35 METODE EDUKASI RASULULLAH S.A.W (BAGIAN 1)

Oleh : Alwy Muhammad Aly Imron

35 METODE EDUKASI ROSULULLOH

Dalam mendidik dan mengajar

Karya : Alawy Aly Imron Muhammad

Desain sampul : M. Hifny Mubarok

Lay out : M. Hifny Mubarok

Penyunting bahasa : Rasmian S.pd

Diterbitkan Oleh : Dliya Creative Production

Hak cipta dilindungi Undang-undang

All right reserved

Dicetak oleh : PARBAR Printing

Januari 2009

Ana ‘abdu man ‘allamani walau harfan wahidan

(I’m servant for those who teaches me even a word)

Persembahan :

Untuk Beliau-Beliau;

Yang telah mengenalkanku pada hidup

Dan mengajariku makna kehidupan; di Universitas dan Pesantren Kehidupan

  • Abuya Assayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliky; Guru terbesar aku

  • Baba dan Umy’ aku

  • Abuya Assayyid Ahmad bin Muhammad Al-Maliky

  • Abi Ihya’ Ulumiddin

  • Abah Thoyfur Mawardi

  • Kakek aku; Yai Ali, dan Mbah Hari

  • Khol aku; Syifa’ Syihabuddin

  • Kholah-kholah aku; Lulu’, Imamah, Ulwiyah

  • Semua Masyayikh aku: Syeikh Muhammad Ali Al-sabouni [Syria], Syeikh Dhiya’ el-din Al-sabouni [Syria], Sayyid Ayyub Asad El-Ahdal [Yaman], Ustadz Farid Abouzbebah, Ustadz Mohammed bin Hallal Al-khetrishi, Sayyid Hasan bin Syu’aib, Ustadz Khaled abdel kareem Al-Turkestani, Habib Hussein ben Syihab, Yek Idrus Alaydrus, Ustadz Almas Al-Hossaini, Ustadz Ibraheem Shouaeb [Nigeria], Ustadz Osama Al-Mansi, Ustadz Ahmed Azzaghier, Dr.Saeed Enayatullah [Pakistan], Syeikh Mohammed al-Oumdah, Syeikh Khalil Soultan [Pakistan], Ustadz Sholahuddin, Kang Hafidz, Yek Alwy ba-Agil, Ustadz Sholihin Ja’iz, Pak Mundziri Jauhari.

  • Semua Asatidz aku

  • Semua Bapak dan Ibu Guru aku

  • Tak lupa, semua yang membalas cinta aku dan mencurahkan cintanya pada aku. Dengan cinta, aku tahu makna terdalam dan tertinggi kehidupan

Jazakumulloh khoiro…Makasih Banget yak, aku nggak bisa ngebalas apa-apa, hanya doa aku yang mengiringi kalian, dan Cinta aku…

Pengantar penulis

Dengan menyebut Nama Allah, Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), sejumlah benda-benda yang tercipta di angkasa. Alhamdulillah, sejumlah benda-benda yang tercipta di bumi. Alhamdulillah, sejumlah benda-benda yang tercipta di antara keduanya. Alhamdulillah, sejumlah benda-benda yang Dia Ciptakan.

Aku meminta pada-Mu Ya Allah, curahkanlah segenap rahmat-Mu pada Sang Guru Besar dan Panutan para guru dan pengajar, cahaya dari segala cahaya, rahasia besar kehidupan, eliksir atas segala dampak negatif perubahan, palang pintu kemudahan; Nabi Muhammad S.a.w., juga pada keluarganya yang suci, dan sahabat-sahabatnya yang terpilih; sejumlah seluruh nikmat dan Anugerah-Mu ya Allah.

Dan setelah itu:

Senin, 10 Agustus 610 M, dua hari setelah malam bulan purnama, 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah, di sebuah gua sempit yang gelap di puncak gunung bebatuan yang terjal, jauh dipinggiran kota Mekkah, seorang pria terpekur merenung di situ, berkontemplasi atas semua yang terjadi di lingkungan dan masyarakatnya.

6 bulan sudah dia sering menyendiri di gua itu. Sejak usai 3 tahun sebelumnya dia menemukan hobi baru itu. Dan pada malam yang cerah itu, sesosok utusan dari langit melesat menuju gua tempat pria itu tengah asyik dengan segala renungannya, berdiri mendadak di hadapannya, dan mengagetkannya, mendirikan bulu kuduk di tengkuknya.

Iqro’!“, bacalah! Atas nama Tuhanmu Yang Menciptakan (Q.S Al-Alaq: 1)… dan sejak itulah tonggak manifestasi perubahan ditegakkan. Perintah pertama yang sangat jelas. Bacalah, bacalah apapun yang ada di depan kita, bacalah alam yang terbentang luas di hadapan kita, bacalah semua kejadian di sekitar kita. Dan Pria itu, Muhammad bin Abdillah, yang telah dipercaya mengemban perintah itu, untuk melakukan perubahan dan pendidikan pada umat yang sedang mengalami kebingungan dalam kegelapan yang pekat. Dia telah mendapat mandat dari Penguasa alam, menjadi seorang pengajar.

Mungkin banyak di antara kita yang tidak menyadari rahasia ini, kenapa perintah dan ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah perintah membaca. Bahkan di ayat lain pun (QS.Al-Qolam: 1), Allah Ta’ala secara gamblang bersumpah dengan dua alat baca tulis, pena dan buku. Kenapa tidak perintah yang lain, sembahlah Aku misalkan? Kenapa “hanya” bacalah?

Membaca dan menulis, dua unsur utama dalam pendidikan, pendidikan jenis apapun itu. Dengan membaca semua cakrawala kita terbuka, dengan membaca kita tahu bahwa kita ada, dengan membaca kita tahu bahwa kita diciptakan, dan dengan membaca kita tahu ada Yang Menciptakan kita, yang kita harus berterima kasih pada-Nya dengan menyembah-Nya, menuruti perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Lalu bagaimana Sang Nabi yang terpilih itu mengemban profesinya sebagai pengajar? Apa yang akan dia lakukan di tengah masyarakat dan keadaan sosial yang lagi carut marut tercabik-cabik kebodohan? Masa yang sedang berlaku hukum rimba, di semua sektor kehidupan dan di seluruh sudut penjuru dunia? Sistem apa yang akan dipakainya dalam merekonstruksi struktur sosial dalam tatanan masyarakat dunia?

Tak hanya itu, dia juga dituntut untuk profesional dalam mengajar dan menyampaikan ajaran yang dibebankan padanya oleh Penciptanya. Dan dengan formula khusus, karakter yang kuat, dengan fantastis dia mampu mengemban tugas yang superberat itu, melakukan reformasi total dan perombakan besar-besaran atas kemanusiaan, seorang diri, mulai dari nol! Tanpa ada satupun yang membantunya kecuali Sang Pencipta yang Menugaskannya.

Dengan sistematis sekali dia melakukan perubahan itu, dan dalam waktu yang relatif singkat, sehingga dengan cara dan metode yang diterapkannya tadi, performa serta ajarannya tidak lekang lapuk digerus masa dalam belasan abad, tanpa perubahan apapun, sangat fenomenal sekali!

lantas metode apa yang diterapkannya sebagai pengajar? Bahkan siapapun yang meniru metodenya, dijamin insyaAllah bisa sukses mencapai target yang dicanangkannya, sebagaimana dia sukses mengemban amanat sebagai pengajar itu dengan metode-metode yang dipilihnya.

Buku sederhana ini akan berbicara tentang itu, buku yang sengaja penulis adaptasi secara sangat bebas dari sebuah kitab, Arrosul Al-mu’allim, Rosul sang Pengajar, karya Assyeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah (w.1997 M) ini, akan berbicara tentang sistem dan metode Nabi Muhammad S.a.w dalam mengajar dan mendidik, yang sangat patut sekali dibaca oleh siapapun yang memilih profesi sebagai guru, guru apapun itu, walau guru tukang reparasi sepeda sekalipun.

Sengaja juga penulis memilih media buku, sebab ia adalah media yang sangat efektif untuk menyampaikan informasi secara umum, ia juga bisa menjangkau dan menembus banyak kalangan, dan tahan lama. Bahkan ia mampu merubah kehidupan, walau ia benda mati, namun ia memiliki roh.

Dan semoga buku ini, mampu memberikan inspirasi dan iluminasi pada kita semua dalam proses kita mentransfer ilmu-ilmu kepada putra-putri bangsa kita, dan semoga juga mampu memberikan pencerahan pada sistem pendidikan nasional di negara kita, formal ataupun non formal, melalui berkah cahaya Qur’an dan Sunnah. Dan tak lupa juga penulis mengharap saran dan kritik yang konstruktif demi perbaikan buku ini jika dipandang ada yang kurang pas.

Kemudian, mudah-mudahan Allah ta’ala memberikan berkah dan kemanfaatan pada buku ini bagi kita semua, Amiiin.

Jazallah Anna sayyidana Muhammadan – shollallahu alaihi wa sallam – Maa huwa Ahluh, walhamdulillah fil bad’i wa fil khitam.

Mekkah, Jumat 14 November 2008 M

16 Dzul Qo’dah 1429 H

Alawy Muhammad

isi Buku :

PERSEMBAHAN

PENGANTAR PENULIS

MUKADDIMAH

BAB I

  • Nabi, Sang Panutan

  • Kesaksian Sejarah akan integritas Karakteristik beliau dalam mengajar

  • Lemah lembut dalam mengajar

  • Poin-poin umum yang harus selalu diperhatikan oleh seorang pengajar

  • Atribut Moral dan Psikis yang harus dimiliki pengajar berkapasitas

  • Atribut sosial yang harus dimiliki pengajar berkapasitas

  • Target pendidikan dalam Islam

BAB II

  • Metode-metode Rosululloh S.a.w. dalam mengajar

  • Praktek secara langsung (Dakwah bil haal)

  • Memberikan pelajaran secara gradual

  • Menghindari Kejenuhan murid

  • Memperhatikan perbedaan kemampuan dan tingkat inteligensi setiap pelajar

  • Dialog dan tanya jawab

  • Diskusi dan Dialektika

  • Observasi kecerdasan murid

  • Analogy (kias)

  • Allegori dan persamaan

  • Visualisasi Gambar

  • Penggunaan Isyarat gerak tangan saat menerangkan

  • Penggunaan Alat Peraga

  • Keterangan Langsung

  • Menjawab setiap pertanyaan, dan menstimulasi murid untuk berani bertanya

  • Menjawab satu pertanyaan dengan dua jawaban atau lebih

  • Mengalihkan pembahasan

  • Meminta murid mengulangi pertanyaannya

  • Melatih kepekaan murid dengan melempar alih pertanyaan

  • Melakukan tes dan ujicoba

  • Konsensus terhadap sesuatu dengan tanpa kata

  • Mencari dan Memanfaatkan momentum yang baik

  • Selingan joke, kelakar, dan bersenda gurau saat mengajar

  • Memantapkan keterangan dengan sumpah

  • Mengulangi keterangan sampai tiga kali

  • Menarik perhatian murid dengan merubah posisi

  • Menarik perhatian dengan berulang-ulang memanggil nama si murid

  • Menarik perhatian murid dengan memegang tangan atau pundaknya

  • Memancing murid untuk mengungkap sesuatu dengan menyamarkannya

  • Menyebut akibat terlebih dahulu, sebelum menyebut sebab

  • Mengglobalkan sesuatu, kemudian merincinya

  • Mau’idzoh dan Tadzkiroh (Menasehati dan mengingatkan)

  • Memotivasi dan menakut-nakuti

  • Cerita dan Kisah

  • Prolog singkat

  • Isyarat dan Sindiran

EPILOG

  • Apakah beliau S.a.w pernah marah saat mengajar?

  • Perintah mempelajari bahasa asing

  • Pengarsipan dan penyimpanan data

  • Nabi S.a.w dan pendidikan kaum wanita

AKHIR KATA

Kepada :

Mereka-mereka yang dianggap guru,

yang merasa jadi guru,

yang menjadi guru, dan

Para calon guru

(…tipikal “guru” yang sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya, India, yaitu orang yang tak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual pada muridnya…)

Andrea Hirata, “Laskar Pelangi”

Muqoddimah

Merupakan sebuah lompatan besar dan kemajuan tentunya jika dalam dunia pendidikan dewasa ini telah banyak perubahan begitu frontal dalam sistem KBM (kegiatan belajar mengajar) di negara kita dalam dekade terakhir. Saat ini, antara Guru dan murid dituntut untuk saling interaktif, dan lebih kreatif dalam mengembangkan kemampuan mereka dalam proses belajar.

Tidak seperti masa-masa lalu, yang mana murid lebih banyak dan cenderung sangat pasif. Guru berdiri menerangkan (membaca dari buku) dan murid hanya mendengarkan, setelah itu menyalin tulisan yang ada di buku tadi, totally copied !

Namun sekarang semua itu telah berubah, murid dirangsang dan difasilitasi untuk mengembangkan apa yang dipelajarinya, apalagi hal ini sekarang didukung penuh dengan kemajuan teknologi dan informasi. Hampir semua lembaga pendidikan, baik yang formal atau non-formal, memanfaatkan kemajuan teknologi ini 1.

Tak hanya itu, berbagai metode ditawarkan. Kita mengenal istilah-istilah semacam CBSA (cara belajar siswa aktif), quantum learning, ada juga CTL (contextual teaching and learning), Pingu, dan lain sebagainya. Dan semua bertujuan umum satu, bagaimana membuat murid itu paham dengan apa yang diajarkan, dan bisa melakukan praktek dan mengamalkan apa yang diajarkan, tidak sekedar tahu teori saja. Dalam istilah pesantrennya, al-ilmu bil amal, ilmu dengan amal.

Hanya saja, sebagian besar metode-metode itu, kita serap dan kita adaptasi dari dunia pendidikan barat, dunia yang kita tahu bahwa mereka lebih maju dalam segalanya daripada kita. Bagus memang, sebab masih termasuk juga dalam bab al-hikmah dhoollatul mu’min. Ilmu pengetahuan orang mu’min yang hilang.

Sebuah kata bijak mengatakan, khudzil hikmata min ayyi wi`a-in khorojat, ambillah kebijakan, ambillah ilmu dan pengetahuan dari mana saja sumbernya, meski dari barat sekalipun.

Namun kita juga harus ingat, sebagai seorang muslim yang baik, kita tetap harus bangga dengan “produk” sendiri. Sebab sebenarnya sejak 1400 tahun lalu, Nabi kita, Nabi Muhammad S.a.w pun ternyata telah mengembangkan dan menawarkan metode pengajaran yang memiliki karakter tersendiri. Dan jika kita mau teliti, dan menarik urutan benang merah lebih ke belakang lagi, berbagai metode yang dikembangkan oleh barat dalam dunia pendidikan mereka (yang lantas kita ambil itu), ternyata mengambil dan mengadopsi metode pengajaran yang telah lama ditawarkan Nabi Muhammad S.a.w. Ironisnya, kita sendiri tidak banyak yang mengetahui hal ini.

Karena data sejarah mengatakan, Umat Islam telah jauh berkembang terlebih dahulu, saat bangsa-bangsa Eropa masih dalam kegelapan, dan itu pada abad pertengahan. Ilmu pengetahuan yang mereka dapat, adalah semua dari universitas-universitas Islam yang berdiri di semenenjung Iberia, Andalusia (Spanyol dan Portugal sekarang). Belum perguruan-perguruan tinggi yang tersebar hampir di semua wilayah Islam yang sampai sekarang sebagian masih eksis dengan karakteristik dan metode pendidikan yang menyendiri, semisal Al-Azhar (di Mesir), dan Qoiruwan (di Maroko). Walau sekarang kenyataan yang ada, kita umat Islam tertinggal jauh dari mereka 2.

Nabi tidak sekedar duduk membacakan ayat dan para sahabat mengelilinginya sambil mendengarkan saja. Sebuah imajinasi dan persepsi yang keliru jika kita mengilustrasikan bahwa Nabi dalam mengajar dan menyampaikan wahyu ilahi hanya seperti itu saja caranya. Tentu tidak logis juga jika cara yang monoton dan pasif seperti itu bisa menghasilkan kader-kader penakluk dunia yang nama mereka tercatat dan terekam abadi dalam tinta emas sejarah, bahkan mampu menghilangkan dua negara super power dari peta dunia pada masa itu, Dinasti Sasanid di Teisphon, Persia (Republik Islam Iran sekarang) dan Imperium Romawi Byzantium di Konstantinopel (Turki sekarang). Jika tidak karena Nabi memiliki sistem dan metode pendidikan yang istimewa dan punya kekuatan karakter tersendiri.

1 Semisal pemutaran video, penggunaan proyektor, pemanfaatan internet, dsb. Tidak hanya sekolah dan tempat pendidikan berbasis umum yang menggunakan ini, bahkan dunia pesantren pun telah menggunakannya, walau mereka juga tetap mempertahankan system lama yang jadi cirri khas mereka, yaitu sorogan dan bandongan (al-muhafadzoh alal qodim-is sholih, wa-l akhdzu bi-l jadid al-aslah).

2 Dan ini sebab kesalahan umat islam sendiri, untuk lebih lengkap, bisa anda baca buku sirru ta-akkhuril-muslimin (rahasia kemunduran umat islam) karya Aly Thontowi, juga buku madza khosirol alam bi-n khithotil muslimin (kerugian yang dialami dunia sebab kemunduran umat Islam) karya Aly Hasani Annadwi. Dan inti dari kemunduran itu adalah al-wahn dan ketakutan akan kematian.

BAB I

Nabi, Sang Panutan

Sebagai seorang muslim, tentu semua tahu, bahwa Nabi Muhammad S.a.w adalah panutan terbaik bagi kita. Semua apapun yang beliau lakukan adalah bentuk dari pembelajaran dan percontohan untuk menuntun kita pada sebuah kehidupan dan masa depan yang lebih cerah. Beliau adalah contoh dalam segala hal. Jika ingin tahu tata cara bergaul yang baik, beliau telah mencontohkan. Jika ingin tahu tata cara transaksi yang fair, beliau juga mencontohkan. Tata cara menyikapi kehidupan sekaligus berbagai macam problematika dan konfliknya, beliau juga telah memberitahukan pada kita. Tata cara beribadah, apalagi. Dan lain sebagainya

Bahkan dalam tata cara berpolitik dan strategi berperang pun, beliau telah memberi contoh dan pelajaran bagi kita. Semua itu bisa kita baca dan bisa kita ikuti dalam biografi hidup beliau yang telah terdeskripsikan di beberapa karya monumental para ulama’ terdahulu.

Dan yang lebih daripada semua itu adalah, beliau juga ternyata memberi tahukan pada kita bagaimana tata cara mendidik dan mengajar yang baik. Bagaimana cara menyikapi perbedaan individu dan ketidaksamaan pemikiran dan cara berpikir murid-murid kita, siswa kita, santri kita, mahasiswa kita, umat kita, jamaah kita, atau apapun istilahnya, orang yang kita ajar.

Semuanya telah beliau contohkan pada kita, dan beliau adalah seorang Guru Besar yang harus kita ikuti. Sebab bagaimanapun, jika kita berposisi sebagai pengajar, maka di hati kecil kita pasti terbersit sebuah keinginan agung nan mulia, yaitu mencerdaskan anak bangsa, dan itu terilustrasikan dengan keinginan sukses dalam mengajar, dan materi yang kita ajarkan bisa dipahami dengan baik oleh mereka-mereka yang kita ajar, juga bermanfaat bagi masa depan mereka, dan terpraktekkan dalam keseharian dan perikehidupan mereka. Puncak dan tujuan utama dari mengajar. Tanpa melihat materi pelajaran apa yang kita ajarkan, baik itu ilmu-ilmu umum atau (terlebih lagi) ilmu-ilmu agama.

Semua telah Rosulullah S.a.w contohkan, tanpa terspesifikasi pada apa yang kita ajarkan. Sebab apa yang beliau bawa, dan cara beliau membawa, adalah universal, mencakup keseluruhan, tidak membedakan profesi atau apapun. Walau sebenarnya mengajar sendiri adalah profesi orisinal dari pada para Rosul dan Nabi dan tujuan asal dari pengutusan mereka, alaihimus salam.

Dan ke-universal-an sistem mengajar beliau telah diakui oleh sejarah, peradaban, kehidupan, dan kemanusiaan.

Tak berlebihan – dan sangat tepat – jika Michael.H.Hart menempatkan beliau dalam puncak 100 tokoh berpengaruh sepanjang masa, dalam masterpiece-nya “The 100“. Kurun waktu 1400 tahun ajaran beliau yang terus diikuti, dan karisma yang terus bergaung, dan tanpa perubahan adalah bukti terbesar daripada itu.

Dan hal itu semua, beliau ekspresikan melalui metode mengajar dan mendidik beliau yang memiliki karakter tersendiri yang khas dan kuat.

Setidaknya secara global beliau mempunyai 35 metode yang berbeda dalam mengajar. Dan ini sebenarnya hanya sedikit yang bisa tertulis, karena pada dasarnya metode beliau dalam mengajar (dalam semua bidang ilmu dan pendidikan) adalah lebih dari 1000, kalau tidak boleh dikatakan tidak terhitung. Karena sesungguhnya beliau adalah Guru Besar dalam semua fakultas dan jurusan.

Mulai ilmu sosial sampai politik

Mulai ilmu tata bahasa sampai ilmu tata negara

Mulai ilmu kemasyarakatan (civitas,ijtima’) sampai hubungan internasional

Mulai militer sampai kedokteran

Dari geografi sampai astronomi

Dari olahraga sampai perniagaan

Dari sejarah peradaban yang telah punah sampai (bahkan) kejadian di masa depan.

Adapun ilmu-ilmu syariat yang menjelaskan hukum-hukum agama, ilmu yang berbicara seputar tasawwuf, aqidah, akhlak, suluk, tauhid, fiqih, ilmu-ilmu yang mengatur interaksi antara makhluk dengan Penciptanya, dan ilmu agama yang lainnya, memang itu adalah asal dan asli dari tujuan pengutusan beliau1.

Beliau adalah Guru Besar dengan nama, makna dan arti yang sebenarnya

Dan semua jurusan dan bidang ilmu yang tersebut tadi, telah terdeskripsikan dalam Al-Qur’an yang diturunkan padanya dan Assunnah (Hadits) yang dibawa olehnya. Beliau S.a.w memiliki karakteristik mendidik tersendiri yang tidak dipunyai oleh pengajar manapun, sebelum beliau dan sesudahnya.

Kalau Napoleon Bonaparte dalam diary pribadinya menyatakan kekaguman tertingginya pada beliau, maka kita sebagai seorang pengajar yang muslim, sebagai umatnya, lebih berhak lagi atas kekaguman dan rasa bangga itu.

Dan sesungguhnya beliau diutus adalah sebagai seorang Pengajar. Beliau sendiri telah berstatemen :

إِنَّما بُعِثْتُ مُعَلِّماً

Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pengajar” (HR. Ibnu Majah)

1 Sebenarnya, agama dan kehidupan itu tidak terpisah. Ajakan pemikiran liberal untuk memisahkan semua aspek agama dan kehidupan adalah sebuah kekeliruan. Liberalisme yang dikembangkan cendekiawan non muslim jika diterapkan dalam islam sangatlah tidak tepat. Sebab pada dasarnya ajaran islam sama sekali tidak bertentangan dengan rasio. Hal itu terjadi pada awalnya adalah karena pengekangan yang di lakukan gereja terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Memang, liberalisme jika diterapkan dalam agama Kristen sangat tepat. Karena dalam ajaran mereka terjadi begitu banyak pemalsuan yang sangat bertentangan dengan rasio. Jika kita mau membaca sejarah, maka kita tidak akan terjebak dalam hal ini, yaitu, pemisahan agama (islam) dari kehidupan. Sebab (sekali lagi) ajaran islam sama sekali tidak bertentangan dengan rasio. Contoh dari itu, saat abad pertengahan, para ilmuwan yang menetapkan bahwa bumi bulat, maka mereka dikejar-kejar dan dibunuh dan dianggap sebagai tukang tenung, sehingga akibat tekanan itu, terjadilah pemberontakan di kalangan ilmuwan terhadap konsensus gereja yang menyatakan bahwa bumi itu datar. Hal ini berbeda dengan islam yang sejak awal menyatakan bahwa bumi adalah bulat. Jika kita mau teliti, tak ada satupun ajaran islam yang tidak masuk akal. Jika ada ajaran yang tidak bisa difaham akal, maka itu sebenarnya akal belum mampu menjangkaunya, dan pada saatnya nanti akan mampu dijangkau. Sebagaimana proses perkembangan janin, alqur’an telah menyebutkannya 14 abad yang lalu, tetapi iptek dan dunia kedokteran baru saja bisa membongkar rahasia ribuan tahun itu pada pertengahan abad 20 ini saja.

Kesaksian Sejarah akan integritas

Karakteristik beliau dalam mengajar

Beliau S.a.w diutus untuk membenahi, menyempurnakan dan menyebarkan tata nilai kehidupan dan norma pada umat manusia di muka bumi ini. Beliau diutus hanya dalam tempo yang relatif singkat, 23 tahun. Namun dalam tempo sesingkat itu, beliau seorang diri mampu mengkader dan melahirkan puluhan ribu orang menjadi pemimpin-pemimpin tangguh yang disegani dan ditakuti.

Beliau mampu menghadirkan sesuatu yang teramat besar untuk kemanusiaan.

Hal ini tidak pernah tercatat dalam sejarah, seorang pendidik sanggup berbuat seperti itu.

Plato? Hanya punya satu penerus, Aristoteles

Aristoteles? Hanya satu juga, Socrates. Dan itupun filsafat kehidupan yang mereka usung terkubur ratusan tahun sebelum digali dan diangkat kembali oleh orang-orang Islam! 250 tahun-an setelah Rosul S.a.w wafat 1, dan tidak semua orang bisa mencernanya, belum lagi tejadinya kontradiksi dan benturan dengan hukum alam dalam ajaran mereka. Berbeda dengan filsafat kehidupan yang dibawa dan diajarkan oleh beliau S.a.w.

Para Nabi sebelumnya? Tidak ada jumlah pengikutnya yang mampu menandingi pengikut Nabi kita, dalam hayat mereka semua. Apalagi mereka semua diutus hanya dalam skala lokal saja, lain dengan Nabi kita yang diutus pada manusia dalam skala internasional.

Nabi Muhammad S.a.w meninggal dan seluruh bangsa di semenanjung Arabia telah menyatakan diri mengikuti ajaran yang dibawanya, Islam. 14 tahun setelah wafatnya, islam telah merambah ke afrika utara dan asia tengah. 30 tahun sesudah itu, Islam telah menginjak daratan Eropa 2 dan merangsek jauh ke timur benua asia3.

Padahal Byzantium, kerajaan Romawi timur dan dinasti Sasanid Persia, dua negara super power pada masa itu, membutuhkan ratusan tahun untuk melebarkan sayap dan membesarkan kerajaannya. Itupun keduanya masih harus mengalami nasib tragis, dua imperium raksasa itu harus hilang dari peta dan sejarah dunia setelah diruntuhkan oleh para sahabat, kader-kader dan didikan terbaik Nabi Muhammad S.a.w 4

Hanya dalam tempo 40 tahun saja, mulai awal abad 6 masehi, peta dunia telah berubah drastis. Dan gaung ajaran beliau terus bergema sampai sekarang, dengan pengikut yang makin bertambah. Sampai saat ini ada hampir 1,3 milyar muslim di dunia, yang 400 juta bertebar di eropa 5, dan bi idznillah akan terus bertambah.

Adakah tokoh seperti beliau?

Oleh karena itu, sebagian orang bijak berkata, andai Rosululloh S.a.w tidak memiliki mukjizat apapun kecuali para sahabat-sahabatnya, murid-murid terbaik didikan beliau, maka itu sudah cukup membuktikan akan kerasulan dan kenabian beliau. Lewat para sahabatnya lah, pengikut pertama beliau, buah pendidikan keras itu terlihat sampai kini.

Kala Nabi Isa A.s diangkat ke langit, beliau hanya punya 12 pengikut setia (Al-Hawariyyun). Maka Nabi kita memiliki 124.000 murid saat beliau wafat, 30.000 di antaranya adalah panglima, pemimpin dan tokoh-tokoh kapabel, ulung, dan berkualitas yang diakui sejarah, dan di puncak mereka ada 4 sosok besar yang tak satupun manusia di muka bumi ini yang tidak pernah mendengar namanya; Abu bakar r.a, Umar bin al-khottob r.a, Utsman bin Affan r.a, dan Ali bin Abi tholib r.a.

Para pemimpin kaliber dunia yang terdidik dari satu tangan dingin, di kampus dan pesantren, sekaligus barak militer yang sama, Masjid Nabawi, namun memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda-beda, tidak sama antara satu dengan yang lain! Walau sebenarnya secara umum Nabi dalam mengajar, tidak hanya Cuma di masjid Nabawi. Sebagian besar beliau mengajar di sekolah alam, di tempat-tempat terbuka. Saat dalam bepergian, saat di pasar, saat dalam peperangan, dan sebagainya.

Sangat jarang, bahkan tidak ada, pendidik dan pengajar sebagaimana Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Meskipun beliau terlahir dan muncul dengan background lingkungan padang pasir yang gersang, tandus, keras, yang masyarakatnya nomaden, temperamental juga paganis, dan jauh dari modernitas, bahkan jauh dari pusat-pusat peradaban dunia kala itu; Romawi, Persia, Palmeyra (yordania sekarang), Yaman dan Delta Sungai Nil (Mesir). Namun beliau menghadirkan sesuatu yang sama sekali baru untuk dunia, kehidupan, peradaban,

1 Lihat al-bidayah wa an-nihayah karya Ibnu Katsir, atau tarikh milik ibnu Khaldun, saat khilafah dipegang oleh Daulah Abbasiyah, di masa kekhalifahan Ma’mun bin Harun Arrasyid

2 Dimulai dari Cyprus dan Nicosia

3 Bahkan saat masa pemerintahan S.Utsman bin Affan, delegasi khilafah telah sampai ke daratan Indonesia

4 Dinasti Sasanid runtuh pada abad 6 masehi saat khilafah S.Umar bin alkhattab, sedangkan Romawi timur kehilangan pengaruhnya dan runtuh total pada penghujung abad 14 di tangan Sultan Muhammad Al-Fatih, Khalifah dari Dinasti Ottoman (Turki Utsmani)

5 Salah seorang ulama caliber dunia, badi’uz zaman Syaikh Sa’id An-Nursi (w.1950 M) mengatakan, bahwa Eropa sekarang sedang mengandung Islam, dan sebentar lagi akan melahirkan.

<!– @page { margin: 0.79in } P.sdfootnote { margin-left: 0.2in; text-indent: -0.2in; margin-bottom: 0in; font-size: 10pt } P { margin-bottom: 0.08in } A.sdfootnoteanc { font-size: 57% } –>

kemanusiaan, dan untuk semuanya yang tidak sanggup dilakukan oleh siapapun. Saat yang sama, yang makin menambah kehebatan beliau S.a.w, adalah beliau seorang ummiy (illiterate), yang tidak bisa baca dan tulis.

Tetapi bagaimana beliau bisa menjadi dan mendapat gelar setinggi itu? Guru Besar? Bukan sekedar Profesor honoris Causa. Alangkah hebatnya beliau. Tentu saja sebuah keluarbiasaan jika orang yang tidak bisa baca dan tulis, bisa menghilangkan buta huruf dan buta hati, dan membuka mata dunia, yang saat itu terkatup rapat 1. Sementara orang yang bisa baca dan tulis, belum tentu dia mampu menghasilkan satu orang saja, alih-alih merubah dunia.

Memang tentu para Nabi (termasuk Nabi Muhammad S.a.w) ada inayah ilahiyah (bantuan dari Allah ta’ala) di sana, namun bantuan itu tidak akan datang begitu saja, kecuali kalau mereka mempunyai karakter khusus dan kepribadian yang kuat juga kecerdasan di atas rata-rata. Sesuai hukum alam, ada sebab maka ada akibat2. Dan memang mereka semua telah disiapkan oleh Allah ta’ala untuk kepentingan itu.

Jadi sudah seyogyanya dan seharusnya jika kita mengikuti dan mencontoh karakteristik beliau dalam mengajar. Sebab apa yang beliau contohkan pada kita, di samping universal, juga relevan sepanjang masa, cocok dengan segala keadaan dan cuaca. Itu jika memang kita ingin sukses dalam mendidik, mengajar dan mencerdaskan anak bangsa. Tidak Cuma itu, tetapi kita dihormati dan nama kita dikenang dengan baik dan harum oleh murid-murid kita, dan oleh tinta sejarah.

Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan pada beliau ilmu yang tidak seorangpun bisa menyamainya. Tak hanya itu, beliau juga diberi kepribadian sempurna, hal itu dinyatakan Allah ta’ala dalam firmanNya yang artinya :

“…dan Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.” (Q.S.Annisa: 113)

Lemah lembut dalam mengajar

1 Untuk lebih jelas, baca demografi keadaan dunia sebelum kelahiran dan diutusnya beliau, di kitab-kitab yang menerangkan biografi beliau. (kitab-kitab siroh Rosul)

2 Contoh dari itu adalah kemenangan orang islam pada pertempuran pertama mereka dalam sejarah, ekspedisi badar (april 624 M/romadlon 2 H), padahal saat itu tentara islam hanya berkekuatan 313 pasukan dengan persenjataan yang minim, sementara tentara paganis kafir quraisy berkekuatan 1000 tentara dengan persenjataan lengkap. Ada faktor non teknis memang, yaitu mukjizat dan bantuan dari malaikat, namun tentara islam sendiri saat itu, unggul secara teknis dan strategi juga, dengan memilih posisi yang strategis, dan melancarkan serangan di waktu dan saat yang tepat sesuai perhitungan dan strategi tempur yang diatur sendiri oleh Nabi Muhammad S.a.w. Bantuan tidak akan datang begitu saja andai kaum muslimin hanya berdiri mematung tidak melakukan apa-apa saat itu.

Dan beliau pun lalu menyebarkan ilmu itu pada semua manusia. Beliau adalah pengajar pertama kebaikan di muka bumi itu. Beliau pun memiliki keindahan susunan kata, ketajaman logika, sistem dan style mengajar yang bijak, dada yang lapang, hati yang lembut, jiwa yang cerah dan bercahaya, kasih sayang, kebijaksanaan, kecerdasan dan perhatian. Beliau sangat care terhadap ummatnya. Beliau tidak suka menggunakan cara yang keras dalam mengajar, kecuali sesekali saja. Bahkan jika keadaan menuntut itu, semacam ada ketidak tepatan dari sahabatnya, akhlak yang tidak pas, beliau tidak menegur atau membentak dengan terus terang, tetapi dengan kode ataupun sindiran, sehalus mungkin.

Beliau tahu, bahwa ketika mengajar dengan cara keras apalagi cenderung kasar, justru reaksi yang terjadi adalah sebaliknya. Bukannya ilmu yang masuk ke hati, yang ada adalah perlawanan. Malah terkadang keterus terangan dalam membentak, atau mendidik dengan cara mengolok, bisa menjatuhkan wibawa seorang pengajar di depan muridnya, karena bisa jadi murid menilai gurunya sebagai guru yang arogan. Dan tabiat umum manusia adalah benci akan sikap kekerasan dan kearogansian.

Nah, saat murid apriori pada gurunya, maka secara otomatis guru itu tidak akan bisa menanamkan nilai dan ilmu dalam hati muridnya. Sebab yang sangat dibutuhkan untuk masuknya sebuah ilmu dalam hati murid, adalah ketulusan dan keikhlasan guru itu sendiri, di samping respon positif dari si murid.

Idza wujidat-il qoobiliyyah min-at tholib, ma’a nadhor-il mu’allim, lahashola fath-un adzim. Jika ada respon positif dari murid serta ada perhatian dari guru, maka akan terjadi iluminasi dan pencerahan yang luar biasa.

Maka, andaikata si murid merespon, sementara guru asal-asalan dalam mengajar, atau ada perhatian dari guru, sementara murid tidak merespon apa yang diajarkan, meski mengajarnya sampai teriak-teriak, maka pencerahan ilmiah itu tidak akan mungkin terjadi. Dengan kata lain, kegiatan belajar mengajar gagal.

Jadi, respon murid dan perhatian guru, adalah syarat mutlak suksesnya kegiatan belajar mengajar. Dari sini pula kita tahu, tempat pendidikan1 yang

1 Pondok pesantren (ar: ma’had) ataupun sekolah umum, pada dasarnya adalah sama, tempat menimba ilmu. Yang berbeda adalah materi yang diajarkan dan karakteristik pendidikannya, serta kontribusi yang diberikan pada kehidupan dan masyarakat. Juga dari sisi hasil split personality-nya. Termasuk perbedaan yang menonjol adalah dari segi moralitas, integritas, loyalitas (bahkan fanatisme), penghargaan dan pengagungan murid pada gurunya.

Lebih dari pada itu, yang harus kita ketahui secara ijmali (global), perbedaan antara pesantren (beserta semua tingkatannya, mulai I’dadi, ibtida’I, tsanawi/wustho, aliyah, takhossusiy, ma’had aliy, dan dirosah ulya) dan pendidikan formal (mulai Playgroup,TK, SD/MI, SMP/Mts, SMU/SMK/MA,= =perguruan tinggi) adalah pesantren memiliki ta’lim, tadris, ta’dib dan tarbiyah, sedangkan pendidikan formal hanya ta’lim dan tadris saja.

Ta’lim adalah proses transfer ilmu dari guru pada murid, transfer of knowledge. Tadris atau psikomotorik. Ta’dib yaitu sudah mulai praktek. sedangkan tarbiyah adalah pengawasan, dan didikan langsung yang berupa penggemblengan hati dan pendadaran jiwa dan ruh agar mengenal Penciptanya, yang dilakukan guru pada murid secara terus menerus dalam 24 jam. Jadi di pesantren di samping membawa ilmu pengetahuan, yang kedua mengamalkan ilmu itu sendiri, yang ketiga membentuk kepribadian, dan yang keempat, meningkatkan, dan menambah kualitas ruhani.

Ta’lim bisa diperoleh dengan jangka waktu yang ditargetkan, meskipun pendek (3 tahun misalkan). Sedangkan tarbiyah tidak bisa dilakukan secara instant, bahkan terkadang membutuhkan waktu lama dan panjang, tergantung kepribadian dan suluk masing-masing individu si murid, dengan keharusan mulazamah (selalu bersama guru) selama 24 jam, sehingga dia tahu secara langsung apapun yang dilakukan sang guru dalam rangka mendidiknya.

berkualitas atau tidak, yang favorit atau non favorit, yang unggulan atau non unggulan, hanya sarana dan fasilitas pendukung saja. Karena semua tetap kembali pada murid dan guru, itu saja, dua unsur terpenting dalam pendidikan.

Namun tentu kita sebagai pengajar, tetap harus berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pemahaman dan menularkan sekaligus mentransfer ilmu pada murid yang kita ajar. Oleh karena itu, metode apapun berusaha kita gunakan.

Poin-poin umum yang harus selalu diperhatikan oleh seorang pengajar

  • Rendah hati

  • Lemah lembut, dan santun (sebab bisa dipastikan, jika seorang pengajar temperamen dan killer – tidak pada waktunya – akan banyak murid yang kabur darinya)

  • Keep smile

  • Tidak mudah membentak dan memarahi murid saat melakukan kesalahan

  • Tidak langsung mencela, menjelekkan atau membodohkan murid saat melakukan kekeliruan

  • Tidak memuji murid secara langsung di hadapan teman-temannya

  • Sabar terhadap kenakalan yang muncul dari muridnya

  • Sebisa mungkin tidak melakukan hukuman fisik terhadap murid, karena yang mereka butuhkan sebenarnya adalah perhatian, bukan kekerasan

  • Rata dalam perhatian, antara yang bodoh dan yang pintar, yang miskin dan yang kaya, yang bagus rupa dan yang buruk rupa. Jangan sekalipun pilih kasih pada murid tertentu, dan ini adalah kunci untuk meraih cinta dari semua murid, yang merupakan kunci utama kesuksesan mengajar

  • Bila ada pertanyaan yang tiba-tiba dan menyudutkan, atau logat yang kasar dan perlawanan dari murid, tidak langsung marah, tetapi tetap senyum dan menghadapi dengan lembut

  • Memiliki ketegaran hati, dan keberanian menyampaikan sesuatu yang benar

Poin-poin di atas adalah sekian poin yang kesemuanya dicontohkan oleh Nabi kita. Allah ta’ala berfirman :

“…Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…” (QS.Ali Imron : 159)

Ketika usai ekspedisi Hunain, Rosul membagi harta pampasan perang, tiba-tiba saat itu datang seorang arab dari pedesaan 1 mendesak beliau meminta jatah dari harta itu, bahkan dia menarik selendang Nabi dengan keras, sehingga beliau tertarik ke belakang dan di leher beliau terlihat bekas goresan selendang yang menjerat leher beliau. Dan dalam keadaan seperti itu, beliau tetap mengulas senyum dan tidak marah.

Jadi sudah seyogyanya jika seorang pengajar muslim mencontoh Nabi S.a.w dalam semua perilakunya, kepribadiannya, pemikirannya, moralitasnya, tindakannya, gaya interaksinya, kecakapannya dalam mengajar, juga penampilannya 2

Atribut Moral dan Psikis yang harus dimiliki pengajar berkapasitas

  1. Selalu menjadi contoh yang baik (Qudwah hasanah)

  2. Murah hati, sabar, dan memiliki kontrol diri yang bagus

  3. Lemah lembut, penuh dengan kasih sayang, belas kasihan, perasaan, perhatian dan cinta, terhadap murid-muridnya

  4. Pemaaf dan baik hati

  5. Luwes dan ramah

  6. Moderat

  7. Konsisten, istiqomah, bertakwa, sopan dan menjaga image

  8. Rendah hati, tidak sombong, egois, pongah, bangga diri dan terpedaya oleh diri sendiri

  9. Jujur

  10. Amanat

  11. Memiliki ketenangan diri, keteguhan, balance, dan wibawa

  12. Mempunyai cita-cita yang luhur, selalu optimis, dan enerjik

  13. Menerima apa adanya, tidak tamak

  14. Selalu menata hati dan niat yang ikhlas

  15. Memiliki jiwa keadilan, persamaan, tidak membeda-bedakan status dan netral

  16. Tidak malu mengatakan “Aku tidak tahu”, jika tidak mengerti

  17. Tidak malu dan gengsi mengambil pelajaran dari orang yang di bawah tingkatannya dan ilmunya, walaupun pada anak kecil

  18. Memiliki rasa tanggung jawab, tanpa pamrih, dan selalu semangat dengan profesinya sebagai pengajar

Atribut sosial yang harus dimiliki pengajar berkapasitas

1 Orang arab pedesaan (a.r: baduu) terkenal sekali memiliki sifat kasar, kolot, semau sendiri, dan tidak mau mengalah. Hal itu sampai sekarang

2 Penampilan di sini jangan lantas diartikan harus berjubah, bersurban, dst. Tetapi dalam kerapihan, kebersihan, selalu mewangi, tidak amburadul, dll.

  1. Memiliki skill dan jiwa kepemimpinan

  2. Selalu berusaha memberikan pengarahan, orientasi, nasihat, dan konseling

  3. Membangun hubungan kekeluargaan dengan murid-murid, dan menyebarkan ruh kasih sayang dan cinta di antara mereka

  4. Sanggup memberikan solusi dan jalan keluar dalam problem-problem yang dialami murid

  5. Berjiwa koperatif

  6. Bisa berperan aktif dalam menyelesaikan persoalan kompleks kemasyarakatan

  7. Selalu berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman dan nilai moral yang jadi adat dalam suatu masyarakat

Target pendidikan dalam Islam

Pada dasarnya, target utama pendidikan dalam Islam, adalah tidak untuk hal-hal ruhaniyah murni dan keagamaan saja (sebagaimana yang diterapkan oleh gereja-gereja Kristen sampai abad-abad pertengahan). Juga tidak untuk hal-hal yang berbau keduniaan dan pemikiran (logika) murni (sebagaimana target pendidikan yang diterapkan bangsa-bangsa besar seperti Romawi dan Yunani).

Namun yang ditargetkan oleh pendidikan Islam, adalah konvergensi antara pendidikan ilmu-ilmu duniawi dan ukhrowi (akhirat) secara seimbang. Sebab Islam sangat memperhatikan balance antara interaksi horizontal (antar sesama makhluk) dan interaksi vertikal (antar makhluk dan Pencipta-Nya). Hal itu terekam dalam al-qur’an surat al-qoshosh ayat 77

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…

BAB II

Metode-metode Rosululloh S.a.w. dalam mengajar

Dalam mengajar, beliau selalu memilih metode dan sistem terbaik. Metode yang paling mengesankan, juga yang memudahkan dan membantu dalam memahami suatu ajaran atau permasalahan. Beliau telah memformulasikan sistem dan metode pendidikan yang memiliki kekhasan tersendiri.

Beliau memilih metode yang memiliki daya tancap kuat dalam memory para sahabatnya, apalagi kala itu alat tulis tidak semudah dan sebanyak serta semodern saat ini (bahkan pada zaman beliau diutus, kertas belum ditemukan). Orang-orang arab terdahulu menggunakan daya ingat mereka yang kuat luar biasa untuk menerima dan menyimpan ilmu yang mereka terima.1

Dan bagi siapapun yang mempelajari kitab-kitab hadits, dan membacanya dengan perhatian penuh serta teliti, maka dia akan menemukan banyak warna cara mengajar dalam sabda-sabda dan ajaran yang beliau sampaikan.

Terkadang beliau menggunakan sistem tanya jawab, dengan tata cara memberikan jawaban yang variatif.

Terkadang beliau melakukan dialog dan diskusi

Terkadang beliau menggunakan analog, alegori, sindiran dan peribahasa.

Terkadang beliau menggunakan visualisasi dengan media gambar

Terkadang beliau melempar teka-teki

Terkadang juga menggunakan joke-joke segar dan bercanda

Terkadang sebelum memberikan sebuah pelajaran, beliau memulainya dengan sebuah prolog ringan

Terkadang beliau menempuh cara dengan melakukan perbandingan

Terkadang beliau melakukan tes dan ujicoba

Terkadang beliau memberikan pelajaran dengan cara berkisah

Terkadang beliau tidak menjawab langsung sebuah pertanyaan, tetapi memancing sahabatnya untuk menjawab pertanyaan itu.

Tidak hanya itu, beliaupun juga memiliki jadwal khusus mengajar di kaum wanita, untuk mengajarkan pada mereka segala hal yang mereka butuhkan untuk menempuh kehidupan mereka. Pada anak-anak pun Nabi S.a.w juga memberikan perhatian, mengajar mereka sembari bermain dan bercanda. Tentu saja dengan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan usia mereka.

Dan lain sebagainya, dari berbagai macam metode yang akan kita kupas secara ringkas dalam buku ini. WAllahu waliy-ut taufiiq.

METODE 1

Praktek secara langsung (Dakwah bil haal)

Dalam ilmu-ilmu yang pengajaran dan penyampaiannya membutuhkan praktek, Rosululloh S.a.w selalu melakukannya dengan memberi contoh langsung, tidak Cuma teori saja. Bahkan sebelumnya beliau telah melakukan dan mengamalkannya terlebih dahulu 1.

Karena pada dasarnya, dengan praktek langsung, pengaruhnya lebih besar dan illustrasinya menancap lebih kuat di hati dan memory murid, sebab dia tahu secara langsung contoh, bukti dan gerakannya, sehingga murid dapat langsung mempraktekkannya dan lebih terdorong untuk itu.

Berbeda dengan hanya teori saja tanpa praktek. Kepercayaan murid lebih besar saat melihat guru melakukan dan memberi contoh secara langsung. Malah terkadang, imajinasi yang berkembang di pikiran murid tidak sama dengan apa yang dimaksudkan guru jika hanya sekedar toerema saja.

Dan contoh metode yang diterapkan Rosul S.a.w ini sangat banyak.

Beliau menganjurkan para sahabatnya untuk profesional dalam olahraga renang, memanah dan berkuda, beliau sendiri ahli dan piawai dalam tiga cabang olahraga itu.

Beliau menganjurkan sahabatnya untuk berani dan ksatria dalam bertempur. Beliau sendiri dalam setiap ekspedisinya, dan saat perang berkecamuk, selalu ada di garda terdepan.

Apalagi dalam hal ibadah, beliau adalah orang yang nomor satu dalam hal ini. Praktek secara langsung dan terus melakukannya secara kontinyu, sampai kaki beliau bengkak sebab panjangnya beliau dalam beribadah.

Contoh pengajaran secara praktek yang terucap dalam hadits beliau semisal hadits Shollu kamaa ro-aitumuuni Usholli (sholatlah sebagaimana kalian melihat gerakanku saat sholat), Khudzuu anni manaasikakum (ambillah dariku praktek ibadah haji kalian).

Misal lain, ketika ada orang bertanya pada beliau bagaimana cara berwudlu, beliau langsung memerintahkan untuk diambilkan seember air, dan beliau langsung memberikan pelajaran berwudlu secara praktek langsung di hadapan orang yang bertanya tadi.

Pernah juga pada peristiwa perjanjian hudaibiyah. Setelah melalui sebuah perundingan alot, dan Rosul beserta 1400 sahabatnya tidak jadi masuk kota makkah pada tahun itu (6 H) untuk berumroh, beliau lalu memerintahkan seluruh sahabatnya untuk bertahallul memotong rambut. Namun tak seorangpun dari para sahabatnya melakukannya, sebagian besar masih “ngambek” sebab kecewa tidak jadi masuk kota Mekkah.

Melihat hal itu, beliau agak gusar dan masuk ke tendanya lalu bercerita pada istrinya, S.Ummu Salamah, bahwa para sahabatnya tidak menuruti perintahnya.

Sang istri segera memberikan isyarat agar beliau sendiri yang memulai bertahallul. Seketika itu pula beliau memanggil tukang cukur pribadinya untuk memangkas rambut beliau. Demi melihat hal itu, serentak seluruh sahabatnya yang tadinya tidak mau bertahallul, segera semuanya saling bertahallul memotong rambut mereka, mencontoh apa yang Nabi S.a.w lakukan.

Alhasil, apapun yang beliau perintahkan, yang beliau larang, beliaulah orang pertama yang melaksanakan apa yang diperintahkan, dan menjauhi apa yang dilarang.

Rosululloh S.a.w. mengajarkan pada kita nilai-nilai dan akhlak mulia, beliau sendiri dalam keseharian dan tindakannya selalu berakhlak mulia.

Tentu tidak masuk akal bukan, saat kita menyuruh murid-murid kita untuk bersikap lemah lembut, tetapi di saat yang sama kita selalu suka marah-marah?

Contoh daripada metode ini sangatlah banyak. Dan metode ini adalah metode yang paling sering beliau gunakan dalam mengajar, juga metode beliau yang paling menonjol. Sebab pada dasarnya beliau memang diutus tidak sekedar memberikan teori saja, tetapi sekaligus prakteknya. Hal itu telah disitir dalam al-qur’an yang artinya :

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.”

Dan tentu saja sebagai uswah hasanah (panutan yang baik) tidak mungkin lagi kecuali memberikan contoh dan praktek secara langsung.

1 Sebagian besar ilmu ini berkisar pada ilmu-ilmu yang berhubungan dengan ibadah, semisal wudlu, sholat, haji, puasa, beramal baik, dst. Juga yang berhubungan dengan olahraga (seperti renang, berkuda, memanah) dan ilmu kemiliteran.

METODE 2

Memberikan pelajaran secara gradual

Di antara metode mengajar yang diterapkan Nabi S.a.w, adalah beliau sangat memperhatikan skala prioritas, dan mengajarkannya tidak langsung sekaligus, tetapi berangsur-angsur, sedikit demi sedikit dan pelan-pelan, dengan tujuan agar lebih mudah dipaham dan menancap lebih kuat dalam ingatan.

Salah satu Sahabat Nabi S.a.w, Jundub bin Abdillah R.a bercerita : “ketika kita masih dalam masa-masa pubertas, kita belajar pada Nabi, dan beliau mengajari kita tentang keimanan, sebelum kita belajar Al-Qur’an. Setelah itu, baru kita diajari (isi kandungan dan tata cara membaca) al-Qur’an. Sehingga iman kita makin bertambah (dan menguat). (H.R. Ibnu Majah).

Sebagian sahabat juga bertutur, Rosul S.a.w mengajarkan mereka tiap hari 10 ayat, dan beliau tidak akan menambah pelajaran lagi sebelum mereka faham betul dan menguasai serta mengamalkan apa yang di dalam 10 ayat tadi. Baru setelah itu beliau menambah pelajaran lagi (H.R.Ahmad)

Begitu pula pengajaran akan larangan meminum minuman keras, tidak serta merta langsung, namun wahyu yang berbicara tentang itu, turun berangsur sampai 4 kali.

Hal itu tentu saja akan berbeda jika seorang pengajar memberikan ilmu pada muridnya sekaligus, maka justru akan lebih cepat pula hilang, dan malah kebingungan yang terjadi.

METODE 3

Menghindari Kejenuhan murid

Rosululloh S.a.w dalam cara mengajarnya, sangat memperhatikan waktu dan keadaan psikologi para sahabatnya. Beliau tidak sembarang waktu dalam mengajar, begitu juga tidak monoton dengan ilmu yang itu-itu saja. Hal itu beliau lakukan agar para sahabatnya tidak mengalami kejenuhan dan kebosanan.

Sebab kebosanan yang dialami seorang murid, jika berkepanjangan, adalah bisa menjadi sebab dari gagalnya proses belajar mengajar.

Dalam dunia pendidikan modern, hal itu diterapkan dengan 5 hari atau 6 hari masa aktif, dengan 2 atau 1 hari waktu libur. Begitu juga dengan pembagian jam pelajaran dengan materi yang tidak sama dan pemberian waktu jeda.

Hal itu ditempuh untuk mengembalikan kesemangatan pelajar dan membuat otak mereka fresh kembali, sehingga ilmu tentu dengan mudah akan diterima oleh mereka.

Salah seorang tabi’in 1 bercerita :”Abdulloh bin Mas’ud.r.a., salah satu sahabat senior Nabi, setiap hari kamis selalu memberikan nasehat dan petuah pada kita, dan kita sangat menyukainya serta selalu menunggu hari itu. Suatu hari kita meminta beliau untuk menyampaikannya tiap hari. Namun beliau tidak mengabulkan permintaan kami seraya berkata : “sebenarnya aku melakukan ini seminggu sekali, agar kalian tidak bosan. Sebagaimana yang telah Rosululloh lakukan, beliau tidak memberikan kita pelajaran dan mauidhoh setiap hari, khawatir kita BT dan bosan” (H.R.Bukhori).

1 Tabi’in : generasi yang tidak hidup pada zaman nabi namun bertemu dengan para sahabat nabi.

METODE 4

Memperhatikan perbedaan kemampuan dan tingkat inteligensi setiap pelajar

Sebagai pengajar, tentu kita memahami, bahwa tidak semua murid yang kita ajar memiliki kemampuan yang sama, tiap murid memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda.

Hal ini, oleh Nabi S.a.w telah beliau contohkan, beliau sangat memperhatikan perbedaan itu (individual difference). Beliau mengajar tiap individu sesuai kadar kecerdasannya. Apa yang beliau ajarkan pada sahabat junior, tidak sama dengan yang beliau ajarkan pada sahabat senior.

Dalam menjawab pertanyaan pun beliau tidak asal jawab, tapi melihat bagaimana kemampuan pemahaman dan tingkat kecerdasan yang bertanya. Sebuah kaidah dasar telah beliau berikan pada kita. Anzili-n Naasa ‘ala qodri ‘uquulihim. Bicaralah pada orang lain sesuai dengan kadar kemampuan berpikirnya.

Dalam karya monumentalnya, “ihya’ ulumiddin”, Imam Ghozali berkomentar: “Seseorang, yang kita beri pelajaran, namun dia tidak bisa memahami dengan baik apa yang kita ajarkan, karena tidak mampu dijangkau oleh akalnya, itu terkadang malah mengalami kesalah pahaman. Lebih parah dari itu, terkadang kesalah pahamannya itu malah menimbulkan fitnah.”

Maka, penyampaian sebuah materi pelajaran, harus sesuai dengan tingkat usia dan tingkat kecerdasan murid. Sebisa mungkin dituntut dari kita, keterangan yang kita sampaikan, bisa dipahami dengan baik oleh semua murid yang kita ajar, baik yang bodoh ataupun yang cerdas. Hal ini juga dikatakan oleh Abdulloh bin Mas’ud R.a

Dan contoh dari apa yang Rosul lakukan dalam masalah ini, adalah kisah Mu’adz bin Jabal R.a

Beliau bersabda pada Mu’adz :”Siapapun, yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya, dengan sepenuh hati (cukup itu saja), maka dia tidak akan masuk neraka.”

Mu’adz pun menjawab :”jika memang begitu, akan saya sebarkan hal ini pada semua orang, biar mereka bergembira”

Segera Rosul menjawab :”Oh, jangan, nanti malah mereka enak-enakan, tidak mau beribadah”. Rosul memberikan isyarat pada Mu’adz, agar jangan setiap orang yang diberitahu, kecuali mereka yang benar-benar telah mantap amal ibadahnya.

Ada juga sebuah kisah, seorang pemuda datang pada Beliau dan bertanya: “Wahai Rosul, jika puasa, boleh apa tidak saya mencium istri saya?”

“Tidak boleh”, jawab beliau.

Sejenak kemudian datang orang tua dan bertanya hal yang sama pada beliau, dan beliau jawab: “Ya, tidak apa-apa kamu menciumnya”.

Tentu saja para sahabat terheran-heran dan saling pandang di antara mereka, mengapa jawaban tidak sama, sementara pertanyaan sama.

Mengetahui hal itu, dengan bijak beliau menjawab :”Kalau yang tua tadi, pasti bisa menguasai diri dan nafsunya, jadi tidak akan kebablasan (melakukan senggama).” (H.R.Ahmad)

METODE 5

Dialog dan tanya jawab

Salah satu yang menonjol dari metode Nabi Saw dalam mengajar adalah kerap kali beliau mengajar dengan cara berdialog dan tanya jawab.

Sebab dialog sangat membantu sekali dalam membuka kebuntuan otak dan kebekuan berpikir.

Contoh dari itu, suatu hari Nabi bertanya pada sahabat-sahabatnya: “Andai di depan rumah kalian ada sungai, lalu kalian mandi 5 kali sehari, apakah akan ada kotoran yang tertinggal di tubuh (kalian)?”

“Tentu tidak wahai Rosul”, jawab mereka.

“Begitu juga sholat 5 waktu, yang dengannya dosa-dosa dan segala kesalahan dihapus oleh Allah Ta’ala”. (HR.Bukhori dan Muslim)

Atau pertanyaan beliau : “Kalian tahu tidak, siapakah muslim itu?”

Allah dan Rosul yang lebih tahu”, jawab para sahabat

“Orang muslim adalah, orang yang teman-teman dia selamat dari gangguan lidah dan tangannya; kalau orang Mu’min?”

“Allah dan Rosul yang lebih tahu”.

“Adalah orang yang teman-temannya merasa aman atas diri dan harta mereka dari gangguannya. Sedangkan Muhajir, adalah orang yang meninggalkan kejelekan-kejelekan dan menghindarinya”. (H.R. Ahmad)

“Kalau orang yang bangkrut itu bagaimana?” tanya beliau juga pada para sahabat di lain kesempatan.

“Tentu saja orang yang tidak punya uang dan harta”, tukas para sahabat beliau.

Dengan bijak beliau menjawab, “Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan ummatku, adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan amal ibadah lengkap. Hanya sayangnya dia suka mencaci maki, menggunjing, korupsi, mengganggu; sehingga semua pahala amal baiknya digunakan untuk menebus keburukan-keburukan itu sampai habis. Jika keburukannya itu belum tertebus semua, maka kesalahan-kesalahan orang lain yang disakitinya, ditimpakan kepadanya. Dan pada akhirnya dia diceburkan ke Neraka”. (H.R. Muslim)

Adapun contoh metode dialog yang sangat terkenal adalah Hadits Jibril, dalam pelajaran penting tentang dasar-dasar teologi, yang disampaikan di hadapan para sahabatnya dalam bentuk dialog antara Beliau S.a.w, dengan malaikat Jibril (yang datang menyamar dalam bentuk manusia).

S.Umar r.a bertutur : “Ketika kita sedang duduk-duduk dengan Rosul, tiba-tiba datang seseorang dengan pakaian putih bersih, penampilannya sangat rapi, tak satupun dari kami yang mengenalnya. Dan dia segera mengambil posisi dengan duduk sopan berhadapan langsung dengan Nabi S.a.w. Lalu dia membuka percakapan.

“Muhammad, beri tahu aku tentang Islam.”

“Islam itu; kamu bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya, lalu kamu mendirikan Sholat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Romadlon, dan Haji, jika kamu mampu”. Jawab Rosul S.a.w.

“Ya, jawabanmu benar”, kata orang tadi.

Tentu saja kami heran, ini orang datang bertanya, dijawab, tapi juga membenarkan jawaban itu.

“Sekarang beri tahu aku tentang iman“, tanya orang itu lagi

“Iman adalah kamu percaya pada Allah, Malaikat-malaikatNya, kitab-kitab suci-Nya, para Rosul Utusan-Nya, Hari Akhir (kiamat), dan kamu percaya akan takdir, baik dan buruknya”, jawab Rosul S.a.w

“Benar apa yang kamu katakan itu”, komentar orang itu lagi

“Beri tahu aku juga tentang Ihsan“, tanya orang itu lagi

“Ihsan, kamu menyembah Allah, seolah-olah kamu melihat-Nya, meskipun kamu tidak melihat-Nya, tapi Dia Melihatmu”.

“Kalau hari kiamat?”

“Kalau ini, kita sama-sama tidak tahu”, jawab Rosul diplomatis

“jika begitu, beri tahu aku tanda-tandanya”.

“(di antara) tandanya, jika seorang budak melahirkan tuannya1, dan jika kamu melihat orang-orang pedesaan (yang rata-rata miskin itu) saling berlomba membangun bangunan yang tinggi”.

Setelah itu orang tadi pun pergi, beberapa hari kemudian Nabi S.a.w bertanya kepadaku : “Umar, kamu tahu tidak, siapa orang yang (kemarin) bertanya padaku itu?”

“Allah dan Rosul lebih tahu”, jawabku

“Dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan pada kalian tentang (inti) agama yang kalian peluk” (H.R. Muslim)

1 Maksudnya adalah jika kejadian pembangkangan anak pada orang tua (murid pada gurunya juga) semakin banyak, sehingga anak memperlakukan ayah ibunya layaknya majikan memperlakukan budaknya, dengan penghinaan, cacian, bahkan tak segan melancarkan pukulan, wal iyadzu billah.

METODE 6

Diskusi dan Dialektika

Di antara salah satu metode Rosululloh S.a.w dalam mengajar adalah, beliau kerap menempuh cara diskusi, dialektika, melakukan perbandingan secara logika, dan pendekatan psikologi. Hal itu beliau gunakan untuk mencerabut keraguan dan kebatilan dari hati seseorang yang beranggapan bahwa hal yang batil itu bagus. Atau untuk menancapkan sugesti tentang kebenaran di hati seseorang yang sebelumnya enggan dan cenderung menjauhi kebenaran itu.

Metode yang beliau tempuh ini adalah petunjuk bagi para pengajar dan pendidik untuk menggunakan perbandingan secara logika rasional jika keadaan menuntut untuk itu.

Contoh daripada itu, sebagaimana yang diriwayatkan Ahmad bin Hambal dan Thobaroni, sebagai berikut :

Pada suatu hari datang pada beliau seorang pemuda yang minta legalisasi baginya untuk berzina. Beliau S.a.w tidak lantas memarahinya (padahal sahabat di sekitar beliau sudah hampir meluapkan kemarahan melihat kelancangan pemuda itu). Beliaupun juga tidak menggunakan dalil Al-Qur’an yang menegaskan haramnya zina. Tetapi beliau menyuruh pemuda itu untuk mendekat kepadanya, dan dengan bijak diajaknya pemuda itu berdiskusi.

“Kamu suka tidak andai ibumu dizinai orang?”

“Tidak wahai Rosul, Demi Allah ! Tak ada seorangpun yang mau ibunya dizinai !”

“Nah, kalau sekarang putrimu dizinai, kamu rela tidak?”

“Tidak ya Rosul, Demi Allah ! semoga Allah menjadikanku tebusan bagimu, tidak ada orang yang rela putrinya dizinai !”

Dan Rosul terus menanyai, bagaimana jika hal itu menimpa saudarinya, bibi-bibinya (atau juga jika istrinya kelak diselingkuhi), jawaban pemuda itu pun juga tetap sama.

Lalu Rosul menaruh telapak tangan beliau di pundak pemuda itu seraya berdoa, “Ya Allah, ampunilah dia, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya”.

Sejak itu pemuda tadi tidak lagi punya pikiran dan keinginan untuk berzina.

Contoh lain, riwayat Bukhori dan Muslim. Pada suatu saat di Hari Raya, Rosul S.a.w melewati sekelompok wanita, beliau lantas berujar.

“Wahai kaum wanita, banyaklah kalian bersedekah, sebab aku melihat penduduk neraka paling banyak adalah kalian kaum wanita”.1

“Bagaimana bisa begitu wahai Rosul?” tanya para wanita itu bergidik

“Sebab kalian terlalu banyak mencaci, dan kerap tidak bisa berterima kasih pada suami. Sungguh, aku tidak melihat orang yang minus akal dan agamanya, yang sanggup melenakan lelaki yang teguh dan kuat hatinya daripada kalian, kaum wanita”

Para wanita itu bertanya, “Lalu apa kekurangan pada akal kami, dan kekurangan pada agama kami wahai Rosul”.

Dengan bijak beliau menjawab sambil bertanya

“Bukankah kesaksian satu wanita itu sama dengan setengah laki-laki saja?”

“ya benar”

“Nah, itu menunjukkan kekurangan, dan minus pada akal wanita. Dan bukankah jika kalian menstruasi, kalian tidak sholat juga tidak puasa bukan?”

“Ya, benar”

“Nah, itu yang menunjukkan kekurangan pada agama kalian”.

METODE 7

Observasi kecerdasan murid

Dalam mengajar, Rosululloh S.a.w tidak hanya sekedar menyampaikan wahyu, pesan-pesan profetik, dan nilai-nilai moral dengan stagnan begitu saja, sementara para sahabatnya hanya mendengarkan dan menerima. Namun beliau juga melakukan tes untuk mengetahui tingkat kepahaman sahabatnya, sejauh mana mereka bisa menangkap apa yang beliau sampaikan, sekaligus di waktu yang sama merangsang agar mereka mau berpikir, juga menggali bakat dan mengeksplorasi kemampuan terpendam mereka.

Hal itu dicontohkan dalam sebuah hadits riwayat Bukhori dan Muslim:

Abdullah bin umar bertutur : “Ketika kita bersama Baginda Nabi, datang seseorang memberi beliau hati pohon kurma, beliaupun memakannya. Sembari menikmati hidangan itu, beliau berkata :”sesungguhnya di antara sekian banyak pepohonan, ada satu pohon, fungsinya sebagaimana orang muslim, daunnya tidak gugur, tidak tercerai berai, selalu memberikan buahnya di setiap waktu atas izin Tuhannya. Sesungguhnya ia seperti orang muslim, yang selalu berguna (semuanya, mulai dari pokok, akar, batang, daun, sampai buah dan bijinya). Katakan padaku, pohon apakah itu?”.

Abdulloh bin Umar meneruskan ceritanya :”semua orang yang ada di majlis itu menjawab dengan bermacam-macam pohon; pohon ini, pohon itu, dan sebagainya. Sementara di hatiku tersirat, bahwa pohon itu adalah pohon kurma, hanya saja aku malu mengatakannya, sebab saat itu aku masih anak-anak, dan paling kecil di situ. Aku hanya diam saja, apalagi di situ ada Abu Bakar dan ayahku Umar (namun keduanya diam, tidak ikutan menjawab). Dan tidak satupun di antara jawaban mereka yang tepat, akhirnya para sahabat menyerah.

“Wahai Rosul, beritahukan pada kami pohon apakah itu?”

“Pohon Kurma”, jawab beliau 2

Setelah majlis bubar, aku berkata pada ayahku, “Demi Allah Ayahanda, tadi di hatiku terlintas bahwa pohon itu adalah kurma”.

“Lalu kenapa tidak kamu jawab anakku?” kata ayahku, Umar bin Al-Khottob.

“Aku malu ayah, apalagi aku paling kecil,” kataku

1 Untuk sabda Rosul ini, kita harus mampu mencermati kata beliau dengan baik. Bukan lantas dengan itu berarti kaum wanita sedikit di surga, tetapi bahkan sebaliknya. Penduduk surga dari kalangan wanita juga lebih banyak bahkan berlipat dari pada kaum laki-laki. Dengan perhitungan dan perbandingan, setiap satu laki-laki di surga nanti, paling sedikit memiliki dua istri dari dunia (bagaimana jika yang di dunianya dia poligami lebih dari dua). Itu belum jumlah bidadari asli surga. Wallohu A’lam (lihat buku Maa laa ainu-n Ro-at, karya Dr.Sayyid Muhammad al-Maliky)

2 Dan pohon ini dipakai symbol gerakan kepramukaan oleh gerakan pramuka Saudi Arabia (Harokah Kassyafah Mamlakah Arobiyah Assa’udiyah), adapun gerakan pramuka kita menggunakan symbol pohon kelapa, yang memiliki kontur dan bentuk sama seperti pohon kurma, walau tak sekokoh pohon kurma (syajarotu-n Nahil)

METODE 8

Analogy (kias)

Sesekali dalam mengajar, Rosul S.a.w menggunakan analogi (perbandingan secara kias dengan bentuk yang sudah ada) terhadap suatu hukum atau ajaran yang kurang bisa dipaham dengan baik oleh sebagian sahabatnya, juga menjelaskan sebab-sebab akan sebuah hukum.

Dengan penyepadanan dan analogi itu, para sahabatnya pun kemudian paham terhadap suatu hukum dan tujuan diterapkannya syari’at itu (maqosid at-Tasyri’).

Seperti yang beliau contohkan saat seorang perempuan dari suku Juhainah bertanya pada beliau.

“Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk haji, tetapi sampai beliau meninggal, belum sempat berhaji melaksanakan nadzarnya itu. Apakah saya bisa berhaji (menggantikannya) atas nama beliau?”

“Ya, bisa. Bukankah jika ibumu punya hutang dan belum sempat dilunasinya, lalu dia meninggal, kamu juga kan yang melunasi hutangnya?” jawab Rosul.

“ya, memang begitu”, kata wanita itu lega (H.R. Bukhori)

Pernah juga salah satu sahabatnya bertanya, “Ya Rosul, apakah jika kita bersetubuh dengan istri kita, kita mendapat pahala?”

“Kenapa tidak? Bukankah jika kalian bersetubuh dengan wanita lain (berzina) juga mendapat dosa? Begitu juga jika kalian bersetubuh dengan wanita yang halal bagi kalian (istri-istri kalian), maka kalian juga mendapat pahala”. Jawab beliau (H.R.Muslim).

Oleh Rosululloh S.a.w, hal-hal yang terkadang beluam jelas hukumnya, dianalogikan secara logis oleh beliau dengan hal-hal yang sudah jelas hukumnya. Sehingga hal-hal tersebut menjadi jelas dan bisa dipaham dengan baik oleh sahabatnya.

<!– @page { margin: 0.79in } P.sdfootnote { margin-left: 0.2in; text-indent: -0.2in; margin-bottom: 0in; font-size: 10pt } P { margin-bottom: 0.08in } A.sdfootnoteanc { font-size: 57% } –>

METODE 9

Allegori dan persamaan

Dalam banyak kesempatan saat mengajar, beliau S.a.w juga menggunakan metode allegori (perumpamaan), untuk menjelaskan suatu makna dari ajaran yang beliau sampaikan. Dalam penjelasannya, beliau menggunakan media benda yang banyak dilihat orang, atau yang mereka rasakan, atau yang mereka pegang.

Metode ini sangat memudahkan pelajar untuk mendeskripsikan suatu masalah yang mungkin kurang jelas baginya. Metode ini umum digunakan oleh pengajar-pengajar sastra, dan telah disepakati oleh mereka bahwa penggunaan alegori dan persamaan (tasybih) memiliki pengaruh besar dan sangat membantu dalam menjelaskan sebuah arti yang samar dan kurang jelas.

Di Al-qur’an sendiri banyak sekali ayat yang menggunakan perumpamaan, dan tentu saja Nabi S.a.w banyak mengikuti metode Al-qur’an ini dalam forum-forum pidato, orasi, dan cara mengajar beliau. 1

Salah satu contoh metode ini, sabda beliau S.a.w yang diriwayatkan Abu Daud: “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alqur’an itu laksana Jeruk, wangi aromanya dan enak rasanya. Sedangkan mukmin yang tidak baca Alqur’an itu seperti kurma, enak rasanya tetapi tidak ada aromanya. Adapun orang munafik yang membaca al-qur’an, itu seperti bunga, baunya harum, tapi rasanya pahit. Sedang orang munafik yang tidak baca qur’an, itu seperti jadam, pahit rasanya juga tidak ada aromanya”.

Atau sabda beliau yang lain: “Perumpamaan teman yang baik, itu seperti pedagang minyak wangi, jika kamu tidak diberinya sedikit, maka kamu mendapat harum wanginya. Sedangkan teman yang buruk, itu seperti pandai besi, jika kamu tidak terkena percikan kecil apinya, maka kamu terkena asapnya.”

Sebab dengan perumpamaan seperti itu, terkadang suatu permasalahan tampak lebih jelas dan lebih menancap kuat dalam hati dan ingatan.

1 Ada beberapa ulama’ yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi yang menggunakan perumpamaan (dhorbul Amtsal) dalam kitab yang menyendiri. Semisal Abul Hasan Al-Askari (w.310 H), atau Abu Ahmad Al-Askari, begitu juga Al-Qodhi Al-Hasan bin Abdurrahman Ar-Romahurmuzi. Kitab-kitab karya mereka telah dicetak dan beredar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: