Denting Nada cinta yang lain (lanjutan)

Cerita Malam

Fiuhh … murobathoh lagi! Tapi … ya sudah, ini sudah tugasku, harus kujalankan.
Sebenarnya, sore belum beranjak dari tempat duduknya, ia masih mencangkung menunggu pulangnya matahari, yang kulihat sudah agak bosan kencan dengan siang. Aku sendiri saat ini bersiap untuk tugas nanti. Pun semua orang yang ada di desa ini, terlebih ponpes yang terletak di sudut desa tersebut, tampak semua penghuninya sibuk dengan aktivitas masing-masing, menyongsong adzan Maghrib. Kebanyakan berkerumun di tempat wudlu dan kamar mandi, sebagian di dapur siap-siap buka puasa.
Waktu terus merayap. Bedug Maghrib telah ditabuh. Saat sholat telah tiba dan kusambut dengan gembira. Kulihat, semua orang berbondong-bondong menuju masjid Jami’ ini. aku sendiri mengambil air wudlu, dengan air sisa hujan deras yang mengguyur desa ini barusan. Titik-titik air pun masih nampak satu persatu bertetesan menerpa dedaunan, sebelum jatuh ke bumi membaur dengan air hujan yang mendahuluinya. Kunikmati percikan-percikan air yang terjun bebas dari langit itu.
Sejenak kemudian terdengar koor “Aaamiiin” dari masjid yang diimami seorang pak Haji, berselang tak lama disusul koor dengan lirik sama dari ponpes putri, dekat sekali dengan telingaku. Mengalun syahdu jauh menembus relung kalbuku, “Subhaanakallohumma” tasbihku.
Usai Maghrib, tinggal menunggu Isya”. Kucermati semua kegiatan di desa ini, di ponpes ini juga. Aku berderak kagum, semarak lafadz-lafadz Qur”an mengalun dari mulut-mulut mungil tak berdosa. Masih belum terkontaminasi senyawa karbondioksida kegilaan zaman yang katanya Ronggo Warsito, edan ini. Tak bergeming oleh serbuan gencar acara kartun TV yang sengaja diputar senja hari, saat tabuh berbunyi. Tetap berpegang teguh menelaah UUD yang tak lapuk oleh zaman, yang tak bosan diulang-ulang dan yang tak pernah kena amandemen itu.
Di sisi lain, di serambi masjid, seorang Kiai dikelilingi oleh santri-santrinya, hanyut dalam aliran barokah kitab kuning. Berbagai syarh, ta’liq, mengalir dari bibir beliau, didengarkan, ditingklingake dengan seksama oleh santri-santri mituhu itu, sebagai bekal di hari depan. Aku terkesima.
Tak hanya itu, kudengar alunan lain, paduan suara kompak tanpa dirijen, tanpa instrumen mendendangkan Rotibul Haddad mengalun dari arah Ponpes putri, lebih merdu daripada lagu India, Kuch-kuch Hota Hai, Mann, Kabhi Kushi Kabhi Gham dan sejenisnya. Perasaanku melayang, bersyukur kepada Alloh, ternyata masih ada komunitas yang masih mau menggenggam bara di tengah gemerlapnya dunia yang makin tidak karu-karuan ini. Kutersenyum, malamku masih agak terang, pancaran warna merah merona hitam, belum gelap, Isya” pun berkumandang, sholat tiba.
Sengaja kuberjalan mengelilingi lingkungan santri ini. Entah mengapa aku suka berada di tempat ini. Asma”ulloh al-Husna, untaian sholawat kepada Nabi selalu menghiasi langit daerah ini. Seolah-olah lampu mercusuar berpendar benderang dari tempat ini, membedakan dirinya dari tempat lain yang hanya digaduhkan oleh tawa sengak pemuda-pemuda tidak ada kerjaan. Yang cuma diterangi oleh sinar-sinar kecil yang bermuara dari rokok yang mereka hisap, itu pun masih dikepung oleh asap-asap rokok yang mengkabut, aroma minuman keras menambah busuknya bau gerombolan itu. Mata-mata kuyu tak bergairah namun dipaksa, jelas sekali terukir di wajah tirus morfinis mereka. Ditingkahi dengan petikan gitar berirama tidak karu-karuan. Di sudut lain sekelompok pemuda joget sempoyongan diiringi musik neraka Britney Spears yang diputar dari VCD. Aku menghindar pergi, cih! Jijik memandang mereka, kelakuan mereka lebih tepat. Tapi aku memohon, semoga Alloh memberi mereka hidayah, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti.
Aku berkeliling lagi, lamat kudengar tetabuhan riang berirama rancak, lagi-lagi dari ponpes itu. Bergegas kudekati sumber suara, aku terpesona, ingin rasanya ikut berjingkrak. Denting nada dan instrumental itu bukannya Asereje-nya Las Ketchup atau La Copa De La Vida-nya Ricky Martin. Tapi nadhoman Alfiyah, di sudut lain al-‘Amrithy mengimbangi, tak mau kalah ‘Aqidatul ‘Awwam sama Shorof Jombang melengkapi. Semakin betah daku di sini, mereguk segarnya sirup agama, menghilangkan dahaga, kesegaran yang makin mengering menguap oleh ganasnya kemarau budaya Barat, astaghfirulloh ….
Malamku makin pekat, jarum pendek jam sudah mengarah pada angka 10, semua aktivitas belajar-mengajar di pondok itu telah usai, para santri mulai rehat, bersiap berpergian ke negeri kapuk, diiringi suara jangkrik dan kodok yang saling bersahutan, sebagai musik pengantar tidur yang paling cocok. Bermacam kesibukan jeda ta’lim mewarnai pesantren Salaf ini. Ada yang melanjutkannya dengan muthola’ah, belum puas dengan ilmu yang diterima. Ada juga yang langsung mengganti baju taqwanya dengan kaos, sarungnya dengan celana training, selimut sebagai pengganti surban, juga mengganti kitab dengan bantal atau pena dengan guling. Dan so pasti ada yang menemaniku jaga, murobathoh, atau muroqobah istilah mereka, sekitar 4 santri, yang jelas semua sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Bosan ah, rutukku pelan, sengaja untuk menghilangkannya aku jalan keliling pondok ini. Kulihat seorang santri sendirian berdiri menghadap bangunan di sebelah selatan masjid, asyik melihat “proyek”nya itu. Di bagian lain, seorang santri tampak berlari-lari kecil kesana-kemari sembari menenteng berbagai alat-alat pertukangan yang ada di tas mungilnya. Sengaja juga aku berputar keliling ndalem, iseng kulihat balkon lebar yang menghadap ke timur, di sana ada 3 santri putri, yang dua asyik berbincang membahas majalah pesantren edisi terbaru, sementara yang satunya tampak termenung, entah ia berdzikir karena di tangan kanannya seuntai tasbih tak mau berhenti berputar, entah juga kalau ia melamun, mengingat kekasihnya yang merantau jauh mencari ilmu. Bisa jadi sang kekasihnya itu saat ini juga sedang mengenangnya, memutar kaset perjalanan cinta di antara keduanya. Keindahannya juga kedukaan tak terwujudnya pertautan apalagi jika ternyata jatuh ke teman sepenanggungan. Entah juga kalau ia bertafakkur, menghitung bintang-bintang kecil yang bertaburan mengiringiku, mencoba berbicara dengan bulan yang kini tersenyum lebar dengan kepurnamaannya. Tapi, ah … kalau bulan bisa ngomong (kayak lagunya Doel Sumbang), nampak si gadis itu sedang menikmati panorama ketampananku, anugerah Tuhan duli semesta alam. Malamku makin kelam, cericit kelelawar bersautan bersaing dengan musik Rock ‘n Roll jangkrik dan katak di bawahnya.
Aku berkeliling terus, satu persatu rumah mulai mematikan lampunya, gelap bak pemakaman. Namun tidak dengan masjid ini, juga ponpes ini, otomatis ndalem sang Ustadz pula, meski semua gulita, tetapi tidak dengan kawasan ini, ia tetap hidup dalam kematian, 24 jam. Alunan dzikir tak hentinya membumbung tinggi ke angkasa, membentuk tangga, tangga yang tiada putusnya. Kurasakan kepakan sayap malaikat ramai terdengar di sini, laksana serangga malam yang mengerubuti satu-satunya lampu di taman.
Empat kawanku yang “begadang ibadah” sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang menemaniku keliling, ada yang masak untuk makan tengah malamku nanti, ada juga yang serius konsentrasi dengan kitab kuningnya. Tak ketinggalan musik dzikir Langitan dan Raihan diputar bergiliran, sebagai selingan di tengah kesepian malamku ini.
Dan sekali lagi aku iseng melongok, eh melirik asrama putri, waktu makin gelap, masih ada beberapa santri yang belum terbuai mimpi. Dua gadis ngobrol ngalor-ngidul sembari menunggu sapaan kantuk, terdengar juga bunyi al-Qur”an, bukan dari kaset, lamat terdengar dari Ponpes ini. Getaran halus yang sanggup mendirikan bulu kuduk merinding merayapi diriku, mengalir di seluruh persendianku. Ingin kuteteskan airmata karena terharu, tapi kali ini tiada mendung, aku hanya tersenyum. Kulihat balkon lagi soalnya jendela barat sudah dipaku pati. Mungkin si gadis masih ada … eh … sudah tidur rupanya, atau … mungkin saja bisikan suci ayat-ayat langit itulah yang keluar dari bibir gadis tadi, ah … wallohu a’lam, kuteruskan perjalananku, dini hari hampir tiba, berarti hampir habis pula waktu tugas jagaku.
Sebenarnya ada satu yang kurindukan, bunyi kentengan tiang telepon, yang dulu selalu berdentang tiap jam, diketuk oleh seorang bapak, yang dulu konon pendekar. Namun ia telah menghadap ke Dzat yang dicintainya, 10 Dzul Hijjah yang lalu. Dia istiqomah mengetuk tiang telepon itu, yang kini sudah tidak terdengar lagi, membisu dengan kesunyian malamku.
Sekarang sudah pukul dua hari, seharusnya tugasku sudah selesai, tapi kegelapan menahanku. Waktu terus berjalan, akhirnya yang kutunggu tiba, sholah-sholah terlantun dari salah satu teman jagaku, menggugah alam yang tertidur sejak ba’da Isya” tadi, kala malamku merambat gelap.
Beberapa santri yang asyik bergurau dengan mimpi, terusik dan segera bangun, untuk bertahajjud, kencan munajat dengan Penciptanya, berduaan diantara jutaan makhluk yang tenggelam oleh air liurnya. Aku terharu, semoga mereka dirahmati Alloh, Kreator alam semesta ini, dimasukkan surga-Nya dengan sebuah happy ending, khusnul khotimah. Kuresapi adengan ini, skenario indah Ilahi.
Sejenak kemudian, koor hasbunalloh wa ni’mal wakiil mengalun, yang diawali oleh Sholawat Munjiyat untuk sang Kakek Guru. Berbagai hibz, mulai Nashr, Bahr, Zajr, Syaikh, Nawawiy, Ikhfa”, sampai Sakron, turut menjadi instrumen konser ukhrowi ini. Sesekali pertunjukan ini diselingi oleh tarian, goyangan jari yang membentuk sketsa pagar mengelilingi diri, suur-suur-suur.
Tersusunlah semacam konvigurasi indah di atas kopyah-kopyah mereka, bak rangkaian bunga-bunga mawar, melati, dahlia, anggrek, sedap malam yang akan dihaturkan pada sang pujaan hati. Ribuan entah jutaan malaikat mulai mengepak sayapnya, bersiap membawa rekaman aurad ini untuk diputar di hadirat-Nya, seraya tebaran rahmat dan hujan maghfiroh mengguyur mereka, halaqoh berkopyah juga halaqoh berkerudung. Semua sama, basah kuyup tersiram barokah, walaupun ada beberapa malaikat yang cemberut karena melihat beberapa santri yang ngantuk. Tetapi Alloh telah memberi garansi, ”Hum al qoumu laa yasyqoo bihim jaalisuhum.”
Aku bergumam; Allohumma nikmatnya, Allohumma syahdunya, Allohumma indahnya. Tak tertinggal juga orang-orang yang mau menjauhkan lambungnya dari dipan di beberapa rumah di desa ponpes ini, turut riang berpesta pora, haflah.
Aku berbangga, inilah sepertiga akhir malamku, waktu di mana Robbku turun ke langit dunia seraya berkata,: “Siapa yang mohon ampun kuampuni, siapa yang meminta suatu hajat pasti kukabulkan,” aku tergetar, Allohumma hebatnya. Batu, pohon, binatang malam pun tidak mau kalah, berlomba-lomba mensucikan-Nya, subhaanalloh, Allohumma merdunya.
Waktu makin merayap, pagi masih buta, sang Raja Siang sama sekalipun belum terbangun dari tidurnya, ia masih terlelap, berselimutkan kabut kepekatan diriku yang tebal. Hawa dingin pun masih menyergap membekukan tulang sumsum siang, membuatnya masih enggan menyingsingkan lengan ufuk timurnya, sekedar menyingkap sedikit kuning langsat kulit mulus cahayanya.
Ayam jago pun masih kalah cepat dengan para santri itu, ia malas berkokok, asyik meringkuk di kehangatan kandangnya. Tapi, ah … sebentar lagi Shubuh, dalam hati aku bersenandung, “Malam panjanglah, kantuk hilanglah, Shubuh berhentilah, jangan terbit dulu,” menirukan lagu religius para Sufi.
Namun giliranku sudah hampir habis, adzan Shubuh telah memecah kesunyian, menyambut kawanku yang kini sedang menggeliat. Sebelum istirahat, kusempatkan berwudlu dengan sejuknya embun pagi. Lalu, salam dan senyum siang merekah menyapaku, kubalas salam dan senyuman itu, aku harus bergeser ke barat, rehat dahulu, pun aktivitas ponpes ini telah mendenyutkan kembali nadinya, menyongsong hari baru yang penuh barokah. Disambut dengan iftitah Sholawat Nurul Anwar, diikuti wirid-wirid Robbani blanko kewalian, diramaikan pagelaran Qoso”id dan Anasyid, Allohumma amboi asyiknya.
Kutinggalkan daerah ini dengan penuh kepuasan, ingin rasanya aku tugas lagi, bergegas kembali kesini, bercengkrama dengan santri-santri mituhu ini, tapi ah masih 12 jam lagi. Aku hanyalah malam yang harus berputar. Tiada apalah, toh nanti ke sini lagi, yang penting sam’an wa tho’atan sama Raja Diraja alam ini, menggapai ridlo-Nya.
Kuucapkan untuk kalian, ma’as salamah ilal liqo”, selamat menempuh hari baru, mereguk ilmu, merengkuhnya. Semoga kalian bisa mengamalkannya. Memanfaatkannya untuk diri, keluarga, masyarakat dan bangsa kalian, semoga, Aaamiiin Allohumma, akan selalu kurindu kalian, tunggu daku … 12 jam lagi.
Pujon, akhir 1423 H
* Reshuffle:
Tanah kelahiran. Janib syari’ mauroq al-ijhy,
Jumad 1426 H.
7

Setetes Embun Pagi
By: M. Amiruddin

“Nak, apa kamu sudah mantap melanjutkan cari ilmu di pondok, nggak getun nanti?” kata emakku waktu itu.
“Nggak, Mak. Aku sudah mantap kok. Lagian kata emak, emak kan pingin punya anak yang pinter ngaji, dan berbakti pada orang tua, ya khan?” kataku polos. Mak waktu itu tersenyum tanda setuju kemudian menggeleng seolah kagum dan mengerti benar tekadku untuk mondok, mencari ilmu bekal di hari nanti.
“Mondok iku melarat lho, kudu betah melek, jam telu wes kudu tangi kanggo tahajjud, mangane yo ngono ora enak-enak, gelem mangan karo krupuk utowo iwak asin thok, nek kepingin pedes yo nyeplus lombok, kepingin asin yo ndulit uyah”, nasehat emak sekali lagi.
“Ndak apa-apa, Mak. Sholeh siap kok dengan keadaan itu”, sifat luguku tak bisa dihilangkan, mak spontan memelukku erat tak kuasa menahan haru, berderai air matanya, diciumnya aku berkali-kali.

QQQ

Akhirnya hari itu datang juga, hari pertama kakiku melangkah di kawasan pesantren Salaf yang diasuh ulama alim nan sholeh. Detik, menit, dan jamku yang pertama terisi dengan adegan penelitian dan pengamatan yang terasa asing oleh mata ini. Selanjutnya, malam tak terbendung untuk memaksa mata ini terpejam kemudian bermimpi.
Aneh, tak biasa aku bangun sepagi ini, terdengar sayup-sayup santri tukang mbangunin yang belum sampai di kamarku, tapi tumben, aku bisa bangun sendiri. Pikiranku terheran, padahal biasanya kalau pantatku tidak ditendang delapan kali, aku nggak bakalan bangun. Ini kok bisa bangun sendiri sepagi ini? Mungkin sejak awal ketika ingin kubaringkan tubuh ini, aku dihantui perasaan takut molor, takut kesiangan seperti kebiasaan di rumah, aku harus bangun pagi, malu sama santri di sini tekadku.

QQQ

Siang berganti malam, dan malam pun terbilang hari bersama jati diriku yang baru. Ya, mulai dari aktivitasku yang banyak diisi dengan mempelajari ilmu agama, bangunku yang harus pagi, sholatku yang harus tepat waktu, kalau tidak kepingin dijemur sambil nulis sholawat, atau mengeruk selokan dekat pondok putri, mandi yang selalu antri, dan hal-hal baru yang masih banyak lagi. Nahwu, pelajaran baru yang namanya baru aku dengar tadi pagi. Aku nggak ngerti pelajaran apa itu, yang jelas aku mulai berkenalan dengan ini pelajaran, ada kalam, kalimat, kalim. Waduh mbulet amat pikiranku, padahal baru membedakan tiga biji definisi saja. Iki piye toh, tapi lama kelamaan ngerti juga, aku dapat membedakannya.
Masalah tidak sampai di sini, ngaji Qur”anku pun masih lamban sekali, belum lancar, mungkin dengan anak Diniyah pun aku kalah. Pelajaran yang namanya Shorof Jombang pun nggak ketinggalan menuntut untuk dihafalkan. Entah berapa kali aku harus dijemur di lapangan gara-gara nggak hafal-hafal, atau pas lagi suntuk aku pun mbulet nggak mau menghafalkan.
Hingga waktu berjalan, tak terasa sudah beberapa tahun aku tinggal di pondok. Yang penting kini aku menginjak untuk menghafalkan nadhoman al-‘Amrithy yang katanya ada 250 biji itu. alhamdulillah, dalam jangka satu bulan aku menghafalkan pembukaannya dan mulai menginjak bab Kalam, alhamdulillah dalam waktu tiga minggu pun selesai, meskipun harus dijemur beberapa kali, belum lagi ejekan dari teman-teman yang membuat dada ini sesak seperti mau meledak.

QQQ

Entah, setan apa yang merasukiku, dedemit apa yang berhasil merayuku hingga semangatku tiba-tiba ambruk. Aku benar-benar nggak kuat lagi, aku benar-benar putus asa. Memang aku menerima, aku ikhlas Tuhan telah menciptakan aku dengan otak yang tidak cerdas. Tapi, kenyataan berbicara lain, aku benar-benar lemah, aku tak kuat lagi menyelesaikan tugas ini. Ya Alloh, tolonglah hambamu … Ya Rosulalloh bantu umatmu yang banyak dosa ini .…
Tuhan tunjukkanlah jalan
Agar kulupakan semua
Kegagalan hidup ini
Bisa berlalu dalam hidupku

QQQ

Kaleng susu kosong itu kutendang keras-keras hingga terpental jauh kemudian berputar-putar tak teratur seperti ruwetnya pikiranku saat ini. Langkah kakiku kian lama kian gontai, seakan tak kuat lagi meyanggah tubuh yang berat ini, seakan tak kuat meyanggah beban yang memusingkan ini. Haruskah aku meninggalkan pondok kesayanganku, teman tercinta, apalagi guru terbaik?
“Haruskah aku menyerah sampai di sini dan putus asa?” Tak terasa tubuhku ambruk di tanah becek bekas hujan, mulutku meringis, hatiku menangis, menangis sejadi-jadinya, air mataku kian deras mengalir, menjadi saksi bisu. Oh Tuhan … haruskah riwayatku tamat sampai di sini dan belum setetes pun madu yang kuharapkan berhasil kucicipi? Oh Tuhan .…

QQQ

Kuketuk pintu kamarku dengan lesu sembari mengucapkan salam dengan suara perlahan. Suara ibu dari arah dapur lirih aku dengar menjawab salamku.
“Eh, kamu toh le, lho kenek opo sampeyan? Kok pucat, kamu sakit ya le? Bilang sama emak!” Aku hanya diam dengan kepala tertunduk lesu.
“Ada apa toh le … cerita sama emak, ayo ngomong sama emak!”
Selanjutnya aku tak kuat lagi menahan air mata ini untuk menetes, dan emak pun memelukku tak mengerti. Aku merasa hangat, hangat sekali meskipun belum bisa menghilangkan kegundahan jiwaku saat ini.

QQQ

Hari-hariku di rumah dipenuhi dengan tidur dan tidur, atau merenung di belakang rumah. Aku yakin emak heran melihat perubahan sikapku yang drastis, yang biasanya ceria, kini tiba-tiba murung dan senang menyendiri di kamar, makan kalau tidak diundang beberapa kali baru mau makan. Sudah beberapa kali emak mempertanyakan tentang diriku dan berusaha membujuk aku supaya mau menceritakan apa yang terjadi, tapi jawabanku selalu sederhana, “Nggak ada apa-apa kok, Mak. Cuma Sholeh kurang enak badan.” Untuk saat ini mak nggak boleh tahu dulu bahwa aku ingin keluar dari pondok, aku nggak ingin membuat emak kecewa secepat ini.
Hidupku kini tiada arti.
Bagaikan burung di dalam sangkarnya.
Aku ingin bebas dari derita.
Tuhan tolonglah diriku
Dari belenggu nestapa

QQQ

“Le … kapan sampeyan berangkat le …? Nanti sampeyan banyak ketinggalan pelajaran lho, engko dimarahi pak guru nek ditakoni ora biso.” Emak yang melihat aku kembali segar mengingatkan aku lagi pada pondokku.
“Cukup emak saja yang nggak bisa ngaji, jadilah santri yang penurut, patuhi nasehat guru, patuhi segala peraturan, teruskan cita-cita emak yang kandas, emak dulu pengen bisa ngaji tapi nggak punya ongkos untuk naik angkot ke rumah pak Kiai, dan emak nggak bisa beli kitab karena adik-adik emak yang masih kecil saat itu. Pokoknya kamu harus membuat emak bangga, emak mengidamkan bila punya anak yang pinter ngaji, rasanya hati ini disiram es yang sejuk”, mata emak menerawang ke luar jendela sembari tersenyum, seolah beliau yakin apa yang dia idamkan bakal tercapai.
Melihat pemandangan ini dan mendengar kata-kata emak barusan, mataku tak kuat untuk tidak berkaca-kaca, segera kupalingkan wajah dari pandangan emak sebelum akhirnya butiran bening itu menetes lagi. Aku masuk ke dalam kamar, kutumpahkan sepuas-puasnya isak tangisku, hingga akhirnya aku tertidur pulas, pulas sekali.

QQQ
Kepalaku tertunduk menekuri lantai, sementara Syaikhunaa marah hebat, nasehatnya kini benar-benar membuat mataku berkaca-kaca.
“Bukan jantan orang yang pasrah pada Qodlo Qodar. Rubah nasibmu, tingkatkan taqwamu, maka ilmumu akan ditambah, ilmu itu dari Alloh bukan dari kekuatan belajar, ingat:
اَلْعِلْمُ مَوْهِبَةٌ
Wis, pokoke sing tenanan, ngaji sing tenanan, ojo kumantel karo awak, kumantelo karo Alloh, mangkane jaluko maring Alloh.
Ojo takluk karo Nahwu,
هِمَّةُ الرِّجَالِ تَهْدِمُ الْجِبَالَ
Pokoke dadio wong giat, sing temenan, madepo maring Alloh. ngerti nggak kang!!!”
Dawuh-dawuh Syaikhunaa barusan bagaikan sebuah obat kuat, bagaikan spirit, laksana bayam bagi Popeye si pelaut, hingga membuat tubuhku melayang, seakan terbang tinggi. Tapi tiba-tiba jatuh, bruk …. Kulihat sekelilingku, pemandangan yang tak asing bagiku, terlihat tembok-tembok kamarku. Ternyata aku jatuh dari tempat tidur.
Tapi sungguh aneh … aku merasakan perasaan yang luar biasa, aku seperti menemukan semangat baru dalam hidupku.

Akhirnya aku bangkit, kukemasi lagi barang-barangku, besok tepat hari Rabu aku akan kembali ke pondok dengan niat menghilangkan kebodohan diri sendiri, selanjutnya menyebarkan ke tengah-tengah masyarakat. Aku bertekad untuk membahagiakan orang tua, aku tidak ingin mengecewakan mereka, meskipun Alloh menciptakanku dengan kecerdasan yang sangat kurang, aku nggak perduli.
Hanya satu kenyakinanku
Bintang kan bersinar
Menanti hidupku
Bahagia kan datang

Matahari pagi
Pancarkan sinarmu
Agar aku merasakan kehangatanmu
Biarlah mimpi buruk kemarin
Tetap menjadi sebuah mimpi.

QQQ

Untuk yang merasa, jangan menyerah yah. Mulai hari ini, buka sebuah lembaran baru, tatap dunia, tatap masa depan tuk meraih cita-citamu. Ingat!! Gusti Alloh Maha Rohman Rohim. Setuju? Wassalam.

8

Sang Gus

Percakapan empat mata itu tiba-tiba hening, sehening malam itu.
“Jadi, benar apa yang kamu katakan itu?”
“Hmm, setidaknya begitu, melihat gerak-gerik mencurigakan selama ini, juga bisik-bisik yang terdengar nyaring. Tapi … kita harus ada bukti juga, insya Alloh aku akan mencari informasi lebih lanjut.”
Tak ada jawaban, hanya terdengar gemeletuk gigi disertai desahan nafas berat, sebelum sekepal tangan memukul dampar kayu yang biasa dibuat ngaji, yang ada di depannya, ada kemarahan di sana.
“Memang, jendela itu harus kututup, sejak dulu ia sering menimbulkan fitnah”, ujarnya seraya sepasang matanya menyorot tajam mendongak ke arah jendela pondok putri, yang malam itu sudah menutup dan gelap.
Teman bicaranya hanya diam, tidak menyahut. Cuma desau angin malam yang menjawab rangkaian kata-kata itu barusan.

QQQ

Seantero ndalem dan pondok putri sudah berdenyut kembali dengan aktifitas ta’lim, begitu juga pondok putra, setelah istirahat sejenak untuk masak, mandi, cuci, muthola’ah, dan sebagainya, pagi itu pukul delapan lebih sedikit. Dengungan do’a “Sa”altu” dan qoso”id terdengar dari semua sudut pondok itu, terutama dari kelas yang ada di ruang tamu, kelas Nahwu, terdengar lebih jelas.
Tetapi seorang pemuda masih nampak berdiri mematung di depan TV, dahinya terlihat berkerut, ada sesuatu sepertinya yang kini memenuhi pikirannya.
“Mahmud, kamu nggak ngajar?” suara teguran dari meja makan membuyarkan lamunan pemuda itu.
“Oh … Sebentar lagi, Ba .…” Hanya jawaban pendek itu yang muncul, Syaikhunaa meneruskan sarapan paginya itu.
Sejenak kemudian, desahan berat terdengar keluar dari bibirnya, ia matikan TV dengan remote yang ada di genggamannya. Gontai ia berjalan ke kamarnya.
Dan di ruang tamu, pemuda itu sejenak menghentikan langkahnya, ketika melewati santri putri yang asyik berbincang satu sama lain mendiskusikan pelajaran Nahwu mereka, buat persiapan menghadapi rentetan pertanyaan dari sang guru yang pasti marah besar jika pertanyaannya tak mampu atau keliru dijawab.
“Eh, gimana I’robnya Aamantu billah?” ucap pemuda itu setelah diam sebentar. Serentak wajah-wajah berbalut jilbab itu mengarahkan pandangan lembut mereka ke sang pemuda yang berdiri di belakang mereka, sebelum diikuti senyuman sembari menunduk dari wajah-wajah ayu itu, malu.
Tak ada jawaban kecuali bisik-bisik sambil sedikit tawa kecil dan saling pandang di antara mereka.
“Masak tidak bisa? Apa malu? Jangan takut. Nahwu itu gampang, kalian harus hafal semuanya di luar kepala, rugi lho kalo nggak hafal. Nahwu nggak sulit kok, aku dulu juga sering dimarahin seperti kalian, tapi hasilnya? Masya Alloh .…” dicobanya memberikan semangat dan kekuatan ke sekelompok santri putri itu, santri-santri asuhan Abah-Uminya. Kini, sembari mengulas senyum manis penuh makna yang menghiasi wajah teduh berkaca mata itu, meski agak sedikit dipaksakan. Lantas diteruskannya langkah ke kamar, bersiap mengajar.

QQQ

Tak ada keterangan istimewa yang disampaikan Mahmud di ta’lim Nahwu untuk fashl awwal pagi itu. Tidak seperti biasanya, ia malas juga tidak streng, pun bubar lebih dini. Setidaknya santri fashl awwal hari ini keluar kelas dengan perasaan lega, karena tidak ada satupun umpatan “Goblok!!” dari si Gus yang terkenal killer kalau mengajar itu.
Setelah mengajar, dengan agak mendadak, Mahmud mengumpulkan senior-senior. Ada sesuatu hal yang pelik rupanya, mereka segera duduk-duduk di tempat biasanya Ustadz Ishom mengajar, fashl robi’, kelas tertinggi di pondok itu.
“Kalian telah dengar isu tersebut kan?” Mahmud membuka percakapan, dingin, semua mengangguk dan mengarahkan pandangan kepadanya.
“Apa yang harus kita lakukan Gus?” Ustadz Zainuddin mencoba memancing pertanyaan, Mahmud hanya menerawang, tak ada jawaban.
“Masalahnya, kalo ini terjadi antar santri sih mungkin tidak serumit ini, tapi ini keluarga ndalem,” agak hati-hati Ustadz Ishom mengucapkan kalimat itu, takut sang Gus tersinggung.
“Ternyata, berat juga memikul sebuah amanah, apalagi kalau menyangkut langsung orang-orang yang kita cintai,” akhirnya, keluar juga suara Gus Mahmud.
“Tahu kan, asbabul wurudnya Lau kaanat Faathimatu bintu Muhammad saroqot, la qotho’tu yadahaa?” ujarnya lagi seraya menatap wajah-wajah senior itu.
“Bagaimana pendapat kalian?” Semua terdiam.
“Tapi sungguh, desas-desus itu membuat hatiku panas, peraturan telah dilanggar. Mungkin, kalau sekedar cinta, aku masih bisa mentolelir, tasaamuh, karena itu wajar. Tapi, kalau lebih dari itu .…” Kalimat itu terputus, berganti dengan pukulan pelan dari tangan yang terkepal erat ke arah meja di depan Gus muda itu.
“Apa langsung ke Syaikhunaa, Gus?” seorang ustadz muda berkacamata yang terkenal suka membaca mengeluarkan usulnya.
“Tidak, jangan langsung ke Syaikhunaa”. Tiba-tiba usulan itu dihalang oleh Mundzir, Ro”is Aam yang juga sepupu Mahmud.
“Sebisa mungkin, kita terlebih dahulu yang menyelesaikan masalah ini, baru ke Syaikhunaa. Tapi … yah … terserah Gus Mahmud juga, soalnya .…” Mundzir tak meneruskan kalimatnya, matanya melirik ke Ustadz Ishom.
“Benar, Mundzir benar .…” Gus Mahmud mengangguk-angguk sembari memegang dagunya.
“Lagipula, aku masih kasihan dengan dia, juga dengan adikku sendiri. Aku tahu betul bagaimana Syaikhunaa bila mendengar kata pacaran, aku tak sampai hati juga hal ini terdengar Syaikhunaa. Malah, aku lebih berani melaporkan kasus pencurian daripada pacaran kepada beliau.” Urainya.
“Ah … ‘ala kulli haal, ketegasanku kali ini diuji dan ditantang,” Gus Mahmud duduk tegak, pandangan dibalik kaca itu lurus ke depan.
“Tapi … aku akan tutup dulu jendela-jendela keparat itu!” Tiba-tiba nada suara Gus Mahmud sedikit meninggi, ada emosi tertahan disana.
“Lalu, langkah kita, Gus?” Ustadz Ishom mencoba bertanya lagi.
“Ah, Ustadz, antum paling senior di pondok ini, termasuk murid pertama Abah saya, qudamaa”. Aku kira antum lebih tahu langkah yang harus kita lakukan. Tetapi tetap, kita selidiki lebih dulu agar lebih jelas beritanya. Kamu juga Ustadz Zainuddin, aku tahu kamu lebih dekat dengan dia.”
“Terus sampeyan sendiri, Gus?”
“Sebagai sadd-ud dzari’ah, akan kupanggil dia dulu, akan aku tahdzir dia. Kalau memang ini benar, setidaknya dia hati-hati. Dan kalian bergantian menanyai dan terus menggali informasi, ini demi kebaikan kita bersama, terutama bolo pleknya,” Mahmud menerangkan strateginya.
“Ehm … tapi sampeyan setuju nggak Gus, seumpama dia .…” Ustadz Zainuddin mencoba mencairkan suasana tegang itu.
Mahmud paham pertanyaan itu, dia hanya tersenyum tipis, “Yang diinginkan adikku harus hafal Alfiyah, Qur’an dan bisa melewatiku.” Semua tersenyum simpul.
“Oh iya, tidak pakai intel-intel Dephan, Gus?” Mundzir mengingatkan.
“Kali ini tidak, aku agak kecewa, Udin yang sejak awal kupasang sebagai intelku ternyata …” Gus Mahmud tidak meneruskan kalimatnya. Tetapi dia membongkar satu nama intel yang begitu dia rahasiakan selama ini dan menjadi momok menakutkan bagi setiap santri itu.
“Oh iya, Gus,” Ustadz muda berkacamata tiba-tiba mengalihkan semua mata menuju padanya.
“Aku ingat sesuatu, selama ini menjelang tidur, sayup-sayup aku dengar Udin bicara dengannya. Sepertinya bukan Neng Salwa yang mereka bincangkan. Ada nama lain, Rani,” terangnya.
“Rani?! Huh .…” Gus Mahmud hanya tersenyum tipis, sinis.
Dan pertemuan singkat itu harus diakhiri, karena semua santri sudah menata shof, Dluha berjama’ah.

QQQ
Hari-hari ini pondok nampak begitu menggerahkan, setidaknya bagi seorang santri yang kali ini terpekur di kamarnya. Namun tidak bagi teman-temannya, rupanya ada santapan hangat nan empuk di depan mereka. Paling tidak lumayanlah buat intermezzo, selingan dari ketegangan belajar, sudah lama juga pondok tidak ada bahasan aneh, nggak KISS, Kisah Seputar Santri.
Malah lebih seru dari mading, begitu salah satu santri bilang. Dan gosip itu tak akan sesanter ini andaikata pelakunya “hanya” santri biasa, wong gitu aja udah heboh, apalagi ini, melibatkan langsung Neng Salwa, putri Syaikhunaa!
Entah angin apa yang bertiup, tiba-tiba sang Neng terlibat cinta dengan seorang santri yang memang selama ini terlihat unik di depan teman-temannya. Antiknya, ternyata si santri membalas cintanya tanpa tahu kalau yang ia cintai adalah Neng!
“Sangar tenan, wis pinter opo de’e?!”
“Sopo seng disenengi?”
“Neng Salwa, jarene .…”
“Dudu’, ora Neng Salwa, gendeng tah lah?! Wong jarene Rani kok .…”
“Rani? Mosok? Jarene mbakku Neng Salwa, gak ono jenenge Rani na’ pondok iku .…”
“?????”
Tak hanya pondok putra, di pondok putri kasak-kusuk itu lebih panas lagi.
“Apa kehebatan dia sih? Kok Neng Salwa sampai tergila-gila?”
“Pake’ pelet kali”
“Huss …!!!”
Hal itulah yang memusingkan Mahmud, dia seolah ditampar dua kali, kiri kanan. Pertama dari peraturan yang jelas dilanggar adiknya, kedua dari adiknya yang memicu pelanggaran itu … kedudukannya sebagai ketua keamanan serasa dilecehkan.
Dan rahang si Gus semakin mengeras, bibirnya mengatup rapat dengan suara derak gigi yang terdengar jelas, ketika dia mendengar informasi, ternyata keduanya sering surat menyurat, janji jumpa di pasar, saling senyum dari jendela! Bahkan kala tahu adiknya mengajak temannya ke rumahnya, meski tidak bertemu, wajahnya seolah dicoreng lumpur dicampur kotoran.
“Ini penghinaan, mencoreng nama baik, melanggar syara’, adab! Kurang ajar! Setan apa yang membisiki Salwa sehingga seberani itu! Bangsat!” Mahmud mengumpat keras sendiri, sengaja masalah keluarga ini dia simpan, Abah-Uminya sengaja tidak diberi tahu. Sikapnya di depan Salwa pun masih pura-pura tidak tahu apa-apa, menunggu waktu, pikirnya.

QQQ

Tanpa menunggu lama, sore itu Mahmud segera memerintahkan penutupan semua jendela barat. Siang sebelumnya, dia konsolidasi dengan pengurus pondok putri memperketat waktu dan jumlah santri yang keluar.
Sore itu juga, si Gus memanggil si santri. Meski kemungkinan dia mengira bahwa masalahnya, paling tidak siapa yang dia cintai belum bocor. Tapi, Gus Mahmud rupanya sudah tahu semuanya.
“Kamu mengerti kan, apa aturan di pondok ini?” santri itu hanya mengangguk, matanya tak berani memandang Mahmud.
“Kamu juga mengerti kan apa undang-undang di pondok ini?” Mahmud menatap tajam pada pemuda itu, yang ditatap makin menunduk, sepertinya ia benar-benar ketakutan.
“Akhir-akhir ini aku mendengar desas-desus masalah percintaan seorang santri pondok ini. mulanya sih aku menganggap hal itu sepele, saolnya sebulan yang lalu pernah beredar gosip semacam itu, jadi aku anggap gosip kali ini juga sama”. Gus Mahmud berdiri seraya membelakangi pemuda itu.
“Dalam hal ini, masalah ini aku yang akan menangani langsung, keamanan ada dibawahku”. Mahmud berujar tenang, kata-katanya penuh wibawa, mirip sekali dengan Abahnya. Dia masih memberi kesempatan santri itu untuk “memperbaiki diri”. [ Baca kembali “Awal yang Indah Akhir yang Didamba”, AM. Ilalloh, DCP 2003.]

QQQ
Salwa hanya bisa menangis. Mahmud kakaknya, menasehatinya dan mencecarnya habis-habisan.
“Kali ini kamu hanya bisa menangis, Salwa, kamu tidak bisa lapor Abah-Umi, kalau tidak kamu bunuh diri kamu sendiri, ” Mahmud berkata tenang.
“Aku sarankan, jangan teruskan, aku tidak setuju pemuda itu, lagipula kamu masih kecil. Ngerti apa kamu?! Terus setan apa yang membisikimu sehingga kamu seberani dan senekat itu? Merusak nama Abah, pondok, mbah dengan cara seperti ini?!” Tak henti Mahmud menyudutkannya.
“Kakak kejam, hanya mau menang sendiri, lihat diri kakak juga! Bagaimana dengan Mbak Fauziyah?!” Dalam tangis Salwa melontarkan pertanyaan sangat memojokkan itu, Mahmud terdiam mendengar nama Fauziyah disebut.
“Kamu benar Salwa, tapi akibat yang ditimbulkan laki-laki tidak separah yang ditimbulkan perempuan. Kehormatan keluarga tergantung di perempuan,” Salwa lagi-lagi terdiam, dalam hati dia membenarkan ucapan kakaknya itu.
“Lagipula, keadaan tidak memungkinkan bagiku untuk tidak bertemu Fauziyah, aku masih pulang ke rumah, Fauziyah kalau ngaji pun turun ke bawah. Setidaknya aku tidak pernah berduaan, surat-suratan dengannya. Aku hanya mencintainya dan itu normal. Lagipula … aku tidak pernah ke rumahnya”, kalimat terakhir Mahmud benar-benar membungkam Salwa, ditinggalkannya adik kesayangannya itu dalam kesendirian.
“Ini karena … aku menyayangimu, Salwa,” Mahmud berbisik lirih sendiri seraya melangkahkan kakinya ke masjid.

QQQ

Sejak Mahmud memanggil santri itu, dan menatar adiknya, berangsur namun pasti keadaan membaik, keduanya nampak mengambil sikap hati-hati.
Dua bulan pun berlalu, seolah kasus itu selesai sama sekali, semua pun berjalan normal seperti sedia kala. Mahmud bisa menghirup nafas lega.
Tapi kelegaan itu hanya berumur dua bulan. Ya! Dua bulan. Tanda-tanda ke arah situ tampak berdenyut lagi. Kerinduan tampaknya yang mendorong si santri beraksi lagi. Di saat yang sama pula, satu persatu mata-mata Mahmud melaporkan hasil di lapangan. Termasuk tingkah Udin yang selalu mencurigakan akhir-akhir ini, apalagi saat jaga.
Dan kemarahan sang Gus mencapai puncaknya, saat dia mendengar dari mata-mata santri putri, bahwa santri itu bertemu kembali dengan Salwa, dan di antara keduanya ada seorang santri putri lain, di salah satu toko dekat kompleks pondok.
Sayang memang, Mahmud tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya. Tapi pegangan dia hanya satu, ini adalah pelanggaran, pertemanan lain jenis non mahrom adalah terlarang! Hanya itu.
Mahmud juga merasa kehormatannya sebagai ketua keamanan diinjak-injak. Juga … ghoiroh, ya… api itu berkobar hebat.
Satu tekad tiba-tiba menggumpal di hatinya, kebenaran harus ditegakkan meski pahit. Ini adalah tantanganku, ketegasanku diuji, jangan coba-coba mempermainkanku. Benak Mahmud bergejolak hebat. Semua harus tetap dijalankan, meski menyangkut adikku sendiri, apalagi sepupuku.
Andaikata Fathimah putri Muhammad mencuri, maka sungguh akan aku potong tangannya!
Tiba-tiba hadits itu berngiang di telinga Mahmud, sesungging senyum kemantapan tergores di wajahnya.

QQQ
Semua serba kebetulan, pagi itu Syaikhunaa berangkat ke Ibu Kota menghadiri musyawaroh para Kiai.
Dan sebelum ta’lim kelasan jam delapan, usai Dluha, kelihatan dengan penuh amarah, Mahmud memerintahkan semua senior berkumpul di kantor keamanan dan menyuruh anak memanggil santri itu.
Setibanya di kantor, tanpa basa-basi dan sejenak setelah melepas kacamata minusnya, Mahmud segera memukuli pemuda itu habis-habisan. Dan ia hanya merintih pelan seraya mendesir, sama sekali tidak ada usaha membela diri.
Wajah pemuda itu benar-benar hancur, darah mengucur dari mulut dan hidungnya. Dalam keadaan seperti itu, dia masih berdiri tegap seraya bersandar di dinding.

Suasana di dalam kantor itu yang semula tegang kini menjadi haru. Para keamanan dan senior berusaha mencegah Si Gus agar tidak meneruskan penyiksaan lagi, karena terlihat jelas ini bukanlah ta’zir yang biasa, lebih mirip dendam yang membara.
“Sudah Gus, hentikan Gus”. Ustadz Ishom mencoba menahan Gus Mahmud, berangsur kemarahannya mereda.
“Kini … kini … kam … mu boleh … meninggalkan pondok ini, kem … kemas … kemasilah barang-barang kamu, tafadlol!” Suara Gus Mahmud tersendat, dan dengan tanpa nada marah sama sekali.
Beringsut pemuda itu keluar, ia melangkah dengan tenang, meninggalkan tanda tanya dan sumbangan simpati yang tampak pada wajah-wajah para senior dan sebagian santri yang berdiri menunggu di luar kantor.
Suasana saat itu benar-benar lain dari biasanya, tenang, sunyi, kompleks pondok putra nyaris tak berpenghuni. Dan setelah berbicara sebentar di kantor, Gus Mahmud berjalan menuju tempat wudlu.[ Baca lagi “Awal yang Indah Akhir yang Didamba” bag, 10, DCP 2003.]
Usai wudlu, saat masih di kolam kaki, Ustadz Zainuddin menghadang langkah Gus Mahmud.
“Gus, apa tidak berlebihan mengusirnya?!” Ada nada protes di sana. Mahmud hanya tersenyum, dia memahami apa yang terpendam di hati lawan bicaranya itu.
“Tidak, aku tidak mengusirnya sungguh-sungguh, karena aku tidak punya hak untuk itu. Hanya Syaikhunaa yang bisa mengusir di pondok ini, aku tidak,” ujarnya tenang.
“Lantas, kenapa sampeyan seperti itu? apa faedahnya?” Zainudin agak menahan emosi.
“Santai, Zain, aku hanya memberi pelajaran pada yang lain, lebih baik korban satu daripada seisi pondok ini rusak. Aku juga ingin memberitahu, bahwa keamanan benar-benar tegas, juga … seperti itulah akibat yang melanggar. Aku … ingin seperti Sayyidina Umar, Zain,” Mahmud menatap Zain dengan teduh.
“Nanti, seumpama dia kembali, aku akan tetap menerima kehadirannya dengan tangan terbuka, dengan catatan dia tidak mengulangi perbuatannya. Meski aku sadar, aku berdosa, karena tindakanku dengan memukulinya, menghantam wajahnya adalah kedzoliman tersendiri. Tapi … ini adalah akhoffu dzororoin, Zain. Bahaya yang paling ringan,” panjang lebar Mahmud berbicara, matanya menerawang ke langit biru, seolah minta ampunan.
“Walau dengan ini, aku masih punya haq adami padanya. Suatu saat, aku akan meminta maaf padanya, meskipun dia nanti balas memukulku.” Mahmud kini tersenyum penuh makna. Zainuddin hanya terdiam, tak berkata apa-apa lagi.
“Sudah aku pertimbangkan dengan matang semua akibat dari tindakanku ini, Zain.” Ucap Mahmud seraya berjalan meninggalkan Zainuddin sendirian. Dan Zainuddin memandang tubuh sang Gus yang berlalu dengan masih mematung di samping kolam kaki.
Dan dari kejauhan, sesosok tubuh dengan wajah lebam amburadul berjalan gontai sembari memanggul tas di punggungnya. Dia berjalan melewati depan ndalem, sejenak dia berhenti, memandang ndalem Syaikhunaa, ada sesuatu yang dikenangnya. Santri itu, pergi dengan diiringi pandangan iba beberapa pasang mata.
Di saat yang sama pula, dari serambi masjid, sang Gus menghela nafas, melihat kepergian pemuda itu, yang selama ini ternyata akrab dengannya juga, berat.
Sementara itu, di sudut yang lain, terlihat Udin mendadak salah tingkah, keringat dingin mengucur dari dahinya, saat matanya bertatapan dengan mata sang Gus yang tiba-tiba bersinar tajam.
Sesaknya, nafas di dadaku, mengenang percintaan kita.
Dapatkah, kita meneruskan impian dan harapan kita.
Di hatiku masih luka, namun ku tetap bersabar, ku mengerti perasaanmu, duhai … ooo … sayang.
Rindu bergelora, resah gelisah nafas cinta, biar pun seribu luka, tak bisa menghapus cinta.
Entah mengapa aku, masih sayang padamu, karena engkau adalah kekasihku.
Nafas cinta … ooo … [ Nafas Cinta, Inka Cristie/ Amy Search.]
Pagi itu berlalu dengan tenang, menyisakan selaksa kenangan.

QQQ

Malam Jum’at, dapur ndalem.

“Mbak, sampeyan belum ngomong, siapa orang ketiga yang menghubungkan dia dengan Salwa. Pasti dia mak comblangnya, tidak mungkin tidak”, pemuda itu berkata tenang seraya menyeruput wedang jahe yang dibikinkan si Mbak.
“Engg … itu … nggak usah Gus, lagian sudah selesai kan?! Cukup sudah.”
“Hmm …begitu?! Apa sampeyan ikut menutupi kesalahan yang nyata? Memungkiri yang hak? Membuka peluang yang lain?! Seolah ini tidak apa-apa, membiarkannya bebas?!” cecar pemuda yang dipanggil “Gus” tadi.
“Bukannya begitu, Gus, tetapi …”
“Katakan kalau begitu. Terus terang, lancang betul perempuan itu, berani-beraninya dia, cari mati apa?!” Alis sang Gus mulai bertaut, matanya agak memerah.
“Dia … sebenarnya nggak setuju, Gus.”
“Tapi masih jadi tukang pos, begitu!?!” Si Mbak hanya terdiam sembari menunduk, dimain-mainkannya kain lap yang ada di tangannya.
“Siapa dia, Mbak .…”
“Tapi jangan diapa-apakan Gus yach, kasihan dia nanti, cukup saudaranya saja,” mohon si Mbak, hanya ada senyuman begitu sinis dari sang Gus.
“Qul-il haqq, wa lau kaana murro!” Si Mbak tidak bisa berkutik.
“Emm … itu Gus … Ruri”.
Terlihat sang Gus mengangguk-angguk pelan, tiba-tiba terukir segaris senyum di wajah sang Gus. Bukan! Itu bukan senyuman, tetapi … lebih mirip sebuah seringai yang menakutkan. Ya! Sebuah seringai … kebenaran, lebih tepat.
“Ooo … Ruri, dia rupanya … hmmm”.

QQQ

Tundhobawi, Makkah.
27 Sya’ban 1425 H.
Cerpen ini bisa disebut, sekuel lain dari “Tak Ada yang Tak Ada di Dalam Cinta” nya Mas A.M. Ilalloh.
Gimana, pas ga’?? He … he … he …
Sekedar pengusir sepi dan rindu.

Kata Mereka

Kalo komentarku gini, salut sambil manggut-manggut, apalagi saat ngebaca cerpen yang judulnya itu Sang Goes, aku sampek tegang bukan main, kalo bukan gara-gara “meskipun secara variatif cerita dan kekreatifan imajenasi Dst…” di kepalaku udah ada rencana bikin sekuel-sekuel lanjutan yang lain, semisal Aku Bukan Orang Ketiga atau si Gus bertemu lagi dengan anak itu di sebuah pesantren lain yang judulnya Aku di Sini Untukmu, aduh seru nich kayaknya…
Kalo dilihat dari segi bisnis, kumcer ini nggak punya prospek yang cerah, maksudnya gini, seandainya yang ngebaca itu bukan santri, tapi ada cita-cita ingin nyantri di hati, anak itu pasti mengubur keinginan mondok itu, soalnya emage tentang kesengsaraan nyantri begitu jelas, didukung warna keganasan seorang gus yang begitu mencolok.
Tapi kalo diteliti dengan cermat, usai membaca cerpen-cerpen di buku ini, juga cerpen lain karangan penulis, aku mau bilang salut lagi, dan muncul satu pertanyaan, lebih tepatnya permintaan, kapan sosok “mundzir” dalam cerpen sang Gus di fiktifkan sebagai tokoh utama, juga? Soalnya aku rasa akan banyak hikmah dan contoh kedewasaan di sana!

Ahmad Muhajir Ilalloh
(Mantan Pimred & Redpel majalah Ad-Dliya)

Apik, komentarku wes ngono ae, sebenernya aku belum tuntas membacanya, tapi dilihat dari kesemua cerita sudah jelas bagus, soalnya aku ndiri belum bisa buat yang kayak gitu, soale belum banyak pengalaman, yang fiksi aja aku juga belum bisa, jadi kalian-kalian yang baca nih komentar, doaian aku agar bisa nulis yang kayak gituan dan bermanfaat tuk semua pembaca. Yah karena hanya itu yang bisa saya omongin tuk ngomentari buku DNC ini moga-moga aja aku juga bisa nyusunin kata-kata yang tepat untuk nyusul kumcer ini. Maapku juga kalo komentarku paling jelek diantara komentator. Al afwu minkum.

M. Hasan al-Chodlir
(Redaksi majalah ad-Dliya)

“Mad, tolong mas Hifny, Amiruddin, Zabid, yek Husein, Hajir (kalau ada) dan kamu, beri tanggapan atas cerpen ini.” kurang lebih begitulah sedikit catatan yang ditulis oleh penulis kumcer ini. Beliau minta agar redaksi Dliya’ memberikan tanggapan atas kumcernya. Dan salah satu dari mereka adalah aku, Aly Zabidy Ahmad.
“Nggak usah banyak-banyak, sedikit wahe, biar nggak ngentekno halaman” begitu lanjutan keinginan penulis.
Sebuah tanggapan akan berkesan dan mempunyai nilai yang dalam serta patut dipertimbangkan apabila tanggapan itu muncul dari seorang ahlinya. Dan terus terang saja, aku dalam hal ini, bukanlah seorang ahli yang bisa menyatakan kumcer ini bagus atau jelek. Yang bisa dengan ganas meremas-remas kata-kata yang panas. Mengelus-ngelus agar bisa menjadi halus. Menimang-nimang agar bisa meninabobokkan. Meneliti, mengamati dan mencermati setiap senti dari pundi-pundi narasi.
Kalau penelitian dan pengamatan dilakukan pada setiap hal yang perlu pembahasan, maka kertas yang terbatas ini akan sulit memaparkan dengan jeli. Tapi secara sekilas semua bisa tuntas dan jelas meski diambil “sebatas-batas”.
Secara garis besar, kumcer ini bisa dibilang bagus. Tapi terus terang kumcer ini tak luput dari kekurangan. Mengikuti “secara sekilas dan mengambil sebatas-batas” diantara kekurangan adalah; kadang penulis kurang jeli menempatkan kata yang nge-gaul (kalau arek Dliya’ bilang) dengan kata yang mencocoki EYD. Juga, penulis sepertinya dalam setiap tulisannya terlalu menjurus ke areal NA, sepertinya yang dikhitobi itu adalah santri NA saja, dari sinilah terkadang ada hal/keadaan/tulisan yang sulit ditanggap oleh orang selain NA. Dari keseluruhan OK banget. Nggak usah dipaparkan disini, pembaca bisa menikmatinya sendiri. Tul?
Aly Zabidy Ahmad
(Redaksi majalah ad-Dliya)
Nggak usah banyak-banyak ya, dari sekian cerpen yang disuguhkan, ada yang menggambarkan kekerasan watak anak manusia, ini yang kurang saya sukai dari watak si pelaku. Suka menghegemoni bawahan.
Yang aku paling seneng ya cerpen yang berjudul “SEREMONI PEMANUSIAAN”, majasnya lumayan, hingga bisa membuatku tersenyum, kemudian tertawa kecil, yakni ketika si pelaku dihajar dan digebuki kemudian diceburkan ke sungai berkali-kali.
Selesai membacanya pun aku mengulangi lagi tawa kecil, banyak pengalaman, makna, nasehat yang bisa kita ambil. Selamat.

M. Amiruddin
(Pimpinan umum ad-Dliya)

Sebelumnya saya ucapkan selamat atas terbitnya karya baru Anda, juga saya minta maaf apabila komentar saya tidak memuaskan Anda.
Langsung saja, karena saya tidak ahli dalam bidang membuat cerpen, maka saya hanya berkomentar dengan singkat saja:
– Saya kira karya Anda sangat bagus walaupun saya tidak membaca semuanya, tapi saya berani mengatakan begitu karena saya tidak meragukan kemampuan Anda dalam membuat cerpen, terbuklti di antara redaksi ad-Dliya, Andalah yang paling banyak mengarang cerpen.
– Ketika saya membaca kumpulan cerpen Denting Nada Cinta yang di dalamnya terdapat cerpen karya M. Amiruddin, saya sangat terharu karena sangat banyak terdapat makna di dalamnya.

M. Sun’an Asyiqin
(Redaksi majalah ad-Dliya)

Setelah membolak-balik halaman cerpen-cerpen ini, saya merasakan atmosfir dunia pesantren yang begitu kental dengan kepemimpinan otoriter sang Gus. Saya mengagumi cerpen “Sang Gus”. Dalam karya ini, si penulis memberikan gambaran dari problematika sehari-hari di masyarakat pesantren. Namun di situ, ada kisah-kisah yang indah dalam percintaan dan persahabatan.
Dan cerpen berjudul “Seremoni Pemanusiaan” memiliki langgam bahasa yang menarik dan nilai-nilai sufistik yang terkandung di dalamnya.
Tetapi latar belakang/ background dan setting kumcer ini terlalu sempit, hanya tertuju pada masyarakat NA saja. Hal ini menyebabkan kesulitan bagi para pembaca di luar NA untuk menanggapi kumcer ini, sehingga para pembaca dari luar NA kurang bisa memberikan komentar apakah kumcer ini bagus atau jelek, karena setiap pembaca punya relativitas tersendiri dalam menilai suatu narasi, termasuk saya sendiri.
Seandainya saya disuruh mengomentari kumcer ini, saya katakan terus terang bukan ahli dalam menilai suatu karya sastra. Akan tetapi saya ucapkan selamat atas penulis kumcer santri “Denting Nada Cinta yang Lain” ini atas usaha dan kerja kerasnya dalam membuahkan karya ini. Teruslah berkarya semaksimal mungkin untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Sayyid Husein Kherid
(Mantan redaksi majalah ad- Dliya)Cerita Malam

Fiuhh … murobathoh lagi! Tapi … ya sudah, ini sudah tugasku, harus kujalankan.
Sebenarnya, sore belum beranjak dari tempat duduknya, ia masih mencangkung menunggu pulangnya matahari, yang kulihat sudah agak bosan kencan dengan siang. Aku sendiri saat ini bersiap untuk tugas nanti. Pun semua orang yang ada di desa ini, terlebih ponpes yang terletak di sudut desa tersebut, tampak semua penghuninya sibuk dengan aktivitas masing-masing, menyongsong adzan Maghrib. Kebanyakan berkerumun di tempat wudlu dan kamar mandi, sebagian di dapur siap-siap buka puasa.
Waktu terus merayap. Bedug Maghrib telah ditabuh. Saat sholat telah tiba dan kusambut dengan gembira. Kulihat, semua orang berbondong-bondong menuju masjid Jami’ ini. aku sendiri mengambil air wudlu, dengan air sisa hujan deras yang mengguyur desa ini barusan. Titik-titik air pun masih nampak satu persatu bertetesan menerpa dedaunan, sebelum jatuh ke bumi membaur dengan air hujan yang mendahuluinya. Kunikmati percikan-percikan air yang terjun bebas dari langit itu.
Sejenak kemudian terdengar koor “Aaamiiin” dari masjid yang diimami seorang pak Haji, berselang tak lama disusul koor dengan lirik sama dari ponpes putri, dekat sekali dengan telingaku. Mengalun syahdu jauh menembus relung kalbuku, “Subhaanakallohumma” tasbihku.
Usai Maghrib, tinggal menunggu Isya”. Kucermati semua kegiatan di desa ini, di ponpes ini juga. Aku berderak kagum, semarak lafadz-lafadz Qur”an mengalun dari mulut-mulut mungil tak berdosa. Masih belum terkontaminasi senyawa karbondioksida kegilaan zaman yang katanya Ronggo Warsito, edan ini. Tak bergeming oleh serbuan gencar acara kartun TV yang sengaja diputar senja hari, saat tabuh berbunyi. Tetap berpegang teguh menelaah UUD yang tak lapuk oleh zaman, yang tak bosan diulang-ulang dan yang tak pernah kena amandemen itu.
Di sisi lain, di serambi masjid, seorang Kiai dikelilingi oleh santri-santrinya, hanyut dalam aliran barokah kitab kuning. Berbagai syarh, ta’liq, mengalir dari bibir beliau, didengarkan, ditingklingake dengan seksama oleh santri-santri mituhu itu, sebagai bekal di hari depan. Aku terkesima.
Tak hanya itu, kudengar alunan lain, paduan suara kompak tanpa dirijen, tanpa instrumen mendendangkan Rotibul Haddad mengalun dari arah Ponpes putri, lebih merdu daripada lagu India, Kuch-kuch Hota Hai, Mann, Kabhi Kushi Kabhi Gham dan sejenisnya. Perasaanku melayang, bersyukur kepada Alloh, ternyata masih ada komunitas yang masih mau menggenggam bara di tengah gemerlapnya dunia yang makin tidak karu-karuan ini. Kutersenyum, malamku masih agak terang, pancaran warna merah merona hitam, belum gelap, Isya” pun berkumandang, sholat tiba.
Sengaja kuberjalan mengelilingi lingkungan santri ini. Entah mengapa aku suka berada di tempat ini. Asma”ulloh al-Husna, untaian sholawat kepada Nabi selalu menghiasi langit daerah ini. Seolah-olah lampu mercusuar berpendar benderang dari tempat ini, membedakan dirinya dari tempat lain yang hanya digaduhkan oleh tawa sengak pemuda-pemuda tidak ada kerjaan. Yang cuma diterangi oleh sinar-sinar kecil yang bermuara dari rokok yang mereka hisap, itu pun masih dikepung oleh asap-asap rokok yang mengkabut, aroma minuman keras menambah busuknya bau gerombolan itu. Mata-mata kuyu tak bergairah namun dipaksa, jelas sekali terukir di wajah tirus morfinis mereka. Ditingkahi dengan petikan gitar berirama tidak karu-karuan. Di sudut lain sekelompok pemuda joget sempoyongan diiringi musik neraka Britney Spears yang diputar dari VCD. Aku menghindar pergi, cih! Jijik memandang mereka, kelakuan mereka lebih tepat. Tapi aku memohon, semoga Alloh memberi mereka hidayah, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti.
Aku berkeliling lagi, lamat kudengar tetabuhan riang berirama rancak, lagi-lagi dari ponpes itu. Bergegas kudekati sumber suara, aku terpesona, ingin rasanya ikut berjingkrak. Denting nada dan instrumental itu bukannya Asereje-nya Las Ketchup atau La Copa De La Vida-nya Ricky Martin. Tapi nadhoman Alfiyah, di sudut lain al-‘Amrithy mengimbangi, tak mau kalah ‘Aqidatul ‘Awwam sama Shorof Jombang melengkapi. Semakin betah daku di sini, mereguk segarnya sirup agama, menghilangkan dahaga, kesegaran yang makin mengering menguap oleh ganasnya kemarau budaya Barat, astaghfirulloh ….
Malamku makin pekat, jarum pendek jam sudah mengarah pada angka 10, semua aktivitas belajar-mengajar di pondok itu telah usai, para santri mulai rehat, bersiap berpergian ke negeri kapuk, diiringi suara jangkrik dan kodok yang saling bersahutan, sebagai musik pengantar tidur yang paling cocok. Bermacam kesibukan jeda ta’lim mewarnai pesantren Salaf ini. Ada yang melanjutkannya dengan muthola’ah, belum puas dengan ilmu yang diterima. Ada juga yang langsung mengganti baju taqwanya dengan kaos, sarungnya dengan celana training, selimut sebagai pengganti surban, juga mengganti kitab dengan bantal atau pena dengan guling. Dan so pasti ada yang menemaniku jaga, murobathoh, atau muroqobah istilah mereka, sekitar 4 santri, yang jelas semua sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Bosan ah, rutukku pelan, sengaja untuk menghilangkannya aku jalan keliling pondok ini. Kulihat seorang santri sendirian berdiri menghadap bangunan di sebelah selatan masjid, asyik melihat “proyek”nya itu. Di bagian lain, seorang santri tampak berlari-lari kecil kesana-kemari sembari menenteng berbagai alat-alat pertukangan yang ada di tas mungilnya. Sengaja juga aku berputar keliling ndalem, iseng kulihat balkon lebar yang menghadap ke timur, di sana ada 3 santri putri, yang dua asyik berbincang membahas majalah pesantren edisi terbaru, sementara yang satunya tampak termenung, entah ia berdzikir karena di tangan kanannya seuntai tasbih tak mau berhenti berputar, entah juga kalau ia melamun, mengingat kekasihnya yang merantau jauh mencari ilmu. Bisa jadi sang kekasihnya itu saat ini juga sedang mengenangnya, memutar kaset perjalanan cinta di antara keduanya. Keindahannya juga kedukaan tak terwujudnya pertautan apalagi jika ternyata jatuh ke teman sepenanggungan. Entah juga kalau ia bertafakkur, menghitung bintang-bintang kecil yang bertaburan mengiringiku, mencoba berbicara dengan bulan yang kini tersenyum lebar dengan kepurnamaannya. Tapi, ah … kalau bulan bisa ngomong (kayak lagunya Doel Sumbang), nampak si gadis itu sedang menikmati panorama ketampananku, anugerah Tuhan duli semesta alam. Malamku makin kelam, cericit kelelawar bersautan bersaing dengan musik Rock ‘n Roll jangkrik dan katak di bawahnya.
Aku berkeliling terus, satu persatu rumah mulai mematikan lampunya, gelap bak pemakaman. Namun tidak dengan masjid ini, juga ponpes ini, otomatis ndalem sang Ustadz pula, meski semua gulita, tetapi tidak dengan kawasan ini, ia tetap hidup dalam kematian, 24 jam. Alunan dzikir tak hentinya membumbung tinggi ke angkasa, membentuk tangga, tangga yang tiada putusnya. Kurasakan kepakan sayap malaikat ramai terdengar di sini, laksana serangga malam yang mengerubuti satu-satunya lampu di taman.
Empat kawanku yang “begadang ibadah” sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang menemaniku keliling, ada yang masak untuk makan tengah malamku nanti, ada juga yang serius konsentrasi dengan kitab kuningnya. Tak ketinggalan musik dzikir Langitan dan Raihan diputar bergiliran, sebagai selingan di tengah kesepian malamku ini.
Dan sekali lagi aku iseng melongok, eh melirik asrama putri, waktu makin gelap, masih ada beberapa santri yang belum terbuai mimpi. Dua gadis ngobrol ngalor-ngidul sembari menunggu sapaan kantuk, terdengar juga bunyi al-Qur”an, bukan dari kaset, lamat terdengar dari Ponpes ini. Getaran halus yang sanggup mendirikan bulu kuduk merinding merayapi diriku, mengalir di seluruh persendianku. Ingin kuteteskan airmata karena terharu, tapi kali ini tiada mendung, aku hanya tersenyum. Kulihat balkon lagi soalnya jendela barat sudah dipaku pati. Mungkin si gadis masih ada … eh … sudah tidur rupanya, atau … mungkin saja bisikan suci ayat-ayat langit itulah yang keluar dari bibir gadis tadi, ah … wallohu a’lam, kuteruskan perjalananku, dini hari hampir tiba, berarti hampir habis pula waktu tugas jagaku.
Sebenarnya ada satu yang kurindukan, bunyi kentengan tiang telepon, yang dulu selalu berdentang tiap jam, diketuk oleh seorang bapak, yang dulu konon pendekar. Namun ia telah menghadap ke Dzat yang dicintainya, 10 Dzul Hijjah yang lalu. Dia istiqomah mengetuk tiang telepon itu, yang kini sudah tidak terdengar lagi, membisu dengan kesunyian malamku.
Sekarang sudah pukul dua hari, seharusnya tugasku sudah selesai, tapi kegelapan menahanku. Waktu terus berjalan, akhirnya yang kutunggu tiba, sholah-sholah terlantun dari salah satu teman jagaku, menggugah alam yang tertidur sejak ba’da Isya” tadi, kala malamku merambat gelap.
Beberapa santri yang asyik bergurau dengan mimpi, terusik dan segera bangun, untuk bertahajjud, kencan munajat dengan Penciptanya, berduaan diantara jutaan makhluk yang tenggelam oleh air liurnya. Aku terharu, semoga mereka dirahmati Alloh, Kreator alam semesta ini, dimasukkan surga-Nya dengan sebuah happy ending, khusnul khotimah. Kuresapi adengan ini, skenario indah Ilahi.
Sejenak kemudian, koor hasbunalloh wa ni’mal wakiil mengalun, yang diawali oleh Sholawat Munjiyat untuk sang Kakek Guru. Berbagai hibz, mulai Nashr, Bahr, Zajr, Syaikh, Nawawiy, Ikhfa”, sampai Sakron, turut menjadi instrumen konser ukhrowi ini. Sesekali pertunjukan ini diselingi oleh tarian, goyangan jari yang membentuk sketsa pagar mengelilingi diri, suur-suur-suur.
Tersusunlah semacam konvigurasi indah di atas kopyah-kopyah mereka, bak rangkaian bunga-bunga mawar, melati, dahlia, anggrek, sedap malam yang akan dihaturkan pada sang pujaan hati. Ribuan entah jutaan malaikat mulai mengepak sayapnya, bersiap membawa rekaman aurad ini untuk diputar di hadirat-Nya, seraya tebaran rahmat dan hujan maghfiroh mengguyur mereka, halaqoh berkopyah juga halaqoh berkerudung. Semua sama, basah kuyup tersiram barokah, walaupun ada beberapa malaikat yang cemberut karena melihat beberapa santri yang ngantuk. Tetapi Alloh telah memberi garansi, ”Hum al qoumu laa yasyqoo bihim jaalisuhum.”
Aku bergumam; Allohumma nikmatnya, Allohumma syahdunya, Allohumma indahnya. Tak tertinggal juga orang-orang yang mau menjauhkan lambungnya dari dipan di beberapa rumah di desa ponpes ini, turut riang berpesta pora, haflah.
Aku berbangga, inilah sepertiga akhir malamku, waktu di mana Robbku turun ke langit dunia seraya berkata,: “Siapa yang mohon ampun kuampuni, siapa yang meminta suatu hajat pasti kukabulkan,” aku tergetar, Allohumma hebatnya. Batu, pohon, binatang malam pun tidak mau kalah, berlomba-lomba mensucikan-Nya, subhaanalloh, Allohumma merdunya.
Waktu makin merayap, pagi masih buta, sang Raja Siang sama sekalipun belum terbangun dari tidurnya, ia masih terlelap, berselimutkan kabut kepekatan diriku yang tebal. Hawa dingin pun masih menyergap membekukan tulang sumsum siang, membuatnya masih enggan menyingsingkan lengan ufuk timurnya, sekedar menyingkap sedikit kuning langsat kulit mulus cahayanya.
Ayam jago pun masih kalah cepat dengan para santri itu, ia malas berkokok, asyik meringkuk di kehangatan kandangnya. Tapi, ah … sebentar lagi Shubuh, dalam hati aku bersenandung, “Malam panjanglah, kantuk hilanglah, Shubuh berhentilah, jangan terbit dulu,” menirukan lagu religius para Sufi.
Namun giliranku sudah hampir habis, adzan Shubuh telah memecah kesunyian, menyambut kawanku yang kini sedang menggeliat. Sebelum istirahat, kusempatkan berwudlu dengan sejuknya embun pagi. Lalu, salam dan senyum siang merekah menyapaku, kubalas salam dan senyuman itu, aku harus bergeser ke barat, rehat dahulu, pun aktivitas ponpes ini telah mendenyutkan kembali nadinya, menyongsong hari baru yang penuh barokah. Disambut dengan iftitah Sholawat Nurul Anwar, diikuti wirid-wirid Robbani blanko kewalian, diramaikan pagelaran Qoso”id dan Anasyid, Allohumma amboi asyiknya.
Kutinggalkan daerah ini dengan penuh kepuasan, ingin rasanya aku tugas lagi, bergegas kembali kesini, bercengkrama dengan santri-santri mituhu ini, tapi ah masih 12 jam lagi. Aku hanyalah malam yang harus berputar. Tiada apalah, toh nanti ke sini lagi, yang penting sam’an wa tho’atan sama Raja Diraja alam ini, menggapai ridlo-Nya.
Kuucapkan untuk kalian, ma’as salamah ilal liqo”, selamat menempuh hari baru, mereguk ilmu, merengkuhnya. Semoga kalian bisa mengamalkannya. Memanfaatkannya untuk diri, keluarga, masyarakat dan bangsa kalian, semoga, Aaamiiin Allohumma, akan selalu kurindu kalian, tunggu daku … 12 jam lagi.
Pujon, akhir 1423 H
* Reshuffle:
Tanah kelahiran. Janib syari’ mauroq al-ijhy,
Jumad 1426 H.
7

Setetes Embun Pagi
By: M. Amiruddin

“Nak, apa kamu sudah mantap melanjutkan cari ilmu di pondok, nggak getun nanti?” kata emakku waktu itu.
“Nggak, Mak. Aku sudah mantap kok. Lagian kata emak, emak kan pingin punya anak yang pinter ngaji, dan berbakti pada orang tua, ya khan?” kataku polos. Mak waktu itu tersenyum tanda setuju kemudian menggeleng seolah kagum dan mengerti benar tekadku untuk mondok, mencari ilmu bekal di hari nanti.
“Mondok iku melarat lho, kudu betah melek, jam telu wes kudu tangi kanggo tahajjud, mangane yo ngono ora enak-enak, gelem mangan karo krupuk utowo iwak asin thok, nek kepingin pedes yo nyeplus lombok, kepingin asin yo ndulit uyah”, nasehat emak sekali lagi.
“Ndak apa-apa, Mak. Sholeh siap kok dengan keadaan itu”, sifat luguku tak bisa dihilangkan, mak spontan memelukku erat tak kuasa menahan haru, berderai air matanya, diciumnya aku berkali-kali.

QQQ

Akhirnya hari itu datang juga, hari pertama kakiku melangkah di kawasan pesantren Salaf yang diasuh ulama alim nan sholeh. Detik, menit, dan jamku yang pertama terisi dengan adegan penelitian dan pengamatan yang terasa asing oleh mata ini. Selanjutnya, malam tak terbendung untuk memaksa mata ini terpejam kemudian bermimpi.
Aneh, tak biasa aku bangun sepagi ini, terdengar sayup-sayup santri tukang mbangunin yang belum sampai di kamarku, tapi tumben, aku bisa bangun sendiri. Pikiranku terheran, padahal biasanya kalau pantatku tidak ditendang delapan kali, aku nggak bakalan bangun. Ini kok bisa bangun sendiri sepagi ini? Mungkin sejak awal ketika ingin kubaringkan tubuh ini, aku dihantui perasaan takut molor, takut kesiangan seperti kebiasaan di rumah, aku harus bangun pagi, malu sama santri di sini tekadku.

QQQ

Siang berganti malam, dan malam pun terbilang hari bersama jati diriku yang baru. Ya, mulai dari aktivitasku yang banyak diisi dengan mempelajari ilmu agama, bangunku yang harus pagi, sholatku yang harus tepat waktu, kalau tidak kepingin dijemur sambil nulis sholawat, atau mengeruk selokan dekat pondok putri, mandi yang selalu antri, dan hal-hal baru yang masih banyak lagi. Nahwu, pelajaran baru yang namanya baru aku dengar tadi pagi. Aku nggak ngerti pelajaran apa itu, yang jelas aku mulai berkenalan dengan ini pelajaran, ada kalam, kalimat, kalim. Waduh mbulet amat pikiranku, padahal baru membedakan tiga biji definisi saja. Iki piye toh, tapi lama kelamaan ngerti juga, aku dapat membedakannya.
Masalah tidak sampai di sini, ngaji Qur”anku pun masih lamban sekali, belum lancar, mungkin dengan anak Diniyah pun aku kalah. Pelajaran yang namanya Shorof Jombang pun nggak ketinggalan menuntut untuk dihafalkan. Entah berapa kali aku harus dijemur di lapangan gara-gara nggak hafal-hafal, atau pas lagi suntuk aku pun mbulet nggak mau menghafalkan.
Hingga waktu berjalan, tak terasa sudah beberapa tahun aku tinggal di pondok. Yang penting kini aku menginjak untuk menghafalkan nadhoman al-‘Amrithy yang katanya ada 250 biji itu. alhamdulillah, dalam jangka satu bulan aku menghafalkan pembukaannya dan mulai menginjak bab Kalam, alhamdulillah dalam waktu tiga minggu pun selesai, meskipun harus dijemur beberapa kali, belum lagi ejekan dari teman-teman yang membuat dada ini sesak seperti mau meledak.

QQQ

Entah, setan apa yang merasukiku, dedemit apa yang berhasil merayuku hingga semangatku tiba-tiba ambruk. Aku benar-benar nggak kuat lagi, aku benar-benar putus asa. Memang aku menerima, aku ikhlas Tuhan telah menciptakan aku dengan otak yang tidak cerdas. Tapi, kenyataan berbicara lain, aku benar-benar lemah, aku tak kuat lagi menyelesaikan tugas ini. Ya Alloh, tolonglah hambamu … Ya Rosulalloh bantu umatmu yang banyak dosa ini .…
Tuhan tunjukkanlah jalan
Agar kulupakan semua
Kegagalan hidup ini
Bisa berlalu dalam hidupku

QQQ

Kaleng susu kosong itu kutendang keras-keras hingga terpental jauh kemudian berputar-putar tak teratur seperti ruwetnya pikiranku saat ini. Langkah kakiku kian lama kian gontai, seakan tak kuat lagi meyanggah tubuh yang berat ini, seakan tak kuat meyanggah beban yang memusingkan ini. Haruskah aku meninggalkan pondok kesayanganku, teman tercinta, apalagi guru terbaik?
“Haruskah aku menyerah sampai di sini dan putus asa?” Tak terasa tubuhku ambruk di tanah becek bekas hujan, mulutku meringis, hatiku menangis, menangis sejadi-jadinya, air mataku kian deras mengalir, menjadi saksi bisu. Oh Tuhan … haruskah riwayatku tamat sampai di sini dan belum setetes pun madu yang kuharapkan berhasil kucicipi? Oh Tuhan .…

QQQ

Kuketuk pintu kamarku dengan lesu sembari mengucapkan salam dengan suara perlahan. Suara ibu dari arah dapur lirih aku dengar menjawab salamku.
“Eh, kamu toh le, lho kenek opo sampeyan? Kok pucat, kamu sakit ya le? Bilang sama emak!” Aku hanya diam dengan kepala tertunduk lesu.
“Ada apa toh le … cerita sama emak, ayo ngomong sama emak!”
Selanjutnya aku tak kuat lagi menahan air mata ini untuk menetes, dan emak pun memelukku tak mengerti. Aku merasa hangat, hangat sekali meskipun belum bisa menghilangkan kegundahan jiwaku saat ini.

QQQ

Hari-hariku di rumah dipenuhi dengan tidur dan tidur, atau merenung di belakang rumah. Aku yakin emak heran melihat perubahan sikapku yang drastis, yang biasanya ceria, kini tiba-tiba murung dan senang menyendiri di kamar, makan kalau tidak diundang beberapa kali baru mau makan. Sudah beberapa kali emak mempertanyakan tentang diriku dan berusaha membujuk aku supaya mau menceritakan apa yang terjadi, tapi jawabanku selalu sederhana, “Nggak ada apa-apa kok, Mak. Cuma Sholeh kurang enak badan.” Untuk saat ini mak nggak boleh tahu dulu bahwa aku ingin keluar dari pondok, aku nggak ingin membuat emak kecewa secepat ini.
Hidupku kini tiada arti.
Bagaikan burung di dalam sangkarnya.
Aku ingin bebas dari derita.
Tuhan tolonglah diriku
Dari belenggu nestapa

QQQ

“Le … kapan sampeyan berangkat le …? Nanti sampeyan banyak ketinggalan pelajaran lho, engko dimarahi pak guru nek ditakoni ora biso.” Emak yang melihat aku kembali segar mengingatkan aku lagi pada pondokku.
“Cukup emak saja yang nggak bisa ngaji, jadilah santri yang penurut, patuhi nasehat guru, patuhi segala peraturan, teruskan cita-cita emak yang kandas, emak dulu pengen bisa ngaji tapi nggak punya ongkos untuk naik angkot ke rumah pak Kiai, dan emak nggak bisa beli kitab karena adik-adik emak yang masih kecil saat itu. Pokoknya kamu harus membuat emak bangga, emak mengidamkan bila punya anak yang pinter ngaji, rasanya hati ini disiram es yang sejuk”, mata emak menerawang ke luar jendela sembari tersenyum, seolah beliau yakin apa yang dia idamkan bakal tercapai.
Melihat pemandangan ini dan mendengar kata-kata emak barusan, mataku tak kuat untuk tidak berkaca-kaca, segera kupalingkan wajah dari pandangan emak sebelum akhirnya butiran bening itu menetes lagi. Aku masuk ke dalam kamar, kutumpahkan sepuas-puasnya isak tangisku, hingga akhirnya aku tertidur pulas, pulas sekali.

QQQ
Kepalaku tertunduk menekuri lantai, sementara Syaikhunaa marah hebat, nasehatnya kini benar-benar membuat mataku berkaca-kaca.
“Bukan jantan orang yang pasrah pada Qodlo Qodar. Rubah nasibmu, tingkatkan taqwamu, maka ilmumu akan ditambah, ilmu itu dari Alloh bukan dari kekuatan belajar, ingat:
اَلْعِلْمُ مَوْهِبَةٌ
Wis, pokoke sing tenanan, ngaji sing tenanan, ojo kumantel karo awak, kumantelo karo Alloh, mangkane jaluko maring Alloh.
Ojo takluk karo Nahwu,
هِمَّةُ الرِّجَالِ تَهْدِمُ الْجِبَالَ
Pokoke dadio wong giat, sing temenan, madepo maring Alloh. ngerti nggak kang!!!”
Dawuh-dawuh Syaikhunaa barusan bagaikan sebuah obat kuat, bagaikan spirit, laksana bayam bagi Popeye si pelaut, hingga membuat tubuhku melayang, seakan terbang tinggi. Tapi tiba-tiba jatuh, bruk …. Kulihat sekelilingku, pemandangan yang tak asing bagiku, terlihat tembok-tembok kamarku. Ternyata aku jatuh dari tempat tidur.
Tapi sungguh aneh … aku merasakan perasaan yang luar biasa, aku seperti menemukan semangat baru dalam hidupku.

Akhirnya aku bangkit, kukemasi lagi barang-barangku, besok tepat hari Rabu aku akan kembali ke pondok dengan niat menghilangkan kebodohan diri sendiri, selanjutnya menyebarkan ke tengah-tengah masyarakat. Aku bertekad untuk membahagiakan orang tua, aku tidak ingin mengecewakan mereka, meskipun Alloh menciptakanku dengan kecerdasan yang sangat kurang, aku nggak perduli.
Hanya satu kenyakinanku
Bintang kan bersinar
Menanti hidupku
Bahagia kan datang

Matahari pagi
Pancarkan sinarmu
Agar aku merasakan kehangatanmu
Biarlah mimpi buruk kemarin
Tetap menjadi sebuah mimpi.

QQQ

Untuk yang merasa, jangan menyerah yah. Mulai hari ini, buka sebuah lembaran baru, tatap dunia, tatap masa depan tuk meraih cita-citamu. Ingat!! Gusti Alloh Maha Rohman Rohim. Setuju? Wassalam.

8

Sang Gus

Percakapan empat mata itu tiba-tiba hening, sehening malam itu.
“Jadi, benar apa yang kamu katakan itu?”
“Hmm, setidaknya begitu, melihat gerak-gerik mencurigakan selama ini, juga bisik-bisik yang terdengar nyaring. Tapi … kita harus ada bukti juga, insya Alloh aku akan mencari informasi lebih lanjut.”
Tak ada jawaban, hanya terdengar gemeletuk gigi disertai desahan nafas berat, sebelum sekepal tangan memukul dampar kayu yang biasa dibuat ngaji, yang ada di depannya, ada kemarahan di sana.
“Memang, jendela itu harus kututup, sejak dulu ia sering menimbulkan fitnah”, ujarnya seraya sepasang matanya menyorot tajam mendongak ke arah jendela pondok putri, yang malam itu sudah menutup dan gelap.
Teman bicaranya hanya diam, tidak menyahut. Cuma desau angin malam yang menjawab rangkaian kata-kata itu barusan.

QQQ

Seantero ndalem dan pondok putri sudah berdenyut kembali dengan aktifitas ta’lim, begitu juga pondok putra, setelah istirahat sejenak untuk masak, mandi, cuci, muthola’ah, dan sebagainya, pagi itu pukul delapan lebih sedikit. Dengungan do’a “Sa”altu” dan qoso”id terdengar dari semua sudut pondok itu, terutama dari kelas yang ada di ruang tamu, kelas Nahwu, terdengar lebih jelas.
Tetapi seorang pemuda masih nampak berdiri mematung di depan TV, dahinya terlihat berkerut, ada sesuatu sepertinya yang kini memenuhi pikirannya.
“Mahmud, kamu nggak ngajar?” suara teguran dari meja makan membuyarkan lamunan pemuda itu.
“Oh … Sebentar lagi, Ba .…” Hanya jawaban pendek itu yang muncul, Syaikhunaa meneruskan sarapan paginya itu.
Sejenak kemudian, desahan berat terdengar keluar dari bibirnya, ia matikan TV dengan remote yang ada di genggamannya. Gontai ia berjalan ke kamarnya.
Dan di ruang tamu, pemuda itu sejenak menghentikan langkahnya, ketika melewati santri putri yang asyik berbincang satu sama lain mendiskusikan pelajaran Nahwu mereka, buat persiapan menghadapi rentetan pertanyaan dari sang guru yang pasti marah besar jika pertanyaannya tak mampu atau keliru dijawab.
“Eh, gimana I’robnya Aamantu billah?” ucap pemuda itu setelah diam sebentar. Serentak wajah-wajah berbalut jilbab itu mengarahkan pandangan lembut mereka ke sang pemuda yang berdiri di belakang mereka, sebelum diikuti senyuman sembari menunduk dari wajah-wajah ayu itu, malu.
Tak ada jawaban kecuali bisik-bisik sambil sedikit tawa kecil dan saling pandang di antara mereka.
“Masak tidak bisa? Apa malu? Jangan takut. Nahwu itu gampang, kalian harus hafal semuanya di luar kepala, rugi lho kalo nggak hafal. Nahwu nggak sulit kok, aku dulu juga sering dimarahin seperti kalian, tapi hasilnya? Masya Alloh .…” dicobanya memberikan semangat dan kekuatan ke sekelompok santri putri itu, santri-santri asuhan Abah-Uminya. Kini, sembari mengulas senyum manis penuh makna yang menghiasi wajah teduh berkaca mata itu, meski agak sedikit dipaksakan. Lantas diteruskannya langkah ke kamar, bersiap mengajar.

QQQ

Tak ada keterangan istimewa yang disampaikan Mahmud di ta’lim Nahwu untuk fashl awwal pagi itu. Tidak seperti biasanya, ia malas juga tidak streng, pun bubar lebih dini. Setidaknya santri fashl awwal hari ini keluar kelas dengan perasaan lega, karena tidak ada satupun umpatan “Goblok!!” dari si Gus yang terkenal killer kalau mengajar itu.
Setelah mengajar, dengan agak mendadak, Mahmud mengumpulkan senior-senior. Ada sesuatu hal yang pelik rupanya, mereka segera duduk-duduk di tempat biasanya Ustadz Ishom mengajar, fashl robi’, kelas tertinggi di pondok itu.
“Kalian telah dengar isu tersebut kan?” Mahmud membuka percakapan, dingin, semua mengangguk dan mengarahkan pandangan kepadanya.
“Apa yang harus kita lakukan Gus?” Ustadz Zainuddin mencoba memancing pertanyaan, Mahmud hanya menerawang, tak ada jawaban.
“Masalahnya, kalo ini terjadi antar santri sih mungkin tidak serumit ini, tapi ini keluarga ndalem,” agak hati-hati Ustadz Ishom mengucapkan kalimat itu, takut sang Gus tersinggung.
“Ternyata, berat juga memikul sebuah amanah, apalagi kalau menyangkut langsung orang-orang yang kita cintai,” akhirnya, keluar juga suara Gus Mahmud.
“Tahu kan, asbabul wurudnya Lau kaanat Faathimatu bintu Muhammad saroqot, la qotho’tu yadahaa?” ujarnya lagi seraya menatap wajah-wajah senior itu.
“Bagaimana pendapat kalian?” Semua terdiam.
“Tapi sungguh, desas-desus itu membuat hatiku panas, peraturan telah dilanggar. Mungkin, kalau sekedar cinta, aku masih bisa mentolelir, tasaamuh, karena itu wajar. Tapi, kalau lebih dari itu .…” Kalimat itu terputus, berganti dengan pukulan pelan dari tangan yang terkepal erat ke arah meja di depan Gus muda itu.
“Apa langsung ke Syaikhunaa, Gus?” seorang ustadz muda berkacamata yang terkenal suka membaca mengeluarkan usulnya.
“Tidak, jangan langsung ke Syaikhunaa”. Tiba-tiba usulan itu dihalang oleh Mundzir, Ro”is Aam yang juga sepupu Mahmud.
“Sebisa mungkin, kita terlebih dahulu yang menyelesaikan masalah ini, baru ke Syaikhunaa. Tapi … yah … terserah Gus Mahmud juga, soalnya .…” Mundzir tak meneruskan kalimatnya, matanya melirik ke Ustadz Ishom.
“Benar, Mundzir benar .…” Gus Mahmud mengangguk-angguk sembari memegang dagunya.
“Lagipula, aku masih kasihan dengan dia, juga dengan adikku sendiri. Aku tahu betul bagaimana Syaikhunaa bila mendengar kata pacaran, aku tak sampai hati juga hal ini terdengar Syaikhunaa. Malah, aku lebih berani melaporkan kasus pencurian daripada pacaran kepada beliau.” Urainya.
“Ah … ‘ala kulli haal, ketegasanku kali ini diuji dan ditantang,” Gus Mahmud duduk tegak, pandangan dibalik kaca itu lurus ke depan.
“Tapi … aku akan tutup dulu jendela-jendela keparat itu!” Tiba-tiba nada suara Gus Mahmud sedikit meninggi, ada emosi tertahan disana.
“Lalu, langkah kita, Gus?” Ustadz Ishom mencoba bertanya lagi.
“Ah, Ustadz, antum paling senior di pondok ini, termasuk murid pertama Abah saya, qudamaa”. Aku kira antum lebih tahu langkah yang harus kita lakukan. Tetapi tetap, kita selidiki lebih dulu agar lebih jelas beritanya. Kamu juga Ustadz Zainuddin, aku tahu kamu lebih dekat dengan dia.”
“Terus sampeyan sendiri, Gus?”
“Sebagai sadd-ud dzari’ah, akan kupanggil dia dulu, akan aku tahdzir dia. Kalau memang ini benar, setidaknya dia hati-hati. Dan kalian bergantian menanyai dan terus menggali informasi, ini demi kebaikan kita bersama, terutama bolo pleknya,” Mahmud menerangkan strateginya.
“Ehm … tapi sampeyan setuju nggak Gus, seumpama dia .…” Ustadz Zainuddin mencoba mencairkan suasana tegang itu.
Mahmud paham pertanyaan itu, dia hanya tersenyum tipis, “Yang diinginkan adikku harus hafal Alfiyah, Qur’an dan bisa melewatiku.” Semua tersenyum simpul.
“Oh iya, tidak pakai intel-intel Dephan, Gus?” Mundzir mengingatkan.
“Kali ini tidak, aku agak kecewa, Udin yang sejak awal kupasang sebagai intelku ternyata …” Gus Mahmud tidak meneruskan kalimatnya. Tetapi dia membongkar satu nama intel yang begitu dia rahasiakan selama ini dan menjadi momok menakutkan bagi setiap santri itu.
“Oh iya, Gus,” Ustadz muda berkacamata tiba-tiba mengalihkan semua mata menuju padanya.
“Aku ingat sesuatu, selama ini menjelang tidur, sayup-sayup aku dengar Udin bicara dengannya. Sepertinya bukan Neng Salwa yang mereka bincangkan. Ada nama lain, Rani,” terangnya.
“Rani?! Huh .…” Gus Mahmud hanya tersenyum tipis, sinis.
Dan pertemuan singkat itu harus diakhiri, karena semua santri sudah menata shof, Dluha berjama’ah.

QQQ
Hari-hari ini pondok nampak begitu menggerahkan, setidaknya bagi seorang santri yang kali ini terpekur di kamarnya. Namun tidak bagi teman-temannya, rupanya ada santapan hangat nan empuk di depan mereka. Paling tidak lumayanlah buat intermezzo, selingan dari ketegangan belajar, sudah lama juga pondok tidak ada bahasan aneh, nggak KISS, Kisah Seputar Santri.
Malah lebih seru dari mading, begitu salah satu santri bilang. Dan gosip itu tak akan sesanter ini andaikata pelakunya “hanya” santri biasa, wong gitu aja udah heboh, apalagi ini, melibatkan langsung Neng Salwa, putri Syaikhunaa!
Entah angin apa yang bertiup, tiba-tiba sang Neng terlibat cinta dengan seorang santri yang memang selama ini terlihat unik di depan teman-temannya. Antiknya, ternyata si santri membalas cintanya tanpa tahu kalau yang ia cintai adalah Neng!
“Sangar tenan, wis pinter opo de’e?!”
“Sopo seng disenengi?”
“Neng Salwa, jarene .…”
“Dudu’, ora Neng Salwa, gendeng tah lah?! Wong jarene Rani kok .…”
“Rani? Mosok? Jarene mbakku Neng Salwa, gak ono jenenge Rani na’ pondok iku .…”
“?????”
Tak hanya pondok putra, di pondok putri kasak-kusuk itu lebih panas lagi.
“Apa kehebatan dia sih? Kok Neng Salwa sampai tergila-gila?”
“Pake’ pelet kali”
“Huss …!!!”
Hal itulah yang memusingkan Mahmud, dia seolah ditampar dua kali, kiri kanan. Pertama dari peraturan yang jelas dilanggar adiknya, kedua dari adiknya yang memicu pelanggaran itu … kedudukannya sebagai ketua keamanan serasa dilecehkan.
Dan rahang si Gus semakin mengeras, bibirnya mengatup rapat dengan suara derak gigi yang terdengar jelas, ketika dia mendengar informasi, ternyata keduanya sering surat menyurat, janji jumpa di pasar, saling senyum dari jendela! Bahkan kala tahu adiknya mengajak temannya ke rumahnya, meski tidak bertemu, wajahnya seolah dicoreng lumpur dicampur kotoran.
“Ini penghinaan, mencoreng nama baik, melanggar syara’, adab! Kurang ajar! Setan apa yang membisiki Salwa sehingga seberani itu! Bangsat!” Mahmud mengumpat keras sendiri, sengaja masalah keluarga ini dia simpan, Abah-Uminya sengaja tidak diberi tahu. Sikapnya di depan Salwa pun masih pura-pura tidak tahu apa-apa, menunggu waktu, pikirnya.

QQQ

Tanpa menunggu lama, sore itu Mahmud segera memerintahkan penutupan semua jendela barat. Siang sebelumnya, dia konsolidasi dengan pengurus pondok putri memperketat waktu dan jumlah santri yang keluar.
Sore itu juga, si Gus memanggil si santri. Meski kemungkinan dia mengira bahwa masalahnya, paling tidak siapa yang dia cintai belum bocor. Tapi, Gus Mahmud rupanya sudah tahu semuanya.
“Kamu mengerti kan, apa aturan di pondok ini?” santri itu hanya mengangguk, matanya tak berani memandang Mahmud.
“Kamu juga mengerti kan apa undang-undang di pondok ini?” Mahmud menatap tajam pada pemuda itu, yang ditatap makin menunduk, sepertinya ia benar-benar ketakutan.
“Akhir-akhir ini aku mendengar desas-desus masalah percintaan seorang santri pondok ini. mulanya sih aku menganggap hal itu sepele, saolnya sebulan yang lalu pernah beredar gosip semacam itu, jadi aku anggap gosip kali ini juga sama”. Gus Mahmud berdiri seraya membelakangi pemuda itu.
“Dalam hal ini, masalah ini aku yang akan menangani langsung, keamanan ada dibawahku”. Mahmud berujar tenang, kata-katanya penuh wibawa, mirip sekali dengan Abahnya. Dia masih memberi kesempatan santri itu untuk “memperbaiki diri”. [ Baca kembali “Awal yang Indah Akhir yang Didamba”, AM. Ilalloh, DCP 2003.]

QQQ
Salwa hanya bisa menangis. Mahmud kakaknya, menasehatinya dan mencecarnya habis-habisan.
“Kali ini kamu hanya bisa menangis, Salwa, kamu tidak bisa lapor Abah-Umi, kalau tidak kamu bunuh diri kamu sendiri, ” Mahmud berkata tenang.
“Aku sarankan, jangan teruskan, aku tidak setuju pemuda itu, lagipula kamu masih kecil. Ngerti apa kamu?! Terus setan apa yang membisikimu sehingga kamu seberani dan senekat itu? Merusak nama Abah, pondok, mbah dengan cara seperti ini?!” Tak henti Mahmud menyudutkannya.
“Kakak kejam, hanya mau menang sendiri, lihat diri kakak juga! Bagaimana dengan Mbak Fauziyah?!” Dalam tangis Salwa melontarkan pertanyaan sangat memojokkan itu, Mahmud terdiam mendengar nama Fauziyah disebut.
“Kamu benar Salwa, tapi akibat yang ditimbulkan laki-laki tidak separah yang ditimbulkan perempuan. Kehormatan keluarga tergantung di perempuan,” Salwa lagi-lagi terdiam, dalam hati dia membenarkan ucapan kakaknya itu.
“Lagipula, keadaan tidak memungkinkan bagiku untuk tidak bertemu Fauziyah, aku masih pulang ke rumah, Fauziyah kalau ngaji pun turun ke bawah. Setidaknya aku tidak pernah berduaan, surat-suratan dengannya. Aku hanya mencintainya dan itu normal. Lagipula … aku tidak pernah ke rumahnya”, kalimat terakhir Mahmud benar-benar membungkam Salwa, ditinggalkannya adik kesayangannya itu dalam kesendirian.
“Ini karena … aku menyayangimu, Salwa,” Mahmud berbisik lirih sendiri seraya melangkahkan kakinya ke masjid.

QQQ

Sejak Mahmud memanggil santri itu, dan menatar adiknya, berangsur namun pasti keadaan membaik, keduanya nampak mengambil sikap hati-hati.
Dua bulan pun berlalu, seolah kasus itu selesai sama sekali, semua pun berjalan normal seperti sedia kala. Mahmud bisa menghirup nafas lega.
Tapi kelegaan itu hanya berumur dua bulan. Ya! Dua bulan. Tanda-tanda ke arah situ tampak berdenyut lagi. Kerinduan tampaknya yang mendorong si santri beraksi lagi. Di saat yang sama pula, satu persatu mata-mata Mahmud melaporkan hasil di lapangan. Termasuk tingkah Udin yang selalu mencurigakan akhir-akhir ini, apalagi saat jaga.
Dan kemarahan sang Gus mencapai puncaknya, saat dia mendengar dari mata-mata santri putri, bahwa santri itu bertemu kembali dengan Salwa, dan di antara keduanya ada seorang santri putri lain, di salah satu toko dekat kompleks pondok.
Sayang memang, Mahmud tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya. Tapi pegangan dia hanya satu, ini adalah pelanggaran, pertemanan lain jenis non mahrom adalah terlarang! Hanya itu.
Mahmud juga merasa kehormatannya sebagai ketua keamanan diinjak-injak. Juga … ghoiroh, ya… api itu berkobar hebat.
Satu tekad tiba-tiba menggumpal di hatinya, kebenaran harus ditegakkan meski pahit. Ini adalah tantanganku, ketegasanku diuji, jangan coba-coba mempermainkanku. Benak Mahmud bergejolak hebat. Semua harus tetap dijalankan, meski menyangkut adikku sendiri, apalagi sepupuku.
Andaikata Fathimah putri Muhammad mencuri, maka sungguh akan aku potong tangannya!
Tiba-tiba hadits itu berngiang di telinga Mahmud, sesungging senyum kemantapan tergores di wajahnya.

QQQ
Semua serba kebetulan, pagi itu Syaikhunaa berangkat ke Ibu Kota menghadiri musyawaroh para Kiai.
Dan sebelum ta’lim kelasan jam delapan, usai Dluha, kelihatan dengan penuh amarah, Mahmud memerintahkan semua senior berkumpul di kantor keamanan dan menyuruh anak memanggil santri itu.
Setibanya di kantor, tanpa basa-basi dan sejenak setelah melepas kacamata minusnya, Mahmud segera memukuli pemuda itu habis-habisan. Dan ia hanya merintih pelan seraya mendesir, sama sekali tidak ada usaha membela diri.
Wajah pemuda itu benar-benar hancur, darah mengucur dari mulut dan hidungnya. Dalam keadaan seperti itu, dia masih berdiri tegap seraya bersandar di dinding.

Suasana di dalam kantor itu yang semula tegang kini menjadi haru. Para keamanan dan senior berusaha mencegah Si Gus agar tidak meneruskan penyiksaan lagi, karena terlihat jelas ini bukanlah ta’zir yang biasa, lebih mirip dendam yang membara.
“Sudah Gus, hentikan Gus”. Ustadz Ishom mencoba menahan Gus Mahmud, berangsur kemarahannya mereda.
“Kini … kini … kam … mu boleh … meninggalkan pondok ini, kem … kemas … kemasilah barang-barang kamu, tafadlol!” Suara Gus Mahmud tersendat, dan dengan tanpa nada marah sama sekali.
Beringsut pemuda itu keluar, ia melangkah dengan tenang, meninggalkan tanda tanya dan sumbangan simpati yang tampak pada wajah-wajah para senior dan sebagian santri yang berdiri menunggu di luar kantor.
Suasana saat itu benar-benar lain dari biasanya, tenang, sunyi, kompleks pondok putra nyaris tak berpenghuni. Dan setelah berbicara sebentar di kantor, Gus Mahmud berjalan menuju tempat wudlu.[ Baca lagi “Awal yang Indah Akhir yang Didamba” bag, 10, DCP 2003.]
Usai wudlu, saat masih di kolam kaki, Ustadz Zainuddin menghadang langkah Gus Mahmud.
“Gus, apa tidak berlebihan mengusirnya?!” Ada nada protes di sana. Mahmud hanya tersenyum, dia memahami apa yang terpendam di hati lawan bicaranya itu.
“Tidak, aku tidak mengusirnya sungguh-sungguh, karena aku tidak punya hak untuk itu. Hanya Syaikhunaa yang bisa mengusir di pondok ini, aku tidak,” ujarnya tenang.
“Lantas, kenapa sampeyan seperti itu? apa faedahnya?” Zainudin agak menahan emosi.
“Santai, Zain, aku hanya memberi pelajaran pada yang lain, lebih baik korban satu daripada seisi pondok ini rusak. Aku juga ingin memberitahu, bahwa keamanan benar-benar tegas, juga … seperti itulah akibat yang melanggar. Aku … ingin seperti Sayyidina Umar, Zain,” Mahmud menatap Zain dengan teduh.
“Nanti, seumpama dia kembali, aku akan tetap menerima kehadirannya dengan tangan terbuka, dengan catatan dia tidak mengulangi perbuatannya. Meski aku sadar, aku berdosa, karena tindakanku dengan memukulinya, menghantam wajahnya adalah kedzoliman tersendiri. Tapi … ini adalah akhoffu dzororoin, Zain. Bahaya yang paling ringan,” panjang lebar Mahmud berbicara, matanya menerawang ke langit biru, seolah minta ampunan.
“Walau dengan ini, aku masih punya haq adami padanya. Suatu saat, aku akan meminta maaf padanya, meskipun dia nanti balas memukulku.” Mahmud kini tersenyum penuh makna. Zainuddin hanya terdiam, tak berkata apa-apa lagi.
“Sudah aku pertimbangkan dengan matang semua akibat dari tindakanku ini, Zain.” Ucap Mahmud seraya berjalan meninggalkan Zainuddin sendirian. Dan Zainuddin memandang tubuh sang Gus yang berlalu dengan masih mematung di samping kolam kaki.
Dan dari kejauhan, sesosok tubuh dengan wajah lebam amburadul berjalan gontai sembari memanggul tas di punggungnya. Dia berjalan melewati depan ndalem, sejenak dia berhenti, memandang ndalem Syaikhunaa, ada sesuatu yang dikenangnya. Santri itu, pergi dengan diiringi pandangan iba beberapa pasang mata.
Di saat yang sama pula, dari serambi masjid, sang Gus menghela nafas, melihat kepergian pemuda itu, yang selama ini ternyata akrab dengannya juga, berat.
Sementara itu, di sudut yang lain, terlihat Udin mendadak salah tingkah, keringat dingin mengucur dari dahinya, saat matanya bertatapan dengan mata sang Gus yang tiba-tiba bersinar tajam.
Sesaknya, nafas di dadaku, mengenang percintaan kita.
Dapatkah, kita meneruskan impian dan harapan kita.
Di hatiku masih luka, namun ku tetap bersabar, ku mengerti perasaanmu, duhai … ooo … sayang.
Rindu bergelora, resah gelisah nafas cinta, biar pun seribu luka, tak bisa menghapus cinta.
Entah mengapa aku, masih sayang padamu, karena engkau adalah kekasihku.
Nafas cinta … ooo … [ Nafas Cinta, Inka Cristie/ Amy Search.]
Pagi itu berlalu dengan tenang, menyisakan selaksa kenangan.

QQQ

Malam Jum’at, dapur ndalem.

“Mbak, sampeyan belum ngomong, siapa orang ketiga yang menghubungkan dia dengan Salwa. Pasti dia mak comblangnya, tidak mungkin tidak”, pemuda itu berkata tenang seraya menyeruput wedang jahe yang dibikinkan si Mbak.
“Engg … itu … nggak usah Gus, lagian sudah selesai kan?! Cukup sudah.”
“Hmm …begitu?! Apa sampeyan ikut menutupi kesalahan yang nyata? Memungkiri yang hak? Membuka peluang yang lain?! Seolah ini tidak apa-apa, membiarkannya bebas?!” cecar pemuda yang dipanggil “Gus” tadi.
“Bukannya begitu, Gus, tetapi …”
“Katakan kalau begitu. Terus terang, lancang betul perempuan itu, berani-beraninya dia, cari mati apa?!” Alis sang Gus mulai bertaut, matanya agak memerah.
“Dia … sebenarnya nggak setuju, Gus.”
“Tapi masih jadi tukang pos, begitu!?!” Si Mbak hanya terdiam sembari menunduk, dimain-mainkannya kain lap yang ada di tangannya.
“Siapa dia, Mbak .…”
“Tapi jangan diapa-apakan Gus yach, kasihan dia nanti, cukup saudaranya saja,” mohon si Mbak, hanya ada senyuman begitu sinis dari sang Gus.
“Qul-il haqq, wa lau kaana murro!” Si Mbak tidak bisa berkutik.
“Emm … itu Gus … Ruri”.
Terlihat sang Gus mengangguk-angguk pelan, tiba-tiba terukir segaris senyum di wajah sang Gus. Bukan! Itu bukan senyuman, tetapi … lebih mirip sebuah seringai yang menakutkan. Ya! Sebuah seringai … kebenaran, lebih tepat.
“Ooo … Ruri, dia rupanya … hmmm”.

QQQ

Tundhobawi, Makkah.
27 Sya’ban 1425 H.
Cerpen ini bisa disebut, sekuel lain dari “Tak Ada yang Tak Ada di Dalam Cinta” nya Mas A.M. Ilalloh.
Gimana, pas ga’?? He … he … he …
Sekedar pengusir sepi dan rindu.

Kata Mereka

Kalo komentarku gini, salut sambil manggut-manggut, apalagi saat ngebaca cerpen yang judulnya itu Sang Goes, aku sampek tegang bukan main, kalo bukan gara-gara “meskipun secara variatif cerita dan kekreatifan imajenasi Dst…” di kepalaku udah ada rencana bikin sekuel-sekuel lanjutan yang lain, semisal Aku Bukan Orang Ketiga atau si Gus bertemu lagi dengan anak itu di sebuah pesantren lain yang judulnya Aku di Sini Untukmu, aduh seru nich kayaknya…
Kalo dilihat dari segi bisnis, kumcer ini nggak punya prospek yang cerah, maksudnya gini, seandainya yang ngebaca itu bukan santri, tapi ada cita-cita ingin nyantri di hati, anak itu pasti mengubur keinginan mondok itu, soalnya emage tentang kesengsaraan nyantri begitu jelas, didukung warna keganasan seorang gus yang begitu mencolok.
Tapi kalo diteliti dengan cermat, usai membaca cerpen-cerpen di buku ini, juga cerpen lain karangan penulis, aku mau bilang salut lagi, dan muncul satu pertanyaan, lebih tepatnya permintaan, kapan sosok “mundzir” dalam cerpen sang Gus di fiktifkan sebagai tokoh utama, juga? Soalnya aku rasa akan banyak hikmah dan contoh kedewasaan di sana!

Ahmad Muhajir Ilalloh
(Mantan Pimred & Redpel majalah Ad-Dliya)

Apik, komentarku wes ngono ae, sebenernya aku belum tuntas membacanya, tapi dilihat dari kesemua cerita sudah jelas bagus, soalnya aku ndiri belum bisa buat yang kayak gitu, soale belum banyak pengalaman, yang fiksi aja aku juga belum bisa, jadi kalian-kalian yang baca nih komentar, doaian aku agar bisa nulis yang kayak gituan dan bermanfaat tuk semua pembaca. Yah karena hanya itu yang bisa saya omongin tuk ngomentari buku DNC ini moga-moga aja aku juga bisa nyusunin kata-kata yang tepat untuk nyusul kumcer ini. Maapku juga kalo komentarku paling jelek diantara komentator. Al afwu minkum.

M. Hasan al-Chodlir
(Redaksi majalah ad-Dliya)

“Mad, tolong mas Hifny, Amiruddin, Zabid, yek Husein, Hajir (kalau ada) dan kamu, beri tanggapan atas cerpen ini.” kurang lebih begitulah sedikit catatan yang ditulis oleh penulis kumcer ini. Beliau minta agar redaksi Dliya’ memberikan tanggapan atas kumcernya. Dan salah satu dari mereka adalah aku, Aly Zabidy Ahmad.
“Nggak usah banyak-banyak, sedikit wahe, biar nggak ngentekno halaman” begitu lanjutan keinginan penulis.
Sebuah tanggapan akan berkesan dan mempunyai nilai yang dalam serta patut dipertimbangkan apabila tanggapan itu muncul dari seorang ahlinya. Dan terus terang saja, aku dalam hal ini, bukanlah seorang ahli yang bisa menyatakan kumcer ini bagus atau jelek. Yang bisa dengan ganas meremas-remas kata-kata yang panas. Mengelus-ngelus agar bisa menjadi halus. Menimang-nimang agar bisa meninabobokkan. Meneliti, mengamati dan mencermati setiap senti dari pundi-pundi narasi.
Kalau penelitian dan pengamatan dilakukan pada setiap hal yang perlu pembahasan, maka kertas yang terbatas ini akan sulit memaparkan dengan jeli. Tapi secara sekilas semua bisa tuntas dan jelas meski diambil “sebatas-batas”.
Secara garis besar, kumcer ini bisa dibilang bagus. Tapi terus terang kumcer ini tak luput dari kekurangan. Mengikuti “secara sekilas dan mengambil sebatas-batas” diantara kekurangan adalah; kadang penulis kurang jeli menempatkan kata yang nge-gaul (kalau arek Dliya’ bilang) dengan kata yang mencocoki EYD. Juga, penulis sepertinya dalam setiap tulisannya terlalu menjurus ke areal NA, sepertinya yang dikhitobi itu adalah santri NA saja, dari sinilah terkadang ada hal/keadaan/tulisan yang sulit ditanggap oleh orang selain NA. Dari keseluruhan OK banget. Nggak usah dipaparkan disini, pembaca bisa menikmatinya sendiri. Tul?
Aly Zabidy Ahmad
(Redaksi majalah ad-Dliya)
Nggak usah banyak-banyak ya, dari sekian cerpen yang disuguhkan, ada yang menggambarkan kekerasan watak anak manusia, ini yang kurang saya sukai dari watak si pelaku. Suka menghegemoni bawahan.
Yang aku paling seneng ya cerpen yang berjudul “SEREMONI PEMANUSIAAN”, majasnya lumayan, hingga bisa membuatku tersenyum, kemudian tertawa kecil, yakni ketika si pelaku dihajar dan digebuki kemudian diceburkan ke sungai berkali-kali.
Selesai membacanya pun aku mengulangi lagi tawa kecil, banyak pengalaman, makna, nasehat yang bisa kita ambil. Selamat.

M. Amiruddin
(Pimpinan umum ad-Dliya)

Sebelumnya saya ucapkan selamat atas terbitnya karya baru Anda, juga saya minta maaf apabila komentar saya tidak memuaskan Anda.
Langsung saja, karena saya tidak ahli dalam bidang membuat cerpen, maka saya hanya berkomentar dengan singkat saja:
– Saya kira karya Anda sangat bagus walaupun saya tidak membaca semuanya, tapi saya berani mengatakan begitu karena saya tidak meragukan kemampuan Anda dalam membuat cerpen, terbuklti di antara redaksi ad-Dliya, Andalah yang paling banyak mengarang cerpen.
– Ketika saya membaca kumpulan cerpen Denting Nada Cinta yang di dalamnya terdapat cerpen karya M. Amiruddin, saya sangat terharu karena sangat banyak terdapat makna di dalamnya.

M. Sun’an Asyiqin
(Redaksi majalah ad-Dliya)

Setelah membolak-balik halaman cerpen-cerpen ini, saya merasakan atmosfir dunia pesantren yang begitu kental dengan kepemimpinan otoriter sang Gus. Saya mengagumi cerpen “Sang Gus”. Dalam karya ini, si penulis memberikan gambaran dari problematika sehari-hari di masyarakat pesantren. Namun di situ, ada kisah-kisah yang indah dalam percintaan dan persahabatan.
Dan cerpen berjudul “Seremoni Pemanusiaan” memiliki langgam bahasa yang menarik dan nilai-nilai sufistik yang terkandung di dalamnya.
Tetapi latar belakang/ background dan setting kumcer ini terlalu sempit, hanya tertuju pada masyarakat NA saja. Hal ini menyebabkan kesulitan bagi para pembaca di luar NA untuk menanggapi kumcer ini, sehingga para pembaca dari luar NA kurang bisa memberikan komentar apakah kumcer ini bagus atau jelek, karena setiap pembaca punya relativitas tersendiri dalam menilai suatu narasi, termasuk saya sendiri.
Seandainya saya disuruh mengomentari kumcer ini, saya katakan terus terang bukan ahli dalam menilai suatu karya sastra. Akan tetapi saya ucapkan selamat atas penulis kumcer santri “Denting Nada Cinta yang Lain” ini atas usaha dan kerja kerasnya dalam membuahkan karya ini. Teruslah berkarya semaksimal mungkin untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Sayyid Husein Kherid
(Mantan redaksi majalah ad- Dliya)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: