Denting Nada Cinta yang lain

Diary:
Syaibatul Hamdi

Dliya

Creative
Production


Kumpulan Cerita
Santri:

Denting
Nada Cinta yang Lain


Penulis:

Syaibatul Hamdi


Illustrator:

Ahmad Luthfi
Thiflani


Desain sampul, Tata
letak & perwajahan isi:

Sajadah Hijau
Grafis

Cet. 1, Dzul Hijjah
1426 H

Hak cipta dilindungi
Alloh Ta’ala


Dicetak oleh:

PARBAR Printing


Diterbitkan oleh:

Halaqoh
Dakwah Bil Qolam (HDQ) Makkah

dengan

Dliya Creative
Production

Al-Ma’had al-Islamy
as-Salafy Nuur al-Anwaar

Jl. Raya Parengan
no. 90 Maduran Lamongan Jatim 62261 Telp. 0322-392572

Senandung
Melodi Cinta


Guru-guru
besarku … yang menata jiwaku … yang mengajariku denting dan
nada-nada cinta sejati, cinta yang sesungguhnya ….


Teman-temanku,
saudara-saudaraku, Dliya-Zahro, NA, semuanya … yang aku memainkan
dengan riang denting, alunan nada-nada cinta itu ….


Mereka,
siapa pun … yang menyenan-dungkan, mendengtingkan nada cinta …
untukku ….

Terima
kasih,
jazakumulloh
khoiro ….

Syaibatul
Hamdi

Pengantar
Penerbit

Bismillahirrahmaanirrahiim

Segala
puji bagi Alloh
,
sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita
Rosululloh
,
keluarga, para sahabat, serta orang-orang yang membelanya. Wa ba’du:

Alloh
menciptakan manusia sebagai kholifah di bumi dengan dibekali berbagai
kelebihan di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain. Dan di
antara manusia sendiri, keahlian yang dimiliki masing-masing individu
pun beragam. Tetapi tetap, penciptaan mereka hanyalah untuk satu
misi: beribadah kepada-Nya.

Dengan
berbeda-bedanya kemampuan, maka cara yang bisa ditempuh manusia untuk
mewujudkan misi di atas juga beragam, tak terkecuali dalam mengajak
sesama pada kebenaran.

Jika
seorang alim bisa berdakwah lewat pengajaran dan ceramahnya, maka
kesempatan berdakwah pun dimiliki seorang sastrawan, tentunya lewat
karya tulisnya.

Dan
itu yang kami lihat dalam Kumpulan cerpen
Syaibatul
Hamdi, dengan background pendidikan pesantren, tak sulit baginya
untuk memasukkan pesan-pesan agama dalam setiap baris cerpennya.
Dengan cara ini, Syaibatul Hamdi tidak cuma menggapai kepuasan
berkarya – sebagaimana yang selalu menjadi kebutuhan para sastrawan
– tetapi juga menyalurkan ilmu serta pemikirannya pada para
pembaca, sehingga misi ibadah pun dapat ditempuh lewat corat-coret
tulisannya.

Dan
salah satu keunggulan misi ibadah melalui sebuah karya sastra adalah
kemampuan menyampaikan pesan agama – bagi mereka yang tak mau
digurui – dengan cara yang lebih halus.

Akhirnya,
semoga buku ini dapat memberikan manfaat (pencerahan tak terduga)
bagi para pembacanya sebagaimana keinginan dari penulis sendiri,
meskipun itu hanya lewat sebuah kumpulan cerpen.

Penerbit

Sepuing
Kenangan …

Segala
puji bagi Alloh, yang segalanya ada di genggaman tangan-Nya. Sholawat
salam semoga selalu terguyurkan untuk baginda Rosululloh beserta
keluarga dan sahabatnya.

Setelah
itu:

Mungkin,
semua cerpen dalam kumcer ini akan menjadi kenangan abadi bagiku,
insya
Alloh
.

Sebelum
menulis kata pengantar ini, sebenarnya sudah kutulis dua kali sebuah
kata pengantar yang sekira cocok jadi pembuka kumcer ini.

Tapi,
kedua
muqoddimah
itu harus aku sisihkan, setelah tanpa kuduga – dan semuanya – aku
harus melewati (serta menyaksikan) sebuah hari yang benar-benar tidak
akan terlupa, hari yang – sampai saat ini – aku masih
menganggapnya mimpi, hari saat kaki serasa tidak berpijak di bumi,
hari yang memporak-porandakan semua prediksi yang sempat tersusun di
benakku. Mungkin, aku tidak akan pernah percaya, jikalau tidak semua
ini memang sudah qodlo-qodar dari Yang Punya Kehidupan.

Ya
… hari itu, 15 Romadlon 1425 atau 29 Oktober 2004, Jum’at, tepat di
fajar hari, saat … beliau … Sang Guru … pergi untuk
selama-lamanya, meninggalkan setumpuk kenangan yang tersisa, diiringi
oleh bajir banding airmata. Tepat di setengah tahun, lebih setengah
bulan, lebih setengah hariku di Makkah al-Mukarromah,
rohimallohu
‘alaika rohmatan waas’iah ya Abuya, wa askanakallohu fasiiha
jannatihi, amiiin.

Dan
kumcer ini, adalah satu di antara dua karya yang sempat kugoreskan di
saat hayat beliau, saat Alloh memberiku kesempatan manis nan indah
bisa
khidmah
pada beliau (walau sejenak), saat aku setiap Shubuh duduk seraya
memegang kaki beliau sembari memijatinya, sebelum akhirnya beliau
intiqool
ila rofiq a’la.

5
cerpen dalam kumcer ini, kuhasilkan dalam tempo dua hari, setelah
inspirasi-inspirasi itu keluar secara beruntun, usai tanganku ditepuk
3 kali oleh tangan lembut beliau diiringi sebuah senyuman yang
menyejukkan hatiku di suatu Shubuh! Inilah yang kubanggakan dan
kujadikan kenangan.

1
cerpen, kutulis di sela-sela aku dapat tugas khusus terakhir kali
dari beliau, setelah membaca novelette-nya A.M. Ilalloh.

1
cerpen yang lain, kutulis di Pujon. Kumuat kembali karena aku lihat
ada makna tergali dari cerpen itu.

1
cerpen lagi, milik sahabatku, Amiruddin, sebuah cerpen yang selalu
membuatku terkagum setiap kali kubaca, terdapat pesan indah dan dalam
di cerpen itu.

Tak
satu pun kedelapan cerpen kali ini yang berbicara cinta – kecuali
sekedar kilas balik dan bumbu saja – tak biasanya seperti
cerpen-cerpen yang telah kutulis selama ini.

Oleh
karena itu, aku berharap kumcer ini barokah, disamping penulisannya
semua di tanah suci.

Nama-nama
dalam kumcer ini, sengaja ada yang kuambil dari nama teman-teman NA.
Kucantumkan, biarkan jadi sebuah kenangan dan memori bagiku. Namun
ingat … tidak usah dimaknakan macam-macam, ta’wil apalagi tafsir,
ini adalah fiksi bukan fakta, pintarlah mengatur
husnudzon,
bukankah kita sudah cukup dewasa?

Makna
tersilatlah yang kumaksudkan bisa diambil manfaatnya, bukan yang
tersurat (kalau itu hanya sekedar hiburan), dan hal itu tentu saja
setelah kamu membaca setiap cerpen ini.

Akhir
catatan, aku berharap tulisan tak berfaedah ini dijadikan oleh Alloh
berfaedah, tentu juga dengan memohon ampunan di sana. Dan kumcer ini,
kupersembahkan untuk santri Nuur al-Anwaar secara khusus (karena
cintaku pada mereka) dan siapa pun yang mengaku serta bangga bahwa
dirinya adalah santri, secara umum (karena posisiku yang sama dengan
mereka). meskipun, secara variatif cerita dan kekreatifan imajinasi
serta kadar kepenasarannya, tak selincah goresan sang sahabat, A.M.
Ilalloh.

Lalu
… Bismillah dahulu dan …

Al-Fatihah
… untuk Sang Guru Besar, yang dunia Islam semua meratapi
kepergiannya dan benar-benar kehilangan sosok agung berwibawa
dirinya.

Alawy
Aly Imron

(Syaibatul
Hamdi)

Mekkah
al-Mukarromah 19 Romadlon 1425 H

Jam
02.00 dini hari

Saat
belum sadar dari mimpi nyata.

Daftar
Isi


Senandung
Melodi Cinta …
5


Pengantar
Penerbit …
6


Sepuing
Kenangan (Pengantar Penulis) …
8


Daftar
Isi …
12

1.
Seremoni Pe”manusia”an …
13

2.
Semoga Engkau Kembali, Sahabatku …

3.
Menumpang Kisah …

4.
Denting Nada Cinta yang Lain …

5.
Merindu Kasih …

6.
Cerita Malam …

7.
Setetes Embun Pagi …

8.
Sang Gus …


Kata
Mereka …


Tentang
Penulis …

1

Seremoni

Pe-“manusia”-an

Malam
pekat, mendung menggelayut tebal, gelap, dan berat. Angin pun mulai
berhembus dengan desisan yang mendirikan bulu roma, meski hujan belum
mengguyur dan petir belum menyambar, kecuali kilatan-kilatan temaram
bak blitz kamera.

Aku
berjalan tenang sembari mendongakkan kepala, kulalui sebuah jalan
sepi, sedikit gersang. Pohon-pohon meranggas, menggugurkan daunnya,
kuseret sarungku yang melewati mata kakiku.

Tiba-tiba
angin bertiup kencang, menerbangkan segalanya, aneka dedaunan kering,
dedebuan, kerikil-kerikil kecil, ranting-ranting pohon, bahkan
sampah-sampah, yang bercampur di udara yang telah berubah tidak
bersih itu, serentak silih berganti menghantam menerpa wajahku.

Aku
hanya tertawa lirih, tawa sinis, tenang saja, aku memiliki mantel
tebal itu, toh semua orang mengetahui kehebatanku, mereka kan tahu
aku punya mantel itu, pernah kupakai di hadapan mereka, mondar-mandir
layaknya peragawati di catwalk. Tak cuma itu saja, mereka tahu
ceritaku memperoleh mantel itu, topinya sekalian juga, sebuah cermin
yang barusan kuperoleh pun kini erat pula dalam dekapanku.

Kuterobos
dengan gagah angin ribut itu, dan yeah … aku sukses melewatinya,
tawaku membahana di tengah deru angin, tapi aku tidak sadar, sesuatu
telah terjadi.

Jauh
kemudian di depanku, kulihat ada api berkobar, asapnya mengepul pekat
menutupi pandangan, hendak menghalangi jalankukah? Tidak akan bisa,
santai saja, kan aku punya mantel dan topi itu. Kubusungkan dadaku
menerobosnya. Dan seperti diduga, mudah saja kulewati asap hitam itu,
tanpa aku harus kehilangan jalan apalagi tersesat.

Sampai
akhirnya, aku tiba pada sebuah pohon, kurebahkan diriku melepas
penat, tidur. Lelah mesra merangkulku, lagian tidak ada apa-apa,
lebih baik tidur, itu yang melintas di benakku.

QQQ

Hangatnya
sinar matahari pagi membelai wajahku, kubuka mataku, tapi segera
kupejamkan lagi, silau. Kuraba cermin yang ada di sampingku, “Mengaca
dulu ah.” Pikirku.

Namun
aku sedikit terkejut, kantuk yang masih menggelayut segera hilang,
setelah dengan penuh keheranan, cermin yang sedianya kupakai mengaca
itu terlihat buram, menghitam! Aku agak gusar, sebentar kemudian
berubah menjadi kekalutan. Mengapa ini terjadi?! Aku tidak bisa
mengaca! Ada debu campur jelaga pekat di sana! Dari mana ini?!?

Lebih
terkejut lagi ketika kulihat tubuhku, penuh pasir, dekil, koyak moyak
dan bau! Kuraba wajahku, kulihat tanganku, kotor! Hitam! Apa yang
terjadi?!

Mantelku!
Topiku! Ke mana ia?! Aku panik, ternyata aku tidak terasa kalau
mantel dan topi pelindung tubuhku tanggal dan terbang! sehingga
dengan mudahnya debu, ranting, kerikil, sampah, asap itu mengotori
dan menerjang cermin serta tubuhku.

Aku
mencium bau tidak sedap dari bajuku, sampahkah? atau keringat? kuseka
peluh yang menggucur dari dahiku, dan … Hah!?! Hitam?! Asap tebal
itukah?

Lalu
kenapa aku tertidur semalam tanpa kusadari keadaan seperti ini?
untung tidak ada orang yang tahu sehingga aku tidak dianggap orang
gila, bagaimana harga diriku jika orang yang mengenaliku tahu
kondisiku yang hina bagaikan gelandangan tuna wisma di bawah jembatan
ini? Rambutku yang kusut masih penuh pasir dan debu makin meyakinkan
penampilanku sebagai orang gila. Ah … kututupi wajahku, malu.

Masih
untung bajuku tidak lepas, sarungku tidak melorot meski sudah robek
semua di sana-sini sehingga aku telanjang, lantas jadi apa aku?

Tapi
cermin itu masih ada, fiuhh …

Segera
kuingat beberapa hal, apa sebab ketelanjangan ini? Mengapa cermin itu
buram oleh debu, buram oleh asap? Mending tidak retak apalagi pecah.

Bergegas
aku berdiri, kulangkahkan kakiku ke sungai dekat pohon aku rebah,
ingin kubersihkan tubuhku dan cermin itu, tapi cermin itu dulu yang
ingin kubersihkan.

Kuambil
secakup air, santai kubasuh cermin itu. Namun … kok tidak hilang?
Kucoba memakai segenggam rumput kering … hah?!? Tetap!? Apa
gerangan ini?! Aku bingung bukan main.

QQQ

“Payah!
Kayak ayam jago kamu! Malu-maluin!”

“Aku
tidak suka sikapmu, merak!”

“Elang
memang gagah, hanya saja ….”

“Pantas,
gagak kalau seperti kamu ini.”

“Anak
muda, mesti kau lumatkan itu, seharusnya dan saatnya kau Ibrohim-kan
dirimu.”

QQQ

Susah
payah kubersihkan cermin yang belum sempat kupakai mengaca sama
sekali itu, kusingkirkan debunya, kutisik jelaga tebal itu, sedikit
demi sedikit.

Tak
kupedulikan tubuhku yang masih compang-camping, kusut masai, dan
makin bau

oleh
keringat yang mengucur deras, yang penting cermin ini harus ber
sih
dulu.

Lama
aku berusaha, matahari hampir lurus di atas kepalaku, akhirnya aku
sukses membersihkannya lewat 1001 cara, Alhamdulillah. Sekarang harus
kujaga, meski nanti akan ada satu atau dua debu yang menempel
kembali, tapi itu hal yang wajar, toh akan hilang jika segera
dibersihkan.

Oh
Iya! Kenapa tidak mengaca dulu? Kucoba untuk mengaca yang pertama
kalinya, aku tersenyum, kubayangkan wajah tampanku sebelum
kuhadapkan cermin itu ke wajahku. Kupejamkan mataku, tetapi lagi-lagi
keterkejutan yang membekapku, saat kudapati muka kera yang terpantul
dari cermin itu!

Aku
tidak percaya dengan pemandangan ganjil ini, kugosok-gosok mataku,
tidak mungkin! Segera aku berlari lagi ke sungai, kubasuh wajahku,
kusiram rambut gondrongku hingga benar-benar bersih, lalu kucoba
mengaca lagi.

Dan
sekali lagi pantulan cermin itu membuatku tidak percaya, kenapa sama
sekali tidak berubah? Masih tetap, kera!

Aku
terduduk, tertegun kusaksikan wajahku, terus kuamati “wajah
kera” itu dengan penuh keheranan dan ketidak mengertian. Dan
berlahan namun pasti, siluet kera itu berubah! Tiba-tiba ia
bermetamorfosa, aku semakin terkejut kala moncongnya makin maju,
taring yang memanjang keluar dan menyeringai liar, telinga yang makin
lebar! Apa ini?! Serigala?! Hah! Tidak mungkin! Aku berteriak kalut
sekali, kulemparkan cermin “aneh” itu dengan penuh
ketakutan, kututupi wajahku dengan kedua tanganku, yang masih asli
manusia.

QQQ

Aku
masih duduk terpekur di tepi sungai, kupandangi saja alirannya,
kudengarkan saja gemersiknya. Keletihan susah payah membersihkan
cermin itu masih membekas di wajahku, hanya termenung yang bisa
kulakukan, apa yang terjadi denganku? Kenapa wajah serigala yang
muncul?

Lama
aku disitu hingga sore menjenguk , bak orang gila aku tertawa
sendirian, bajuku masih compang-camping, wajahku kumuh lagi oleh
debu, percuma mandi kalau aku hanyalah “serigala “.

Tiba-tiba
dari arah berlawanan tempatku merenung, datang seseorang
menghampiriku, dia memperhatikanku, roman mukanya teduh, bersih,
dengan cahaya yang memancar, dia berkopyah haji putih, berbaju putih,
bersarung tenun khas sebuah daerah yang kukenal. Seuntai tasbih kayu
tergenggam di tangannya, setelah dekat, ternyata dia menghampiriku,
kucium bau wangi darinya.

“Ada
apa anak muda?” sapanya, diambilnya cermin yang tergeletak di
sampingku, dilihatnya, lantas di tiupnya debu yang menempel kembali
di permukaan cermin itu, ditepuk-tepuknya pundakku.

“Rawat
dengan baik cermin ini, jaga. Bukankah sudah banyak pengalaman hidup
yang kau rasakan? Ingat ….” dia putus kata-kata itu,
dilanjutkannya dengan isyarat lirikan matanya yang memandang ke atas,
seraya telunjuknya diacungkan ke arah yang sama, sebelum dia
melihatku kembali. Aku lihat dia melakukannya sembari menyimpulkan
senyum.

“Sholawat,
dzikir …”, ujarnya pendek, sambil pergi meninggalkanku dalam
ketermanguan. Aku belum sepenuhnya sadar, tapi bisa kutangkap maksud
perkataan sang bijak tadi, aku berdiri mengantarnya berlalu dengan
pandangan kedua mata sayuku.

Belum
selesai keherananku dengan peristiwa barusan, tiba-tiba kudengar
suara langkah kaki dari arah sang bijak datang tadi, sama. Dia juga
berkopyah haji, hanya saja dia bergamis putih, serasi dengan jenggot
dan rambutnya yang sudah memutih pula, wajahnya teduh, bersih,
bercahaya juga. Kulihat dia tersenyum padaku saat melewatiku, di
hampirinya diriku.

“Anak
muda, Apa yang kau lakukan di sini?” Seraya di ambilnya cermin
dari tanganku.

“Hmm
… Bagus, jaga baik-baik, jangan sampai retak”, nasehatnya
sambil berlalu, ada semangat baru timbul di hatiku karena perhatian
mereka, aku mulai bisa tersenyum.

Belum
selesai juga sebenarnya diriku dalam kelegaan. Ketika datang lagi
seorang, agak gemuk, dengan ciri wajah sama, datang dari arah yang
sama juga, Kiblat. Hanya saja pakaiannya agak berbeda, dia berbaju
lebih dinas, mirip safari orang kantoran, jas dengan potongan baju
takwa, kopyah putih bulat, dan sarung tenun khas sebuah desa yang
kukenal. Hampir saja dia berlalu, tapi akhirnya ditengoknya aku, dan
dia menghampiriku, dia pegang kedua pundakku.

“Yang
ikhlas anak muda,” seraya tersenyum, diliriknya cermin yang ada
di dekapanku, dan dengan senyuman yang makin mengembang dia
mengangguk-angguk, aku paham akan isyarat itu.

“Jangan
beranjak dulu anak muda, tunggu seorang yang akan datang, beliau guru
kami,” dia pun berlalu meninggalkanku sendirian.

Benar,
tak lama kemudian datang seseorang tinggi besar, berwajah arab, dia
nampak agung, wibawanya memancar kuat, bergamis putih di rangkap
jubah hitam dengan sorban putih besar yang melilit kepalanya, tangan
kanannya membawa tongkat, jenggotnya memutih sebagian. Namun auranya,
pandangan matanya, kebeningan dan kejernihan wajahnya yang
memancarkan cahaya membuat tubuhku bergetar hebat, bahkan siapa pun,
aura khas para
habaib,
tapi ini lebih kuat.

Setelah
dekat dengan tempatku berdiri, mendadak dipintanya cermin yang ada di
tanganku, kuberikan cermin itu, lumayan bersih, tinggal
menyempurnakannya saja, mungkin hal

itulah
yang terlintas di benakku, ah

…. Aku GR.

Tiba-tiba
tanpa kuduga, dipukulnya tubuhku bertubi-tubi dengan tongkat yang
dibawanya, tak hanya itu, lelaki tinggi besar tadi menonjoki wajah
dan tubuhku dengan tinjunya berkali-kali, dibanting-bantingkannya
tubuh ringkih, kotor, bau, dan berdebuku, aku merintih kesakitan.
Tapi aneh, dalam keadaan yang sadis seperti itu, kurasakan kenikmatan
yang luar biasa di sana, seraya jiwaku ringan sekali dan jernih.

Diangkatnya
tubuhku, dia ceburkan diriku ke sungai, berkali-kali aku dibenamkan
olehnya, aku berteriak-teriak, nafasku tersengal-sengal, banyak air
masuk ke perutku, ditamparinya wajahku, dan dalam keadaan samar,
kulihat siluet-siluet unik, merak kesombongan, bangga diri, gagak
kedengkian, elang haus kekuasaan, ayam jantan nafsu, dan anjing hitam
ketamakan semburat berlarian dan beterbangan dari diriku. Lelaki itu
pun masih terus menggebukiku, menampari wajahku, dilepasnya juga
bajuku, hingga tinggal sehelai sarung koyak yang melilit di tubuhku,
tak bosan dia memperlakukanku seperti itu, aku tidak bisa apa-apa,
sampai tenagaku habis barulah dia melepaskanku.

Entah
dari mana, dia melemparkan kepadaku pakaian-pakaian kering, bersih,
baru dan berwarna putih. Dengan bahasa isyarat, disuruhnya aku
mengganti sarungku yang basah dengan pakaian-pakaian itu, aku
mengerti, segera aku ke balik semak dekat situ.

Setelah
itu, dia melambaikan tangan memanggilku, yang aku herani, dia sama
sekali tidak keletihan padahal sudah sesepuh itu, tenaganya hebat,
walau sempat kusentuh tadi, kaki beliau bengkak.

Diangsurkannya
cermin itu kepadaku, disuruhnya aku mengaca, tapi sempat kutolak, aku
masih trauma. Namun beliau terus memaksaku, kupegang cermin itu,
kuberanikan diriku, kupejamkan mataku, dan ….

Aku
hampir melonjak gembira, kala cermin itu memantulkan wajah manusia!
Bersih dan Jernih, aku tertawa senang, gembira bukan main.

Sebenarnya
aku masih tenggelam dalam kegembiraanku, ketika tanpa kusadari lelaki
itu sudah berjalan agak jauh meninggalkanku, kukejar dia sekedar
ingin mengucapkan terima kasih, kucium tangan dan lututnya. Lantas
dengan suara penuh wibawa, dia berucap diiringi seulas senyum yang
melegakanku … “
Tawakkal
‘ala Rabbak
.”

Ditinggalkannya
aku sendirian, saat benar-benar kurasakan diriku sempurna sebagai …
manusia.

QQQ

Makkah
al-Mukarramah

15
Rajab 1425 H

Dalam
temaran malam bulan Purnama
.

Tak
akan kulupakan senyummu yang menyejukkan hatiku, candamu yang
menghilangkan kegundahanku, dinginnya keningmu, kakimu yang kusentuh
oleh kedua tangan kotorku, halus, dan harumnya tanganmu saat kucium
dengan bibirku dan …

kata-katamu
yang melambungkan jauh anganku … “Hani-an lak.”

Yaa
Alimas Siri minna, la tahtiki-s Sitra ‘Annaa.

Wa
‘Aafina wa’fu ‘Annaa, wa kun lanaa Haitsu Kunnaa.

Semoga
Engkau

Kembali…
Sahabatku

“Apa?!
Bekerja?! Kamu mau kerja?! Lalu … bagaimana dengan kesepakatan kita
dahulu?! Yang kerap kita banggakan selama ini?!”
kugoncang–goncang di pundak sahabatku yang hanya berdiri mematung
seraya menunduk.

“Keputusanku
sudah bulat, Qib. Aku terpaksa, Qib “, ujarnya lirih.

“Iya!
Tapi bukankah itu tarlalu dini, bisa kamu pertimbangkan lagi kan?!”
kucecar ia dengan nada yang masih tinggi, penuh kegusaran.

“Memang,
Qib. Tetapi ternyata selama ini orang tuaku memberi isyarah untuk .…”
belum selesai kalimat itu yang segera kuputus.

“Ah
… Roy, kalau tahu sekarang ini kamu mau kerja, kenapa tidak sejak
dahulu–dahulu saja?! Buat apa kamu jungkir balik, capek duduk,
capek bangun selama 5 tahun ini untuk cari ilmu?! Menghabiskan waktu,
menghabiskan uang selama ini Roy, buat apa?!” aku masih agak
emosi.

“Roy,
akan kukenang selalu kedekatan kita dulu, kesepakatan yang 4 tahun
selalu kita ucapkan dengan kesemangatan dan kegirangan,” kini
aku terduduk, capek.

“Entahlah,
Qib. Aku sendiri tidak mengira, ternyata hal yang kuperkirakan tidak
berubah, buktinya … yah, hanya perubahan itu sendiri yang tidak
berubah. Biarkanlah aku, Qib .…” ujarnya datar dan lirih.

“Mungkin
aku ke Jakarta, do’akan aku bisa mencengkram erat aqidahku, Qib”,
imbuhnya lagi.…

Tak
ada jawaban dariku, aku hanya mendesahkan nafasku, berat. Tetapi itu
sudah keputusannya, dan kukenal ia selama ini adalah sosok yang keras
kepala jika punya sebuah keputusan. Malam hening, sehening hatiku
yang masih sangat kecewa dengan keputusan yang sama sekali tak kukira
itu. Lama kudengar suara desah angin malam bertiup, menggoyang
ranting pepohonan, menggugurkan dedaunan rontok, dan menerbangkan
kenanganku. Halaman ponpes, serambi masjid, belimbing tua, turut
membisu menyaksikan kemasygulanku, musik malam konser gabungan kodok,
jangkrik, tokek turut menginstrumeni kesepian itu. Tetabuhan atas
kekecewaan yang memekakanku.

QQQ

5
Tahun lalu

“Qib,
dari mana Ente?! itu ada anak baru, urusi!!!” Aku yang barusan
dari pesarean, terkejut ketika tiba-tiba Gus Alawy memanggilku dari
balik jendela ndalem. Tangan kirinya menahan jendela yang dibukanya
separoh itu, kulihat tangan kanannya masih memegang mushaf.

“Dia
dengan orang tuanya, di kamar Muslim. Beri tahu peraturan, jadwal
ngaji di sini, jangan pula catat di buku induk, yah. Ajak dia
ngomong-omong dulu, nggak usah langsung disuruh ikut ngaji, wirid,
murobathah,
atau
tandzif,
biarkan kerasan dulu. Setelah satu minggu, baru kita garap.”
Lanjutnya lagi, aku mengangguk.

Bergegas
aku ke pondok, kebetulan posisiku personalia, yang ngurusi anak baru
dan semua administrasi santri. Namun kulihat, di teras antara depan
kantor dan kamarnya Pak Ta’in, beberapa teman membentuk halaqoh,
sembari
kletakkletik
nyemil kacang, mungkin ini oleh-oleh anak baru itu, pikirku.

“Hei,
bagi-bagi rek,
ise’
komanan tah
?!”
Teriakku sambil berlari, kulupakan sementara perintah Gus Alawy tadi.
Dan belum sempat aku duduk nimbrung, tiba-tiba sebungkus kacang
terbang ke arahku, entah siapa yang melempar, spontan refleks
kutangkap, tapi posisiku tidak memungkinkan, sehingga aku pun
terjengkang ke belakang.

Wo’!!
Sialan!” umpatku, untung tanganku masih sempat menahan berat
tubuhku, aku pun tidak sampai terjatuh. Teman-teman tertawa, acara
cemil-menyemil berlanjut tanpa ada kata.

“Ada
anak baru ya? Dari mana?” tanyaku.

“Gresik”,
jawab salah satu temanku singkat.

“Temui
dulu Qib, mumpung orang tuanya masih di sini”, Ainul, sang Rois
mengingatkanku, aku hanya mengangguk. Setelah sedikit memuaskan air
liurku, aku pun beranjak, kutemui anak baru itu, di kamar Muslim. Dan
dengan sedikit basa-basi. kuketahui anak itu bernama Royhan.

QQQ

“Ehm
… Mas …”, kudengar sebenarnya sapaan itu, malam ini aku
murobathah.
Baru tiga hari anak baru itu di sini, sengaja kuajak dia, namun tidak
kujawab panggilan itu, karena telingaku agak asing dengan kata “mas”
tadi.

“Kang
…”, kupikir lagi, mungkin bukan aku yang dipanggil, di situ
ada Zabid, Amiruddin, Yachsya, juga Muhib yang menyertaiku.

Tiba-tiba
kurasakan di pundakku ada yang mencolek, anak baru itu, aku hanya
tersenyum, kulihat juga empat temanku tersenyum pula melihat adegan
itu.

“Oh,
kamu memanggilku yah, nggak usah pake mas aku atau kang, langsung
aja, Qib.” ujarku.

“Nggak
pa-pa, Qib, kan dia punya Mbak di atas.” Zabid mencandaiku.

“Pedekate
sisan
Qib,
lumayan
ise’ payu
.”
Muhib pun turut serta, kulirik wajah innocent Roy memerah malu,
“Gundulmu Hib !” balasku.

He!
Arek anyar, ga’ krasan engko’

Amiruddin meningkahi.

“Ada
apa?” kucoba mencairkan suasana sedikit kikuk itu.

“Eng
… tidak ada apa-apa kok.”

“Nggak
usah malu ….”

“Apa
setiap malam ada yang jaga?”

Dan
sejak itu, Royhan dekat denganku.

QQQ

“Naqib,
kulihat kamu dekat dengan anak baru itu, ya sudah, kamu pegang aja,
kamu kader, sepertinya ia bakat dan potensial. Siapa ngerti pintar
nulis juga. Ia lulusan SLTP Negeri terfavorit di Gresik,” pagi
itu sebelum ngaji Nahwu Gus Alawy menemuiku.

“Kayaknya
sih iya Gus, kalau kulihat gaya bicaranya, sepertinya ia mahir buat
puisi, juga gayanya kalau melamun.”

“Terus
kira-kira, yang pas masuk kelas berapa dia?”

“Kelas
yang Gus ajar saja, biar dia sungguhan, sementara ini kuamati
potongan anak ini agak
mbeler,
dari raut mukanya terlihat, cocok kalau sampeyan bentak-bentak gitu,
sampeyan goblok-goblokin, biar jiwanya tertata, juga biar ada yang
ditakuti,” Gus Alawy tersenyum, dia sentil telingaku. Memang Gus
yang satu ini kalau ngajar Nahwu nggak mau kompromi, setiap hari
meski sekali, kata “Goblok,
dhedhel,
ga’
pinter-pinter
keluar dari mulutnya. Kemauannya kuat walau aku juga heran, kerasnya
seperti itu, tapi di luar kelas ia begitu akrab dengan adik-adik
didiknya itu.

Setahun
berlalu

Aku
makin dekat dengan Royhan, beberapa kali aku ke rumahnya. Dan
dugaanku betul, ia ahli puisi, itu kuketahui dari mading. Tapi Roy
benar-benar misterius, sama sekali aku tidak tahu kalau ia
berkali-kali mengirim puisi dan dimuat, dia pun tidak memberitahu
aku. Hanya saja dari Gus Alawy kudengar, anak-anak putri tiba-tiba
demam puisi karya “Sang Musafir.”

Di
“Dliya 24434 ” pun banyak sekali atensi untuknya. Tak hanya
itu, akhir-akhir ini teman-teman juga banyak berbicara tentang
cerpen-cerpen antik di mading itu, dengan nama pengarang sama. Aku
“terpaksa” ikut nimbrung ngomong juga, padahal sebelumnya,
meski aku juga menulis, tapi aku tidak terlalu memperhatikan mading
itu saat terbit kecuali jikalau tulisanku dimuat.

Aku
mengetahui siapa “Sang Musafir” pun secara tidak sengaja,
saat iseng-iseng membuka buku diary dan catatan pribadinya, sampai
kutemukan puisi-puisi dan cerpen-cerpen itu, sekaligus nama
samarannya, ringan aku tersenyum.

QQQ

Hingga
pada suatu hari, saat i’tikaf di bulan Ramadhan, aku dengan Roy
tidur-tiduran di “asrama sementara” santri di lantai dua
masjid, sayup kudengar suara tadarrus, meningkahi percakapanku dengan
Roy, suasana khas Ramadhan yang kental. Dan di sela pembicaraan itu
dia
nyeletuk.

“Aku
ingin Qib, kelak jadi pejuang agama, sengaja bapak mengirim ke sini
untuk itu. Yang kucita-citakan, aku ingin tetap di pondok sampai
menikah nanti, ingin kupersembahkan seluruh umurku untuk ilmu, dan
kelak aku ingin, kita bisa berjuang bersama, saling membantu antara
aku dengan kamu,” segera aku duduk dari tidurku mendengar
celotehan itu.

“Benar,
Roy? Apa kamu nggak ingin kerja? Kan semua teman sekampugmu yang di
sini “
klutik
kerja semua.” Kucoba menguji komitmennya itu dengan pertanyaan
sederhanaku. Roy menggeleng pelan, disadarkannya kelingking kanannya
ke arahku, kusambut juga dengan kelingkingku, aku tesenyum, Royhan
pun tersenyum.

Sejak
itu, tepatnya mulai Syawal, persahabatanku dengan Roy makin kental.
Dengan satu tujuan sama, cita-cita yang sama, sehingga aku pun selalu
mudzaakarah,
muqoobalah
dengannya dalam segala hal.

Kebetulan
umurnya pun sama denganku, kebetulan juga aku hanya satu tingkat di
atasnya sehingga kala
muthola’ah
bersama masih saling nyambung.
Takror
nadzom
pun kulakukan bergantian dengannya, cuma strata kesenioran dalam
organisasi saja yang berbeda, aku lebih senior dari dia. Kedekatanku
secara tidak sengaja dengan Gus Alawylah yang mengantarkanku pada
posisi penting di ponpes. Gara-gara saat aku baru dua hari tapi
berani memprotes usulannya. Saat aku benar-benar tidak tahu kalau dia
putra Syaikhunaa! Pas kenalan ngakunya sih rumahnya di belakang
ndalem. Aku selalu tersenyum jika ingat itu.

QQQ

Tak
terasa 4 tahun berjalan rajutan tali persahabatan indah itu, suka
duka kulewati bersama-sama dengan Roy. Saat aku atau dia kali pertama
jatuh cinta, caper di kupingan masjid setiap sore. Saat sama-sama
bokek
kehabisan uang, saat sama-sama tertawa menikmati nasi yang sangit
kala
murobathah,
saat kutertawakan dia gara-gara kena setrap nulis sholawat di halaman
masjid. Saat ia tertawa melihatku gelagapan disiram Gus Alawy pas aku
ngantuk dan sebagainya. Meski kadang-kadang terjadi percekcokan,
biasa bumbu penyedap ukhuwah.

Wajar
jika aku kecewa berat dengan keputusannya semalam. Mengapa dia punya
pikiran seperti itu? Aku juga tak habis pikir, angin apa yang meniup
Pak Udin, ayah Royhan, sampai punya keinginan seperti itu.

Kurasakan
hari-hari ini hubunganku agak merenggang dengan Roy. Dia pun seolah
ingin menghindariku, sepertinya ia tahu kalau aku nanti pasti
nerocos
ngalor ngidul
menasehatinya
tentang keputusannya itu, dia memang paham betul karakterku, begitu
juga aku kepadanya. Maklum, 5 tahun kumpul bersama.

Dan
sampai pada hari yang tidak kuperkirakan sama sekali. Pagi itu
Syaikhunaa memanggilku, beliau mengajakku untuk menyertai beliau
hadir
Multaqo
di Sarang, Rembang. Gembira memang, tapi seharian itu beliau
menyuruhku ke Sekaran, ada sesuatu hal penting yang kuurus di sana.

Hatiku
memang berbunga di ajak “
ndere’no
Syaikhunaa, tapi di sudut perasaanku yang lain, ada sesuatu yang
berbisik bahwa ada yang tidak beres, entah aku sendiri tidak enak.
Apalagi hubunganku yang kurang harmonis dengan Roy. Sebelum
berangkat, kutemui dia, aku minta maaf. Namun yang kuherankan, ia
merangkulku erat, kulihat matanya berkaca-kaca, tidak ada reaksi apa
pun dariku, dingin.

QQQ

Tiga
hari aku di Sarang, saat terlupakan semua kesusahanku melihat para
Ulama alumni Abuya melangsungkan gawe mereka.

Dan
setiba di pondok, tepat saat aku menginjakkan kakiku di tanah halaman
pondok, yang teringat pertama kali di benakku adalah Roy. Setelah
kuletakkan tasku, jajan oleh-oleh untuk teman-teman, segera kucari
dia. Hatiku sedang bahagia, banyak rencana, aku ke kamarnya, tapi
tidak kutemukan dia.

Sengaja
kucari dia dengan diam tanpa bertanya pada teman-temanku, ingin aku
menggembirakan diriku dengan mengejutkannya. Kubelikan dia kitab yang
selama ini diidam-idamkannya, kubawa kitab itu sembari mencarinya.

Namun
setelah aku berputar-putar mencarinya di kamar-kamar, di masjid, di
bawah tangga, di
sentung
atas, di madrasah, di dapur, bahkan kamar mandi dan semua tempat yang
Roy biasa di situ, hatiku mulai berdebar-debar kala tidak kutemukan
sosoknya, pelipisku sudah berkeringat dingin, ada perasaan kalut yang
tiba-tiba menyelimuti hatiku.

Agak
berlari aku menuju kamarnya, tapi langkahku terhenti kala Hajir
memanggilku.

“Qib!
cari siapa?”

“Royhan!
tahu?!

Hajir
terdiam sejenak, ia agak terkejut dengan pertanyaanku, “Aneh, ia
sudah boyong tiga hari lalu.” Ucapnya kemudian.

Serasa
tersambar petir kala aku dengar kata-kata Hajir barusan, tak sadar
tanganku bergerak mencengkeram keras kaos Juve Hajir.

Sing
tenan kon
,
Jir !” Bentakku, Hajir mengeleng-geleng pelan, ia diam, dan
kulepas cengkeramanku, segera aku berlari ke kamarku kini dengan
kegalauan dan kekalutan yang luar biasa.

Kulihat
Hifny di sana asyik berbincang dengan Yek Husein dan Gus Mad. Saat
melihat kehadiranku, Hifny segera berdiri, di rogohnya saku baju
takwanya.

“Qib,
surat dari Royhan,” aku masih tidak percaya, wajahku penuh
peluh, kudesak Hifny menceritakan apa yang terjadi dengan Roy.

Dan
aku hanya biasa lemas, lidahku kelu. Kusadarkan tubuhku di lemariku,
Royhan izin boyong di antar oleh orang tuanya saat malam aku datang
dari Sekaran. Aku tidak tahu, karena saat itu aku tertidur kecapekan.
Yang aku sesali, kenapa aku tidak menyadari rangkulan terakhir itu?

Hening,
sampai aku sendiri tidak menyadari kalau Hifny, Gus Mad dan Yek
Husein sudah sedari tadi meninggalkanku termangu sendirian.

Dengan
tanpa gairah, kulemparkan kitab yang sedianya untuk hadiah tadi, di
dampar yang ada di sampingku. Berlahan dan seolah tanpa daya kubuka
surat itu, tak ada tulisan apa-apa kecuali sedikit kata maaf,
permintaan do’a dan selembar puisi. Kuresapi puisi yang digoreskannya
untukku itu, yang terakhir darinya.

Tak
terasa air mataku meleleh, ada rasa sesal di sana, rasa kecewa.
Kuremas amplop surat yang kupegang itu. Dalam tangis, lirih aku
berdoa, “Kawanku, semoga engkau kembali.” Kuukir hari itu
dengan air mata.

“Kucoba
melukis hariku di sini, merangkai dalam hati, bunga
,
dahan
dan duri, sesekali kucoret pedih dan sakit lukisan, berat kuingat
kenangan.

Burat,
Buram namun kerap tinggalkan kesan, sedikit-sedikit percik warna
cerah indah menarik, merah biru pelangi, kadang hitam kelabu, malu.

Kupertegas
lagi dengan garis senyum manis, tangis, dan kububuhi back ground
sketsa halus yang menjerat erat kasih para sahabat.

Ternyata
indah juga lukisanku

Lebih
hidup dari gambar Monalisanya Leonardo da Vinci yang lamat-lamat
tersenyum kala lama kita lihat.

Lukisan
amatir namun dengan berani gambarkan getir perasaan acara perpisahan
saat cerita belum berakhir.

Kusudahi
lukisanku dengan senyum, namun aneh! ada sesuatu yang menetesinya,
keringatkah ini?

Berderet-deret
melintas kulum senyum, isak sembab dan nada yang mengalun iringi
sebuah lamun.

Kupaksa
bahkan kuperkosa image ini agar tak lagi ciptakan cuplikan yang
dengan sadis menyayat kanvas lukisku yang baru aku bingkai.

Anehnya
lagi, kunikmati perasaan yang mengamuk, bagai pelajar yang saling
timpuk, hingga mata ini seakan tersiram terhujani air jeruk.”

1

QQQ

Dibawah
indahnya temaran malam bulan Purnama Makkah,

Jumad
Tsani 1425

Teruntuk:
seorang sahabat, semoga Alloh melindungimu selalu, Aaamiiin.

[Madinah,
awal Rojab Fard].

3

Menumpang
Kisah

Diary
Syaibatul Hamdi

30
Januari 2004

“Shubuh
basah oleh gerimis, rintik-rintik lembut itu terjun bebas ke bumi,
melembabkan dedebuan, melapukkan dedaunan kering, aroma tanah
tersiram hujan yang khas itu, menusuk hidung. Pagi masih berselimut
gelap, meski waktu seharusnya sudah memaksa matahari keluar sejak
tadi. Tetapi nampaknya ia lebih memilih berkerudung awan, walaupun
begitu, aktivitas di pesantren yang menempaku ini terus berjalan, tak
lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.”

(Wuik)
lho,
lha
kok
puitis
gini ry, ngapain?!
wong
gue cuma mau cerita, pagi ini gerimis, gitu aja nggak pake bahasa
ndakik-ndakik
gini ry he … he … he … Yach beginilah January, hujan
sehari-hari .

Tapi
yang jelas hari ini gue ngantuk buerat ry, semalam begadang, dan pagi
ini gue nggak ngaji ry, untung aja nggak ketahuan Syaikhunaa kalau
gue ngelanggar dua kali, pertama nggak ngaji, yang kedua
murobathoh
bukan pada waktunya, ya gini akibatnya, nyesel aku.

Tapi
kalau gue pikir-pikir, bodoh juga yach aku ini, ngapain jauh-jauh
mondok, ngehabisin uang, kalo cuman pindah numpang tidur aja?
Emangnya ini hotel emakmu? Eh … nggak
ding
ry.

Nah,
sebenarnya aku sekedar curhat, cukup sekali ini deh aku ngelanggar,
(ehm … suer … kesamber cewek). Insya Alloh nanti malem gue mau
tidur jam sepuluh,
manut
dawuhe

Syaikhunaa, demi ridlo beliau,
gak
ngono ha,
ry?

14
Februari 2004

Muda-mudi
bilang, hari ini hari … em … apa ya? Oh, iya … Palentin ry
(bukan Paneli lho, apalagi Palestin), tapi tak pikir, ngapain mau
begituan?

Kok
(lagi-lagi) goblok juga (ups …) khan itu adatnya orang kafir,
so
nggak boleh niru (ehm). Padahal kata Rosul,:
“Man
Tasyabbaha Bi Qoumin Fa Huwa Minhum

2
(wih,
ndalil
nih yeee …) (hee …he …
sitik
ry, khan udah mondok lumayan lama, buat apa ilmunya?). Katanya sih
ini hari cinta, hari kasih sayang, harinya mereka-mereka yang
pacaran.

Nah,
aku (sst … he … he

…)
ikutan juga ry! malah aku buat wirid, sholawat segela ry (He! ini
bid’ah, bahaya ini), kalo biasanya aku wirid 100 sekarang nolnya
tambah dua.
So,
kalo aku, Valentine-nya khusus untuk Alloh dan Rasul-Nya, ry.
Cemerlang kan? Daripada tukar coklat
Musang,
ry.

9
Maret 2004

Nasib
ry, aku tadi pagi disiram air segayung sama Gus Salim, ia marah besar
lihat aku ngantuk pas ngaji Riyadl, basah kuyup aku dan kitabku ry
hiks … hiks


hiks
…. Ya gini akibatnya kalau

nggak
nurut
Ustadz,
disuruh tidur jam 10 eh malah
mendolong
sampe Shubuh.

Mulai
sekarang, aku bertekad … kan tidur dini lagi, ngaji yes ngantuk no
(
Tenan
nih ?)

10
April 2004

Aduh,
apes lagi ry, aku tadi Shubuh pas Qiyamul Lail kesemprot sama
keamanan, gara-gara ketiduran pas wirid, lumayan kalo cuma ngantuk
doang, aku nggak tahu ry, kalo
Min
Huquqis Syekh
ku
jatuh ry,
wiisin
ry
aku, kesemprot
pas
bathuk
.

Sialnya,
paginya terulang lagi ry, aku tidur lagi pas wirid! Giliran Syaikhuna
marahin aku habis-habisan, cuma nyengir dan menunduk yang bisa
kulakukan ry.

Penginnya
sih wirid
khusyu’,
makanya kupejamkan mataku, meresapi bacaan wirid, me
wushulkan
diri (gaya he), eh … malah
bablas
ngorok

ry.

Dawuh
Syaikhuna,
“Wis,
ga’ usah nggayah ne’ wirid, Melek! ojo merem, durung wali kowe!”

Nasib
ry.

17
Mei 2004

Sorry
ry, yah, gue ngisi kamu cuma sebulan sekali, gue sibuk belajar ry
(
prut
!!) Nggak pa-pa kan ry? Cuma tuk ngabadiin kejadian yang pualing
berkesan dalam hidupku ry (yeee …), lagian aku nggak bisa nulis,
nggak bisa buat kata-kata seperti redaksi yang lain (lo … lo …
ini kan kalimat di
kupas
tuntas
nya
redaksi Zahro, ngapain
njeladur,
Dul ?)

Semalam
gue musyawarah Nahwu ry, iseng gue ngelempar batu, eh … pertanyaan,
biar rame aja. Kebetulan guru Nahwuku, Pak Habib yang
spanengan
itu
jadi
Mushohihnya,
gue nanyanya beginian ry,:

I’robnya
‘Zaidun
kariimin’
itu bagaimana?”

Eh,
sang guru ngejawab gini ry, “He! Kamu! kalau belajar yang bener,
ngaji ngantuk terus, salah pertanyaanmu itu!”

So,
aku nggak terima digituin ry, aku ngotot kalo pertanyaanku benar ry.
Eh, dia tambah muuarah besar ry (tuh, u-nya sampe dua kali),
mencak-mencak
kalo yang salah yang nanya.

Malah
sampe begini ry, “Dul! Kamu khan tahu,
mubtada-khobar
itu
marfu’,
abadan
ila yaumil qiyaamah

(hah? Ngapain bawa-bawa kiyamat segala?), kok kamu
kariimin,
yang
shoh,
kariimun“.

“Wah,
sampeyan kurang teliti, Pak.”

Jduer“,
dia marah ry, damparku ia gebrak ry.

“Sampeyan
yang salah Pak”, “
Jbruak
waduh, dampar ia tendang ry.

Wong
ini
khobar
syibeh jumlah
,
zaidun
kariimin

itu artinya Zaid kayak rem, jadi
kariimin
itu
jar-majrur“.

Wuih,
seketika mukanya abang, ijo, kuning, biru, kayak pelangi ry. Lha iya
khan? soalku benar? Ngapain dia marah?

28
Mei 2004

He

he

he …

aku
buat ulah lagi ry, tadi pas ngaji, aku ngantuk sedikit, Ustadz Mujib
baca ayat “
Hal
Yastawii Alladzina Ya’lamun walladzina Laa Ya’lamun
“,
nggak sama orang bego ama orang yang ngerti, bethoul?

Nah,
ia ngelempar pertanyaan gini ry, “Ini
laa,
laa
apa?”
satu persatu, nggak ada yang bisa njawab, sampai pada giliranku.
Wong
aku ngantuk, tapi kujawab “sangat tepat”, “
jami’-mani’“.
Pak Mujib sampe nggak bisa ngomong ry, nyengir aja. Gimana ceritanya?

“Hei
Dul, itu
laa,
laa
apa?!
Ojo
ngantuk wahe
!”

“Ehm
laa

laa

laa
apa ya? Oh iya,
laa
adri
3
pak!”
cocok khan? he … he … he … (sableng loe!!!).

6
Juni 2004

Aduh,
penceng
tanganku ry, kulitku juga tambah hitam, padahal aku sudah imut (item
mutlak) ry, belum lagi malu ditonton santri putri (perasaanku ry, he
… he … he …). Barusan aku dijemur Gus Salim sama Yek Bakar,
sambil nulis Fatih 50 kali, gara-gara nggak ikut jama’ah ry.

Tak
kira
nggak ketahuan, eh rupanya ada intelnya ry, tapi siapa? Ah, yang
penting gue nggak disuruh beli umpak, masalahnya, mau ditaruh mana
umpak itu? masak beli cuman satu biji, bener sih murah, malunya ini
tho
… mana belum
uthuk-uthuk
nuntun
sendiri
lagi. Malu lagi pas ditanyain sama bakulnya, “Mas, beli satu
untuk apa? Ganjel lemari
thah?”
(ya gundulmu itu), sialnya lagi pas kita orang balik mo ninggalin
toko, dianya nyeletuk, “Ketahuan nih, nggak jama’ah.”

Tapi
sekarang aku bertekad (lagi) ry, setelah ini nggak akan ketinggal
jama’ah, demi 27.

24
Juni 2004

Ya
gini ini kalau namanya apes ry, Dluhur tadi aku nggak jama’ah,
ketiduran di
sentong
masjid. Yang jadi soal bukan
ta’zirnya,
udah pasti itu. Tapi Syaikhunaa sendiri yang memergoki aku sedang
asyik ngiler ry, tak ayal ry,
ma’
jbug“,
kakiku beliau tendang ry, “
Qum!!”
bentak beliau.

Wih
sontak aku bangun, pas tahu siapa yang bangunin, waduh malunya ini,
nggak
ketulungan,
teman-teman yang sedang duduk wiridan pada senyam-senyum yang melihat
aku berjalan masih sambil
kethap-kethop.

Kapok
ry.

Namun,
biarlah buat pelajaran ry, biarlah aku yang selalu sial, asal temanku
tidak sepertiku ry (lho, kok jadi mengharukan gini? ini khan bahasa
cerpen).

15
Juli 2004

Malam
ini aku
murobathoh,
tapi yang selalu aku heranin, mengapa pas tugas, buerat dan
ngantuknya bukan main? Tapi pas nggak waktunya jaga,
melek
sampe elek

nggak pa-pa ry. Apa begini yah bedanya nafsu ama nggak?
So’ale
aku dengar, kalau sesuatu dibarengi syetan, ringan, tapi kalau berat,
disitulah ikhlas dan pahala menunggu.

Kebosanan
tiba-tiba menyergapku ry, kitab yang kubawa nggak kebaca, wirid pun
selesai semua, daripada bengong, main tebak-tebakkan aja dengan teman
jagaku.

“Dhe,
kenapa Super Man keritingnya cuman satu?”

Pak
Dhe diam aja, nampak berpikir.

“Kalo
keritingnya banyak, Super Mie namanya, hore 1-0.”

“Ayo
Dhe, sekarang, khotib apa setelah khotbah Idul Adha boleh disembelih
jadi kurban?”

“Hush,
ngawur, ngaco kamu Dul!”

“Yah,
kamu Dhe, jawabnya, khotib yang dilahirin kambing
4,
hore 2-0.”

Pak
Dhe nggak mau kalah rupanya, “Sekarang giliranku Dul, sholat apa
hayo yang 4 rokaat duduk tasyahud terus?” Tanyanya.

Belum
sempat kujawab, ia jawab sendiri, “Yaitu Sholat Maghrib
ketinggalan dua, ngikutin imamnya pas duduk tasyahud awal di rokaat
kedua, hore 2-1.”

“Lagi
Dul, apa bedanya demo dengan aksi?”
wadduh,
apa ya?

“Kalo
demo rodanya 3, kalo aksi rodanya 4, hore 2 sama.” Kami pun
tertawa, malam-malam, ngusir sepi dan yach … ngilangin stress lah.

20
Juli 2004

Ada
pertanyaan nggak
nggenah
di hatiku ry, gimana rasanya jatuh cinta? Wah … nah, lho … gue
yakin yang mbaca ini sekarang pasti sueneng (he … he … ketembak
ni yee …), tapi sorry lah yauw, siapa “yang mencuri hatiku”,
rahasimon dulu.

Ogut
lagi males ngomongin cinta, mending ngaji, ngapalin,
mutholaah,
wirid, daripada nurutin kata hati, nurutin nafsu yang nggak
mudeng,
bingung
dewe
,
tul
ndak
?

Oh
iya ry, katanya HAMKA di “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”
(hee … jelek-jelek gini aku seneng baca lho), cinta itu:
“Penyakit
tapi nikmat; nikmat tetapi penyakit, orang-orang yang ditimpanya,
orang itu tidak berkehendak sembuh daripadanya.”

Nah, itulah cinta.

Udah
tambah kan
ma’rifat
tentang cinta? Buat intermezzo ya? (
panganan
opo iku?
).

27
Juli 2004

Ini
bukannya meringati “kuda tuli”-nya PDI-P itu ry, cuma
semalam aku barusan undangan
maryaman
(baca surat Yusuf-Maryam,
tingkepan)
ke tetangga sebelah,
bareng
karo yek-yek
,
eh disitu ada familinya si
“mutangkap
‘alaiha”

(yang ditingkepin), nanya, “Oh, jadi sampeyan orang Arab,
marganya apa?”, “Khird.”

“Al-
Jufry.”

“Al-Hamid.”

“Aidid.”

Tiba-tiba
itu orang noleh ke aku, “Kalau sampeyan??” tanyanya tanpa
merasa bersalah.

“Oh
… eh … alhamdulillah”, jawabku sembari nyengir, orang itu
bengong doang, dalam hati, ini orang pake kacamata kawat apa kacamata
kuda sih, kok nggak ngeliat hidungku mancung ke dalam? Dassar!

1
Agustus 2004

Yang
ini rada-rada mengharukan ry. Hari ini aku bahagia banget ry.
Syaikhunaa tadi kedatangan familinya yang barusan pulang dari Makkah,
eh aku
ditimbali
ry,
beliau menghadiahiku sehelai surban ry, aku terharu ry, tak terasa
aku menangis ry, aku ini orang nggak punya ry, bisa mondok aja syukur
alhamdulillah, Syaikhunaa dawuh, “
Sing
tawakkal, rizki iku na’ tangane Alloh, wis mantepo wahe belajar
“,
oleh karena itu aku bertahan ry.

Tapi
yang tidak kusangka, Syaikhunaa memperhatikanku ry, beliau ternyata
sayang padaku ry, walau aku nuakalnya minta ampun, ngelanggar terus,
bahkan aku punya prinsip
saleho,
“Nggak lengkap jadi santri kalo nggak nglanggar” (jangan
ditiru yaa …). Bagiku, beliau adalah pelita di kegelapan,
jazakumulloh
Syaikhunaa, engkaulah yang mengenalkanku pada Alloh, semoga Alloh
menjagamu (aaamiiin). Engkaulah yang menuntunku pada cinta sejati,
kau kenalkan aku seorang yang patut dicintai. Rosululloh
.

“Na’am
saroo thoifu man ahwa fa’arroqoni; wal hubbu ya’taridzu-l laddzati
bil alami.”
5

16
Agustus 2004

Hari
ini aku … ulang tahun? Enggak ry, itu kan tanggal lahirnya Gus
Alawy, oh iya ry, ada yang lupa, sebenarnya ini diary, hadiah dari
Gus Alawy habis hari raya kemaren.

Nah,
di halaman pertama, tertulis “Diary Syaibatul Hamdi” dan
kata-kata puitis itu, sebenarnya tulisan dia, kan nama samarannya
Syaibatul Hamdi, ceritanya dia pengin bikin cerpen tapi mandeg,
idenya hilang. Sebenarnya juga, dia nyuruh aku ngerobek halaman itu,
tapi belum kulaksanakan, untung saja nggak jadi, buat
kenang-kenangan. Apalagi Mei kemarin, tepatnya pertengahan Shofar, si
Gus berangkat ke Makkah, aku merasa kehilangan ry
6,
setiap ia pulang
dari
pondok, selalu memperhatikanku ry.

Pasti
kalau ketemu, selalu tersenyum, aku kangen senyuman manisnya ry
7.
Kini aku selalu merindukannya ry, entah kapan aku bisa bertemu dia
lagi
8.
Aku berharap bisa menyusulnya ke Makkah ry
9.
Kemarin waktu perpisahan, saat dia menangis merangkul kami semua, aku
pun turut berkaca-kaca ry, kubayangkan akulah saat itu yang berangkat
10
diiringi suara adzannya kang Yachsya.

Yah
kini aku berdoa, dan kesemangatan sang Guslah yang ingin kucontoh
11,
juga kedisiplinannya
12,
kan mungkin
toh
itu ry?
wong
podo mangan segohe
.

Aku
juga, mulai sekarang, kalo ingat sang Gus, aku selalu bertekad, ingin
disiplin,
ingin
giat, nggak ingin melanggar lagi
.
Nuruti semua dawuh Syaikhunaa, biar bisa ngarang kitab,
Makkah-Madinah kayak dia, masyaAlloh ry.

Kuharap
keinginan itu tidak hanya menjadi sekedar keinginan belaka, tetapi
terwujud, doakan aku ry yach.

Dan
di sini, di NA, dari jauh kuucapkan untukmu Gus,: Met ultah,
moga-moga umurmu barokah, dapet ilmu manfaat dan terkabul semua
cita-citamu, aamiiin
13.
Akan kutunggu kehadiran sampeyan selalu, semoga ketemu lagi, insya
Alloh. Aaamiiin.

Udahan
dulu ry, met jumpa bulan depan, tanganku capek, besok-besok sambung
lagi yaaa …

Sahabatmu,
Dul ….

QQQ

Rushaifah,
Makkah al-Mukarromah.

Dini
hari, awal Agustus 2004.

Al-Aaaqil:
Man I’tabaro bimaa ro’aa, wa itta’adzo bimaa sami’a.

4

Denting
Nada Cinta

yang
Lain

Udara
siang terasa gerah, segerah hatiku juga, sobekan kardus yang kubuat
kipas tak mampu mengusir kegerahan itu. Begitu juga kitab “
Qowaid
Lughoh Arobiyah

yang renyah bahasanya dan kubuat
muthola’ah
itu, tidak sanggup mendinginkan hatiku, pikiranku buyar tidak
konsentrasi.

“Mbak
Lila, nambal
Fiqh
Manhaji

buat setor besok pagi, Mbak”, tiba-tiba seorang santri datang
mengejutkanku, Kholidah, adik kelasku.

“Adduh
Lid, Mbak lagi pusing nih, dengan Mbak Ni’ saja yach”, tak sadar
kuucapkan kata itu.

“Pusing?
Pusing kenapa, Mbak?” mata Olid pun membulat tidak mengerti,
menyiratkan tanda tanya.

“Oh
… eh, nggak, nggak ada apa-apa kok”, tergagap aku jawab
pertanyan Olid, gadis cantik itu.

QQQ

“Mbak,
sampeyan ini bagaimana? Kok nggak ada yang tercatat sih data-datanya?
Terus … lhoh! Ini juga! Gimana sih! Kan sudah banyak santri baru,
kok baru tercatat dua
thok?!”
Giliran Mbak Ririn,
Naqibah
Idaroh

yang menegurku, seraya membolak-mbalik Jurnal Kegiatan Harian dan
Buku Induk.

“Nggak
biasanya sampeyan seperti ini, Mbak Lila, ada apa?” Cewek yang
terkenal cerdas itu bertanya menyelidik.

“Ndak,
ndak ada apa-apa, aku cuma … ah, nanti aku beresin deh semua
datanya”, aku tak tahu, masalah itu benar-benar mengganggu semua
program dalam diriku, Mbak Ririn hanya menghela nafas panjang melihat
keteledoranku.

Ne’
ngene aturane, remek Idarohe, Mbak!

Ia menyindir ketidakdisiplinanku seraya berlalu meninggalkanku
sendiri dalam ketermanguan, aaa… pusiiing!!!

QQQ

Bagiku,
mondok adalah cita-cita sejak masih MI. Maklum, meski orang desa,
keluargaku bahkan orang kampungku kebanyakan pondokan. Wajar jika aku
punya niatan yang sama.

Dan
itu terkabul. Pengennya sih ke pondok-pondok besar seperti Langitan,
Sarang, Bangil, Lasem. Tapi, ternyata oleh orang tuaku aku “dibuang”
ke pondok mungil. Lain dari yang lain diantara teman-teman
sekampungku yang masih tren memilih pondok-pondok besar, alasan
gengsi katanya.

Tetapi
ternyata, kualitas pondok yang kuhuni, yang terletak di tengah sebuah
desa yang lebih maju daripada desa-desa tetangganya itu, tidak kalah
juga. Awalnya sih minder juga waktu ditanya teman-teman sepermainanku
dulu, “Kamu mondok dimana?” Seolah tidak ada ke-pede-an
untuk menjawab. Lebih-lebih mereka mengerutkan dahi kala aku menyebut
nama pondok sekaligus desanya. Dari mereka justru terlontar
pertanyaan, “
Lhoh,
disitu ada pondoknya
tah?”
Dengan penuh keheranan. Kalau Kyai yang mengasuhku sih sudah banyak
yang dengar nama beliau, soalnya termasuk alumni Makkah.

Akan
tetapi ketidak pede-an itu hilang sama sekali ketika ternyata
pondokku mampu bersaing bahkan mengungguli pondok lain. banyak alumni
sini yang sepulangnya ke rumah atau sepindahnya ke pondok lain jadi
tokoh. Barokah sholawat, ritual wajib dan ciri khas pondokku.

Kegiatan
pun begitu, malah aku berani
muqobalah
dengan temanku dari pondok lain tentang sistem di pondokku, mulai
sistem organisasi, sistem
tarbiyah,
sistem
dirosah,
sistem
kitabah,
sampai sistem
iqtishodiyah
(perkantinan). Belum tingginya taraf mutu pendidikan di pesantrenku,
belum lagi full wiridnya, refrigator, pendingin panasnya ilmu.
Sesuatu hal yang sangat langka di pondok-pondok besar sekalipun saat
mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk
muthola’ah
dan menghafal
mandzumah.
Pernah suatu ketika aku mondok Romadlon di suatu pesantren Salaf, dan
mereka sangat heran saat melihatku ke mana pun bawa tasbih!!!
(padahal nggak wirid).

Masya
Alloh-nya, itu semua dilakukan hanya di balik dinding, tanpa tahu
dunia luar. Di saat pondok manapun memberi kelonggaran santrinya
untuk keluar, meski terikat aturan. Yang penting
tathbiq,
praktek, itulah sistem pondokku. Jangan heran kalau kita berkaos kaki
(kapan yach bercadar?).

Pasantrenku
memang antik, benar komplek putra dan putri tidak ada jarak, tapi
jangankan bebas bicara, ketemu saja sulitnya minta ampun (kecuali
yang pergi ke pasar). Bahkan beberapa tahun lalu, dengan “kejam”
sang Gus menutup semua jendela pondok putri. Satu-satunya hiburan
kami.

Sempat
sih protes (baru kali itu Gus diprotes teman-temanku) yang membuatnya
marah besar. Tapi itu hanya berdasar nafsu dan naluri kewanitaan kami
saja, tanpa kita tahu apa maksud sang Gus. Dan kami benar-benar
mengakui kebenaran tindakannya itu. sebab banyak fitnah muncul dari
jendela itu. Kan kita bisa ngintip bahkan ngecengin santri cowok
lewat, mereka pun setiap lewat pasti melihat ke arah jendela. Tapi
sejak ditutup, tak ada lagi hal itu. Menyesal bila ingat protes itu,
khususnya aku, yang paling sengit memprotes langkahnya.

Namun,
dengan penutupan jendela itu tidak lantas membuat kami terkekang.
sang Gus memberikan kami “hiburan” lain, yang malah justru
lebih menghibur, tidak hanya sekedar “menyegarkan” mata
(sebagaimana “fungsi” jendela itu), tetapi juga pikiran
yang makin terbuka, hati yang terhibur ilmu yang bertambah dan secara
tidak langsung, terjadi persaingan sehat yang berhubungan dengan ilmu
sejak adanya hiburan baru itu. Mading.

Nah,
alasan-alasan itu yang membuatku betah di sini, bangga jadi santri
sini. Benar secara fisik tertutup, tetapi pengalaman … masya Alloh
memang. Itulah juga yang membuat semangatku selalu “santri baru”
dalam belajar dan menghafal Qur”an, seakan tidak pernah surut.

Belum
lagi kehangatan dan kekompakan ukhuwah, perhatian sang Gus yang
begitu masya Alloh. dan yang aku herankan, itu tetap berlanjut meski
ia sudah tidak di tengah kami, sudah berangkat ke Makkah. Bayangkan,
ia masih sempat sobek kertas, corat-coret kertas untuk akhowatnya di
sini, salah satunya aku
14.
Belum lagi Umminaa, ini yang
mumtaz,
pondok di mana pun, Bu Nyai atau Neng-nya begitu sakral, sulit
didekati. Tapi ini, masak bareng! Nonton TV bareng! Sehingga
kurasakan benar fungsi mereka sebagai orang tua kedua (ketiganya kan
mertua).

Namun
akhirnya halangan itu menghadang juga, semangatku yang dulu sekencang
angin ribut, tiba-tiba berhenti, sama sekali. Selama ini memang
banyak kerikil dan ranting yang bertebaran, tetapi selalu mampu aku
tepikan. Sekarang yang menghalangku adalah, batu! Butuh keajaiban,
butuh palu godam untuk menghancurkannya, tidak sekedar tiupan angin,
dengan pukulan tenaga wanitaku yang selemah ini. Ah … hanya
kebingungan dan kepusingan yang berputar-putar di benakku.

Awalnya,
beberapa hari yang lalu emak datang, biasa, kiriman. Tetapi emak
tampaknya membawa udang di balik gendongan, sendirian beliau
mengajakku bicara empat mata di gudang kamar belakang ndalem.

Yang
aku herankan, emak kali ini bicara berbelit-belit, tidak biasanya
yang ceplas-ceplos denganku. Seperti ada yang beliau simpan, ada
muqoddimah
agar aku tidak tersinggung. Tetapi bagaimanapun, akhirnya aku harus
tergoncang juga ketika secara halus emak memintaku untuk … menikah!
Seketika aku menangis, kutolak mentah-mentah permintaan itu, sebab
terus terang, aku masih ingin mondok, masih ingin menuntut ilmu!

Namun
emak terus merayu dan membujukku, dan agar tidak menyakitkan hatinya,
tidak durhaka, akhirnya aku meminta beliau memberiku waktu untuk
berpikir barang dua-tiga bulan, sebelum keputusan final.

Sampai
saat ini, dua minggu setelah kedatangan emak, pikiranku masih puyeng,
aktivitasku kacau balau, berapa kali aku tidak setor ke Umi’ padahal
tidak
udzur.
Inginnya sih masalah ini kusimpan sendiri. Tapi sepintar-pintar orang
menyimpan terasi
ya
akhirnya bau juga.

Dari
gerak-gerik gelisahku, raut wajah piasku, semua terlukis jelas
permasalahan di hatiku. Teringat aku sebuah syair di Balaghoh yang
kupelajari,
“Laa
tas-al al-mar”a ‘an khola-iqihi … fi wajhihi syahidun ‘anil
khobari”
,
nggak usah nanya seorang apa yang terjadi di hatinya, wajahnya sudah
cerita sendiri.

Tentu
saja yang bisa menerka hatiku adalah Mbak-Mbak senior, yang udah
banyak makan asam garam masalah gini-ginian (padahal sama belum
kawinnya lho).

Dan
bagaimanapun kuatnya aku ingin tidak bicara tentang hal ini, akhirnya
tetap harus curhat juga. Malam itu,
ba’da
musyawaroh, Mbak Ru mengajakku membuat mie. Saat makan bersama
itulah, di
suthuh,
kala bulan purnama, kuutarakan isi hatiku, kujelaskan kegundahanku
ke Mbak Ru, teman sekelasku itu. Dia pun banyak memberikan masukan.
Tapi yang jelas dia kurang
sreg
aku menikah di usia dini, kebetulan umurku masih terpaut dua tahun
darinya, meski sekelas.

“Mbak
Lila, kesempatan belajarmu masih luas, umurmu pun masih segini,
pikiranmu pun masih dibutuhkan
idaroh.
La
kalau
aku, emang udah waktunya he … he … he …”, sedikit ia
bercanda yang membuatku terpaksa tersenyum. “Bilang saja ke
ortumu, kalau kamu masih ingin
tholabul
ilm
“,
tambahnya lagi.

“Tapi
Mbak, kata orang tuaku, ini kesempatan, mumpung yang nglamar orang
kaya.” Mbak Ru hanya menghela nafas mendengar jawabanku.

“Yah
begitulah orang tua kita, kebanyakan masih pakai ukuran dunia. Seolah
kita pasti mati kalau nggak bisa makan. Padahal rizki di tangan
Alloh, selama kita tawakkal, insya Alloh ada saja. Mati pun bukan
karena kelaparan, tapi habisnya jatah umur.” Kebetulan barusan
musyawaroh “
Husun
Hamidiyah
“,
dan aku hanya menunduk.

“Terus
makhrojnya?
Jalan keluarnya?” Mbak Ru hanya mengedikkan bahu.

“Rumit
memang, tapi rayu orang tuamu, atau … pakai saja jalan pintas,
bilang ke Umi’ atau Ustadz, nanti biar beliau keduanya yang bilang ke
orang tuamu.”

“Malu,
Mbak Ru …”.

“Tapi
demi ilmu Mbak, apa pun harus kita lakukan, jangan kita terputus
dengan ilmu hanya gara-gara pernikahan. Selama kita hidup, selama
itu pula kita harus jadi penuntut ilmu.” Aku hanya mendongak
bulan purnama yang memandangku, kusandarkan tubuhku ke tembok
suthuh,
menghalau gundah di hatiku.

Malam
pun berlalu, menyisakan sedikit gelap, dan baru pukul 00.01 aku baru
bisa tidur, setelah
qiyamul
lail,
Hajat,
baca sholawat
Faroj
dan
Darok,
dan setelah aku sedikit lega dengan perbincanganku dengan Mbak Ru
tadi.

QQQ

Entah
siapa yang meniup, isu perkawinanku tiba-tiba tersebar, banyak Mbak
yang sudah tahu, sebagian besar berdasar dugaan (kan cewek gitu
senengnya) terus diomongkan gitu saja, yang pasti aku tambah pusing,
semua aktivitasku makin amburadul, ngaji sih datang, tetapi pikiran
terbang.

Baru
saja tadi Mbak Mir’ah memintaku istirahat dulu dari kantin, gara-gara
catatan keuangannya nggak beres. Mbak Saidah juga, aku diminta
menenangkan pikiran untuk tidak nulis dulu di mading, kebetulan
rubrik yang aku pegang “
Wa
Kabidah
“,
jadinya kayak apa kalau aku dicurhatin masalah yang sama menimpa
diriku!

Jika
teringat seperti ini, ingin sekali aku curhat ke Gusku. dulu, sebelum
ia ke Makkah, aku sering curhat kalau ada masalah, dan selalu ada
jalan keluar plus nasehat-nasehat ringan darinya, itu pun dikemas
dengan bahasa yang lucu, sehingga kerap kali aku lupa kesusahanku. Ah
andai saja ia di sampingku, ups … andai saja ia belum berangkat.
Atau kutulis saja surat untuknya yah. Teringat juga aku Kak Eva,
kadang ke dia kadang ke sang Gus.

Hingga
terlintaslah ide untuk curhat ke Nengku saja, kutahu ia punya pikiran
dan pertimbangan dewasa, walau umurnya belum genap 20, kuberanikan
juga akhirnya curhat ke dia, sekaligus kubuat
wasilah
ke Ustadz sama Umi’

Dan
hasil curhatku, sama dengan yang dikatakan Mbak Ru, hanya saja ada
saran Istikhoroh darinya, benar juga ya? Kenapa tidak terlintas di
benakku?

QQQ

7
kali aku istikhoroh, dan yang jelas,
isyaroh
yang kuperoleh adalah: ngaji dulu, kawin nanti, 3 atau 4 tahun lagi.
Malam itu aku aku baru benar-benar bisa tersenyum, selaksa
ketenangan telah kembali, tinggal usaha dlohir, meluluhkan hati orang
tuaku.

QQQ

Ternyata
tidak mudah meluluhkan hati keduanya, mereka bersikeras dengan
pendiriannya. Kalau lihat “calonnya” sih lumayan cakep
untuk orang kampung, bekerja juga, tapi sayang … yang pasti, naluri
santriku menolak.

Dan
yang paling kususahkan, hubungan ortuku dengan ortunya, sang camer
makin lengket. Padahal cerita awalnya, si cowok itu
telmi,
salah paham dengan basa-basi emakku yang mengatakan bahwa ia sudah
dianggap anak sendiri.

Tapi
kalau dia hanya kerja di pabrik, meskipun ia bos, ah … eman ilmuku,
itu kata Nengku.

Setelah
melalui negosiasi alot, akhirnya orang tuaku tetap teguh dengan
pendiriannya.
Ba’da
hari raya nanti mesti akad. Tak bisa kulukiskan gelapnya mendung di
hatiku, tak terasa air mataku meleleh. Dan tak ada lagi kegiatan di
pondok yang menarik hatiku lagi, sia-sia saja.

Tetapi
yang aku herankan, selama itu pula yang selalu terlintas di benakku
adalah sosok maya sang Gus. Yah, hanya itulah satu-satunya yang
menghibur hatiku, dan surat-suratnya. Kurindukan senyumannya yang
menghilangkan segala duka
15.

QQQ

Kalau
tidak karena
birrul
walidain
,
hari raya ini aku lebih memilih tidak pulang. Itu pun sana sengaja
juga aku mudik usai sholat ‘Id di pondok.

Dan
seminggu setelah ‘Id, seminggu di rumah, akhirnya aku harus
berhadapan dengan ketakutan itu. Malam itu bapak memanggilku. Emak
juga duduk di sampingnya.

“Asma”
Jalilah, anakku, kamu sekarang sudah besar”, kudengar suara
kebapakan itu, aku hanya menunduk. Aku sudah pasrah, sebagian kitab
dan bajuku sudah kubawa pulang.

“Tadi
barusan aku sowan ke Ustadz”, yang jelas beliau mengundangnya
untuk meng-akid-kanku.

“Segalanya
memang Alloh yang menentukan”, pikiranku sudah tidak tertuju ke
omongan itu. Mataku telah basah dan kabur oleh air mata, kesedihan
berpisah dengan ilmu, dengan Qur”anku yang baru 8 juz.

“Dan
setelah bapak omong-omong dengan emakmu”, ah Pak, kenapa
bertele-tele, teriak hatiku, tinggal katakan, “Aku nikahkan
kamu”, kok repot-repot.

“Bapak
turuti saran Ustadz, lebih baik kamu menuntut ilmu dulu, umurmu pun
masih muda juga, Ustadz sudah punya calon untukmu, pinter juga kaya”,
seketika aku mendongak, tidak percaya! Benarkah keputusan itu?
secepat inikah?
Subhaanaka
ya muqollibal quluub,

segera aku menghambur ke pangkuan emak, juga bapak, kuciumi tangan
keriput beliau, tangan yang termakan usia. Kutumpahkan semua air
mataku, tangis bahagia, keharuan memenuhi rongga dadaku.

Dan
kurasakan aku benar-benar ber-‘Id, berhari raya, ya Alloh,
alhamdulillah, Alloh benar-benar mendengar keluh kesahku, dan
melepaskanku dari semua kesusahan itu, yang selama ini melilit
hatiku.
Yaksyifu
‘annii al-ghummah
,
menyibak semua mendung di hatiku. Barokah sholawat.

Malam
itu, kupuaskan diriku dengan sujud panjang ke hadirat-Nya, syukur
atas segala curahan nikmat-Nya, sekali lagi aku menangis. Yah,
begitulah cewek, senang-susah cuma bisa nangis, tapi itu tidak jadi
soal.

Dan
juga karena sejak awal, aku yakin, Alloh menghilangkan semua
kesusahan ini, selama kita mau mendekat kepada-Nya. Semua ini pun ada
hikmahnya, aku tersenyum diantara tangisku.

Yang
pasti, senyum manisku kini telah kembali, tunggu aku ilmu, aku
mencintaimu. Dan itu semakin lengkap setelah semalam, setelah
keputusan orang tuaku, Mbak Ummu datang ke rumahku, mengantar sepucuk
surat, kartu lebaran, minal ‘aidin al faizin, dari Makkah, dari Gusku
tersayang.

Perlahan
namun pasti, kurasakan kembali angin kesemangatan itu bertiup
kembali. Anugerah terindah dari Penciptaku dan alam semesta. Alloh
Jalla Jalaaluhu, alhamdulillah.

QQQ

Makkah
al-Mukarromah

Jum’at
pagi hari nan syahdu.

6
Agustus 2004

Hadiah
tuk akhowat NA,

duga
sewajarnya saja yaaa …(doakan aku selalu).

Ojo
kesusu kawin…!!!

5

Merindu
Kasih

Seraya
menggandeng sepi, kususuri jalan-jalan yang biasa kulalui di pondok
ini, kutuju “kamar” mungilku yang terletak di tempat paling
ujung di bangunan reot yang selalu bocor tiap hujan ini. Seperti
biasa, entah mengapa aku selalu sulit tidur malam, kalau seperti ini,
maka “kelayapan” yang aku lakukan.

Hening,
hanya beberapa santri yang bangun, biasa,
murobathoh,
kudongakkan kepalaku ke arah asrama pondok putri, gelap, sejak pukul
22.00 tadi.

Kudesah
nafasku pelan, kurasakan lapar melilit perutku, tapi … tirakat? Ah,
tidaklah. Yah, meski aku sudah lama di sini, namun aku tidak bisa
dikatakan santri senior, pun aku juga tidak bisa dibilang santri
junior. Gengsi dong, kan udah mending lama, udah mau kawin lagi he …
he ….

Hanya
saja aku memiliki satu keistimewaan daripada santri-santri lain, aku
bisa naik kapan saja dan sesukaku ke pondok putri, nah … khan?!
Lha
wong
Syaikhuna nggak marah kok, soalnya aku ada “kepentingan” di
pondok putri (zeee …). Kadang-kadang aku ke atas pagi hari, siang
hari. Yang paling sering malam hari, di saat santri putri sibuk
musyawarah, jadi mereka tidak tahu keberadaanku saat aku naik.
So,
dengan tenang aku melakukan aktivitas dan tugasku.

Tetapi,
hari ini, jujur perasaanku agak terusik, sejak kapan dia ada di situ?
Duduk di
durjan
itu? yah, dia, si gadis, sekilas cantik, dengan wajah oval, kulit
putih Jawa, bulu mata lentik, bibir mungil menggemaskan. Kelihatan
cuantik
lagi jika memakai baju cokelat gelap dipadu sarung cokelat susu
bercorak khas miliknya (lha milik siapa lagi?), dengan kerudung
senada, aku … wah,
wis
pokoknya gitu lah.

Yang
aku tanyakan, sejak kapan dia punya pikiran untuk
mutholaah,
wirid, baca Qur”an, merenung di tangga kayu yang menuju
suthuh
itu?
So
pasti aku agak terusik (ehm), meski lama-lama aku menikmati keadaan
ini (huuu …),
toh
aku pun tidak mengganggunya. Kebetulan juga, aku selalu sukses
menyelinap, sehingga dia tidak tahu kalau aku barusan lewat, jadi
lancar aja aktivitasku, malu dong kalo ketemu ama
ajnabiy.

Namun
harus kuakui, perasaan itu tiba-tiba menyelinap di balik bilik
hatiku. Aku selalu terpesona, kala gadis itu, dengan mata beningnya
menatap cakrawala sore yang menyapanya dari balkon utara. Dengan
menopang dagu manisnya ia duduk di
durjan
kayu itu, ada sesuatu yang dikenangnya. Tatapannya itu, bening
jernih, aku pun turut tersenyum saat ia juga tersenyum, sebelum
beberapa detik kemudian, gadis yang menginjak remaja, yang sedang
mekar-mekarnya itu mendesah nafas lantas mengucap “Subhanaloh”
diikuti oleh wajah ayunya yang merona merah.

Hal
itu, kuamati dengan pasti selalu dilakukan setiap ada burung yang
melintas, atau seekor kupu-kupu cantik yang menari-nari indah
diantara dedaunan mangga tetangga, dipadu suasana sore yang khas.
Seolah ia berkata pada burung yang lewat itu, “Duhai burung yang
berterbangan, sudikah dikau meminjamkan sayapmu untukku? Sehingga
daku bisa menjumpai kekasih yang menempati relung hatiku.”

Mendadak
parasku berubah, aku tersipu, GR, akukah itu? ah … kayaknya tak
mungkin, kemarin saja kala aku mencoba menampakkan diriku dengan
sengaja, ia menjerit lantas lari masuk ke dalam. Apakah malu? Atau?
Ah … aku agak kecewa yang jelas kemarin itu.

Kini,
tentu saja aku tidak mau kejadian kemarin terulang. Mungkin aku
terlalu mengejutkannya, sebab aku menampakkan diriku yang gagah ini
dengan tiba-tiba, sontak ia kaget, ah aku terlalu bodoh, untung nggak
kepergok Syaikhunaa.

QQQ

Kulihat
hari ini sang gadis berbunga-bunga, ia terlihat gembira, ada secarik
kertas di tangannya, tidak bosannya dibaca terus surat itu. aku
sedikit tersentak, dari mana surat itu? khan aku tidak mengirimnya,
jangan-jangan … Tidak! Segera kutepis perasaan cemburu itu.

Hah?
Apa? Cemburu?! Goblok! Aku merutuk dalam hati, buat apa cemburu,
wong
lain kok urusannya (bener nih).

Tapi
yang penting sang gadis ceria, kulihat ia menulis surat, di atas
kertas berwarna biru muda, untuk akukah surat itu? tidak mungkin,
tidak mungkin gadis itu melirikku.

Cuma
saja … kulihat kemarin ia tersenyum kepadaku … ya! Bettul!!
Horee! Kemarin kan ia tersenyum bahkan tertawa seraya teriak
(memanggil?) cenderung gemas (atau geram?) saat aku yang ganti lari
lintang pukang melihat kehadirannya, sepertinya ia tertawa sejurus
kemudian. Itu kulakukan setelah secara sembunyi-sembunyi kuintip
gadis ayu itu, yang sedang termenung di tangga. Kunikmati senyuman
manisnya itu, jemari lentiknya yang menari lincah memutar tasbih.
Sehingga gadis itu sadar ada sepasang mata tak berdosa (prut!!) yang
sedang memperhatikannya. Dan ia tahu kalau aku mengintipnya! Ia
menjerit memang, tapi tidak lari! Aku bengong, sampai aku sadar
ketika di tangannya tergenggam sebatang sapu. Segera aku ambil
langkah seribu sebelum urusannya berabe, soalnya kalo sampai ketahuan
Syaikhunaa, apalagi Umminaa, bisa jadi perkedel aku. Lha beberapa
hari lalu barusan aku buat ulah, ada santri “sawanen”
gara-gara aku.

Namun,
dari kejauhan aku tersenyum puas, beberapa hari yang lalu ia yang
lari saat melihatku, tapi kini tidak, kini dia mengejarku …
kejarlah daku, kau …
ya
aku kabur dong … he … he … he….

Angin
sore lembut membelai wajahku, dengan langkah ringan dan lincah aku
menyusuri jalan kembali ke kamarku di pondok kuno, besok aku akan
kembali “gadisku”, tunggu daku.

QQQ

Kutertegun,
pondok putri mengadakan pembersihan besar-besaran, semua dirubah,
dibolak-balik tempatnya oleh si Gus dan kawan-kawan, tak ada lagi
renovasi. Lalu, bisakah aku bertemu sang gadis? Gadis
durjan
yang menarik perhatianku itu? Gadis cantik yang wajahnya selalu
terhias senyum manis memikat setiap ada sesuatu yang menggembirakan
hatinya, yang tersenyum kala melihat binar bulan purnama, gadis
cantik yang terlihat makin cantik saat memakai baju cokelat gelap
dipadu sarung warna cokelat susu dengan kerudung atau jilbab senada.
Gadis cantik yang bak bidadari surga itu, yang kugiring sepiku ke
pelabuhan hatinya? Ah … aku … haruskah aku kehilangan kesempatan
ini? Apalagi barusan Syaikhunaa mengumumkan pelarangan naik bagi
siapa pun yang tidak memakai jilbab, selain cewek, gara-gara
provokasi si Gus. Ah, sialan benar si Gus itu!

Gontai
aku berjalan ke kamarku, mau lewat mana? Di atas buntu semua.
Sebenarnya sih bisa, tapi izin langsung kayaknya tidak mungkin, nggak
ada peluang 00,01% pun. Atau nekat menemuinya? Aku yakin ia akan
menjerit sejadi-jadinya. Menangis bahkan bisa pingsan. Bagaimana ya?

Menyelinap
lewat dapur? Semua ventilasi ditutup kasa oleh sang tukang. Sialan
juga dia! Lewat pintu? Si Naming, kucing putih
ndalem
yang nggemesin, lucu, cerdas itu dengan setia tidur di pintu dapur.
Atau lewat atas masjid? Menyusuri kabel!! Aha!! Tapi, kalau kesetrum?
Wah,
ma’as
salamah
deh.

Aku
putus asa, akankah ia hanya bisa kurindukan? Aku suka melihatnya,
karena kulihat ia “begitu dekat” dengan Penciptanya. Masya
Alloh, saat dunia sudah kayak gini.

Tetapi
lagi pula aku yakin ia tidak akan menerimaku. Gila! Sangat gila kalau
ia menerimaku, tidak takut sih mending.
Eman
kalau gadis secantik dia punya kelainan jiwa, apalagi temen-temennya,
buenci,
jijik dan alergi melihat kehadiranku. Padahal bagaimanapun … aku
juga punya cinta. Ah … biarlah, biarlah ia bernostalgia, berkasih
dalam angan dengan kekasih yang menempati relung hatinya, sesama dia.

Dan
aku? Biarlah aku juga melabuh cinta, merindu kasih dengan sebangsaku,
sejenisku, sesamaku. Sebab kulihat, tadi di sudut lain dari atap
pondok tua ini, entah datang dari mana, ada sepasang mata jelita
memperhatikanku. Seekor tikus mungil, yang aku yakin, ia seekor tikus
betina yang akan jadi … jodohku … tanpa harus pacaran.

QQQ

Rushaifah,
Makkah-Shultonah Madinah

17
Agustus 2004.

Pagi
hari, jelang ziaroh.

Terinspirasi
cerita teman saat masak. Coco The Coro.

“Sekedar
cerpen.”

1
Puisi A. M. Ilalloh, untuk penulis.

2
Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.

3
Laa
adri
,
artinya: aku tidak tahu.

4
Laghozaat Fiqhiyyah.

5
Nadzam Burdah.

6
Petikan surat “Mas Con’an”.

7
Petikan suratnya Yazid.

8
Petikan salah satu surat akhowat.

9
Sebagian besar isi surat santri NA.

10
Petikan surat “Albab”.

11
Petikan surat “Hamdan.”

12
Kata-kata Hakim Demak.

13
Petikan surat ucapan selamat dari Ririn-Za’im, saat ultahku yang ke
17 silam.

14
Petikan surat sang Naqibah.

15
Petikan surat
ba’dlun
minas sholihaat.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: