HAMA’A By : Syaibatul Hamdi

Serangan balik itu terjadi dengan cepat dan tiba-tiba, bola yang tadi dikuasai timku berhasil terebut, palang pertahanan tim kami yang terlanjur overlap tidak mampu mengejar kecepatan striker tim sekolah. Yusro, libero tangguh andalan timku pun jatuh bangun tercepuk-cepuk mengejar di belakang para pemain tim sekolah yang mampu melewatinya dan kemudian secara sporadis mengurung wilayah gawang timku, aku hanya ternganga dari tengah lapangan. Hanya laki-laki gempal itu harapan kami satu-satunya. Skrimit.

Sembari bergerak ke kanan dan dan ke kiri di area gawang, laki-laki itu menggeram, menggertak, mencoba menggetarkan nyali striker tim sekolah yang telah masuk area kotak penalti. Teman-temanku dari tim masjid telah menutup mata, tidak sanggup melihat yang terjadi, dan sorak-sorai pendukung tim sekolah membahana menulikan telingaku. Dan tiba-tiba, dengan gerakan yang tidak terkira sama sekali, laki-laki gempal yang hanya bisa mengucapkan empat huruf itu, melakukan manuver mengejutkan, striker yang sudah bagaikan buaya lapar itu, terkejut tidak alang kepalang, sebelum dia sempat menendang ke sisi gawang yang kosong, laki-laki penjaga gawang tim kami, mendahului menjatuhkan diri dan dengan cepat mencuri bola dari kaki striker itu, dengan kakinya, sebelum bergegas dia berdiri dan segera keras-keras menendang bola itu ke tengah lapangan, sekali lagi dia jadi pahlawan kami.

Dengan cepat Boweng menyongsong bola itu, peluang hanya tinggal sekali, injury time, posisi sekarang berbalik seratus delapan puluh derajat, para suporter tim sekolah mendadak tercekat, ganti kami menyerang balik, aku berteriak mengarahkankan kawan setimku untuk melebar, bola umpan lambung Boweng sepenuhnya ku kuasai, di sana hanya ada dua bek sayap bertubuh kecil menghadang kami, dan dengan sedikit tipuan, ku kecoh salah satu dari mereka, dan kulepas bola ke Botak yang mampu memancing dua bocah itu, sekaligus kipernya, keluar dari wilayah pertahanan tim sekolah.

satu gerakan manis saja, dengan banana kick, dia melepas bola melewati kepala-kepala tiga bocah itu, dan Gol… dramatis, tidak ada teriakan dari tepi lapangan, hanya kami yang berteriak-teriak tidak keruan, berangkulan, berguling, melakukan selebrasi dengan salto dan jungkir balik di udara. Ya, kami hanya bersebelas. Tanpa pendukung, sebelas bocah kumal, tanpa sepatu, tanpa kostum, mengalahkan tim sekolah yang tampil top form, peak performance yang nyaris sempurna, dan dengan segala kepongahannya. Pendukung kami hanya beberapa teman yang jadi cadangan kami, dan satu orang tua renta, yang meminta kami untuk memanggil dirinya “Jacky”.

Dan laki-laki itu, laki-laki tuna wicara itu, sahabat terbaikku, dengan gigi-gigi kuning jarang disikat, berlari kencang ke arah kami, bajunya melambai-lambai tanpa kancing. Tim kami menang, di detik terakhir, mataku sembap, hinaan dan olokan yang selalu melekat pada kami itu setidaknya hilang sementara, aku bahagia, kupeluk erat-erat bocah kumal yang tidak pernah merasakan bangku sekolah, namun selalu jadi pahlawan bagiku.

“A, u, a, u, hama’u, ma…”, hanya kata-kata itu yang meluncur dari bibirnya, ekspresi kegembiraan dirinya, atas gol yang terjadi sebab assist panjang darinya, usai melakukan penyelematan yang gemilang tadi. Hama’a, itu panggilan yang kami sematkan padanya, bahkan kami tak tahu siapa nama aslinya, yang kami tahu, dia tiap pagi, maghrib, dan malam, tidur bersama kami beramai-ramai di masjid, ikut nimbrung mengaji turutan juz Amma dengan sarung, baju, dan kopyah kumal, yang semuanya baunya minta ampun. Karena hanya kami, satu-satunya komunitas, yang bisa menerima kehadirannya, tak ada SLB di kampung kami, dan sekolah-sekolah itu, tak ada satupun yang menerimanya, sekolah-sekolah itu hanya menimbulkan sakit hati bagi emaknya yang pontang-panting ke sana kemari mendaftarkan anaknya yang bisu itu, namun usahanya selalu sia-sia, ditolak mentah-mentah. Sekolah hanya untuk anak yang sehat jasmani dan bisa bicara saja. Padahal emaknya hanya ingin satu saja, anaknya bisa baca tulis, tidak meminta sekolah mengajarinya bicara.

Dan kelak, sering bila kami menggodanya atau mengajaknya berbuat nakal, mencuri mangga tetangga, menyembunyikan terompah wak haji, mengedipi gadis-gadis, laki-laki bisu itu dengan wajah merah ketakutan, mengacung-acungkan telunjuknya ke arah langit, Allah, apa kalian tidak takut Allah? yang kalian lakukan itu dosa! Kira-kira kata-kata itulah yang dia maksudkan, walau yang meluncur dari bibirnya hanya “A,u,a,ma,hama’u,ma…”.

Masjid ternyata sukses mendidiknya, menjadikannya merasa jadi manusia, dan dia tahu bahwa Tuhan yang menciptakannya ada, di masjid pula dia merasa tidak termarginalkan sebagai manusia.

Beramai-ramai kami bopong Hama’a, kemenangan yang gilang gemilang, dan dengan sengaja kami bawa dia berlari cepat ke arah kubangan air tempat mandi kerbau yang ada di pinggir lapangan, dia reflek sadar dengan apa yang akan terjadi, segera dia meronta-ronta ingin kami lepaskan, tapi semua terlambat, sepuluh pasang tangan kawan-kawannya terlalu kuat untuk di lawan. Dan dalam hitungan detik, tubuh laki-laki bisu itu melenting, sebelum menimbulkan suara kecipak air yang sangat keras, kami tertawa, dan dia mengumpat-umpat, basah kuyup, dekil penuh lumpur, hanya dengan kalimat yang sama, “A,u,a,ma,hamaaa’a, uuuu…”.

Sore yang indah, sayup dari jauh kudengar dari masjid desaku, tempat kami berbagi suka, duka, tempat kami menangis, tertawa bersama, suara bacaan al-qur’an, dari kaset yang selalu diputar setengah jam menjelang maghrib. Moral kami terangkat, kami bisa berjalan gagah di depan anak-anak sekolah itu, yang selalu menganggap kami terbelakang. Kemenangan itu, bukti bahwa kami ada. Kami punya eksistensi dan supremasi.

— 000 —

Dan setelah itu, sering sekali tim masjid diajak friendly game dengan tim dari berbagai kampung, nama kami digdaya, apalagi kami tidak pernah terkalahkan, walau kami hanya punya sepetak lapangan kecil penuh kerikil di depan masjid, tempat kami mengasah kemampuan kami setelah mengaji alqur’an kepada Wak Haji, sekaligus hiburan sesaat setelah kami dibentak-bentak wak haji karena bacaan kami yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.

Atau bila kami jenuh main bola dengan bola plastik yang jebol di sana-sini, maka kami nimbrung beramai-ramai membaca koran bekas yang kami beli hasil patungan, 500 rupiah sekilo, dan kami selalu memilih koran sepakbola, segmen olahraga, segmen yang selalu kami anggap jujur karena selalu menurunkan berita yang sebenarnya, tidak seperti rubrik-rubrik politik, ekonomi, atau gosip-gosip artis yang kami mengira dan sangat berburuk sangka pasti banyak bohongnya.

ASGS lah yang menginspirasi kami, tim dari pinggiran kota Surabaya itu selalu memotivasi kami, dan kami membayangkan tubuh-tubuh kumal kami adalah M.Kuswo, Avip Subarkah, Toyo Haryono, Jaya Hartono, Gunung Ginting, Sutamto, Ali Sunan, Yuli Budiarso. Aku sendiri terpukau dengan sang kapten tim, Putut Wijanarko.

Assyabaab Salim Grup Surabaya, nama yang keren dan gagah, yang kami tuliskan besar-besar di punggung kaos-kaos kucel yang kami kenakan tiap bertanding. Hama’a sendiri selalu menganggap dirinya Syukron Chaniago, kiper legendaris ASGS. Dan jika ASGS bertanding, maka kami bersama-sama meliburkan diri dari berlatih, kami berebutan mendekatkan telinga-telinga kami ke radio, mendengarkan siaran langsung jauh dari Surabaya sana. Jantung kami berdegup kencang jika penyiar dengan bersemangat berteriak-teriak bahwa pemain ASGS mendekati gawang lawan, dan kami bangun berlompatan jika ASGS sukses mencetak gol. Kami sama sekali belum mengenal apa itu Juventus, AC Milan, Real Madrid, Manchester United, Ajax Amsterdam. Kami hanya mengenal dan fanatik pada tim-tim lokal, rasa nasionalis dan patriotisme yang kurasakan menghilang secara pelan dari lubuk bangsa ini.

Apalagi jika pertandingan disiarkan langsung TVRI, kebahagiaan kami tak terperikan. Begitupun jika ASGS menderita kekalahan, sontak masjid sepi dari teriakan dan gurauan kami, kami turut bersedih. Perasaan-perasaan itulah yang menyatukan kami, anak-anak kampung miskin dengan pendidikan terbelakang, mungkin hanya aku satu-satunya yang merasakan bangku pendidikan yang layak dan lumayan tinggi, namun entah bagaimana ceritanya aku bisa bergabung dengan mereka, dan diterima oleh mereka, serta merasa sepenuhnya menjadi bagian dari mereka.

— 000 —

8 tahun kemudian

Sekitar 10 menit sudah aku berdiri di tepi jalan raya ini, menunggu mobil angkutan umum, hari begitu terik, matahari bersinar garang, kuusap peluh yang menetes di dahiku dan yang sedari tadi telah membuat basah kuyup bajuku.

Dan akhirnya mobil plat kuning yang aku tunggu-tunggu itu tiba, di tepi pintu tengah mobil kutangkap sesosok tubuh yang begitu ku kenal, dengan empat hurufnya dia berteriak-teriak mencari penumpang, dan saat mobil mendekat, pemilik tubuh itu menyunggingkan senyum termanisnya untukku. Ya, hama’a, pria bisu itu, yang sehari-harinya mengais nafkah dengan menjadi kenek angkot.

Segera aku melompat naik, dan dengan celoteh riang, dengan bahasa yang tidak dipahami siapapun, kami berdua ngobrol, bercanda. Hama’a dengan empat hurufnya dan gerak tangan isyarat berbinar-binar menceritakan pengalaman-pengalamannya padaku. Seisi mobil terbengong-bengong melihatku yang mampu memahami bahasa isyarat pria tuna wicara itu. Bahkan, di antara seluruh kawanku yang tiap hari berkumpul dengan pria bisa dan rungu itu, mungkin akulah yang paling sanggup memahami apa yang dia maksud.

Pernah dia memintaku menulis surat cinta saat pertama kali dia merasakan indahnya jatuh cinta pada seorang gadis. Mati-matian dia berjuang merebut hati gadis itu dengan segala kekurangannya. Walau akhirnya dia harus mengalami kenyataan yang sangat pahit, cinta sucinya tertolak. Bagaimanapun, hama’a tetap punya cinta.

Hari makin beranjak siang, dan mobil yang aku tumpangi telah mendekati terminal akhir, hari ini memang aku berencana balik ke pondok. Sesampai tempat pemberhentian, ku rogoh sakuku, ku sodorkan selembar lima ribuan pada pria bisu itu, sahabat terbaikku. Diterimanya lembaran itu, dan dimasukkan di saku bajunya, bersama dengan gulungan uang kumal dari penumpang lain. Namun yang membuatku terkejut, pria itu merogoh saku celananya dan memberiku lembaran dengan angka yang sama, aku ternganga, kutolak halus apa yang dilakukan hama’a padaku. Tetapi tiba-tiba tangannya menggenggem erat tanganku, dengan wajah menggelang pelan, bisa kubaca dia sangat berharap aku menerima uang itu. Akupun menggeleng, namun hama’a bersikeras mengembalikan uangku. Kutangkap mata bersih itu berkaca-kaca, sebelum dia memelukku erat, kudengar ada isak dari lelaki yang kulihat selama ini sangat tegar dengan deraan dan cobaan hidup yang menimpanya. Aku tepuk-tepuk pundak laki-laki itu, namun aku berusaha keras agar tidak meneteskan air mata di hadapannya, seulas senyum kuberikan pada hama’a, untuk mengkuatkan hatinya. Dan saat aku berjalan meninggalkannnya, membelakanginya, saat itulah baru kutumpah ruahkan air yang sejak tadi mulai menggenang di pelupuk mataku, mengharu birukan hatiku.

Hama’a adalah pelajaran terbesar hidupku, dalam mengerti arti anugerah yang sempurna dari Pencipta alam semesta ini…. (bersambung)

Salah satu sekuel dari Novel kehidupan

“Meretas Asa”

Karya fiksi kesekian Syaibatul Hamdi

Tunggu tanggal terbitnya yah, hehehe

1 Response so far »

  1. 1

    nigiina said,

    Ketidakmerataan pendidikan di negara kita sudah bukan rahasia lagi. jangankan pendidikan luar biasa, pendidikan formal saja timpang sekali antara satu daerah dengan daerah lainnya.

    Kadang, sentuhan qalbu datang dari orang-orang yang tak “masuk hitungan”

    sekian lama kurintis dalam jutaan detik,
    sekian lama kusiram dalam lajunya pupuk,
    akankah sempat terpetik
    sebelum semuanya menjadi lapuk.

    Merentas jiwa merentas asa
    tertoreh dalam bahasa
    meski kata itu hanya hama’a


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: