Metode Edukasi Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam (bagian 2)

METODE 9

Allegori dan persamaan

Dalam banyak kesempatan saat mengajar, beliau S.a.w juga menggunakan metode allegori (perumpamaan), untuk menjelaskan suatu makna dari ajaran yang beliau sampaikan. Dalam penjelasannya, beliau menggunakan media benda yang banyak dilihat orang, atau yang mereka rasakan, atau yang mereka pegang.

Metode ini sangat memudahkan pelajar untuk mendeskripsikan suatu masalah yang mungkin kurang jelas baginya. Metode ini umum digunakan oleh pengajar-pengajar sastra, dan telah disepakati oleh mereka bahwa penggunaan alegori dan persamaan (tasybih) memiliki pengaruh besar dan sangat membantu dalam menjelaskan sebuah arti yang samar dan kurang jelas.

Di Al-qur’an sendiri banyak sekali ayat yang menggunakan perumpamaan, dan tentu saja Nabi S.a.w banyak mengikuti metode Al-qur’an ini dalam forum-forum pidato, orasi, dan cara mengajar beliau. 1

Salah satu contoh metode ini, sabda beliau S.a.w yang diriwayatkan Abu Daud: “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alqur’an itu laksana Jeruk, wangi aromanya dan enak rasanya. Sedangkan mukmin yang tidak baca Alqur’an itu seperti kurma, enak rasanya tetapi tidak ada aromanya. Adapun orang munafik yang membaca al-qur’an, itu seperti bunga, baunya harum, tapi rasanya pahit. Sedang orang munafik yang tidak baca qur’an, itu seperti jadam, pahit rasanya juga tidak ada aromanya”.

Atau sabda beliau yang lain: “Perumpamaan teman yang baik, itu seperti pedagang minyak wangi, jika kamu tidak diberinya sedikit, maka kamu mendapat harum wanginya. Sedangkan teman yang buruk, itu seperti pandai besi, jika kamu tidak terkena percikan kecil apinya, maka kamu terkena asapnya.”

Sebab dengan perumpamaan seperti itu, terkadang suatu permasalahan tampak lebih jelas dan lebih menancap kuat dalam hati dan ingatan.

1 Ada beberapa ulama’ yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi yang menggunakan perumpamaan (dhorbul Amtsal) dalam kitab yang menyendiri. Semisal Abul Hasan Al-Askari (w.310 H), atau Abu Ahmad Al-Askari, begitu juga Al-Qodhi Al-Hasan bin Abdurrahman Ar-Romahurmuzi. Kitab-kitab karya mereka telah dicetak dan beredar.

METODE 10

Visualisasi dengan Gambar

Ternyata jauh sejak 1400 tahun yang lalu Nabi kita telah terlebih dahulu menggunakan metode ini untuk mengajar. Beliau menjelaskan suatu hal dengan menggoreskan sebuah gambar, menggunakan media permukaan tanah.

Contoh dari itu, hadits riwayat Ahmad bin Hanbal dari Jabir bin Abdillah, beliau bertutur :

“Ketika kita duduk (belajar) bersama Rosul S.a.w, beliau lalu membuat garis lurus di atas tanah dengan tangannya, seraya berujar : “Ini adalah jalannya Allah Ta’ala”.

Setelah itu, beliau membuat masing-masing dua garis di sisi kanan dan kiri garis pertama tadi, sambil berkata : “Yang (empat garis) ini, adalah jalan-jalan syetan”. Kemudian beliau menaruh tangan beliau di garis pertama tadi (yang kini berada di tengah) sembari membaca Q.S. Al-An’am, ayat 153 :

Dan bahwa (yang Kami perintah) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.

(Skema yang digariskan Nabi)

Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Abdulloh bin Mas’ud:

“Nabi S.a.w membuat gambar persegi empat, lalu menggambar garis panjang di tengah persegi empat tadi dan keluar melewati batas persegi itu. Kemudian beliau juga membuat garis-garis kecil di dalam persegi tadi, di sampingnya:

(persegi yang digambar Nabi)

Dan beliau bersabda : “Ini adalah manusia, dan (persegi empat) ini adalah ajal yang mengelilinginya, dan garis (panjang) yang keluar ini, adalah cita-citanya. Dan garis-garis kecil ini adalah penghalang-penghalangnya. Jika tidak (terjebak) dengan (garis) yang ini, maka kena (garis) yang ini. Jika tidak kena (garis) yang itu, maka kena (garis) yang setelahnya. Jika tidak mengenai semua (penghalang) tadi, maka dia pasti tertimpa ketuarentaan.”

Lewat visualisasi gambar ini, Nabi S.a.w menjelaskan di hadapan para sahabatnya, bagaimana manusia dengan cita-cita dan keinginan-keinginannya yang luas dan banyak, bisa terhalang dengan kedatangan ajal, penyakit-penyakit, atau usia tua. Dengan tujuan memberi nasehat pada mereka untuk tidak (sekedar melamun) berangan-angan panjang saja (tanpa realisasi), dan mengajarkan pada mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Diriwayat lain, Nabi S.a.w juga membuat 4 garis di atas tanah, lalu bertanya pada sahabat-sahabatnya : “Kalian tahu, apa maksudku menggambar garis-garis ini?”

“Allah dan Rosul-Nya lebih tahu,” jawab mereka.

“Ini adalah empat wanita termulia dari penduduk surga, Khadijah binti Khuwailid (istriku), Fathimah binti Muhammad (putriku), Maryam binti Imron (Ibunda Nabi Isa A.s), dan Asiah binti Muzahim, Istri Fir’aun.”

METODE 11

Penggunaan Isyarat gerak tangan saat menerangkan

Menggunakan gerakan dan isyarat tangan saat mengajar adalah termasuk salah satu cara untuk membuat murid memahami materi yang disampaikan, daripada guru hanya sekedar duduk sambil membacakan atau menerangkan pelajaran tanpa gerak sama sekali.

Rosululloh S.a.w pun sangat memperhatikan hal ini, tak jarang saat menerangkan beliau juga melakukan gerakan tangan agar lebih menancapkan kepahaman di benak sahabatnya. Terlebih saat berpidato dan berkhotbah.

Sebagaimana riwayat Bukhori-Muslim, Rosul S.a.w bersabda :

“Antara sesama orang mukmin itu laksana sebuah bangunan, saling mengkuatkan antara satu dengan yang lainnya.” Ujar beliau seraya mencengkeramkan erat antara jari jemari kedua tangan mulia beliau.

Begitu juga diriwayat lain Bukhori, Rosul S.a.w bersabda: “Aku dan pengasuh anak yatim seperti halnya ini di surga nanti.” Sambil mengangkat dan menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah beliau yang saling berhimpitan.

METODE 12

Penggunaan Alat Peraga

Termasuk cara untuk membantu murid dalam memahami suatu materi pelajaran, adalah menggunakan alat peraga. Dan hampir semua pendidikan modern saat ini menggunakan metode ini.

Dan Nabi S.a.w telah terlebih dahulu menggunakannya, semisal ketika beliau melarang penggunaan suatu benda, beliau mengangkat dan menunjukkan benda itu di hadapan sahabat, untuk lebih menekankan larangan dan keharaman benda tersebut.

Diriwayatkan oleh Abu daud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, dari S.Ali bin Abi Tholib, beliau bertutur: “Rosululloh S.a.w mengambil (dan membawa) sutera di tangan kirinya, dan emas di tangan kanannya. Lalu kedua benda itu di angkat olehnya (agar para sahabat bisa melihatnya). Kemudian beliau bersabda : “sesungguhnya dua benda ini (emas dan sutera) haram bagi kaum laki-laki, tapi halal bagi kaum wanita.”

Di kesempatan lain, Nabi S.a.w mengambil sejumput bulu unta hasil rampasan perang, seraya menunjukkan bulu itu ditangannya, beliau bersabda : “Bagian (jatah) yang aku dapat dari harta rampasan ini, sama dengan yang kalian dapat. Awas! Jangan korupsi! Sebab sesungguhnya korupsi adalah kehinaan bagi pelakunya pada hari kiamat nanti.” (H.R.Ahmad).

METODE 13

Keterangan Langsung

Dalam hal-hal yang dianggap sangat penting, Rosululloh S.a.w kerap kali menyampaikannya dengan menerangkan secara langsung suatu permasalahan tadi tanpa menunggu pertanyaan dari sahabatnya, atau beliau memancing pertanyaan.

Semisal beliau mengajarkan jawaban atas sebuah keraguan, sebelum keraguan itu terjadi, mengantisipasi agar keraguan itu tidak mengakar dalam jiwa, dan berdampak negatif di kemudian hari.

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah : “Rosululloh S.a.w bersabda :”setan datang kepadamu dan berbisik dalam hatimu, “siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?”, sehingga sampai pada pertanyaan, “Siapa yang menciptakan Tuhanmu?”, jika sampai pada pertanyaan ini di hati kalian, segeralah berlindung pada Allah ta’ala (dari bisikan setan) dan putus pikiran itu ! dan meludahlah 3x ke samping kiri kalian”.

METODE 14

Menjawab setiap pertanyaan, dan menstimulasi murid untuk berani bertanya

Sebagai salah satu sifat pengajar yang baik, adalah menjawab dengan bijak setiap pertanyaan yang keluar dari murid, apapun jenis pertanyaan itu, dan mendorong mereka untuk selalu berpikir kritis dan berani bertanya. Sebab bisa jadi ada hal-hal yang penting yang tidak terlintas di hati pengajar, namun terlintas di benak muridnya yang berhubungan dengan materi yang sedang dibahas dan disampaikan.

Rosululloh S.a.w telah mencontohkan hal tersebut dan sangat menganjurkannya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya”.

Di Alqur’an surat Al-Nahl ayat : 43 disebutkan

…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.

Sebuah pameo terkenal mengatakan, “malu bertanya, sesat di jalan”.

Bahkan sebenarnya banyak sekali hukum, syariat, dan ajaran agama yang diajarkan Nabi S.a.w timbul terlebih dahulu melalui pertanyaan sahabat-sahabatnya sebelumnya. Dan atas anjuran ayat dan dorongan dari Nabi sendiri itulah, para sahabat pun banyak bertanya pada beliau akan hal-hal yang masih musykil dan kurang jelas. Dan kitab-kitab hadits penuh dengan contoh metode ini.

Sudah tentu merupakan hal yang wajar dan seharusnya terjadi jika dalam kegiatan belajar mengajar terjadi proses soal dan jawab. Dengan metode ini, dituntut adanya hubungan interaktif antara guru dan murid. Juga merupakan keharusan seorang guru untuk memberikan kesemangatan pada murid untuk berani bertanya, sebab dengan bertanya, terjadi perkembangan pesat pada otak dan membuka cakrawala berpikir si murid.

METODE 15

Menjawab satu pertanyaan dengan dua jawaban atau lebih

Umumnya, jika ada satu pertanyaan, maka jawabannya pun juga satu. Namun terkadang Nabi S.a.w menjawab satu pertanyaan dengan dua jawaban atau lebih. Yang antara kedua jawaban itu saling ada korelasi dan kaitan satu sama lain. Atau juga dengan tujuan memberikan pelajaran tambahan.

Hal ini menunjukkan bagaimana besarnya perhatian beliau pada orang yang bertanya, dan tentu saja secara alamiah seorang murid akan sangat merasa diperhatikan oleh gurunya, jika guru itu memberikan jawaban lebih daripada yang dibutuhkan murid tadi, yang bisa berdampak positif pada perkembangan edukasi murid.

Contoh metode ini, Hadits riwayat Imam Malik dari Abu Hurairah: “Ada seseorang bertanya pada Nabi S.a.w :”Ya Rosul, ketika kita berlayar (di laut), kita hanya membawa sedikit bekal air minum. Jika kita berwudhu dengannya, nanti kita kehausan. Apakah boleh berwudhu dengan air laut?”

Rosululloh S.a.w menjawab : “(boleh), laut itu suci airnya, juga halal bangkainya”.

Nah, Rosul S.a.w menjawab pertanyaan nelayan tadi tentang hukum berwudhu pakai air laut, bahwa sesungguhnya airnya suci dan sah dipakai berwudhu, sekaligus beliau menambahi jawaban akan suatu hal penting yang tidak ditanyakan nelayan tadi, yaitu bahwa bangkai makhluk hidup yang berasal dari laut (seperti ikan) juga halal dimakan dan dimanfaatkan. Suatu hal yang pasti tentu saja terjadi di dunia pelayaran.

Contoh lain, hadits riwayat Muslim: Waktu itu sedang musim haji, ada seorang perempuan bertanya pada Nabi S.a.w, sembari dia mengangkat anaknya: “Wahai Nabi, apakah anak kecil ini sah juga hajinya?”

Beliau menjawab : “Iya, sah, dan kamu juga dapat pahalanya.”

Hal itu sebab si ibu tadi telah bersusah payah membawa anaknya yang masih kecil untuk menunaikan ibadah haji. Dan siapapun yang pernah haji tahu, bahwa haji adalah ibadah fisik yang sangat berat.

METODE 16

Mengalihkan pembahasan

Meski seperti itu, yang telah dijelaskan di metode sebelumnya, tidak semua pertanyaan harus dijawab; melihat situasi, kondisi, materi yang sedang dibahas, juga kebijakan tersendiri yang tentu saja diketahui seorang pengajar.

Rosululloh S.a.w terkadang juga melakukan hal ini, dengan membelokkan pembahasan dan mengalihkan perhatian.

Seperti ketika ada orang yang bertanya pada beliau: “Wahai Rosul, kapan hari kiamat terjadi?”

“Apa yang kamu siapkan untuk menyongsongnya?” Rosul S.a.w balik bertanya pada orang itu

“Aku tidak menyiapkan banyak sholat, atau puasa, atau sedekah. Tetapi cukup bagiku cinta Allah dan cinta pada Rosul-Nya.” Jawab orang itu

“(kalau begitu) kamu bersama-sama yang kamu cintai”, kata Rosul bijak. (H.R.Bukhori dan Muslim)

Jelas sekali dalam peristiwa ini Rosululloh S.a.w tidak menjawab pertanyaan orang tadi yang menanyakan kapan Hari H-nya hari kiamat. Tetapi bahasannya dialihkan kepada hal yang lebih penting daripada sekedar itu kepada si penanya tadi.

METODE 17

Meminta murid mengulangi pertanyaannya

Terkadang untuk sebuah pertanyaan yang telah dijawab, Rosululloh S.a.w menyuruh lagi orang yang bertanya padanya untuk mengulangi apa yang ditanyakannya barusan, hal itu beliau lakukan dengan tujuan untuk menambahkan jawaban susulan sekaligus menambahkan ilmu dan keterangan, juga memantapkan kepahaman pada yang lain.

Sebagaimana contoh dalam hadits riwayat Muslim dan An-Nasa’i dari Abu Qotadah:

“Suatu hari Rosululloh S.a.w berkhotbah dan mengingatkan bahwa jihad fi sabilillah dan iman kepada Allah adalah amalan yang terbaik. Kemudian ada seseorang berdiri dan bertanya : “Wahai Rosul, bagaimana jika aku gugur karena membela agama Allah, apakah semua dosa-dosaku diampuni?”

“iya, jika kamu gugur di jalan-Nya dengan catatan sabar, mengharap pahala dari-Nya, serta terus maju (berjuang) pantang mundur”, jawab Rosul.

Sejenak kemudian beliau berujar : “bagaimana? Apa yang kamu tanyakan tadi?”

“Bagaimana jika aku gugur karena membela agama Allah, apakah semua dosa-dosaku diampuni?” kata orang itu lagi

“Iya, jika kamu sabar, mengharap pahala, maju terus pantang mundur. Kecuali (jika kamu mempunyai) hutang (dan itu harus kamu lunasi)1, sesungguhnya Jibril berkata begitu kepadaku”. Tutup Rosul S.a.w.

METODE 18

Melatih kepekaan murid dengan melempar alih pertanyaan

Salah satu metode Rosululloh S.a.w untuk melatih dan mendidik sahabat-sahabatnya adalah dengan memberi tugas pada sahabat tersebut untuk menjawab persoalan yang ditanyakan pada beliau. Dengan kata lain, jika ada pertanyaan, beliau S.a.w tidak menjawab langsung pertanyaan itu sendiri, tetapi menyuruh salah satu sahabatnya untuk menggantikannya menjawab, dan itu di hadapan beliau langsung.

Contoh dari metode ini, sebagaimana yang dituturkan oleh Abdulloh bin Amru bin Ash:

“Suatu hari, datang dua orang yang bersengketa pada beliau, (mengadukan apa yang sedang terjadi di antara keduanya), namun beliau tidak menyelesaikan sendiri persengketaan itu, tetapi beliau menyuruh (ayahku) Amru bin Ash untuk memberikan keputusan (atas persengketaan itu). Tentu saja ayahku terheran-heran, “Dan engkau di sini wahai Rosul?!”

“Iya”, jawab beliau

“Lantas, apa yang harus aku putuskan? (jika ada engkau)” tanya ayahku lagi.

“jika kamu berijtihad, dan kamu benar, maka kamu dapat 10 pahala. Jika ijtihadmu salah, kamu dapat 1 pahala”, ujar Rosul S.a.w (HR.Ahmad dan Daroquthni) 2

Kejadian yang sama juga di alami Uqbah bin Amir al-juhani. Atau di kesempatan lain, saat ada orang datang pada beliau untuk memintanya menafsiri mimpinya. Rosululloh S.a.w tidak langsung menafsirinya sendiri, tetapi menyuruh Abu Bakar Assiddiq untuk menafsirkannya. Dan tentu saja jika salah, beliau akan mengklarifikasi dan meluruskannya.

1 Maksudnya beliau, jika memiliki hutang pada orang lain, tanggungan hutang tidak bisa gugur dengan mati syahid, tetapi tetap harus dilunasi olehnya atau pewarisnya. Dan sebagaimana diketahui, Nabi S.a.w tidak pernah mau menshalati jenazah orang yang masih memiliki hutang, kecuali ada yang mau menanggung hutang orang itu, baru Nabi bersedia untuk menshalatinya.

2 Riwayat termasyhur seputar ijtihad adalah, jika benar dalam berijtihad, maka mendapat dua pahala, jika salah, maka hanya dapat satu pahala.

METODE 19

Melakukan tes dan ujicoba

Sebagai pengajar, tentu Rosululloh S.a.w tahu apa yang harus beliau lakukan. Dalam kesempatan tertentu, untuk mengetahui kecerdasan sahabatnya dan sejauh mana pengetahuan mereka, juga kepahaman dan ingatan mereka atas apa yang telah beliau ajarkan, beliaupun terkadang melakukan tes dan ujian kepada sebagian sahabatnya. Jika jawaban mereka tepat, beliau memujinya dan menepuk-nepuk dada sahabat tersebut (sekaligus mendoakannya). Tanda akan rasa bangga dan bahagia beliau atas jawaban yang sangat memuaskan tadi.

Contoh dari itu, yang beliau lakukan pada Ubay bin Ka’ab, Rosul bertanya kepadanya : “Abul mundzir – panggilan Ubay – , ayat apa di dalam Al-qur’an yang paling agung?”

“Allah dan Rosul-Nya lebih tahu”, jawab Ubay

Rosul mengulangi lagi pertanyaan beliau : “Abul Mundzir! Kamu tahu tidak ayat apa yang paling agung dalam Al-Qur’an?!”

(Ayat kursi)”, jawab Ubay pada akhirnya.

Rosul S.a.w pun dengan bangga menepuk-nepuk dada Ubay, “Bagus, bagus hai Abul Mundzir”.

Contoh lain yang sangat terkenal adalah saat beliau mengirim Mu’adz bin Jabal untuk berdakwah ke Yaman. Sebelum berangkat beliau menguji kemampuan dan kelaikan Mu’adz.

“Jika ada suatu kejadian, apa yang akan kamu lakukan? Akan kamu putuskan dengan apa?” tanya Rosul.

“Aku putuskan dengan kitab Allah (Alqur’an)”, jawab mu’adz

“Jika kamu tidak menemukannya dalam Alqur’an?”

“Aku putuskan dengan Sunnah Rosul-Nya”.

“Jika tidak kamu temukan dalam Sunnah Rosul-Nya?”

“Aku berijtihad dengan menggunakan pendapatku sendiri (yang sesuai dengan Al-qur’an dan As-sunnah), dan aku tidak menguranginya (juga tidak berlebihan)”.

Rosululloh S.a.w menepuk dada Mu’adz seraya berujar, “Alhamdulillah, Yang telah Memberikan ketepatan (berpikir) pada utusan Rosul-Nya, terhadap sesuatu yang meridhokan (dan membuat puas) hati Rosul-Nya,” (H.R. Abu Daud dan Tirmidzy).

METODE 20

Konsensus terhadap sesuatu dengan tanpa kata

Metode ini adalah salah satu bagian dari definisi Assunnah 1 yang oleh para pakar ilmu Ushul fiqih dan ulama’ hadits disebut dengan istilah Taqrir, yaitu sesuatu yang terjadi di hadapan Nabi S.a.w, atau sesuatu yang beliau dengar dari ucapan dan perbuatan sahabatnya (yang mereka lakukan tanpa beliau ajarkan terlebih dahulu) dan beliau menyetujui ucapan atau tindakan itu dengan diam (tanpa kata).

Nah, diamnya beliau ini menunjukkan diperbolehkannya ucapan atau tindakan itu. Dan tentu sebagai pengajar, kita terkadang mendapati hal seperti itu yang muncul dari inisiatif murid kita sendiri. Jika salah tentu saja kita harus menegur dan meluruskannya, dan jika benar, maka kita bisa menyetujuinya dengan tanpa harus berbicara.

Salah satu contoh taqrir (persetujuan) Nabi S.a.w adalah ketika beliau mengutus 300 sahabatnya dalam ekspedisi Dzat As-salaasil, di bawah komando salah satu jenderal beliau, Amru bin Ash. Pada saat itu musim dingin sedang dalam puncaknya, suatu malam Amru bin Ash bermimpi basah, dan karena takut dengan bahaya yang menimpa dirinya jika mandi besar dalam cuaca seperti itu, maka dia tidak mandi junub, tetapi hanya bertayammum dengan debu, dan setelah itu dia mengimami sholat jamaah pasukan tersebut.

Sepulang dari ekspedisi, dan setiba mereka di Madinah, para Sahabat melaporkan pada Nabi S.a.w atas apa yang telah dilakukan Amru, karena Nabi tidak pernah mengajarkan pada mereka soal ini.

Nabi pun memanggil Amru, “Amru, kamu memimpin sholat berjamaah sementara kamu junub (dan berhadats besar)?”

Amru pun memberitahu pada Nabi apa yang mencegahnya untuk mandi sambil menyitir Al-Qur’an surat Annisa’, ayat 29.

…dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Maka Nabi pun tertawa dan tidak berkata apa (HR.Abu Daud)

Beliau juga tidak menyalahkan tindakan Amru itu, juga tidak menyuruhnya mengulangi sholat (yakni sholatnya tetap sah). Dari sini inferensi (istid-lal) diperbolehkannya tayammum saat cuaca dingin menggigit, sebab senyum beliau menunjukkan persetujuan, dan Nabi S.a.w tidak pernah menyetujui hal-hal yang salah dan batil. Padahal apa yang dilakukan Amru itu tidak pernah Nabi ajarkan padanya atau sahabat-sahabat yang lainnya.

METODE 21

Mencari dan Memanfaatkan momentum yang baik

Sebagai pengajar tentu kita selalu dituntut untuk peka dengan keadaan dan lingkungan sekitar pendidikan, juga memanfaatkan mood. Usahakan apa yang kita ajarkan, atau cara mengajar kita, tidaklah monoton, sebab hal itu bisa membuat murid merasa bosan.

Nabi kita sering sekali memanfaatkan kesempatan bagus dengan terjadinya suatu peristiwa untuk menyampaikan pelajaran dan pendidikan pada sahabat-sahabatnya. Beliau sering menghubungkan suatu kejadian dengan ajaran dan ilmu yang ingin beliau sampaikan pada sahabatnya. Sebab dengan salah satu cara itu, ilmu bisa lebih dipahami dan menancap di memori, karena lebih jelas dan gamblang dengan contoh peristiwa yang terjadi langsung di depan mata kepala mereka.

Di antara contoh metode ini: suatu hari Nabi S.a.w berjalan-jalan sidak meninjau pasar diiringi sebagian sahabat-sahabat besar, dan tentu saja orang-orang pun berkumpul mengerumuni beliau. Saat berkeliling, sudut mata beliau menangkap seonggok bangkai kambing yang berteling kecil, oleh beliau, bangkai itu diambilnya dengan menjewer telinganya, lantas beliau berucap: “siapa di antara kalian yang mau mengambil (bangkai) ini dengan satu dirham saja?”.

“tidak seorang pun dari kita yang mau wahai Rosul, buat apa (bangkai kambing ini)?” mereka menjawab.

“kalau gratis, mau tidak?” tanya Rosul lagi.

“Demi Allah, walaupun hidup, kambing ini saja sudah cacat karena bertelinga kecil, apalagi mati?” jawab orang-orang lagi.

“Dan demi Allah, sesungguhnya harta dunia bagi Allah lebih rendah daripada (kambing) ini bagi kalian”, tukas Rosul S.a.w dengan tenang (HR.Muslim)

Pada kesempatan lain, Nabi S.a.w duduk-duduk bersama sahabatnya pada malam bulan purnama di bawah langit terbuka. Sejenak kemudian beliau melihat bulan purnama itu dan bersabda : “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian pada hari kiamat nanti sebagaimana kalian melihat bulan purnama itu. Kalian tidak berdesak-desakan dalam melihatnya bukan?” (HR.Bukhori)

Beliau S.a.w memanfaatkan moment saat para sahabatnya menyaksikan bulan pada malam purnama yang terang benderang, dan menjelaskan bahwa melihat Allah Ta’ala di akhirat nanti bagi orang-orang yang beriman akan begitu

1 Sunnah adalah : segala ucapan, tindakan, sifat-sifat, dan iqrar/taqrir (persetujuan) Nabi Muhammad S.a.w

jelas, mudah dan gampang, tidak perlu berdesak-desakan, sebagaimana mereka melihat bulan di malam purnama.

METODE 22

Selingan joke, kelakar, dan bersenda gurau saat mengajar

Sebagai pengajar, kita dituntut untuk selalu peka dengan keadaan psikologis murid. Jangan buat mereka tegang dan merasa terbebani dengan materi yang kita sampaikan, sebisa mungkin kita harus bisa membuat mereka mencintai pelajaran yang disampaikan. Karena kecintaan murid pada suatu mata pelajaran tertentu (lebih baik lagi semuanya) adalah kunci kesuksesan kegiatan belajar mengajar, terutama pada pelajaran-pelajaran eksakta.

Saat kita melihat dan merasakan bahwa murid kita mengalami ketegangan, kejenuhan, maka segera kendorkan urat syaraf mereka dengan sedikit canda. Buat mereka tersenyum atau tertawa, tentu dengan canda yang ilmiah, bukan humor murahan. Karena dengan tertawa, pikiran akan fresh kembali dan tentu membuat murid giat dan semangat lagi. Sebab, kebanyakan orang, bisa menyerap dan mengambil pelajaran melalui senyuman, dan wajah yang berseri. Sangat berbeda sekali jika murid merasa terintimidasi dan tertekan karena melihat wajah kita yang tertekuk muram tanpa senyum, apalagi jika kita selingi dengan bentakan dan umpatan.

Ketegangan saat belajar bisa melelahkan dan melumpuhkan pikiran, dan kelakar sederhana akan mengurangi bahkan menghilangkan ketegangan itu, seberat apapun materi yang kita sampaikan.

Dan Nabi S.a.w pun ternyata pada banyak waktu-waktu tertentu menggunakan metode ini. Beliau mencandai sahabatnya saat mengajar, dan membuat mereka tersenyum, namun beliau dalam bercanda tidak mengatakan sesuatu kecuali kebenaran.

Namun tentu saja canda dan tawa itu tidak berlebihan, seperlunya saja. Sebab tawa yang berlebihan itu bisa membuat hati keras, bahkan bisa menjatuhkan wibawa. Sekedarnya saja, terutama saat murid sudah terlihat jenuh, dan sekiranya murid tidak takut pada kita, namun tetap hormat dan segan pada kita dalam waktu yang sama.

Seperti yang dicontohkan Nabi S.a.w ketika ada nenek tua bertanya pada beliau, apakah dia masuk surga? Dengan bercanda Rosul S.a.w menjawab kalau di surga tidak ada nenek tua sepertinya. Tentu saja nenek itu terkejut dan bersedih (karena mengira bahwa dirinya tidak masuk surga), namun segera dijelaskan oleh beliau, bahwa orang yang masuk surga nanti semua menjadi muda belia kembali,

jadi nenek tua itu akan kembali lagi menjadi gadis. Nenek itupun akhirnya tersenyum berseri-seri.

Begitu juga seperti yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzy, dari Anas : “Ada seseorang minta pada Rosululloh S.a.w onta shodaqoh 1 agar dia bisa menjadikannya sebagai pengangkut barang. Rosul menjawab orang itu: “iya, aku beri kamu anak onta betina”, tentu saja orang itu terheran-heran.

“wahai Rosul? Apa gunanya anak onta? Belum bisa dibuat apa-apa”, sebab orang itu ingin onta dewasa.

“(Lho), bukankah onta yang kamu minta tadi juga dilahirkan onta betina?” jawab Rosul seraya tersenyum simpul.

Dengan berkelakar, Rosul S.a.w memberikan orang itu pengertian, bahwa sesungguhnya onta jantan dewasa, sebesar apapun, sudah sanggup mengangkat apapun, tetaplah sebelumnya dilahirkan oleh onta betina, induknya.

METODE 23

Memantapkan keterangan dengan sumpah

Untuk menekankan pentingnya ajaran yang disampaikan, atau untuk memperkuat sebuah hukum yang ditetapkan, terkadang Nabi S.a.w menggunakan kata sumpah 2, sehingga para sahabat benar-benar memperhatikan hal itu.

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rosululloh S.a.w bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai (dan menyayangi). Kalian mau kutunjukkan sesuatu yang jika kalian laksanakan kalian bakal saling mencintai? Tebarkan ucapan salam di antara kalian”.

METODE 24

Mengulangi keterangan sampai tiga kali

Kemampuan motorik dan berpikir murid itu pasti tidak sama, di sana ada yang dengan cepat dan tanggap menerima dan memahami keterangan, dan ada juga yang lambat (atau bahkan tidak paham sama sekali). Sebagai pengajar kita harus bijak dan sabar menghadapi hal ini.

Dan Rosululloh S.a.w, sebagai pemimpin dan panutan para pengajar telah mencontohkan pada kita akan hal ini, beliau terbiasa mengulangi sebuah keterangan atau ajaran yang disampaikan sampai tiga kali. Di samping agar bisa dipahami dengan lebih baik, juga akan membuat murid lebih menaruh perhatian terhadap pentingnya materi yang disampaikan.

Contoh ini bertebaran banyak sekali di kitab-kitab hadits, dan para sahabat juga mengatakan, bahwa Nabi S.a.w jika berbicara dan menyampaikan ajaran, beliau selalu mengulanginya tiga kali, sehingga kalimat-kalimat beliau itu bisa dipahami dengan baik oleh siapapun yang mendengarnya.

METODE 25

Menarik perhatian murid dengan merubah posisi

Di samping mengulangi keterangan tiga kali, untuk menarik perhatian dan isyarat akan pentingnya sebuah masalah, beliau S.a.w kadang merubah posisi duduknya. Asalnya menerangkan seraya duduk bersandar pada sesuatu, seketika tiba-tiba beliau duduk tegak.

Semisal ketika beliau bertanya pada sahabatnya, saat itu beliau duduk bersandar: “Kalian mau tahu, apa dosa yang paling besar?”, tiga kali beliau mengulang pertanyaan ini.

“iya wahai Rosul”, jawab para sahabat.

“Mensekutukan Allah, durhaka pada orang tua”, lanjut beliau, saat beliau masih duduk bersandar, tiba-tiba beliau duduk tegak seraya meneruskan jawaban yang belum beliau rampungkan.

“Dan sumpah serta kesaksian palsu. Ingat! Sumpah dan kesaksian palsu! Sumpah dan kesaksian palsu!” (H.R. Bukhori dan Muslim)

1 Onta shodaqoh : Onta jatah yang didapat dari hasil shodaqoh/zakat para sahabat yang kaya, atau onta yang didapat dari hasil rampasan perang, dan dipelihara oleh pemerintahan Nabi kala itu. Disediakan bagi yang berhak

2 Hal ini adalah tentu dalam kultur bangsa Arab, karena penggunaan sumpah untuk menekankan dan meyakinkan terhadap sesuatu hal, umum digunakan oleh bangsa Arab, berbeda dengan bangsa kita (walau terkadang sesekali menggunakan juga). Dan sumpah bagi mereka adalah puncak dari cara mereka untuk meyakinkan orang lain, dan tanda akan pentingnya sesuatu itu

METODE 26

Menarik perhatian dengan berulang-ulang memanggil nama si murid

Di sebagian kesempatan, beliau memanggil nama sahabatnya terlebih dahulu, berulang-ulang, untuk menarik perhatiannya, sebelum menyampaikan apa yang ingin beliau ajarkan.

Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Mu’adz bin jabal :

“Ketika aku dibonceng oleh Rosululloh S.a.w di belakang kendaraannya, beliau memanggilku:

“Mu’adz”.

“iya wahai Rosul”

“Mu’adz”.

“Iya baginda Rosul”

“Mu’adz”,

“iya duhai Rosul”,

“tahukah kamu? Apa hak Allah yang harus dipenuhi para hamba-Nya?”

“Allah dan Rosul-Nya lebih tahu”.

“Hak Allah yang harus dipenuhi hamba-Nya adalah, mereka menyembah-Nya dan tidak mensekutukan-Nya”.

Kemudian kita berjalan lagi, dan Rosul memanggil kembali

“Mu’adz”

“Iya wahai Rosul”

“Kamu tahu? Apa haknya hamba yang akan dipenuhi Allah, jika hamba itu memenuhi hal Allah (tadi)?”

“Allah dan Rosul lebih tahu”

“Hak hamba yang akan dipenuhi Allah adalah Allah tidak akan Menyiksanya”.

METODE 27

Menarik perhatian murid dengan memegang tangan atau pundaknya

Tidak hanya itu, agar sang sahabat lebih menaruh perhatian terhadap apa yang diajarkannya, dan tentu agar lebih mengingatnya lagi; beliau S.a.w terkadang menggandeng sahabat itu, atau memegang tangannya, atau meletakkan tangan beliau di pundak sahabat itu.

Ibnu Mas’ud bercerita : “Rosululloh S.a.w mengajariku lafadz tahiyyat (seraya telapak tanganku ada dalam genggamannya) sebagaimana beliau mengajariku surat-surat dari Al-Qur’an”. (H.R. Bukhori-Muslim)

Begitu juga yang dituturkan Abdulloh bin Umar : “Rosululloh S.a.w memegang pundakku sembari bersabda : “Hendaknya kamu merasa hidup di dunia ini layaknya orang asing, atau pengembara, dan anggaplah dirimu selalu sebagai penduduk kuburan.” (H.R. Bukhori-Tirmidzy).

Atau seperti yang beliau lakukan pada Abu Dzar Al-Ghifari, saat bertanya tentang jika ada orang menunda-nunda sholat, Rosul S.a.w langsung menepuk paha Abu Dzar dan berkata : “Sholatlah pada waktunya”, (H.R.Muslim). yakni maksudnya jangan ditunda-tunda sampai hampir habis waktunya, apalagi jika sampai kehabisan waktu sholat

METODE 28

Memancing murid untuk mengungkap sesuatu dengan menyamarkannya

Bermacam-macam cara Rosululloh S.a.w untuk mengajar dan mendidik sahabatnya. Terkadang beliau tidak memberikan secara langsung pelajaran apa yang akan disampaikannya. Namun beliau menyamarkan dan merahasiakannya, atau memberi semacam sandi dan sindiran, agar sahabat itu penasaran dan mencari sendiri pelajaran apa yang dimaksud Rosul tersebut, tentu melatih juga kepekaan sahabat tersebut.

Dan tujuan beliau agar pelajaran itu (jika berhasil diungkap sahabatnya tadi), akan lebih berpengaruh di hati dan menancap di ingatan.

Anas bin Malik bercerita : “Suatu hari seperti biasa di majelis Nabi S.a.w, kami duduk-duduk (belajar) bersama beliau. Lalu beliau berkata : “Sekarang ini ada orang yang mau datang (ke sini), dan dia termasuk penduduk surga”.

Sejenak kemudian ada seseorang masuk, dan dari jenggotnya masih menetes sisa air wudhu, dan tangan kirinya menenteng sandal.

Keesokan harinya, lagi-lagi Rosululloh S.a.w berkata hal yang sama, dan lagi-lagi orang itu yang muncul, dengan keadaan yang sama. Begitu pula pada hari ketiga.

Setelah Rosululloh S.a.w berdiri, salah satu dari kami (yaitu Abdulloh bin Amru bin Ash) diam-diam pergi mengikuti orang itu, dia tampak penasaran sekali dengan apa yang dilakukan orang itu, sehingga membuatnya (mendapat jaminan) termasuk salah satu penduduk surga.

Setelah melalui investigasi (beberapa hari), ternyata Abdulloh melihat jika orang tidur dan dia merubah posisi tidurnya, dia selalu berdzikir menyebut nama Allah. Akhirnya (untuk menambah pengetahuan dan mengobati rasa penasarannya), Abdulloh bertanya pada orang itu, apa yang dilakukannya selama ini.

“Aku tidak melakukan apa-apa, kecuali yang kamu lihat tadi anakku. Hanya saja juga, tidak pernah terlintas di hatiku untuk menipu sesama orang islam, juga tidak ada perasaan iri dengki di hatiku kepada orang lain yang diberi kenikmatan oleh Allah”, jawab orang itu.

“Ini dia yang menyebabkan paman sampai pada derajat (dan tingkatan) itu, dan ini yang kami tidak sanggup,” kata Abdulloh kemudian (H.R.Ahmad)

Dan orang tersebut adalah Sa’ad bin Abi Waqqosh, salah satu di antara 10 pembesar sahabat yang dijamin Rosululloh S.a.w masuk surga 1.

1 Selain beliau adalah : Abu bakar Assiddiq, Umar bin Al-khottob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Sa’id bin Zaid, Abu Ubaidah bin Al-Jarroh, Tholhah bin Ubaidillah, Zubair bin Al-Awwam, dan Abdurrahman bin Auf, Rodhiyallahu anhum ajma’in.

METODE 29

Menyebut akibat terlebih dahulu, sebelum menyebut sebab

Di antara cara Rosul S.a.w dalam mengajar adalah, dengan menyebut akibat sesuatu hal secara langsung dengan tanpa menjelaskan sebabnya terlebih dahulu, dengan tujuan memancing sahabatnya agar bertanya, dan merangsang pikiran mereka untuk mengungkap hal yang beliau globalkan itu. Beliau ingin membuat syaraf motorik para sahabatnya terus bekerja. Setelah itu baru beliau menjelaskan dengan rinci apa yang beliau maksud, dengan begitu kepahaman akan lebih menancap kuat di ingatan sahabat-sahabatnya.

Suatu ketika saat beliau duduk-duduk dengan para sahabatnya, tiba-tiba beliau berkata : “Sungguh rugi! Sungguh rugi! Sungguh rugi!”

Tentu para sahabat terkejut dan terheran-heran, lalu bertanya, “Siapa wahai Rosul?”

“Seseorang yang masih menemui kedua orang tuanya atau salah satunya dalam keadaan tua, kemudian dia tidak bisa masuk surga”. (H.R. Muslim).

Maksud Nabi, orang itu sangat merugi tidak masuk surga sebab tidak bisa berbakti kepada orang tuanya yang telah masuk usia senja, apalagi jika sampai berani durhaka dan membentak-bentaknya, wal iyadzu billah.

Di kesempatan lain Rosul berkata : “Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman!”

“Siapa yang engkau maksud ya Rosul?”

“Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman karena gangguan-gangguannya”. (H.R. Bukhori)

METODE 30

Mengglobalkan sesuatu, kemudian merincinya

Di antara kreatifitas Rosululloh S.a.w dalam mengajar adalah mengglobalkan terlebih dahulu sebuah masalah yang dianggap penting, lalu kemudian baru menjelaskan dan memperinci satu persatu masalah itu, agar mudah diingat dan dipaham.

Contoh metode ini, riwayat Hakim dari Ibnu Abbas, Rosul S.a.w bersabda :

“Manfaatkanlah 5 hal, sebelum datangnya 5 hal :

  1. Masa mudamu, sebelum datang masa tuamu

  2. Kesehatanmu, sebelum kamu sakit

  3. Saat kamu kaya, sebelum kamu jatuh miskin

  4. Waktu luangmu, sebelum kamu sibuk

  5. Hidupmu, sebelum kamu mati

Atau sebagaimana riwayat lain dari Abu Hurairah, Rosul S.a.w bersabda :

“Seorang wanita itu, (biasanya) dinikahi karena 4 hal :

  1. Hartanya (kekayaannya)

  2. Garis keturunannya

  3. Kecantikannya

  4. Agamanya

(Maka jika kalian ingin menikah), pilihlah wanita (sholehah) yang punya agama, niscaya kalian akan beruntung. (H.R. Bukhori Muslim)

METODE 31

Mau’idzoh dan Tadzkiroh (Menasehati dan mengingatkan)

Ini adalah salah satu metode paling penting dan paling menonjol yang kerap dipakai Rosululloh S.a.w dalam mengajar dan mengarahkan ummatnya, sebagaimana metode no.1. Hal itu sebab beliau S.a.w mengikuti perintah dalam Al-Qur’an:

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS.Adz-Dzaariyat : 55)

“…sesungguhnya kamu adalah orang yang memberi peringatan.” (QS.Al-Ghaasyiyah : 21)

Dan pada dasarnya, hampir sebagian besar dari ajaran-ajaran beliau, diambil dan disampaikan lewat mau’idhoh-mau’idhoh dan orasi umum beliau.

Irbadh bin Sariyah bertutur : “Rosululloh S.a.w sholat bersama kita, usai sholat beliau menghadap pada kami, dan memberikan mau’idzoh panjang lebar, yang membuat mata meneteskan airmata dan hati bergetar takut.

Setelah itu ada orang angkat suara : “Ya Nabi, ini sepertinya pesan dari orang yang mau mengadakan perpisahan, lalu apa yang engkau pesankan dan tekankan pada kami?”

“Aku wasiatkan pada kalian semua untuk selalu bertakwa pada Allah, sam’an wa tho’atan, mendengar dan taat (suka atau tidak suka, pada pemimpin kalian), walau dia seorang budak berkulit hitam. Sebab sesungguhnya kalian yang hidup setelahku nanti, akan melihat banyak sekali perselisihan. Maka berpeganglah erat-erat pada sunnah (ajaran)ku dan ajaran para Khulafa’ Arrasyidin setelahku. Peganglah erat-erat dan gigit kuat dengan geraham kalian. Dan berhati-hatilah dengan hal-hal baru (yang tidak ada hubungannya dengan ajaran agama, tetapi dinisbat dan disandarkan pada agama, mengklaim bahwa itu darinya). Karena tiap hal yang baru itu bid’ah, dan tiap bid’ah itu menyesatkan (HR. Abu Daud, Tirmidzy dan Ibnu Majah).

Jabir bin Abdulloh juga bercerita : “Rosululloh S.a.w jika berorasi dan berpidato, matanya memerah, intonasi nada suaranya meninggi, dan (seolah-olah) sangat marah, laksana orang yang memperingatkan akan datangnya serangan mendadak dari lawan.”, beliau bersabda : “Aku diutus, dan (jarakku dengan) hari kiamat laksana ini!” seraya mentautkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Beliau juga berkata : “Amma Ba’du (dan setelah itu), sesunggunya sebaik-baik kata-kata adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad S.a.w, dan sejelek-jelek perkara adalah hal-hal baru, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Kemudian berkata dalam orasinya : “Aku lebih utama (dan berhak) menanggung setiap orang mukmin daripada dirinya sendiri. Siapa yang meninggal dan menyisakan harta, maka untuk pewarisnya, dan siapa yang meninggal sementara dia menanggung hutang, atau barang hilang, maka aku yang menebus dan menanggungnya”. (H.R. Muslim dan Annasa’i)

METODE 32

Memotivasi dan menakut-nakuti

Dalam istilah ilmu hadits, metode ini terkenal dengan sebutan At-targhieb wa at-tarhiib, bahkan metode pengajaran Rosul jenis ini sampai dibukukan dalam karya dan karangan yang menyendiri dalam beberapa jilid besar 1.

Metode ini adalah metode dengan cara memberi semangat dan motivasi terhadap suatu kebaikan, dengan menyebut efek positif kebaikan tersebut serta janji pahala dan surga. Atau menakuti-nakuti serta peringatan terhadap suatu keburukan, dengan menyebut dampak negatif sekaligus ancaman dosa dan masuk neraka.

Semisal menganjurkan sholat dluha sekaligus menyebut pahalanya, atau melarang dengki dengan menyebut efek sampingnya, dan lain sebagainya.

METODE 33

Cerita dan Kisah

Semua pengajar pasti mengenal dan pernah mempraktekkan metode ini, metode yang telah lama sekali jamak dalam dunia pendidikan; menanamkan pelajaran dan nilai-nilai moral melalui media cerita dan kisah. Dan metode ini termasuk sangat efektif sekali, sebab murid akan dengan mudah mengambil pelajaran dan ibroh pada kisah yang terjadi. Metode ini sangat bagus sekali diterapkan di kalangan pemula, terutama anak-anak dan remaja; kelompok usia yang cenderung tidak mau dipaksa belajar, dan kelompok usia yang cenderung tidak mau digurui dan sering bertindak impulsif (dengan alasan mencari identitas dan jatidiri).

Karena dengan berkisah, kita tidak secara langsung menjadikan pendengarnya sebagai obyek, tetapi yang kita jadikan obyek adalah pihak lain (tokoh dalam cerita itu), dan kita membiarkan pendengar (murid) kita secara alamiah mengambil dan memetik sendiri hikmah, sekaligus pelajaran di balik kisah itu.

Dan sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu, Nabi kita pun juga telah menggunakan metode ini, dengan menceritakan kisah bangsa-bangsa terdahulu yang telah punah, atau kisah orang-orang pada masa Nabi-Nabi sebelumnya, agar para sahabatnya mengambil sendiri pelajaran dari kisah yang beliau ceritakan itu.

Selain itu juga banyak sekali ceritera-ceritera lain yang beliau kisahkan, semisal kisah tentang cinta dan persahabatan yang tulus dan murni karena Allah, seperti yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah.

Ada seseorang yang ingin menjenguk temannya di desa lain. Allah Ta’ala lalu mengirim malaikat untuk menghadangnya di suatu jalan tertentu. Ketika orang itu sampai di situ, malaikat (yang telah beralih rupa menjelma jadi manusia) itu menanyainya.

“Mau kemana kamu?”

“Aku mau mengunjungi temanku di desa itu”, jawab orang tadi.

“Kamu ada kepentingan apa sehingga pergi pada temanmu itu karenanya? Tanya malaikat lagi

“Tidak ada kepentingan apa-apa, aku mengunjunginya hanya karena aku mencintai temanku fillah, karena Allah saja,” kata orang itu

“Ketahui, sebenarnya aku adalah malaikat yang dikirim Allah padamu (untuk mengabarimu) bahwa Allah Mencintaimu, sebagaimana kamu mencinta temanmu itu karena-Nya,” kata malaikat itu akhirnya sembari membuka identitas dirinya.

Atau juga kisah-kisah beliau tentang anjuran untuk menyayangi binatang dan peringatan agar tidak mengganggunya, serta memberikan hak hidup binatang tersebut, sebagaimana dalam kisah anjing dan PSK (pekerja seks komersial), atau kisah kucing dan wanita tua. Jauh sebelum para pecinta binatang dan aktivis-aktivis yang peduli pada lingkungan hidup berteriak-teriak menyuarakan pembelaan terhadap lingkungan dan makhluk hidup.

Atau kisah tentang bayi-bayi yang bisa berbicara, batu yang bergerak karena amalan baik, kisah-kisah bangsa Israel, dan lain sebagainya.

1 Salah satu karya monumental dalam bidang ini, adalah kitab “Attarghib wat tarhib” adikarya Imam Zakiyuddin Abdul Adzim bin Abdul Qowy Al-Mundziry

METODE 34

Prolog singkat

Rosul S.a.w adalah sosok pengajar yang memiliki cita rasa, perasaan dan kepekaan yang sangat tinggi. Dalam mengajarkan hal-hal yang kurang etis disebut, beliau S.a.w tidak langsung menyampaikannya secara terang-terangan, tetapi menggunakan pengantar atau tanda yang membuat sahabat-sahabatnya paham dengan apa yang beliau maksud dan beliau ajarkan.

Sebagaimana riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Rosul Bersabda : “Sesungguhnya aku bagi kalian adalah ibarat orang tua dan anak, aku ajari kalian (semua), jika kalian ke kamar kecil, maka hendaknya jangan menghadap kiblat atau membelakanginya.”

Rasul S.a.w tidak langsung menyebut buang air, kecil apalagi besar, tetapi siapapun paham, bahwa jika seseorang ke kamar kecil adalah untuk BAK atau BAB.

Diterusan hadits yang lain, “Dan beliau memerintahkan penggunaan 3 batu dan melarang penggunaan kotoran kering atau tulang”, tentu untuk bersuci dan membersihkan diri setelah buang air. Beliaupun tidak menyebut langsung.

“Beliau juga melarang penggunaan tangan kanan untuk bersuci”, dalam membersihkan kotoran dari kemaluan, depan atau belakang, tetapi menggunakan tangan kiri.

Dan metode ini digunakan beliau terlebih lagi jika berkenaan dengan hal-hal yang sangat sensitif, semacam masalah kewanitaan, atau hubungan seksual.

METODE 35

Isyarat dan Sindiran

Dalam kesempatan tertentu, untuk mengajarkan sesuatu yang tidak etis disebut langsung, Rosululloh S.a.w terkadang cukup menggunakan isyarat atau sindiran.

Seperti ketika ada seorang wanita yang minta diajari tata cara bersuci dari menstruasi, beliau hanya berkata, “Kalian ambil air dan daun bidara 1, kalian pakai mandi, siram mulai dari atas kepala kalian, basuh semua tubuh kalian secara merata, sampai pangkal rambut juga, kemudian bilas tubuh kalian, setelah itu ambil kapas yang telah diberi wewangian, gunakan untuk membersihkan….”, Rosul S.a.w tidak meneruskan kalimatnya.

Wanita itu masih bertanya, “Bagaimana cara menggunakan kapas itu untuk membersihkan? (bagian mana yang harus dibersihkan dengan kapas itu)?”

Tentu Rosul S.a.w terperanjat dan berkata, “SubhanAllah ! Ya pakai kapas itu untuk membersihkan”,

S.Aisyah, Istri beliau, lantas menarik wanita itu dan membisikinya, “(maksud beliau), bersihkan tempat keluarnya darah 2” (H.R. Bukhori Muslim)

EPILOG

Apakah beliau S.a.w pernah marah saat mengajar?

Itulah sebagian di antara sekian banyak metode mengajar yang digunakan oleh baginda Rosululloh S.a.w. dan itu dengan satu target : Menanamkan kepahaman pada murid terhadap apa yang diajarkan. Tidak sekedar tahu saja, sebab sangat berbeda sekali antara sekedar “tahu” dan “paham”, dan tentu saja lantas setelah itu untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, di antara sekian banyak metode (uslub) yang beliau gunakan dalam mengajar, apakah pernah juga beliau marah (dan dalam rangka mengajar itu sendiri juga)? Sebab sebagai pengajar, kita pasti akan menemukan berbagai macam hal dari murid kita yang tidak sesuai dengan hati kita dan membuat kita marah, yang tentu saja kemarahan kita itu tidak atas dasar emosi atau masalah pribadi.

Hal yang manusiawi jika kita marah saat menghadapi kasus kenakalan dari murid-murid kita, dan saat marah itu kita dituntut untuk bijak, tahu kapan saat marah, kapan tidak, terlebih jika menjatuhkan sanksi atau skorsing, harus sesuai dengan situasi, kondisi, dan manusiawi, sebab semua masih dalam rangka pendidikan.3

Rosululloh S.a.w pun pernah juga sangat marah, jika ada sahabatnya yang keterlaluan dan berlebihan dalam suatu permasalahan, atau ngotot bertanya hal-hal yang tidak patut dipertanyakan.

Pernah Rosul keluar dari rumah beliau, dan beliau menemukan sebagian sahabatnya sedang berdebat dan adu argumen tentang masalah takdir, seketika wajah beliau memerah karena marah, dan membentak : “Apa kalian diperintah untuk ini ?! Kalian diciptakan untuk ini?! Menabrakkan ayat-ayat Al-Qur’an satu dengan yang lain! Gara-gara ini bangsa-bangsa sebelum kalian dihancurkan luluh lantak!” Diriwayat yang lain bahkan Nabi sangat serius melarang para sahabat berdebat dalam masalah ini.

Di suatu kesempatan beliau juga sempat marah saat melihat sebagian sahabatnya berwudlu tidak sempurna dan ala kadarnya, sembari cepat-cepat tergesa-gesa, sehingga air wudlu tidak merata pada kaki-kaki mereka, beliau segera berteriak : “Awas ! Neraka ! bagi yang tidak menyempurnakan wudlunya!”

Perintah mempelajari bahasa asing

Untuk memperluas cakrawala pengetahuan, dan mempermudah jalinan komunikasi dengan bangsa lain, Nabi juga memerintahkan sebagian sahabatnya untuk mempelajari bahasa asing, terutama sahabat-sahabat yang beliau siapkan untuk jadi diplomat. Sebagaimana perintah beliau pada Zaid bin Tsabit untuk mendalami bahasa ibrani (bahasa Israel) dan suryani (bahasa asli para Nabi), dia juga diperintahkan untuk mempelajari aksara bahasa itu sendiri (H.R.Tirmidzy).

Jadi mempelajari dan menggunakan bahasa asing untuk kepentingan pendidikan, dakwah, dan tabligh, ketika kita membutuhkan penggunaan bahasa itu, adalah salah satu petunjuk dan ajaran dari pada Nabi kita Muhammad S.a.w.

Dan kita tahu, bahwa pendalaman bahasa-bahasa asing saat ini, termasuk kebutuhan yang sangat primer, sebagai kunci utama daripada ilmu pengetahuan, juga untuk persaingan dengan bangsa lain dalam hal kemajuan di segala bidang kehidupan. Sekaligus jadi kunci utama dalam proses saling mengenal antar bangsa, dan menjaga keselamatan serta hak asasi kita saat kita bertemu, bercampur, berinteraksi dan bergaul dengan bangsa lain 4. Setidaknya kita tidak bisa dibohongi saat kita paham bahasa bangsa selain bahasa bangsa kita.

Pengarsipan dan penyimpanan data

Sebagaimana kita ketahui di awal buku, bahwa Nabi S.a.w dalam mengajar, lebih memilih metode yang memiliki efek daya tancap kuat dalam ingatan, sebab saat itu alat tulis menulis masih sangat minim, jika tidak boleh dikatakan tidak ada. Pun orang arab yang sanggup membaca dan menulis hanya sedikit sekali, terbatas di kalangan bangsawan dan terpelajar, itupun tidak semua.

Namun Nabi S.a.w tetap memperhatikan hal ini, bahkan beliau menggalakkan proses belajar membaca dan latihan menulis, serta gencar memberantas buta huruf, sebagaimana saat perang badar, yang mana tawanan perang yang tidak sanggup menebus dirinya dengan harta, diwajibkan mengajari anak-anak sahabat untuk belajar baca tulis sebagai tebusan pembebasan dirinya.

Hal ini sangat beliau perhatikan, terutama untuk penulisan dan penyimpanan data wahyu-wahyu yang diturunkan pada beliau. Media apapun digunakan untuk menulis, mulai dari kulit binatang, lempengan-lempengan batu, sampai tulang belikat binatang, apalagi saat itu belum diketemukan kertas, terlebih mesin cetak.

Beliau sendiri memiliki lebih dari 15 sekretaris pribadi yang bertugas khusus menulis ayat-ayat al-qur’an yang diturunkan pada beliau, di samping mereka sendiri menyimpan ayat-ayat itu dalam memori mereka. Juga memiliki sekretaris yang bertugas menulis surat-surat beliau untuk para pemimpin negara-negara besar, dan raja-raja negara tetangga.

Di antara sekretaris beliau : Khalifah empat; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Aly, juga Zaid bin Tsabit, Ubay bin Kaab, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Aban bin Sa’id, Handholah bin Robi’, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan lain sebagainya, RodhiyAllah Anhum Ajma’in.

Beliau juga memberi ijin pada sebagian sahabatnya yang berminat mencatat hadits-hadits beliau (selain Al-Qur’an), bahkan setelah itu memerintahkan pencatatan itu, seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.

Sebab beliau tahu pasti, bahwa tulis menulis adalah salah satu duta terbesar dalam pendidikan dan dakwah. Oleh karena itu, beliau juga menggunakan cara ini saat mengajak para pemimpin dunia masuk Islam, dengan cara mengirim surat pada mereka. Bahkan 5 di antara 8 surat beliau, masih tersimpan rapi di museum-museum yang terdapat di Eropa.

Nabi S.a.w dan pendidikan kaum wanita

Mungkin terlintas pada pikiran sebagian dari kita, bahwa Nabi S.a.w memarginalkan pendidikan kaum wanita, sebab seolah-olah di kebanyakan situasi dalam hadits-hadits yang diriwayatkan, beliau hanya bersama sahabat-sahabatnya saja, yang kaum lelaki, tetapi tidak pernah dengan sahabiyat.

Tentu suatu anggapan dan prasangka yang sangat keliru dan tidak berdasar, apalagi Nabi Muhammad S.a.w diutus kepada manusia secara universal, mencakup semua jenis dan golongan.

Beliau bahkan punya waktu dan majlis khusus untuk mendidik kaum wanita, terutama seputar masalah kewanitaan (niswiyah). Sekaligus menuruti permohonan mereka yang meminta waktu khusus untuk belajar dengan beliau (H.R.Bukhori Muslim).

Dan salah satu rahasia beliau menikahi Sayyidah A’isyah di usia yang sangat belia (sementara semua istri beliau yang lain beliau nikahi dalam keadaan janda), adalah dalam rangka pendidikan itu. Banyak hal masalah pribadi seputar wanita yang beliau lewatkan ibunda Aisyah ini, pun setelah beliau meninggal, S.Aisyah terhitung di antara salah seorang yang banyak sekali menyampaikan hadits-hadits beliau pada ummat ini.

AKHIR KATA

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa ala alihi wa sallam, adalah memang benar-benar seorang pengajar yang telah dipilih oleh Allah Ta’ala untuk mengajarkan pada manusia dan kemanusiaan terhadap agama Allah, dan syari’atnya yang pamungkas dan abadi. Dan tidak ada di dunia ini yang paling berharga bagi Allah Ta’ala selain Agamanya, Islam. Maka Allah pun memilih Nabi dan Rosul terbaik di antara sekian banyak utusannya, Nabi Muhammad, untuk menyebarkan dan mengajarkan agama-Nya itu.

Dan pengajar yang terpilih untuk menyampaikan syariat-Nya pada manusia ini, adalah seorang pengajar yang mengajar dengan tampilan fisik dan psikisnya, tindakan dan kata-katanya, dan semua kondisi beliau. Maka kesempurnaan kepribadiaannya sendiri, adalah salah satu metode beliau dalam mengajar murid-muridnya, agar mereka meniru sepertinya, dan mengikuti petunjuknya.

Dan salah satu atribut, sifat dan ciri penting yang harus dimiliki pengajar adalah, hendaknya berusaha memiliki integritas kebaikan dan citra diri yang sempurna, baik itu secara kekuatan berfikirnya, keunggulannya, ilmunya, kebijaksanaannya, penampilannya, kemodisannya, keluwesan dan kehalusan perangainya, ketangkasannya, gerakannya, ketenangan dirinya, keindahan dalam percakapan dan susunan kata-katanya, kecerdasannya, kebersihan busananya, juga kecakapan dalam administrasi dan cara-caranya dalam bertindak dan bersikap. Dengan kata lain jeli dalam memanfaatkan momen.

Dan semua ini, ada dalam pribadi Rosul kita, Nabi Muhammad S.a.w, sang pengajar, dalam keadaan yang sangat bagus dan dalam puncak kesempurnaan. Beliau adalah pengajar yang sanggup juga mengajar dengan kepribadian mulia beliau yang jadi percontohan bagi semua pengajar, mentor dan pendidik. Dalam diri beliau tergambarkan klimaks dan tujuan pendidikan dengan metode-metode yang berbeda-beda. Sebab semua perantara dan metode itu, mengarahkan sekaligus diarahkan agar setiap muslim bisa membuktikan wahyu Allah ta’ala yang artinya :

kalian adalah umat terbaik yang dimunculkan untuk manusia…” (Q.S. Ali Imron : 110).

Maka kesempurnaan yang mencakup dalam diri Nabi S.a.w ini, adalah puncak dan klimaks daripada semua metode yang kita sebutkan itu, dan inti daripada pendidikan dan mentoring. Dan beliau S.a.w dengan kepribadian yang sempurna itu, telah mendapat penghargaan tertinggi dan pengakuan teragung, dengan sangat pasti dan meyakinkan, dari Allah Ta’ala dalam firmannya yang artinya :

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q.S. Al-Qolam :4)

Maka bukanlah suatu keanehan jika kebajikan pribadi beliau adalah termasuk salah satu metode pendidikan itu sendiri.

Dan sekarang, adakah seorang pengajar di muka bumi ini, yang mampu memberikan pengaruh besar dalam kemanusiaan, yang ajaran dan didikannya diterima semua manusia (dengan perbedaan warna dan bahasanya), yang mereka semua mengambilnya, menjadikannya contoh dan panutan dalam semua segmen kehidupan, selain Rosululloh S.A.W?

— 000 —

Itulah, sedikit kalimat kecil yang ingin penulis sampaikan, menjadi sebuah penutup atas buku kecil ini, 35 metode Rosululloh S.a.w dalam mengajar dan mendidik, metode yang ditempuh dan ditunjukkan oleh beliau pada kita semua. Dan metode yang terdapat dalam buku tipis ini, hanyalah dalam rangka contoh, dan penjelasan saja, dengan kata lain, yang hanya bisa kami sebutkan saja, bukan dalam rangka menghitung jumlah metode beliau apalagi membatasinya, sebab metode beliau S.a.w tidak hanya 35 itu saja, tapi jauh lebih banyak dan beragam lagi.

Dan sudah pasti bagi pelajar atau siapapun yang meneliti lebih dalam lagi kitab-kitab hadits dan tarikh Rosul S.a.w, akan menemukan metode yang lain lagi, selain yang telah tersebutkan dalam buku ini.

Akhirnya, semoga Allah Ta’ala Menjadikan buku ini bermanfaat bagi semua umat Islam, terutama mereka-mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan. Dan Memberi taufik pada penulis, serta bisa ikhlas karena-Nya saja, sekaligus mendapat Syafaat dari Nabi-Nya S.a.w di hari kebangkitan nanti. Juga selalu mendapat kehormatan untuk selalu bisa mengikuti jejak langkah Rosul dan sahabat-sahabatnya, Amiin walhamdulillahi Robbil Alamin.

Makkah Al-Mukarromah

Malam Kamis, 13 Nopember 2008 M

15 Dzul Qo’dah 1429 H

Dalam siraman cahaya bulan purnama.

Daftar pustaka :

  1. Al-Qur’an dan terjemahnya.

  2. Abu Ghuddah, Abdul Fattah, 2003, Arrosul Al-Mu’allim wa asaalibuhu fit ta’lim, cet. 3. Beirut: Darul Basyair

  3. Al-Maliky, Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy, 1984, Ushulut Tarbiyah Annabawiyah, Kairo: Majma’ul buhuts Al-Islamiyah

  4. Al-Sya’roni, Abdul Wahhab bin Ahmad, 1998, Lawaqih al-anwar al-qudsiyyah fi bayaan al-uhuud al-muhammadiyyah, cet. 1. Beirut: Darul kutub Al-ilmiyah

  5. Bisri, K.H. Adib, 1999, Kamus Al-Bisri, Cet. 1. Surabaya: Pustaka Progressif

  6. Burhani M.S & Hasbi Lawrens, 2000, kamus ilmiyah populer, Jombang: Lintas Media

  7. El-Sherify, Dr. Shawki, 2000, mu’jam mustholahaat al-ulum at-tarbawiyah (dictionary of educational sciences terms), Cet. 1. Riyadh: Obeikan Bookshop.

  8. Hirata, Andrea, 2008, Laskar Pelangi, Cet. 17. Yogyakarta: Bentang Pustaka

  9. Indrawan WS, kamus lengkap bahasa indonesia, Jombang: Lintas Media

  10. Jan, Dr. Muhammad Sholeh bin Aly, 1998, Al-Mursyid An-Nafis ila Aslimati thuruq At-tadris, Cet. 1. Tha’if: Darut Thorofain

  11. Jami’ah Adduwal Al-Arobiyah, 1977, Mustholahaat Al-Falsafah fit ta’lim Al-Aam, Casablanca: Darul Kitab

  12. KMNU Mesir, 2003, kamus populer Arab-Indonesia, Cet. 1. Jakarta: Diva Pustaka

  13. Munawwir, K.H.Ahmad Warson, 1997, kamus Al-Munawwir, Surabaya: Pustaka Progressif

  14. Nasser, Dr.Ibraheem, 1999, Ususut Tarbiyah, Cet. 4. Amman : Dar Ammar.

  15. Syarifuddin, Ahmad, 2007, Misteri tangan kanan, Cet. 1. Surabaya: Bina Ilmu

1 Daun bidara untuk masa kini adalah semisal sabun, atau alat pembersih yang lain

2 kemaluanmu

3 Jangan sampai berlebihan, apalagi jika memberi hukuman fisik, harus sesuai dengan kesalahan, dan tidak sampai melukai. Tentu sebuah kesalahan yang sangat fatal apalgi hukuman itu memberi dampak negative terhadap perkembangan psikologis murid, apalagi sampai membuat cacat. Sebab ada dalam beberapa kasus, guru menghukum muridnya sampai meninggal, hanya gara-gara kesalahan kecil. Sangat tidak proporsional dan tidak manusiawi sama sekali.

4 Jika kita mau cermat, sebenarnya bahasa apapun di dunia ini, di manapun, mulai dari bahasa Navajo yang dipakai sebagai sandi tak terpecahkan di perang dunia kedua, bahasa gaelic yang amat langka, bahasa melayu pesisir yang berayun-ayun, sampai bahasa Mohican yang telah punah, semuanya adalah kumpulan kalimat, dan kalimat tak lain adalah kumpulan kata-kata. Kata apapun, pada dasarnya adalah kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan. Yang dituntut dari kita dalam mempelajari bahasa asing (terutama bahasa arab, inggris, mandarin, prancis, jerman dan jepang) adalah bagaimana menggunakan kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan dalam sebuah kalimat. Belajar kata (mufrodat, vocabulary, lexique, atau apapun namanya) terlebih dahulu, bukan belajar bahasa (gramatika, Nahwu, La grammaire). Sebab memikirkan struktur dan dimensi waktu dalam sebuah bahasa asing yang baru saja kita kenal, tidak lebih hanya akan merepotkan diri sendiri. Lebih mudahnya, kita mempelajari bahasa asing, dengan bantuan analogi bahasa Indonesia, atau bahasa ibu kita. Jadi, bahasa, baik local maupun asing, adalah permainan kata-kata, tidak lebih dari itu. Mungkin bisa jadi pendekatan belajar bahasa asing dengan cara ini adalah keliru, tapi cara ini terbukti sangat efektif (lihat Laskar Pelangi, hal 116-117)

Biodata Penulis

  • Terlahir di Madinah Al-Munawwaroh, Kingdom of Saudi Arabia, pada 16 Agustus 1983

  • Sulung dari 7 bersaudara, putera pasangan Bapak Aly Imron dan Ibu Titin Sufaero`

  • Menempuh studinya di :

  • MI Al-Islamiyah, Maduran-Lamongan (1990-1995)

  • MDA Manba’ud Dalalah, Maduran-Lamongan (1990-1995)

  • SMP Wachid Hasjim, Maduran-Lamongan (1995-1998)

  • Marine English Course, Paciran-Lamongan (1998-2000)

  • Pilot Project I.S.Y.S English Course SMU Wachid Hasjim, Maduran-Lamongan (2000-2001)

  • PP. Nurul Anwar Parengan-Lamongan (1998-2002) dan menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di pesantren ini pada tahun 2001

  • PP. Darut Tauhid, Kedungsari-Purworejo-Jawa Tengah (2002-2003)

  • Ma’had pengembangan dan dakwah Nurul Haromain, Pujon-Malang (2003-2004)

  • Ribath Masyru’ Al-Malikiyah lid Dirosah Al-Ulya fi ulumis Syari’ah wat tarbiyah (2004-…) Mekkah, Saudi Arabia. di bawah asuhan Dr.Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Maliky

        • Aktif sejak belia di kepramukaan dan berbagai macam organisasi serta menjadi redaksi di beberapa media.

        • Telah menulis lebih dari 24 buku (14 di antaranya berbahasa arab, dan 4 karya sastra/nonfiksi), serta lebih dari 100 artikel lepas.

        • Jika ingin kontak, kritik dan saran, hubungi :

  • Email : alwyshyfa_786@yahoo.co.id

Di antara karya dan tulisan yang sudah dicetak :

  • Quthuf Daaniyah, Buhuts ilmiyah fi maa yushibu al-mar’ah al-muslimah (tentang emansipasi wanita; 2002)

  • Dliya’ minal qur’an, khosho-ishuhu wa kaifiyyatu tahfidzihi (tentang keistimewaan Al-qur’an dan tata cara menghafalkannya; 2003)

  • Assaiful Maslul fi ghozawaatir Rosul (tentang Ekspedisi-ekspedisi dan ekspansi Nabi Muhammad; 2003)

  • Fadhl Robbil Bariyah (eksplanasi atas Mandhumah Assyabrowiyah lil Allamah Abdillah Assyabrowi, dalam ilmu gramatika bahasa arab; 2004)

  • Takhrij li Ahadits Syifa’ Assaqim lil allamah Muhammad Al-Haddar (2005)

  • Ushul Takhrij Al-Hadits lil Mubtadi-in (ilmu takhrij Hadits untuk pemula; 2006)

  • Tahqiq (edit) ala Ushul Marfu’ah al-Aliyah, Syarh Baiquniyah lil Ustadz Aly Imron (dalam ilmu mustholah hadits; 2007)

  • Nukhbah Al-Azhar wa Nuzhah Al-Akhyar (the Park of pious) (tentang Biografi Nabi Muhammad;2007)

(Semua berbahasa arab dan diterbitkan oleh “Hai-ah Ta’lif wan Nasyr”, PP.Nurul Anwar Parengan-Lamongan)

  • Kumpulan esai-esai ringan, “Dari Nurul Anwar sampai Darut Tauhid” (2002)

  • Kumpulan cerpen, kolaborasi dengan redaksi Addliya’, “Bila kuncupnya jadi bunga” (2002) dengan judul cerpen (Gadis Wirid, Serenada di bangku tua, Serpihan Bunga mawar, Senandung abadi kisi hati)

  • “Menjadi Santri yang Sesungguhnya” (2003)

  • “Katakan dengan bangga: Aku Adalah Santri” (2003)

  • “Yang Muda yang Bermain Cinta” (2004) kolaborasi dengan adik, Ahmad Aly Imron

  • Kumpulan cerpen, kolaborasi dengan redaksi Addliya, “Debu-debu Intan” (2004) dengan judul cerpen (Sebuah catatan di senja hari)

  • Novel “Merengkuh kabut” (2004)

  • “Bengkel Jiwa” (2005)

  • Kumpulan cerpen,”Denting Nada Cinta” (2007)

(Semua diterbitkan lokal oleh DCP [Dliya Creative Production] Lamongan)

Dan masih manuskrip dan masih dalam proses penulisan :

  • Al-Mir’ah Al-Majidah (kumpulan esai ringan berbahasa arab)

  • Isyah Roodliyah (tentang ilmu etika)

  • Arba’in Imroniyah (40 Hadits tentang penyakit hati)

  • Annafahat Ar-Rohmaniyah, komentar atas Matn Al-Ajurumiyah lil Allamah Assinhaji (ilmu gramatika bahasa arab)

  • Taudlih at-Tasrib, eksplanasi atas Nihayah At-Tadrib lil Allamah Al-Amrithy (dalam Fiqih Madzhab Syafi’i, masih dalam proses penulisan)

  • Jangan jadi Orang yang Nyebelin


1 Response so far »

  1. 1

    husein99 said,

    Melihat tulisannya mengenai metode-metode Rasulullah sangat menarik, kita dapat melihat strategi-strategi beliau dalam menyebarkan dan mengayomi ummat ini dengan cara bijaksana dan lemah lembut.Beliau selalu memberikan pelajaran-pelajaran kepada para sahabatnya sesuai dengan kemampuan dan latar belakang masing-masing mereka.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: