MERINDU KASIH

By: Alwy Aly Emran (Makkah)

Seraya menggandeng sepi, kususuri jalanan yang biasa kulalui di pesantren ini, kutuju kamar mungilku yang terletak di tempat paling ujung di bangunan reot yang hampir selalu bocor tiap hujan mengguyur itu. Seperti biasa, entah mengapa aku selalu sulit tidur di malam hari, jika sudah seperti ini, maka kelayapan lah yang aku lakukan.

Hening, hanya beberapa santri putra yang bangun, melakukan tugas wajib mereka, murobathoh. Kudongakkan kepalaku ke arah asrama pesantren putri, telah gelap, sejak pukul 22.00 tadi.

Kudesah nafasku pelan, kurasakan lapar melilit perutku, tapi…tirakat? ah, enggak lah. Yah, meski aku sudah lama di sini, namun aku tidak bisa dikatakan sebagai santri senior, pun aku juga tidak bisa dibilang santri junior. Gengsi dong, kan udah mending lama, udah mau merried lagi, he..he..

Hanya saja aku memiliki satu keistimewaan yang tidak dimiliki santri-santri lain, aku bisa masuk sesukaku dan kapan saja ke asrama pesantren putri, nah, kan?! Lha wong Pak Kyai nggak marah kok, soalnya aku ada “kepentingan” di pesantren putri, so jangan iri dong sama aku. Kadang-kadang aku ke asrama putri pagi hari, kadang siang hari. Yang paling sering malam hari, di saat para gadis-gadis itu sibuk musyawarah, jadi mereka tidak tahu keberadaanku saat aku masuk asrama. Tentu saja dengan tenang aku melakukan aktivitas dan tugasku.

Tetapi hari ini, jujur perasaanku agak terusik, sejak kapan dia ada di situ? Duduk di tangga yang menuju loteng atas asrama putri? Yah, dia, si gadis, sekilas cantik, dengan wajah oval, kulit putih jawa, bulu mata lentik, bibir mungil menggemaskan. Kelihatan cuantik lagi kalau memakai baju cokelat gelap dipadu sarung jarit berwarna cokelat susu, dengan jilbab panjang berwarna senada, aku…wah, wis pokoknya gitu lah!

Yang aku pertanyakan, sejak kapan dia punya pikiran mutholaah, wirid, baca al-qur’an dan merenung di tangga yang menuju lantai atas itu? Ya pasti lah aku terusik (ehm), meski lama-lama aku menikmati keadaan ini (huuu…), toh aku pun juga tidak mengganggunya. Kebetulan juga aku selalu sukses menyelinap, sehingga dia tidak tahu kalau aku barusan lewat, jadi lancar saja aktivitasku. Malu dong kalau ketemu sama ajnabiy.

Namun harus aku akui, perasaan itu tiba-tiba menyelinap di balik bilik hatiku. Aku selalu terpesona kala gadis cantik itu dengan mata beningnya menatap cakrawala sore yang menyapanya dari jendela utara asrama putri itu. Dengan menopang dagu manisnya dia duduk di tangga itu, seperti ada sesuatu yang dikenangnya. Tatapannya itu, bening jernih, aku pun turut tersenyum saat dia juga tersenyum, sebelum beberapa detik kemudian, gadis yang menginjak remaja, yang sedang mekar-mekarnya itu mendesahkan nafas lantas mengucap “subhanalloh” diikuti oleh wajah ayunya yang merona merah.

Hal itu kuamati dengan pasti selalu dilakukannya setiap ada kawanan burung pipit yang melintas, atau seekor kupu-kupu cantik yang menari-nari indah terbang meliuk di antara bunga-bunga, dipadu suasana sore hari yang khas. Seolah dia berkata pada burung yang lewat itu, “duhai burung yang beterbangan, sudikah dikau meminjamkan sayapmu untukku? Sehingga daku bisa menjumpai kekasih yang menempati relung hatiku

Mendadak parasku berubah, aku tersipu, Ge-er, akukah itu? Ah, kayaknya tidak mungkin, kemarin saja kala aku mencoba menampakkan diriku dengan sengaja, dia menjerit-jerit lantas lari masuk ke dalam asrama. Apakah malu? Atau? Ah, yang pasti aku agak kecewa kemarin itu.

Kini, tentu saja aku tidak mau kejadian kemarin terulang. Mungkin aku terlalu mengejutkannya, sebab aku menampakkan diriku yang gagah ini dengan tiba-tiba, sontak dia kaget. Ah, aku terlalu bodoh, untung perbuatanku itu tidak kepergok Pak Kyai.

— ooo —

Kulihat hari ini sang Gadis berbunga-bunga, dia tampak gembira, ada secarik kertas di tangannya, tidak bosan-bosan dibacanya terus surat itu. Aku sedikit tersentak, dari mana surat itu? Kan aku tidak mengirimnya?! Jangan-jangan… tidak! Segera kutepis perasaan cemburu itu.

Hah?! Apa?! Cemburu?! Guoblok! Aku merutuk sendiri dalam hati, ngapain juga cemburu? Wong lain kok urusannya, apa hubunganku dengan dia? (Bener nih?)

Tapi yang penting sang Gadis ceria, kulihat dia menulis surat balasan, di atas kertas berwarna merah muda, untuk akukah itu? Ah, tidak mungkin, tidak mungkin gadis itu melirikku.

Cuma saja…kulihat kemarin dia tersenyum padaku… Ya! Betul! Horee! Kan kemarin dia tersenyum, bahkan tertawa seraya teriak (memanggil?) cenderung gemas (atau geram?) saat aku yang ganti lari tunggang langgang melihat kehadirannya, sepertinya dia tertawa sejurus kemudian. Itu kulakukan setelah secara sembunyi-sembunyi kuintip gadis ayu itu, yang sedang termenung di tangga. Kunikmati senyuman manisnya itu, jemari lentiknya yang menari lincah memutar biji tasbih. Sehingga gadis itu sadar ada sepasang mata tak berdosa (prut!!) yang sedang memperhatikannya. Dan dia tahu kalau aku mengintipnya! Dia menjerit memang, tetapi tidak lari! Aku bengong, sampai aku sadar ketika di tangannya tergenggam sebatang sapu. Segera aku ambil langkah seribu sebelum urusannya berabe, soalnya kalau sampai ketahuan Pak Kyai, apalagi Bu Nyai, habislah aku, bisa jadi perkedel. Lha beberapa hari lalu barusan aku buat ulah, ada santri putri sawanen gara-gara aku.

Namun, dari kejauhan aku tersenyum puas, beberapa waktu lalu dia lari saat melihatku, tapi kini tidak, sekarang dia mengejarku, kejarlah daku, kau…ya aku kabur dong, he..he..he

Angin sore lembut membelai wajahku, dengan langkah ringan dan lincah aku menyusuri jalan kembali ke kamarku di pesantren kuno, besok aku akan kembali “gadisku”, tunggu daku.

—ooo—

Aku tertegun, asrama putri mengadakan pembersihan besar-besaran, semua dirubah, dibolak-balik tempatnya oleh para penghuni asrama itu, kulihat seseorang berdiri memberikan perintah ini dan itu, sepertinya dia Neng, Putri Pak Kyai. Lalu, bisakah aku bertemu sang gadis? Gadis tangga yang menarik perhatianku? Gadis cantik yang wajahnya selalu terhias senyum manis memikat setiap ada sesuatu yang menggembirakan hatinya, yang tersenyum kala melihat binar bulan purnama, gadis cantik yang terlihat makin cantik saat memakai baju panjang cokelat tua dipadu sarung cokelat susu dengan jilbab senada. Gadis cantik yang bak bidadari surga, yang kugiring sepiku ke pelabuhan hatinya? Ah, aku… haruskah aku kehilangan kesempatan itu? Apalagi barusan Pak Kyai mengumumkan pelarangan masuk asrama putri bagi siapapun yang tidak memakai jilbab, selain cewek, gara-gara provokasi si Neng. Ah, sialan bener si Neng itu!

Gontai aku berjalan ke kamarku, mau lewat mana? Di atas atap asrama putri buntu semua. Sebenarnya sih bisa, tapi izin Pak Kyai langsung kayaknya tidak mungkin, tidak ada peluang 00,01% pun. Atau nekat menemuinya? Aku yakin dia akan menjerit sejadi-jadinya, menangis meraung-raung bahkan pingsan. Bagaimana ya?

Menyelinap lewat dapur rumah Pak Kyai? Semua ventilasi tertutup kawat kasa. Lewat pintu dapur? Si Pussy, kucing putih peliharaan putri pak Kyai yang nggemesin, lucu, cerdik itu dengan setia tidur di depan pintu dapur. Atau lewat tiang listrik, menyusuri kabel? Aha! Tapi, kalau kesetrum? Wah, selamat tinggal deh dunia.

Aku putus asa, akankah dia hanya bisa kurindukan? Aku suka melihatnya, karena kulihat dia begitu dekat dengan Pencipta-Nya, Maasya Alloh, saat dunia sudah amburadul kayak gini, di zaman gila ini.

Tetapi, lagi pula aku yakin dia tidak akan menerimaku, aku tidak terlalu pede soal ini. Gila! Akan sangat gila kalau dia menerimaku, tidak takut denganku saja sudah mending. Eman-eman kalau gadis secantik dia punya kelainan jiwa. Apalagi temen-temen dia sesama santri putri, kebanyakan benci, jijik dan alergi melihat kehadiranku. Padahal bagaimanapun, aku juga punya cinta. Ah, biarlah…biarlah dia bernostalgia, berkasih dalam angan dengan kekasih yang menempati relung hatinya, sesama dia. Atau juga Pencipta-Nya.

Dan aku? Biarlah aku juga melabuh cinta, merindu kasih dengan sebangsaku, sejenisku, sesamaku. Sebab kulihat, tadi di sudut lain dari atas pesantren tua ini, entah dari mana datangnya, ada sepasang mata jelita memperhatikanku. Seekor tikus mungil, yang aku yakin, ia seekor tikus betina yang akan jadi…jodohku…tanpa harus pacaran (*).

Al-Raseefa, Makkah, dini hari

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: