atas anjuran ayat dan dorongan dari Nabi sendiri itulah, para sahabat pun banyak bertanya pada beliau akan hal-hal yang masih musykil dan kurang jelas. Dan kitab-kitab hadits penuh dengan contoh metode ini.

Sudah tentu merupakan hal yang wajar dan seharusnya terjadi jika dalam kegiatan belajar mengajar terjadi proses soal dan jawab. Dengan metode ini, dituntut adanya hubungan interaktif antara guru dan murid. Juga merupakan keharusan seorang guru untuk memberikan kesemangatan pada murid untuk berani bertanya, sebab dengan bertanya, terjadi perkembangan pesat pada otak dan membuka cakrawala berpikir si murid.

METODE 15

Menjawab satu pertanyaan dengan dua jawaban atau lebih

Umumnya, jika ada satu pertanyaan, maka jawabannya pun juga satu. Namun terkadang Nabi S.a.w menjawab satu pertanyaan dengan dua jawaban atau lebih. Yang antara kedua jawaban itu saling ada korelasi dan kaitan satu sama lain. Atau juga dengan tujuan memberikan pelajaran tambahan.

Hal ini menunjukkan bagaimana besarnya perhatian beliau pada orang yang bertanya, dan tentu saja secara alamiah seorang murid akan sangat merasa diperhatikan oleh gurunya, jika guru itu memberikan jawaban lebih daripada yang dibutuhkan murid tadi, yang bisa berdampak positif pada perkembangan edukasi murid.

Contoh metode ini, Hadits riwayat Imam Malik dari Abu Hurairah: “Ada seseorang bertanya pada Nabi S.a.w :”Ya Rosul, ketika kita berlayar (di laut), kita hanya membawa sedikit bekal air minum. Jika kita berwudhu dengannya, nanti kita kehausan. Apakah boleh berwudhu dengan air laut?”

Rosululloh S.a.w menjawab : “(boleh), laut itu suci airnya, juga halal bangkainya”.

Nah, Rosul S.a.w menjawab pertanyaan nelayan tadi tentang hukum berwudhu pakai air laut, bahwa sesungguhnya airnya suci dan sah dipakai berwudhu, sekaligus beliau menambahi jawaban akan suatu hal penting yang tidak ditanyakan nelayan tadi, yaitu bahwa bangkai makhluk hidup yang berasal dari laut (seperti ikan) juga halal dimakan dan dimanfaatkan. Suatu hal yang pasti tentu saja terjadi di dunia pelayaran.

Contoh lain, hadits riwayat Muslim: Waktu itu sedang musim haji, ada seorang perempuan bertanya pada Nabi S.a.w, sembari dia mengangkat anaknya: “Wahai Nabi, apakah anak kecil ini sah juga hajinya?”

Beliau menjawab : “Iya, sah, dan kamu juga dapat pahalanya.”

Hal itu sebab si ibu tadi telah bersusah payah membawa anaknya yang masih kecil untuk menunaikan ibadah haji. Dan siapapun yang pernah haji tahu, bahwa haji adalah ibadah fisik yang sangat berat.

METODE 16

Mengalihkan pembahasan

Meski seperti itu, yang telah dijelaskan di metode sebelumnya, tidak semua pertanyaan harus dijawab; melihat situasi, kondisi, materi yang sedang dibahas, juga kebijakan tersendiri yang tentu saja diketahui seorang pengajar.

Rosululloh S.a.w terkadang juga melakukan hal ini, dengan membelokkan pembahasan dan mengalihkan perhatian.

Seperti ketika ada orang yang bertanya pada beliau: “Wahai Rosul, kapan hari kiamat terjadi?”

“Apa yang kamu siapkan untuk menyongsongnya?” Rosul S.a.w balik bertanya pada orang itu

“Aku tidak menyiapkan banyak sholat, atau puasa, atau sedekah. Tetapi cukup bagiku cinta Allah dan cinta pada Rosul-Nya.” Jawab orang itu

“(kalau begitu) kamu bersama-sama yang kamu cintai”, kata Rosul bijak. (H.R.Bukhori dan Muslim)

Jelas sekali dalam peristiwa ini Rosululloh S.a.w tidak menjawab pertanyaan orang tadi yang menanyakan kapan Hari H-nya hari kiamat. Tetapi bahasannya dialihkan kepada hal yang lebih penting daripada sekedar itu kepada si penanya tadi.

METODE 17

Meminta murid mengulangi pertanyaannya

Terkadang untuk sebuah pertanyaan yang telah dijawab, Rosululloh S.a.w menyuruh lagi orang yang bertanya padanya untuk mengulangi apa yang ditanyakannya barusan, hal itu beliau lakukan dengan tujuan untuk menambahkan jawaban susulan sekaligus menambahkan ilmu dan keterangan, juga memantapkan kepahaman pada yang lain.

Sebagaimana contoh dalam hadits riwayat Muslim dan An-Nasa’i dari Abu Qotadah:

“Suatu hari Rosululloh S.a.w berkhotbah dan mengingatkan bahwa jihad fi sabilillah dan iman kepada Allah adalah amalan yang terbaik. Kemudian ada seseorang berdiri dan bertanya : “Wahai Rosul, bagaimana jika aku gugur karena membela agama Allah, apakah semua dosa-dosaku diampuni?”

“iya, jika kamu gugur di jalan-Nya dengan catatan sabar, mengharap pahala dari-Nya, serta terus maju (berjuang) pantang mundur”, jawab Rosul.

Sejenak kemudian beliau berujar : “bagaimana? Apa yang kamu tanyakan tadi?”

“Bagaimana jika aku gugur karena membela agama Allah, apakah semua dosa-dosaku diampuni?” kata orang itu lagi

“Iya, jika kamu sabar, mengharap pahala, maju terus pantang mundur. Kecuali (jika kamu mempunyai) hutang (dan itu harus kamu lunasi)1, sesungguhnya Jibril berkata begitu kepadaku”. Tutup Rosul S.a.w.

METODE 18

Melatih kepekaan murid dengan melempar alih pertanyaan

Salah satu metode Rosululloh S.a.w untuk melatih dan mendidik sahabat-sahabatnya adalah dengan memberi tugas pada sahabat tersebut untuk menjawab persoalan yang ditanyakan pada beliau. Dengan kata lain, jika ada pertanyaan, beliau S.a.w tidak menjawab langsung pertanyaan itu sendiri, tetapi menyuruh salah satu sahabatnya untuk menggantikannya menjawab, dan itu di hadapan beliau langsung.

Contoh dari metode ini, sebagaimana yang dituturkan oleh Abdulloh bin Amru bin Ash:

“Suatu hari, datang dua orang yang bersengketa pada beliau, (mengadukan apa yang sedang terjadi di antara keduanya), namun beliau tidak menyelesaikan sendiri persengketaan itu, tetapi beliau menyuruh (ayahku) Amru bin Ash untuk memberikan keputusan (atas persengketaan itu). Tentu saja ayahku terheran-heran, “Dan engkau di sini wahai Rosul?!”

“Iya”, jawab beliau

“Lantas, apa yang harus aku putuskan? (jika ada engkau)” tanya ayahku lagi.

“jika kamu berijtihad, dan kamu benar, maka kamu dapat 10 pahala. Jika ijtihadmu salah, kamu dapat 1 pahala”, ujar Rosul S.a.w (HR.Ahmad dan Daroquthni) 2

Kejadian yang sama juga di alami Uqbah bin Amir al-juhani. Atau di kesempatan lain, saat ada orang datang pada beliau untuk memintanya menafsiri mimpinya. Rosululloh S.a.w tidak langsung menafsirinya sendiri, tetapi menyuruh Abu Bakar Assiddiq untuk menafsirkannya. Dan tentu saja jika salah, beliau akan mengklarifikasi dan meluruskannya.

1 Maksudnya beliau, jika memiliki hutang pada orang lain, tanggungan hutang tidak bisa gugur dengan mati syahid, tetapi tetap harus dilunasi olehnya atau pewarisnya. Dan sebagaimana diketahui, Nabi S.a.w tidak pernah mau menshalati jenazah orang yang masih memiliki hutang, kecuali ada yang mau menanggung hutang orang itu, baru Nabi bersedia untuk menshalatinya.

2 Riwayat termasyhur seputar ijtihad adalah, jika benar dalam berijtihad, maka mendapat dua pahala, jika salah, maka hanya dapat satu pahala.

METODE 19

Melakukan tes dan ujicoba

Sebagai pengajar, tentu Rosululloh S.a.w tahu apa yang harus beliau lakukan. Dalam kesempatan tertentu, untuk mengetahui kecerdasan sahabatnya dan sejauh mana pengetahuan mereka, juga kepahaman dan ingatan mereka atas apa yang telah beliau ajarkan, beliaupun terkadang melakukan tes dan ujian kepada sebagian sahabatnya. Jika jawaban mereka tepat, beliau memujinya dan menepuk-nepuk dada sahabat tersebut (sekaligus mendoakannya). Tanda akan rasa bangga dan bahagia beliau atas jawaban yang sangat memuaskan tadi.

Contoh dari itu, yang beliau lakukan pada Ubay bin Ka’ab, Rosul bertanya kepadanya : “Abul mundzir – panggilan Ubay – , ayat apa di dalam Al-qur’an yang paling agung?”

“Allah dan Rosul-Nya lebih tahu”, jawab Ubay

Rosul mengulangi lagi pertanyaan beliau : “Abul Mundzir! Kamu tahu tidak ayat apa yang paling agung dalam Al-Qur’an?!”

(Ayat kursi)”, jawab Ubay pada akhirnya.

Rosul S.a.w pun dengan bangga menepuk-nepuk dada Ubay, “Bagus, bagus hai Abul Mundzir”.

Contoh lain yang sangat terkenal adalah saat beliau mengirim Mu’adz bin Jabal untuk berdakwah ke Yaman. Sebelum berangkat beliau menguji kemampuan dan kelaikan Mu’adz.

“Jika ada suatu kejadian, apa yang akan kamu lakukan? Akan kamu putuskan dengan apa?” tanya Rosul.

“Aku putuskan dengan kitab Allah (Alqur’an)”, jawab mu’adz

“Jika kamu tidak menemukannya dalam Alqur’an?”

“Aku putuskan dengan Sunnah Rosul-Nya”.

“Jika tidak kamu temukan dalam Sunnah Rosul-Nya?”

“Aku berijtihad dengan menggunakan pendapatku sendiri (yang sesuai dengan Al-qur’an dan As-sunnah), dan aku tidak menguranginya (juga tidak berlebihan)”.

Rosululloh S.a.w menepuk dada Mu’adz seraya berujar, “Alhamdulillah, Yang telah Memberikan ketepatan (berpikir) pada utusan Rosul-Nya, terhadap sesuatu yang meridhokan (dan membuat puas) hati Rosul-Nya,” (H.R. Abu Daud dan Tirmidzy).

METODE 20

Konsensus terhadap sesuatu dengan tanpa kata

Metode ini adalah salah satu bagian dari definisi Assunnah 1 yang oleh para pakar ilmu Ushul fiqih dan ulama’ hadits disebut dengan istilah Taqrir, yaitu sesuatu yang terjadi di hadapan Nabi S.a.w, atau sesuatu yang beliau dengar dari ucapan dan perbuatan sahabatnya (yang mereka lakukan tanpa beliau ajarkan terlebih dahulu) dan beliau menyetujui ucapan atau tindakan itu dengan diam (tanpa kata).

Nah, diamnya beliau ini menunjukkan diperbolehkannya ucapan atau tindakan itu. Dan tentu sebagai pengajar, kita terkadang mendapati hal seperti itu yang muncul dari inisiatif murid kita sendiri. Jika salah tentu saja kita harus menegur dan meluruskannya, dan jika benar, maka kita bisa menyetujuinya dengan tanpa harus berbicara.

Salah satu contoh taqrir (persetujuan) Nabi S.a.w adalah ketika beliau mengutus 300 sahabatnya dalam ekspedisi Dzat As-salaasil, di bawah komando salah satu jenderal beliau, Amru bin Ash. Pada saat itu musim dingin sedang dalam puncaknya, suatu malam Amru bin Ash bermimpi basah, dan karena takut dengan bahaya yang menimpa dirinya jika mandi besar dalam cuaca seperti itu, maka dia tidak mandi junub, tetapi hanya bertayammum dengan debu, dan setelah itu dia mengimami sholat jamaah pasukan tersebut.

Sepulang dari ekspedisi, dan setiba mereka di Madinah, para Sahabat melaporkan pada Nabi S.a.w atas apa yang telah dilakukan Amru, karena Nabi tidak pernah mengajarkan pada mereka soal ini.

Nabi pun memanggil Amru, “Amru, kamu memimpin sholat berjamaah sementara kamu junub (dan berhadats besar)?”

Amru pun memberitahu pada Nabi apa yang mencegahnya untuk mandi sambil menyitir Al-Qur’an surat Annisa’, ayat 29.

…dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Maka Nabi pun tertawa dan tidak berkata apa (HR.Abu Daud)

Beliau juga tidak menyalahkan tindakan Amru itu, juga tidak menyuruhnya mengulangi sholat (yakni sholatnya tetap sah). Dari sini inferensi (istid-lal) diperbolehkannya tayammum saat cuaca dingin menggigit, sebab senyum beliau menunjukkan persetujuan, dan Nabi S.a.w tidak pernah menyetujui hal-hal yang salah dan batil. Padahal apa yang dilakukan Amru itu tidak pernah Nabi ajarkan padanya atau sahabat-sahabat yang lainnya.

METODE 21

Mencari dan Memanfaatkan momentum yang baik

Sebagai pengajar tentu kita selalu dituntut untuk peka dengan keadaan dan lingkungan sekitar pendidikan, juga memanfaatkan mood. Usahakan apa yang kita ajarkan, atau cara mengajar kita, tidaklah monoton, sebab hal itu bisa membuat murid merasa bosan.

Nabi kita sering sekali memanfaatkan kesempatan bagus dengan terjadinya suatu peristiwa untuk menyampaikan pelajaran dan pendidikan pada sahabat-sahabatnya. Beliau sering menghubungkan suatu kejadian dengan ajaran dan ilmu yang ingin beliau sampaikan pada sahabatnya. Sebab dengan salah satu cara itu, ilmu bisa lebih dipahami dan menancap di memori, karena lebih jelas dan gamblang dengan contoh peristiwa yang terjadi langsung di depan mata kepala mereka.

Di antara contoh metode ini: suatu hari Nabi S.a.w berjalan-jalan sidak meninjau pasar diiringi sebagian sahabat-sahabat besar, dan tentu saja orang-orang pun berkumpul mengerumuni beliau. Saat berkeliling, sudut mata beliau menangkap seonggok bangkai kambing yang berteling kecil, oleh beliau, bangkai itu diambilnya dengan menjewer telinganya, lantas beliau berucap: “siapa di antara kalian yang mau mengambil (bangkai) ini dengan satu dirham saja?”.

“tidak seorang pun dari kita yang mau wahai Rosul, buat apa (bangkai kambing ini)?” mereka menjawab.

“kalau gratis, mau tidak?” tanya Rosul lagi.

“Demi Allah, walaupun hidup, kambing ini saja sudah cacat karena bertelinga kecil, apalagi mati?” jawab orang-orang lagi.

“Dan demi Allah, sesungguhnya harta dunia bagi Allah lebih rendah daripada (kambing) ini bagi kalian”, tukas Rosul S.a.w dengan tenang (HR.Muslim)

Pada kesempatan lain, Nabi S.a.w duduk-duduk bersama sahabatnya pada malam bulan purnama di bawah langit terbuka. Sejenak kemudian beliau melihat bulan purnama itu dan bersabda : “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian pada hari kiamat nanti sebagaimana kalian melihat bulan purnama itu. Kalian tidak berdesak-desakan dalam melihatnya bukan?” (HR.Bukhori)

Beliau S.a.w memanfaatkan moment saat para sahabatnya menyaksikan bulan pada malam purnama yang terang benderang, dan menjelaskan bahwa melihat Allah Ta’ala di akhirat nanti bagi orang-orang yang beriman akan begitu

1 Sunnah adalah : segala ucapan, tindakan, sifat-sifat, dan iqrar/taqrir (persetujuan) Nabi Muhammad S.a.w

jelas, mudah dan gampang, tidak perlu berdesak-desakan, sebagaimana mereka melihat bulan di malam purnama.

METODE 22

Selingan joke, kelakar, dan bersenda gurau saat mengajar

Sebagai pengajar, kita dituntut untuk selalu peka dengan keadaan psikologis murid. Jangan buat mereka tegang dan merasa terbebani dengan materi yang kita sampaikan, sebisa mungkin kita harus bisa membuat mereka mencintai pelajaran yang disampaikan. Karena kecintaan murid pada suatu mata pelajaran tertentu (lebih baik lagi semuanya) adalah kunci kesuksesan kegiatan belajar mengajar, terutama pada pelajaran-pelajaran eksakta.

Saat kita melihat dan merasakan bahwa murid kita mengalami ketegangan, kejenuhan, maka segera kendorkan urat syaraf mereka dengan sedikit canda. Buat mereka tersenyum atau tertawa, tentu dengan canda yang ilmiah, bukan humor murahan. Karena dengan tertawa, pikiran akan fresh kembali dan tentu membuat murid giat dan semangat lagi. Sebab, kebanyakan orang, bisa menyerap dan mengambil pelajaran melalui senyuman, dan wajah yang berseri. Sangat berbeda sekali jika murid merasa terintimidasi dan tertekan karena melihat wajah kita yang tertekuk muram tanpa senyum, apalagi jika kita selingi dengan bentakan dan umpatan.

Ketegangan saat belajar bisa melelahkan dan melumpuhkan pikiran, dan kelakar sederhana akan mengurangi bahkan menghilangkan ketegangan itu, seberat apapun materi yang kita sampaikan.

Dan Nabi S.a.w pun ternyata pada banyak waktu-waktu tertentu menggunakan metode ini. Beliau mencandai sahabatnya saat mengajar, dan membuat mereka tersenyum, namun beliau dalam bercanda tidak mengatakan sesuatu kecuali kebenaran.

Namun tentu saja canda dan tawa itu tidak berlebihan, seperlunya saja. Sebab tawa yang berlebihan itu bisa membuat hati keras, bahkan bisa menjatuhkan wibawa. Sekedarnya saja, terutama saat murid sudah terlihat jenuh, dan sekiranya murid tidak takut pada kita, namun tetap hormat dan segan pada kita dalam waktu yang sama.

Seperti yang dicontohkan Nabi S.a.w ketika ada nenek tua bertanya pada beliau, apakah dia masuk surga? Dengan bercanda Rosul S.a.w menjawab kalau di surga tidak ada nenek tua sepertinya. Tentu saja nenek itu terkejut dan bersedih (karena mengira bahwa dirinya tidak masuk surga), namun segera dijelaskan oleh beliau, bahwa orang yang masuk surga nanti semua menjadi muda belia kembali,

jadi nenek tua itu akan kembali lagi menjadi gadis. Nenek itupun akhirnya tersenyum berseri-seri.

Begitu juga seperti yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzy, dari Anas : “Ada seseorang minta pada Rosululloh S.a.w onta shodaqoh 1 agar dia bisa menjadikannya sebagai pengangkut barang. Rosul menjawab orang itu: “iya, aku beri kamu anak onta betina”, tentu saja orang itu terheran-heran.

“wahai Rosul? Apa gunanya anak onta? Belum bisa dibuat apa-apa”, sebab orang itu ingin onta dewasa.

“(Lho), bukankah onta yang kamu minta tadi juga dilahirkan onta betina?” jawab Rosul seraya tersenyum simpul.

Dengan berkelakar, Rosul S.a.w memberikan orang itu pengertian, bahwa sesungguhnya onta jantan dewasa, sebesar apapun, sudah sanggup mengangkat apapun, tetaplah sebelumnya dilahirkan oleh onta betina, induknya.

METODE 23

Memantapkan keterangan dengan sumpah

Untuk menekankan pentingnya ajaran yang disampaikan, atau untuk memperkuat sebuah hukum yang ditetapkan, terkadang Nabi S.a.w menggunakan kata sumpah 2, sehingga para sahabat benar-benar memperhatikan hal itu.

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rosululloh S.a.w bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai (dan menyayangi). Kalian mau kutunjukkan sesuatu yang jika kalian laksanakan kalian bakal saling mencintai? Tebarkan ucapan salam di antara kalian”.

METODE 24

Mengulangi keterangan sampai tiga kali

Kemampuan motorik dan berpikir murid itu pasti tidak sama, di sana ada yang dengan cepat dan tanggap menerima dan memahami keterangan, dan ada juga yang lambat (atau bahkan tidak paham sama sekali). Sebagai pengajar kita harus bijak dan sabar menghadapi hal ini.

Dan Rosululloh S.a.w, sebagai pemimpin dan panutan para pengajar telah mencontohkan pada kita akan hal ini, beliau terbiasa mengulangi sebuah keterangan atau ajaran yang disampaikan sampai tiga kali. Di samping agar bisa dipahami dengan lebih baik, juga akan membuat murid lebih menaruh perhatian terhadap pentingnya materi yang disampaikan.

Contoh ini bertebaran banyak sekali di kitab-kitab hadits, dan para sahabat juga mengatakan, bahwa Nabi S.a.w jika berbicara dan menyampaikan ajaran, beliau selalu mengulanginya tiga kali, sehingga kalimat-kalimat beliau itu bisa dipahami dengan baik oleh siapapun yang mendengarnya.

METODE 25

Menarik perhatian murid dengan merubah posisi

Di samping mengulangi keterangan tiga kali, untuk menarik perhatian dan isyarat akan pentingnya sebuah masalah, beliau S.a.w kadang merubah posisi duduknya. Asalnya menerangkan seraya duduk bersandar pada sesuatu, seketika tiba-tiba beliau duduk tegak.

Semisal ketika beliau bertanya pada sahabatnya, saat itu beliau duduk bersandar: “Kalian mau tahu, apa dosa yang paling besar?”, tiga kali beliau mengulang pertanyaan ini.

“iya wahai Rosul”, jawab para sahabat.

“Mensekutukan Allah, durhaka pada orang tua”, lanjut beliau, saat beliau masih duduk bersandar, tiba-tiba beliau duduk tegak seraya meneruskan jawaban yang belum beliau rampungkan.

“Dan sumpah serta kesaksian palsu. Ingat! Sumpah dan kesaksian palsu! Sumpah dan kesaksian palsu!” (H.R. Bukhori dan Muslim)

1 Onta shodaqoh : Onta jatah yang didapat dari hasil shodaqoh/zakat para sahabat yang kaya, atau onta yang didapat dari hasil rampasan perang, dan dipelihara oleh pemerintahan Nabi kala itu. Disediakan bagi yang berhak

2 Hal ini adalah tentu dalam kultur bangsa Arab, karena penggunaan sumpah untuk menekankan dan meyakinkan terhadap sesuatu hal, umum digunakan oleh bangsa Arab, berbeda dengan bangsa kita (walau terkadang sesekali menggunakan juga). Dan sumpah bagi mereka adalah puncak dari cara mereka untuk meyakinkan orang lain, dan tanda akan pentingnya sesuatu itu

METODE 26

Menarik perhatian dengan berulang-ulang memanggil nama si murid

Di sebagian kesempatan, beliau memanggil nama sahabatnya terlebih dahulu, berulang-ulang, untuk menarik perhatiannya, sebelum menyampaikan apa yang ingin beliau ajarkan.

Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Mu’adz bin jabal :

“Ketika aku dibonceng oleh Rosululloh S.a.w di belakang kendaraannya, beliau memanggilku:

“Mu’adz”.

“iya wahai Rosul”

“Mu’adz”.

“Iya baginda Rosul”

“Mu’adz”,

“iya duhai Rosul”,

“tahukah kamu? Apa hak Allah yang harus dipenuhi para hamba-Nya?”

“Allah dan Rosul-Nya lebih tahu”.

“Hak Allah yang harus dipenuhi hamba-Nya adalah, mereka menyembah-Nya dan tidak mensekutukan-Nya”.

Kemudian kita berjalan lagi, dan Rosul memanggil kembali

“Mu’adz”

“Iya wahai Rosul”

“Kamu tahu? Apa haknya hamba yang akan dipenuhi Allah, jika hamba itu memenuhi hal Allah (tadi)?”

“Allah dan Rosul lebih tahu”

“Hak hamba yang akan dipenuhi Allah adalah Allah tidak akan Menyiksanya”.

METODE 27

Menarik perhatian murid dengan memegang tangan atau pundaknya

Tidak hanya itu, agar sang sahabat lebih menaruh perhatian terhadap apa yang diajarkannya, dan tentu agar lebih mengingatnya lagi; beliau S.a.w terkadang menggandeng sahabat itu, atau memegang tangannya, atau meletakkan tangan beliau di pundak sahabat itu.

Ibnu Mas’ud bercerita : “Rosululloh S.a.w mengajariku lafadz tahiyyat (seraya telapak tanganku ada dalam genggamannya) sebagaimana beliau mengajariku surat-surat dari Al-Qur’an”. (H.R. Bukhori-Muslim)

Begitu juga yang dituturkan Abdulloh bin Umar : “Rosululloh S.a.w memegang pundakku sembari bersabda : “Hendaknya kamu merasa hidup di dunia ini layaknya orang asing, atau pengembara, dan anggaplah dirimu selalu sebagai penduduk kuburan.” (H.R. Bukhori-Tirmidzy).

Atau seperti yang beliau lakukan pada Abu Dzar Al-Ghifari, saat bertanya tentang jika ada orang menunda-nunda sholat, Rosul S.a.w langsung menepuk paha Abu Dzar dan berkata : “Sholatlah pada waktunya”, (H.R.Muslim). yakni maksudnya jangan ditunda-tunda sampai hampir habis waktunya, apalagi jika sampai kehabisan waktu sholat

METODE 28

Memancing murid untuk mengungkap sesuatu dengan menyamarkannya

Bermacam-macam cara Rosululloh S.a.w untuk mengajar dan mendidik sahabatnya. Terkadang beliau tidak memberikan secara langsung pelajaran apa yang akan disampaikannya. Namun beliau menyamarkan dan merahasiakannya, atau memberi semacam sandi dan sindiran, agar sahabat itu penasaran dan mencari sendiri pelajaran apa yang dimaksud Rosul tersebut, tentu melatih juga kepekaan sahabat tersebut.

Dan tujuan beliau agar pelajaran itu (jika berhasil diungkap sahabatnya tadi), akan lebih berpengaruh di hati dan menancap di ingatan.

Anas bin Malik bercerita : “Suatu hari seperti biasa di majelis Nabi S.a.w, kami duduk-duduk (belajar) bersama beliau. Lalu beliau berkata : “Sekarang ini ada orang yang mau datang (ke sini), dan dia termasuk penduduk surga”.

Sejenak kemudian ada seseorang masuk, dan dari jenggotnya masih menetes sisa air wudhu, dan tangan kirinya menenteng sandal.

Keesokan harinya, lagi-lagi Rosululloh S.a.w berkata hal yang sama, dan lagi-lagi orang itu yang muncul, dengan keadaan yang sama. Begitu pula pada hari ketiga.

Setelah Rosululloh S.a.w berdiri, salah satu dari kami (yaitu Abdulloh bin Amru bin Ash) diam-diam pergi mengikuti orang itu, dia tampak penasaran sekali dengan apa yang dilakukan orang itu, sehingga membuatnya (mendapat jaminan) termasuk salah satu penduduk surga.

Setelah melalui investigasi (beberapa hari), ternyata Abdulloh melihat jika orang tidur dan dia merubah posisi tidurnya, dia selalu berdzikir menyebut nama Allah. Akhirnya (untuk menambah pengetahuan dan mengobati rasa penasarannya), Abdulloh bertanya pada orang itu, apa yang dilakukannya selama ini.

“Aku tidak melakukan apa-apa, kecuali yang kamu lihat tadi anakku. Hanya saja juga, tidak pernah terlintas di hatiku untuk menipu sesama orang islam, juga tidak ada perasaan iri dengki di hatiku kepada orang lain yang diberi kenikmatan oleh Allah”, jawab orang itu.

“Ini dia yang menyebabkan paman sampai pada derajat (dan tingkatan) itu, dan ini yang kami tidak sanggup,” kata Abdulloh kemudian (H.R.Ahmad)

Dan orang tersebut adalah Sa’ad bin Abi Waqqosh, salah satu di antara 10 pembesar sahabat yang dijamin Rosululloh S.a.w masuk surga 1.

1 Selain beliau adalah : Abu bakar Assiddiq, Umar bin Al-khottob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Sa’id bin Zaid, Abu Ubaidah bin Al-Jarroh, Tholhah bin Ubaidillah, Zubair bin Al-Awwam, dan Abdurrahman bin Auf, Rodhiyallahu anhum ajma’in.

METODE 29

Menyebut akibat terlebih dahulu, sebelum menyebut sebab

Di antara cara Rosul S.a.w dalam mengajar adalah, dengan menyebut akibat sesuatu hal secara langsung dengan tanpa menjelaskan sebabnya terlebih dahulu, dengan tujuan memancing sahabatnya agar bertanya, dan merangsang pikiran mereka untuk mengungkap hal yang beliau globalkan itu. Beliau ingin membuat syaraf motorik para sahabatnya terus bekerja. Setelah itu baru beliau menjelaskan dengan rinci apa yang beliau maksud, dengan begitu kepahaman akan lebih menancap kuat di ingatan sahabat-sahabatnya.

Suatu ketika saat beliau duduk-duduk dengan para sahabatnya, tiba-tiba beliau berkata : “Sungguh rugi! Sungguh rugi! Sungguh rugi!”

Tentu para sahabat terkejut dan terheran-heran, lalu bertanya, “Siapa wahai Rosul?”

“Seseorang yang masih menemui kedua orang tuanya atau salah satunya dalam keadaan tua, kemudian dia tidak bisa masuk surga”. (H.R. Muslim).

Maksud Nabi, orang itu sangat merugi tidak masuk surga sebab tidak bisa berbakti kepada orang tuanya yang telah masuk usia senja, apalagi jika sampai berani durhaka dan membentak-bentaknya, wal iyadzu billah.

Di kesempatan lain Rosul berkata : “Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman!”

“Siapa yang engkau maksud ya Rosul?”

“Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman karena gangguan-gangguannya”. (H.R. Bukhori)

METODE 30

Mengglobalkan sesuatu, kemudian merincinya

Di antara kreatifitas Rosululloh S.a.w dalam mengajar adalah mengglobalkan terlebih dahulu sebuah masalah yang dianggap penting, lalu kemudian baru menjelaskan dan memperinci satu persatu masalah itu, agar mudah diingat dan dipaham.

Contoh metode ini, riwayat Hakim dari Ibnu Abbas, Rosul S.a.w bersabda :

“Manfaatkanlah 5 hal, sebelum datangnya 5 hal :

  1. Masa mudamu, sebelum datang masa tuamu

  2. Kesehatanmu, sebelum kamu sakit

  3. Saat kamu kaya, sebelum kamu jatuh miskin

  4. Waktu luangmu, sebelum kamu sibuk

  5. Hidupmu, sebelum kamu mati

Atau sebagaimana riwayat lain dari Abu Hurairah, Rosul S.a.w bersabda :

“Seorang wanita itu, (biasanya) dinikahi karena 4 hal :

  1. Hartanya (kekayaannya)

  2. Garis keturunannya

  3. Kecantikannya

  4. Agamanya

(Maka jika kalian ingin menikah), pilihlah wanita (sholehah) yang punya agama, niscaya kalian akan beruntung. (H.R. Bukhori Muslim)

METODE 31

Mau’idzoh dan Tadzkiroh (Menasehati dan mengingatkan)

Ini adalah salah satu metode paling penting dan paling menonjol yang kerap dipakai Rosululloh S.a.w dalam mengajar dan mengarahkan ummatnya, sebagaimana metode no.1. Hal itu sebab beliau S.a.w mengikuti perintah dalam Al-Qur’an:

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS.Adz-Dzaariyat : 55)

“…sesungguhnya kamu adalah orang yang memberi peringatan.” (QS.Al-Ghaasyiyah : 21)

Dan pada dasarnya, hampir sebagian besar dari ajaran-ajaran beliau, diambil dan disampaikan lewat mau’idhoh-mau’idhoh dan orasi umum beliau.

Irbadh bin Sariyah bertutur : “Rosululloh S.a.w sholat bersama kita, usai sholat beliau menghadap pada kami, dan memberikan mau’idzoh panjang lebar, yang membuat mata meneteskan airmata dan hati bergetar takut.

Setelah itu ada orang angkat suara : “Ya Nabi, ini sepertinya pesan dari orang yang mau mengadakan perpisahan, lalu apa yang engkau pesankan dan tekankan pada kami?”

“Aku wasiatkan pada kalian semua untuk selalu bertakwa pada Allah, sam’an wa tho’atan, mendengar dan taat (suka atau tidak suka, pada pemimpin kalian), walau dia seorang budak berkulit hitam. Sebab sesungguhnya kalian yang hidup setelahku nanti, akan melihat banyak sekali perselisihan. Maka berpeganglah erat-erat pada sunnah (ajaran)ku dan ajaran para Khulafa’ Arrasyidin setelahku. Peganglah erat-erat dan gigit kuat dengan geraham kalian. Dan berhati-hatilah dengan hal-hal baru (yang tidak ada hubungannya dengan ajaran agama, tetapi dinisbat dan disandarkan pada agama, mengklaim bahwa itu darinya). Karena tiap hal yang baru itu bid’ah, dan tiap bid’ah itu menyesatkan (HR. Abu Daud, Tirmidzy dan Ibnu Majah).

Jabir bin Abdulloh juga bercerita : “Rosululloh S.a.w jika berorasi dan berpidato, matanya memerah, intonasi nada suaranya meninggi, dan (seolah-olah) sangat marah, laksana orang yang memperingatkan akan datangnya serangan mendadak dari lawan.”, beliau bersabda : “Aku diutus, dan (jarakku dengan) hari kiamat laksana ini!” seraya mentautkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Beliau juga berkata : “Amma Ba’du (dan setelah itu), sesunggunya sebaik-baik kata-kata adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad S.a.w, dan sejelek-jelek perkara adalah hal-hal baru, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Kemudian berkata dalam orasinya : “Aku lebih utama (dan berhak) menanggung setiap orang mukmin daripada dirinya sendiri. Siapa yang meninggal dan menyisakan harta, maka untuk pewarisnya, dan siapa yang meninggal sementara dia menanggung hutang, atau barang hilang, maka aku yang menebus dan menanggungnya”. (H.R. Muslim dan Annasa’i)

METODE 32

Memotivasi dan menakut-nakuti

Dalam istilah ilmu hadits, metode ini terkenal dengan sebutan At-targhieb wa at-tarhiib, bahkan metode pengajaran Rosul jenis ini sampai dibukukan dalam karya dan karangan yang menyendiri dalam beberapa jilid besar 1.

Metode ini adalah metode dengan cara memberi semangat dan motivasi terhadap suatu kebaikan, dengan menyebut efek positif kebaikan tersebut serta janji pahala dan surga. Atau menakuti-nakuti serta peringatan terhadap suatu keburukan, dengan menyebut dampak negatif sekaligus ancaman dosa dan masuk neraka.

Semisal menganjurkan sholat dluha sekaligus menyebut pahalanya, atau melarang dengki dengan menyebut efek sampingnya, dan lain sebagainya.

METODE 33

Cerita dan Kisah

Semua pengajar pasti mengenal dan pernah mempraktekkan metode ini, metode yang telah lama sekali jamak dalam dunia pendidikan; menanamkan pelajaran dan nilai-nilai moral melalui media cerita dan kisah. Dan metode ini termasuk sangat efektif sekali, sebab murid akan dengan mudah mengambil pelajaran dan ibroh pada kisah yang terjadi. Metode ini sangat bagus sekali diterapkan di kalangan pemula, terutama anak-anak dan remaja; kelompok usia yang cenderung tidak mau dipaksa belajar, dan kelompok usia yang cenderung tidak mau digurui dan sering bertindak impulsif (dengan alasan mencari identitas dan jatidiri).

Karena dengan berkisah, kita tidak secara langsung menjadikan pendengarnya sebagai obyek, tetapi yang kita jadikan obyek adalah pihak lain (tokoh dalam cerita itu), dan kita membiarkan pendengar (murid) kita secara alamiah mengambil dan memetik sendiri hikmah, sekaligus pelajaran di balik kisah itu.

Dan sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu, Nabi kita pun juga telah menggunakan metode ini, dengan menceritakan kisah bangsa-bangsa terdahulu yang telah punah, atau kisah orang-orang pada masa Nabi-Nabi sebelumnya, agar para sahabatnya mengambil sendiri pelajaran dari kisah yang beliau ceritakan itu.

Selain itu juga banyak sekali ceritera-ceritera lain yang beliau kisahkan, semisal kisah tentang cinta dan persahabatan yang tulus dan murni karena Allah, seperti yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah.

Ada seseorang yang ingin menjenguk temannya di desa lain. Allah Ta’ala lalu mengirim malaikat untuk menghadangnya di suatu jalan tertentu. Ketika orang itu sampai di situ, malaikat (yang telah beralih rupa menjelma jadi manusia) itu menanyainya.

“Mau kemana kamu?”

“Aku mau mengunjungi temanku di desa itu”, jawab orang tadi.

“Kamu ada kepentingan apa sehingga pergi pada temanmu itu karenanya? Tanya malaikat lagi

“Tidak ada kepentingan apa-apa, aku mengunjunginya hanya karena aku mencintai temanku fillah, karena Allah saja,” kata orang itu

“Ketahui, sebenarnya aku adalah malaikat yang dikirim Allah padamu (untuk mengabarimu) bahwa Allah Mencintaimu, sebagaimana kamu mencinta temanmu itu karena-Nya,” kata malaikat itu akhirnya sembari membuka identitas dirinya.

Atau juga kisah-kisah beliau tentang anjuran untuk menyayangi binatang dan peringatan agar tidak mengganggunya, serta memberikan hak hidup binatang tersebut, sebagaimana dalam kisah anjing dan PSK (pekerja seks komersial), atau kisah kucing dan wanita tua. Jauh sebelum para pecinta binatang dan aktivis-aktivis yang peduli pada lingkungan hidup berteriak-teriak menyuarakan pembelaan terhadap lingkungan dan makhluk hidup.

Atau kisah tentang bayi-bayi yang bisa berbicara, batu yang bergerak karena amalan baik, kisah-kisah bangsa Israel, dan lain sebagainya.

1 Salah satu karya monumental dalam bidang ini, adalah kitab “Attarghib wat tarhib” adikarya Imam Zakiyuddin Abdul Adzim bin Abdul Qowy Al-Mundziry

METODE 34

Prolog singkat

Rosul S.a.w adalah sosok pengajar yang memiliki cita rasa, perasaan dan kepekaan yang sangat tinggi. Dalam mengajarkan hal-hal yang kurang etis disebut, beliau S.a.w tidak langsung menyampaikannya secara terang-terangan, tetapi menggunakan pengantar atau tanda yang membuat sahabat-sahabatnya paham dengan apa yang beliau maksud dan beliau ajarkan.

Sebagaimana riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Rosul Bersabda : “Sesungguhnya aku bagi kalian adalah ibarat orang tua dan anak, aku ajari kalian (semua), jika kalian ke kamar kecil, maka hendaknya jangan menghadap kiblat atau membelakanginya.”

Rasul S.a.w tidak langsung menyebut buang air, kecil apalagi besar, tetapi siapapun paham, bahwa jika seseorang ke kamar kecil adalah untuk BAK atau BAB.

Diterusan hadits yang lain, “Dan beliau memerintahkan penggunaan 3 batu dan melarang penggunaan kotoran kering atau tulang”, tentu untuk bersuci dan membersihkan diri setelah buang air. Beliaupun tidak menyebut langsung.

“Beliau juga melarang penggunaan tangan kanan untuk bersuci”, dalam membersihkan kotoran dari kemaluan, depan atau belakang, tetapi menggunakan tangan kiri.

Dan metode ini digunakan beliau terlebih lagi jika berkenaan dengan hal-hal yang sangat sensitif, semacam masalah kewanitaan, atau hubungan seksual.

METODE 35

Isyarat dan Sindiran

Dalam kesempatan tertentu, untuk mengajarkan sesuatu yang tidak etis disebut langsung, Rosululloh S.a.w terkadang cukup menggunakan isyarat atau sindiran.

Seperti ketika ada seorang wanita yang minta diajari tata cara bersuci dari menstruasi, beliau hanya berkata, “Kalian ambil air dan daun bidara 1, kalian pakai mandi, siram mulai dari atas kepala kalian, basuh semua tubuh kalian secara merata, sampai pangkal rambut juga, kemudian bilas tubuh kalian, setelah itu ambil kapas yang telah diberi wewangian, gunakan untuk membersihkan….”, Rosul S.a.w tidak meneruskan kalimatnya.

Wanita itu masih bertanya, “Bagaimana cara menggunakan kapas itu untuk membersihkan? (bagian mana yang harus dibersihkan dengan kapas itu)?”

Tentu Rosul S.a.w terperanjat dan berkata, “SubhanAllah ! Ya pakai kapas itu untuk membersihkan”,

S.Aisyah, Istri beliau, lantas menarik wanita itu dan membisikinya, “(maksud beliau), bersihkan tempat keluarnya darah 2” (H.R. Bukhori Muslim)

EPILOG

Apakah beliau S.a.w pernah marah saat mengajar?

Itulah sebagian di antara sekian banyak metode mengajar yang digunakan oleh baginda Rosululloh S.a.w. dan itu dengan satu target : Menanamkan kepahaman pada murid terhadap apa yang diajarkan. Tidak sekedar tahu saja, sebab sangat berbeda sekali antara sekedar “tahu” dan “paham”, dan tentu saja lantas setelah itu untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, di antara sekian banyak metode (uslub) yang beliau gunakan dalam mengajar, apakah pernah juga beliau marah (dan dalam rangka mengajar itu sendiri juga)? Sebab sebagai pengajar, kita pasti akan menemukan berbagai macam hal dari murid kita yang tidak sesuai dengan hati kita dan membuat kita marah, yang tentu saja kemarahan kita itu tidak atas dasar emosi atau masalah pribadi.

Hal yang manusiawi jika kita marah saat menghadapi kasus kenakalan dari murid-murid kita, dan saat marah itu kita dituntut untuk bijak, tahu kapan saat marah, kapan tidak, terlebih jika menjatuhkan sanksi atau skorsing, harus sesuai dengan situasi, kondisi, dan manusiawi, sebab semua masih dalam rangka pendidikan.3

Rosululloh S.a.w pun pernah juga sangat marah, jika ada sahabatnya yang keterlaluan dan berlebihan dalam suatu permasalahan, atau ngotot bertanya hal-hal yang tidak patut dipertanyakan.

Pernah Rosul keluar dari rumah beliau, dan beliau menemukan sebagian sahabatnya sedang berdebat dan adu argumen tentang masalah takdir, seketika wajah beliau memerah karena marah, dan membentak : “Apa kalian diperintah untuk ini ?! Kalian diciptakan untuk ini?! Menabrakkan ayat-ayat Al-Qur’an satu dengan yang lain! Gara-gara ini bangsa-bangsa sebelum kalian dihancurkan luluh lantak!” Diriwayat yang lain bahkan Nabi sangat serius melarang para sahabat berdebat dalam masalah ini.

Di suatu kesempatan beliau juga sempat marah saat melihat sebagian sahabatnya berwudlu tidak sempurna dan ala kadarnya, sembari cepat-cepat tergesa-gesa, sehingga air wudlu tidak merata pada kaki-kaki mereka, beliau segera berteriak : “Awas ! Neraka ! bagi yang tidak menyempurnakan wudlunya!”

Perintah mempelajari bahasa asing

Untuk memperluas cakrawala pengetahuan, dan mempermudah jalinan komunikasi dengan bangsa lain, Nabi juga memerintahkan sebagian sahabatnya untuk mempelajari bahasa asing, terutama sahabat-sahabat yang beliau siapkan untuk jadi diplomat. Sebagaimana perintah beliau pada Zaid bin Tsabit untuk mendalami bahasa ibrani (bahasa Israel) dan suryani (bahasa asli para Nabi), dia juga diperintahkan untuk mempelajari aksara bahasa itu sendiri (H.R.Tirmidzy).

Jadi mempelajari dan menggunakan bahasa asing untuk kepentingan pendidikan, dakwah, dan tabligh, ketika kita membutuhkan penggunaan bahasa itu, adalah salah satu petunjuk dan ajaran dari pada Nabi kita Muhammad S.a.w.

Dan kita tahu, bahwa pendalaman bahasa-bahasa asing saat ini, termasuk kebutuhan yang sangat primer, sebagai kunci utama daripada ilmu pengetahuan, juga untuk persaingan dengan bangsa lain dalam hal kemajuan di segala bidang kehidupan. Sekaligus jadi kunci utama dalam proses saling mengenal antar bangsa, dan menjaga keselamatan serta hak asasi kita saat kita bertemu, bercampur, berinteraksi dan bergaul dengan bangsa lain 4. Setidaknya kita tidak bisa dibohongi saat kita paham bahasa bangsa selain bahasa bangsa kita.

Pengarsipan dan penyimpanan data

Sebagaimana kita ketahui di awal buku, bahwa Nabi S.a.w dalam mengajar, lebih memilih metode yang memiliki efek daya tancap kuat dalam ingatan, sebab saat itu alat tulis menulis masih sangat minim, jika tidak boleh dikatakan tidak ada. Pun orang arab yang sanggup membaca dan menulis hanya sedikit sekali, terbatas di kalangan bangsawan dan terpelajar, itupun tidak semua.

Namun Nabi S.a.w tetap memperhatikan hal ini, bahkan beliau menggalakkan proses belajar membaca dan latihan menulis, serta gencar memberantas buta huruf, sebagaimana saat perang badar, yang mana tawanan perang yang tidak sanggup menebus dirinya dengan harta, diwajibkan mengajari anak-anak sahabat untuk belajar baca tulis sebagai tebusan pembebasan dirinya.

Hal ini sangat beliau perhatikan, terutama untuk penulisan dan penyimpanan data wahyu-wahyu yang diturunkan pada beliau. Media apapun digunakan untuk menulis, mulai dari kulit binatang, lempengan-lempengan batu, sampai tulang belikat binatang, apalagi saat itu belum diketemukan kertas, terlebih mesin cetak.

Beliau sendiri memiliki lebih dari 15 sekretaris pribadi yang bertugas khusus menulis ayat-ayat al-qur’an yang diturunkan pada beliau, di samping mereka sendiri menyimpan ayat-ayat itu dalam memori mereka. Juga memiliki sekretaris yang bertugas menulis surat-surat beliau untuk para pemimpin negara-negara besar, dan raja-raja negara tetangga.

Di antara sekretaris beliau : Khalifah empat; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Aly, juga Zaid bin Tsabit, Ubay bin Kaab, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Aban bin Sa’id, Handholah bin Robi’, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan lain sebagainya, RodhiyAllah Anhum Ajma’in.

Beliau juga memberi ijin pada sebagian sahabatnya yang berminat mencatat hadits-hadits beliau (selain Al-Qur’an), bahkan setelah itu memerintahkan pencatatan itu, seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.

Sebab beliau tahu pasti, bahwa tulis menulis adalah salah satu duta terbesar dalam pendidikan dan dakwah. Oleh karena itu, beliau juga menggunakan cara ini saat mengajak para pemimpin dunia masuk Islam, dengan cara mengirim surat pada mereka. Bahkan 5 di antara 8 surat beliau, masih tersimpan rapi di museum-museum yang terdapat di Eropa.

Nabi S.a.w dan pendidikan kaum wanita

Mungkin terlintas pada pikiran sebagian dari kita, bahwa Nabi S.a.w memarginalkan pendidikan kaum wanita, sebab seolah-olah di kebanyakan situasi dalam hadits-hadits yang diriwayatkan, beliau hanya bersama sahabat-sahabatnya saja, yang kaum lelaki, tetapi tidak pernah dengan sahabiyat.

Tentu suatu anggapan dan prasangka yang sangat keliru dan tidak berdasar, apalagi Nabi Muhammad S.a.w diutus kepada manusia secara universal, mencakup semua jenis dan golongan.

Beliau bahkan punya waktu dan majlis khusus untuk mendidik kaum wanita, terutama seputar masalah kewanitaan (niswiyah). Sekaligus menuruti permohonan mereka yang meminta waktu khusus untuk belajar dengan beliau (H.R.Bukhori Muslim).

Dan salah satu rahasia beliau menikahi Sayyidah A’isyah di usia yang sangat belia (sementara semua istri beliau yang lain beliau nikahi dalam keadaan janda), adalah dalam rangka pendidikan itu. Banyak hal masalah pribadi seputar wanita yang beliau lewatkan ibunda Aisyah ini, pun setelah beliau meninggal, S.Aisyah terhitung di antara salah seorang yang banyak sekali menyampaikan hadits-hadits beliau pada ummat ini.

AKHIR KATA

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa ala alihi wa sallam, adalah memang benar-benar seorang pengajar yang telah dipilih oleh Allah Ta’ala untuk mengajarkan pada manusia dan kemanusiaan terhadap agama Allah, dan syari’atnya yang pamungkas dan abadi. Dan tidak ada di dunia ini yang paling berharga bagi Allah Ta’ala selain Agamanya, Islam. Maka Allah pun memilih Nabi dan Rosul terbaik di antara sekian banyak utusannya, Nabi Muhammad, untuk menyebarkan dan mengajarkan agama-Nya itu.

Dan pengajar yang terpilih untuk menyampaikan syariat-Nya pada manusia ini, adalah seorang pengajar yang mengajar dengan tampilan fisik dan psikisnya, tindakan dan kata-katanya, dan semua kondisi beliau. Maka kesempurnaan kepribadiaannya sendiri, adalah salah satu metode beliau dalam mengajar murid-muridnya, agar mereka meniru sepertinya, dan mengikuti petunjuknya.

Dan salah satu atribut, sifat dan ciri penting yang harus dimiliki pengajar adalah, hendaknya berusaha memiliki integritas kebaikan dan citra diri yang sempurna, baik itu secara kekuatan berfikirnya, keunggulannya, ilmunya, kebijaksanaannya, penampilannya, kemodisannya, keluwesan dan kehalusan perangainya, ketangkasannya, gerakannya, ketenangan dirinya, keindahan dalam percakapan dan susunan kata-katanya, kecerdasannya, kebersihan busananya, juga kecakapan dalam administrasi dan cara-caranya dalam bertindak dan bersikap. Dengan kata lain jeli dalam memanfaatkan momen.

Dan semua ini, ada dalam pribadi Rosul kita, Nabi Muhammad S.a.w, sang pengajar, dalam keadaan yang sangat bagus dan dalam puncak kesempurnaan. Beliau adalah pengajar yang sanggup juga mengajar dengan kepribadian mulia beliau yang jadi percontohan bagi semua pengajar, mentor dan pendidik. Dalam diri beliau tergambarkan klimaks dan tujuan pendidikan dengan metode-metode yang berbeda-beda. Sebab semua perantara dan metode itu, mengarahkan sekaligus diarahkan agar setiap muslim bisa membuktikan wahyu Allah ta’ala yang artinya :

kalian adalah umat terbaik yang dimunculkan untuk manusia…” (Q.S. Ali Imron : 110).

Maka kesempurnaan yang mencakup dalam diri Nabi S.a.w ini, adalah puncak dan klimaks daripada semua metode yang kita sebutkan itu, dan inti daripada pendidikan dan mentoring. Dan beliau S.a.w dengan kepribadian yang sempurna itu, telah mendapat penghargaan tertinggi dan pengakuan teragung, dengan sangat pasti dan meyakinkan, dari Allah Ta’ala dalam firmannya yang artinya :

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q.S. Al-Qolam :4)

Maka bukanlah suatu keanehan jika kebajikan pribadi beliau adalah termasuk salah satu metode pendidikan itu sendiri.

Dan sekarang, adakah seorang pengajar di muka bumi ini, yang mampu memberikan pengaruh besar dalam kemanusiaan, yang ajaran dan didikannya diterima semua manusia (dengan perbedaan warna dan bahasanya), yang mereka semua mengambilnya, menjadikannya contoh dan panutan dalam semua segmen kehidupan, selain Rosululloh S.A.W?

— 000 —

Itulah, sedikit kalimat kecil yang ingin penulis sampaikan, menjadi sebuah penutup atas buku kecil ini, 35 metode Rosululloh S.a.w dalam mengajar dan mendidik, metode yang ditempuh dan ditunjukkan oleh beliau pada kita semua. Dan metode yang terdapat dalam buku tipis ini, hanyalah dalam rangka contoh, dan penjelasan saja, dengan kata lain, yang hanya bisa kami sebutkan saja, bukan dalam rangka menghitung jumlah metode beliau apalagi membatasinya, sebab metode beliau S.a.w tidak hanya 35 itu saja, tapi jauh lebih banyak dan beragam lagi.

Dan sudah pasti bagi pelajar atau siapapun yang meneliti lebih dalam lagi kitab-kitab hadits dan tarikh Rosul S.a.w, akan menemukan metode yang lain lagi, selain yang telah tersebutkan dalam buku ini.

Akhirnya, semoga Allah Ta’ala Menjadikan buku ini bermanfaat bagi semua umat Islam, terutama mereka-mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan. Dan Memberi taufik pada penulis, serta bisa ikhlas karena-Nya saja, sekaligus mendapat Syafaat dari Nabi-Nya S.a.w di hari kebangkitan nanti. Juga selalu mendapat kehormatan untuk selalu bisa mengikuti jejak langkah Rosul dan sahabat-sahabatnya, Amiin walhamdulillahi Robbil Alamin.

Makkah Al-Mukarromah

Malam Kamis, 13 Nopember 2008 M

15 Dzul Qo’dah 1429 H

Dalam siraman cahaya bulan purnama.

Daftar pustaka :

  1. Al-Qur’an dan terjemahnya.

  2. Abu Ghuddah, Abdul Fattah, 2003, Arrosul Al-Mu’allim wa asaalibuhu fit ta’lim, cet. 3. Beirut: Darul Basyair

  3. Al-Maliky, Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy, 1984, Ushulut Tarbiyah Annabawiyah, Kairo: Majma’ul buhuts Al-Islamiyah

  4. Al-Sya’roni, Abdul Wahhab bin Ahmad, 1998, Lawaqih al-anwar al-qudsiyyah fi bayaan al-uhuud al-muhammadiyyah, cet. 1. Beirut: Darul kutub Al-ilmiyah

  5. Bisri, K.H. Adib, 1999, Kamus Al-Bisri, Cet. 1. Surabaya: Pustaka Progressif

  6. Burhani M.S & Hasbi Lawrens, 2000, kamus ilmiyah populer, Jombang: Lintas Media

  7. El-Sherify, Dr. Shawki, 2000, mu’jam mustholahaat al-ulum at-tarbawiyah (dictionary of educational sciences terms), Cet. 1. Riyadh: Obeikan Bookshop.

  8. Hirata, Andrea, 2008, Laskar Pelangi, Cet. 17. Yogyakarta: Bentang Pustaka

  9. Indrawan WS, kamus lengkap bahasa indonesia, Jombang: Lintas Media

  10. Jan, Dr. Muhammad Sholeh bin Aly, 1998, Al-Mursyid An-Nafis ila Aslimati thuruq At-tadris, Cet. 1. Tha’if: Darut Thorofain

  11. Jami’ah Adduwal Al-Arobiyah, 1977, Mustholahaat Al-Falsafah fit ta’lim Al-Aam, Casablanca: Darul Kitab

  12. KMNU Mesir, 2003, kamus populer Arab-Indonesia, Cet. 1. Jakarta: Diva Pustaka

  13. Munawwir, K.H.Ahmad Warson, 1997, kamus Al-Munawwir, Surabaya: Pustaka Progressif

  14. Nasser, Dr.Ibraheem, 1999, Ususut Tarbiyah, Cet. 4. Amman : Dar Ammar.

  15. Syarifuddin, Ahmad, 2007, Misteri tangan kanan, Cet. 1. Surabaya: Bina Ilmu

1 Daun bidara untuk masa kini adalah semisal sabun, atau alat pembersih yang lain

2 kemaluanmu

3 Jangan sampai berlebihan, apalagi jika memberi hukuman fisik, harus sesuai dengan kesalahan, dan tidak sampai melukai. Tentu sebuah kesalahan yang sangat fatal apalgi hukuman itu memberi dampak negative terhadap perkembangan psikologis murid, apalagi sampai membuat cacat. Sebab ada dalam beberapa kasus, guru menghukum muridnya sampai meninggal, hanya gara-gara kesalahan kecil. Sangat tidak proporsional dan tidak manusiawi sama sekali.

4 Jika kita mau cermat, sebenarnya bahasa apapun di dunia ini, di manapun, mulai dari bahasa Navajo yang dipakai sebagai sandi tak terpecahkan di perang dunia kedua, bahasa gaelic yang amat langka, bahasa melayu pesisir yang berayun-ayun, sampai bahasa Mohican yang telah punah, semuanya adalah kumpulan kalimat, dan kalimat tak lain adalah kumpulan kata-kata. Kata apapun, pada dasarnya adalah kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan. Yang dituntut dari kita dalam mempelajari bahasa asing (terutama bahasa arab, inggris, mandarin, prancis, jerman dan jepang) adalah bagaimana menggunakan kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan dalam sebuah kalimat. Belajar kata (mufrodat, vocabulary, lexique, atau apapun namanya) terlebih dahulu, bukan belajar bahasa (gramatika, Nahwu, La grammaire). Sebab memikirkan struktur dan dimensi waktu dalam sebuah bahasa asing yang baru saja kita kenal, tidak lebih hanya akan merepotkan diri sendiri. Lebih mudahnya, kita mempelajari bahasa asing, dengan bantuan analogi bahasa Indonesia, atau bahasa ibu kita. Jadi, bahasa, baik local maupun asing, adalah permainan kata-kata, tidak lebih dari itu. Mungkin bisa jadi pendekatan belajar bahasa asing dengan cara ini adalah keliru, tapi cara ini terbukti sangat efektif (lihat Laskar Pelangi, hal 116-117)

Biodata Penulis

  • Terlahir di Madinah Al-Munawwaroh, Kingdom of Saudi Arabia, pada 16 Agustus 1983

  • Sulung dari 7 bersaudara, putera pasangan Bapak Aly Imron dan Ibu Titin Sufaero`

  • Menempuh studinya di :

  • MI Al-Islamiyah, Maduran-Lamongan (1990-1995)

  • MDA Manba’ud Dalalah, Maduran-Lamongan (1990-1995)

  • SMP Wachid Hasjim, Maduran-Lamongan (1995-1998)

  • Marine English Course, Paciran-Lamongan (1998-2000)

  • Pilot Project I.S.Y.S English Course SMU Wachid Hasjim, Maduran-Lamongan (2000-2001)

  • PP. Nurul Anwar Parengan-Lamongan (1998-2002) dan menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di pesantren ini pada tahun 2001

  • PP. Darut Tauhid, Kedungsari-Purworejo-Jawa Tengah (2002-2003)

  • Ma’had pengembangan dan dakwah Nurul Haromain, Pujon-Malang (2003-2004)

  • Ribath Masyru’ Al-Malikiyah lid Dirosah Al-Ulya fi ulumis Syari’ah wat tarbiyah (2004-…) Mekkah, Saudi Arabia. di bawah asuhan Dr.Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Maliky

        • Aktif sejak belia di kepramukaan dan berbagai macam organisasi serta menjadi redaksi di beberapa media.

        • Telah menulis lebih dari 24 buku (14 di antaranya berbahasa arab, dan 4 karya sastra/nonfiksi), serta lebih dari 100 artikel lepas.

        • Jika ingin kontak, kritik dan saran, hubungi :

  • Email : alwyshyfa_786@yahoo.co.id

Di antara karya dan tulisan yang sudah dicetak :

  • Quthuf Daaniyah, Buhuts ilmiyah fi maa yushibu al-mar’ah al-muslimah (tentang emansipasi wanita; 2002)

  • Dliya’ minal qur’an, khosho-ishuhu wa kaifiyyatu tahfidzihi (tentang keistimewaan Al-qur’an dan tata cara menghafalkannya; 2003)

  • Assaiful Maslul fi ghozawaatir Rosul (tentang Ekspedisi-ekspedisi dan ekspansi Nabi Muhammad; 2003)

  • Fadhl Robbil Bariyah (eksplanasi atas Mandhumah Assyabrowiyah lil Allamah Abdillah Assyabrowi, dalam ilmu gramatika bahasa arab; 2004)

  • Takhrij li Ahadits Syifa’ Assaqim lil allamah Muhammad Al-Haddar (2005)

  • Ushul Takhrij Al-Hadits lil Mubtadi-in (ilmu takhrij Hadits untuk pemula; 2006)

  • Tahqiq (edit) ala Ushul Marfu’ah al-Aliyah, Syarh Baiquniyah lil Ustadz Aly Imron (dalam ilmu mustholah hadits; 2007)

  • Nukhbah Al-Azhar wa Nuzhah Al-Akhyar (the Park of pious) (tentang Biografi Nabi Muhammad;2007)

(Semua berbahasa arab dan diterbitkan oleh “Hai-ah Ta’lif wan Nasyr”, PP.Nurul Anwar Parengan-Lamongan)

  • Kumpulan esai-esai ringan, “Dari Nurul Anwar sampai Darut Tauhid” (2002)

  • Kumpulan cerpen, kolaborasi dengan redaksi Addliya’, “Bila kuncupnya jadi bunga” (2002) dengan judul cerpen (Gadis Wirid, Serenada di bangku tua, Serpihan Bunga mawar, Senandung abadi kisi hati)

  • “Menjadi Santri yang Sesungguhnya” (2003)

  • “Katakan dengan bangga: Aku Adalah Santri” (2003)

  • “Yang Muda yang Bermain Cinta” (2004) kolaborasi dengan adik, Ahmad Aly Imron

  • Kumpulan cerpen, kolaborasi dengan redaksi Addliya, “Debu-debu Intan” (2004) dengan judul cerpen (Sebuah catatan di senja hari)

  • Novel “Merengkuh kabut” (2004)

  • “Bengkel Jiwa” (2005)

  • Kumpulan cerpen,”Denting Nada Cinta” (2007)

(Semua diterbitkan lokal oleh DCP [Dliya Creative Production] Lamongan)

Dan masih manuskrip dan masih dalam proses penulisan :

  • Al-Mir’ah Al-Majidah (kumpulan esai ringan berbahasa arab)

  • Isyah Roodliyah (tentang ilmu etika)

  • Arba’in Imroniyah (40 Hadits tentang penyakit hati)

  • Annafahat Ar-Rohmaniyah, komentar atas Matn Al-Ajurumiyah lil Allamah Assinhaji (ilmu gramatika bahasa arab)

  • Taudlih at-Tasrib, eksplanasi atas Nihayah At-Tadrib lil Allamah Al-Amrithy (dalam Fiqih Madzhab Syafi’i, masih dalam proses penulisan)

  • Jangan jadi Orang yang Nyebelin


Comments (1) »