SEROJA DI AIN JALUT By : Alwy Aly Emran (Makkah)

Cairo, Shofar 656 H/Februari 1258 M

Ketegangan meliputi semua wilayah Islam, hari ini Khilafah Dinasti Abbasiyah menutup lembaran sejarah panjangnya setelah 5 abad berkuasa, serangan Hulagu Khan meluluhlantakkan Baghdad, ibu kota khilafah, dan meratakannya dengan tanah. Sungai tigris berubah warna menjadi hitam oleh tinta dari jutaan kitab yang dibuang tentara suku Tartar di sungai itu. Amirul mu’minin, Khalifah Al-Musta’shim Billah telah Syahid bersama 1.000.000 rakyat Baghdad. Aku hanya tertunduk lemas di samping Syeikh Izzuddin bin Abdissalam yang tampak pias, wajah tua beliau terlihat sangat masygul, baru kali ini Islam tidak punya Khalifah. Mampu kubaca keresahan dan kegalauan hebat dalam diri beliau.

Sementara keadaan politik Mesir pun masih belum stabil, pasca konspirasi pembunuhan sultan Al-Mu’izz Izzuddin Aybak dan penculikan Ratu Syajaruddur al-musta’shimiyyah masih menyisakan ketegangan. Sultan Nuruddin Ali, putra Al-Mu’izz masih terlalu kecil untuk memegang tampuk kesultanan Diyar Mashriyah, usianya masih sangat hijau, 15 tahun, tetapi bagaimana lagi, Sultan yang aku didik seni yudha itu mau tidak mau harus meneruskan kepemimpinan ayahnya.

—000—

Cairo, Syawwal 657/september 1259 M

Telah setahun lebih umat Islam tanpa khalifah, Keadaan makin parah, kian hari kian bertambah tegang, tentara tartar pimpinan Hulagu terus merangsek melebarkan imperiumnya. Satu persatu kota-kota besar berjatuhan, mulai Bashrah, Mayafarriqein, sampai Aleppo. Tak satupun wilayah yang jatuh kecuali terjadi pembantaian massal, ratusan ribu muslimin tak berdosa menemui ajalnya di tangan tentara Hulagu yang kejam dan bringas. Mendengar hal itu, semua jenderal Mameluk segera berkumpul, pasti tak lama lagi serangan Hulagu akan sampai Mesir dan meluluh lantakkan dunia Islam secara sempurna. Mesir adalah Satu-satunya wilayah yang belum mampu di masuki tentara Imperium Mongolia itu. Ancaman mereka kini telah mengarah ke Cairo, tak bisa kubayangkan, apa yang terjadi seandainya mereka masuk Mesir, akankah sungai Nil akan bernasib sama dengan sungai tigris di Irak sana.

“Apa yang harus kita lakukan? Sultan Nuruddin tidak tahu apa-apa, dia masih terlalu muda, mengatur negara pun tidak bisa, apalagi menghadapi tentara Hulagu Khan, sementara mereka telah sangat dekat, tak sampai setahun pasti pasukan besar itu akan masuk Mesir dan menghancurkan segalanya”, jenderal Farisuddin Aqthoy Al-Musta’rib membuka pembicaraan pada sidang yang dilakukan mendadak itu.

“Akankah, kita melakukan pergantian…” agak ragu jenderal Ruknuddin Beybars Al-Bandaqdary melanjutkan ucapannya.

“jangan gegabah, kita juga harus tahu bagaimana pendapat para ulama’ dan rakyat Mesir”, jenderal Saifuddin Qutuz Al-Mu’izzy mencoba memberikan jalan tengah, “tidak semudah itu kita menurunkan sultan Nuruddin, tentara Al-Mu’izziyah pasti akan membelanya mati-matian, dan kita akan terjebak pada perpecahan yang makin parah”. Sementara di sudut lain, jenderal Saifuddin Qolawun Assholihy mengangguk-anggukkan kepalanya membenarkan kata-kata Qutuz, Beybars hanya mendesah nafas panjang.

“Bagaimana jika aku menemui Sulthonul Ulama’, Syeikh Izzuddin bin Abdissalam, akan aku coba minta fatwa pada beliau apa yang harus kita lakukan, kata-kata beliau pasti didengar dan ditaati oleh seluruh rakyat mesir”, kutawarkan ideku pada mereka, dan mereka menyetujui apa yang aku usulkan.

Segera kupacu kudaku dari benteng Al-Manshuroh menuju masjid Jami’ Al-Azhar, hari itu kumulai usahaku dengan satu persatu menemui ulama-ulama dan pembesar Mesir, terutama Syeikh Izzuddin bin Abdissalam, akan kupertemukan mereka dengan para jenderal itu untuk membicarakan keadaan yang makin gawat ini.

Cairo, Jumat, 17 Dzul Qo’dah 657 H/ 11 Oktober 1259 M

Hari ini, para pejabat, pembesar, jenderal dan Ulama’ Mesir berkumpul, perdebatan sengit terjadi, hampir semua menuntut penggantian sultan Nuruddin, aku lihat wajah sultan itu memerah ingin menangis. Tadi pagi, bersama Ruknuddin Beybars, aku temui sultan muda itu, mau tidak mau harus aku katakan padanya keputusan para jenderal, sebelum dia mendengar pendapat para Ulama’.

“Sultan, tidak mungkin lagi paduka bertahan di singgasana kerajaan, Hulagu Khan makin dekat ke mesir, sementara hamba lihat paduka sampai sekarang belum mampu juga memulihkan keadaan politik negeri ini”, kupegang pundak raja muda itu dengan halus, dia hanya tertunduk sambil agak terisak.

“Kamu tega jenderal Asaduddin, kenapa kamu tidak membantuku?!” dengan menahan emosi sultan Nuruddin mencercaku. Aku hanya diam menunduk.

“Sultan, paduka jangan bersedih, tampuk kekuasaan ini akan kami kembalikan pada paduka jika tiba waktunya lagi, bukankah paduka juga tidak ingin negeri ini hancur oleh serbuan bangsa tartar bukan?” Ruknuddin Beybars mencoba memberikan pengertian pada Sultan Nuruddin. Sultan hanya terdiam tidak mampu berucap sepatah katapun

Dan sore itu, 17 Dzul Qo’dah, dengan resmi sultan Nuruddin diturunkan. Khutbah keras Syeikh Izzuddin yang menuntut bahwa Mesir harus punya pemimpin yang kuat untuk membendung Hulagu, dan mengatakan bahwa Nuruddin hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan tidak bisa mengatur negara, mewarnai penyerahan jabatan itu. Dan jenderal Saifuddin Qutuz Al-Mu’izzy pun naik menjadi Sultan menggantikan posisi Nuruddin, dengan gelar Al-Mudhoffar.

Beban yang dia pikul sangat berat, mengembalikan stabilitas dalam negeri dan menghambat laju tentara tartar, sekaligus menghancurkannya, kalau bisa mengusirnya sekalian dari bumi Syam. Tak kulihat senyum terukir di wajahnya, walau baru saja dia terima pedang komando yang diberikan oleh Syeikh Izzuddin, aku temui dia.

“jenderal Asaduddin Elkiya Hirosi dan kalian semua, kalian harus membantuku, aku tidak mungkin berjalan sendiri, amanat ini sangat berat, nyawa jutaan muslimin mulai dari gurun sinai sampai Mauritania ada di tangan kita”, ada setitik cairan bening menetes dari sudut mata jenderal yang ku kenal sangat tangguh itu. Dan hari itu juga, Sultan Mudhoffar Qutuz menunjuk jenderal Ruknuddin Beybars sebagai panglima perang, sementara perdana menteri diserahkan pada jenderal Saifuddin Qolawuun. Kita berempat bahu membahu mengembalikan stabilitas negeri ini yang carut marut.

Cairo, Robi’ul Awwal 658/Februari 1260 M

Kebahagiaan yang seharusnya menyambut Mesir dengan datangnya bulan Maulid Nabi, kali ini sama sekali tidak tampak. Ibu kota Diyar Syamiyah, Damascus, akhirnya jatuh juga di tangan Hulagu Khan, cucu Jengis Khan itu. 80 ribu penduduk Damascus dibantai, bahkan penguasa damascus, Sultan An-Nashir Yusuf Al-Ayyubi melarikan diri meminta pertolongan ke Cairo, ketakutan yang sangat tergambar jelas pada wajahnya. Sultan Mudhoffar Qutuz dengan pandangan kosong menatap ke arah cakrawala kaki langit dari jendela istananya. Artinya hanya satu, Hulagu Khan pasti akan menyerbu Mesir.

“Jenderal Asaduddin, panggil Jenderal Ruknuddin dan Saifuddin Qolawun”, ujarnya kemudian. Segera aku kumpulkan semua jenderal itu, untuk membahas keadaan darurat ini.

Dan benar, saat sore menyapa, sepucuk surat bernada sangat mengejek dan mengancam datang dari Hulagu Khan, di antar oleh 40 utusan tentara Mongol.

segera menyerahlah Qutuz, sebelum aku rubah Mesir menjadi lautan darah, pasukanmu terlalu kecil untuk menghadapi tentaraku. Serahkan Mesir untuk keselamatan rakyatmu“. Kudengar gemerutuk gigi Sultan Mudhoffar, diremasnya surat itu.

“Apa yang harus kita lakukan Sultan? Berdamai dengan mereka? Apa sebaiknya kita melakukan perundingan saja”, suara Jenderal Saifuddin Qolawun memecah keheningan. Dan dengan wajah merah padam menahan marah, sultan berteriak keras,

“Beybars! Bunuh 40 utusan raja tengik itu, sekarang!” dengan segera jenderal Ruknuddin mencabut pedangnya dan bergegas keluar meninggalkan istana, aku ikuti dia. Dan dengan sejumlah pasukan elit kesultanan, aku bantai ke-40 utusan Hulagu Khan. Kupisahkan kepala 40 tentara itu dari tubuhnya, dan dengan perintah Beybars, aku gantungkan kesemua kepala itu di pintu masuk kota Cairo.

Dengan ini, jawaban atas surat Hulagu Khan itu hanya satu; perang. Tidak ada yang lain.

Segera Sultan Mudhoffar Qutuz mengumumkan jihad untuk bertempur fi sabilillah di semua antero negara dan semua wilayah umat Islam, puluhan ribu umat Islam pun berbondong berdatangan menyambut panggilan jihad itu.

Akhir Sya’ban 658 H/Agustus 1260 M

Segera setelah Puluhan ribu tentara muslimin berkumpul, dari Mesir, Syam, Arab dan Turkmen. Sultan Mudhoffar mengeluarkan perintah untuk bergerak menghadapi Hulagu Khan di luar Mesir. Aku bersama Ruknuddin Beybars diperintahkan untuk berangkat terlebih dahulu dengan sepasukan kecil yang terlatih untuk melakukan pengintaian dan manuver mengacau pasukan Hulagu Khan.

Kulihat tadi sultan dengan penuh wibawa berorasi membangkitkan semangat tentara Islam, untuk mengerahkan segenap jiwa dan raga menghadapi pasukan kafir itu. Sultan berpidato dengan lantang seraya berurai air mata.

Aku bergerak cepat ke arah tentara Hulagu Khan yang ternyata juga telah bergerak ke arah Mesir. Tugasku dengan Beybars adalah memancing tentara itu ke lembah Ain Jalut, lembah yang medannya sangat aku kenal, sangat tepat untuk menjebak tentara yang berkekuatan besar. Aku prediksikan, pertempuran akan terjadi pada pertengahan Romadlon nanti, butuh waktu sekitar setengah bulan bagi pasukan besar untuk bergerak ke tempat ini.

— ooo —

Qolawun terlihat kelelahan, sementara Beybars terus menerus memandang ke arah tentara Hulagu khan. Bersama mereka aku terus berjalan tanpa istirahat. Dan dari atas bukit ini, bisa kulihat kekuatan tentara Hulagu yang mengerikan itu, 100 ribu tentara bersenjata lengkap! Tidak sebanding dengan tentara muslimin yang hanya 30 ribu, aku bergidik.

“Hanya Ain jalut yang tepat”, aku dengar Beybars berujar pelan, dan sangat tenang. Dari arah lain seseorang mata-mata utusan Beybars datang dan memberi tahu sesuatu seraya berbisik.

Segera setelah itu Beybars menoleh dan memanggilku, “Asaduddin, kembalilah engkau dan bilang pada sultan, tentara besar ini hanya di pimpin jenderal mereka, Keitbuga. Hulagu kembali ke Mongolia”, sedikit aku terkejut, dan sedikit pula aku kecewa, keinginanku membunuh Hulagu yang kupendam sejak berangkat, telah pupus. Dia kembali, sebab ada kekacauan di Mongolia, kakak Hulagu yang menjadi Raja, meninggal, sementara adiknya, Kubilay Khan, berambisi juga jadi raja menggantikan kakaknya.

Kupacu kudaku cepat menuju sultan, bulan Romadlon telah masuk, hari ini walau di tengah panasnya cuaca, dan dalam suasana pertempuran, aku tetap puasa.

Ain Jalut, Kamis, 14 Romadlon 658 H/ 29 September 1260 M

Pasukan kesultanan telah sampai Ain jalut, manuver pancingan yang dilakukan Beybars berhasil, sekarang tentara tartar bergerak mengejar pasukan beybars ke arah Ain Jalut. Sultan segera membagi pasukan, separoh pasukan diperintahkan bersembunyi di balik bukit, untuk melakukan jebakan dengan menyerang dari belakang saat semua pasukan Tartar telah masuk lembah itu.

Sultan sendiri dengan sebagian yang lain berbaris di lembah Ain jalut menunggu kedatangan tentara yang terkenal ganas itu. Keadaan sangat tegang, sultan terus berdoa pada Alloh untuk kemenangan kaum muslimin. Dan malam telah masuk, waktu merayap sangat lambat, bayangan dan aroma kematian terlihat sangat jelas dan tercium kuat.

Ain jalut, Jumat, 15 Romadlon 658 H/ 30 September 1260 M

Akhirnya, gelombang bah tentara Tartar pimpinan KeitBuga mulai memasuki Ain jalut. Ruknuddin Beybars sendiri telah bergabung dengan tentara inti kesultanan, aku dengan kuda hitamku yang terus meringkik, berdiri di samping sultan. Pasukan tartar itu telah membentuk barisan, siap bertempur.

Kulihat wajah sultan pagi ini begitu tenang, tiba-tiba dia tersenyum, “Hari ini, akan aku buktikan impian itu.”

“Impian apa sultan Qutuz?” ucapku dengan penuh keterkejutan.

“Akan aku ceritakan padamu jenderal Asaduddin, siapa tahu aku menggapai syahid di medan ini,” ujar beliau seraya pandangannya terus mengarah ke Keitbuga yang sejak tadi teriak tidak karuan dengan segala kepongahannya.

“Saat aku kecil, aku melihat Nabi Muhammad dalam mimpiku, dan beliau berkata : kamu akan jadi penguasa mesir, dan kamulah yang menaklukkan tartar,” sultan bercerita dengan senyum yang terus terukir di wajahnya, dengan penuh ketakjuban ku dengar cerita sultan.

“Hei Qutuz! Ayo mana tentaramu! Hanya ini saja! Hahaha, mau minta mati model apa kamu sultan bodoh!” keitbuga berteriak dengan sombong, telingaku panas mendengar ocehannya.

“sultan, kita tunggu apa lagi?! Kita lakukan serangan sekarang!”, hampir bersamaan aku dan Beybars mengatakan hal itu, tapi sultan menolak.

“tidak, jangan sekarang, kita tunggu saat matahari tepat di atas kita,” sebuah keputusan yang aneh, apa yang ada dipikiran sultan Mudhoffar? Aku bertanya dalam hati.

“kita bertempur saat semua umat islam di dunia ini sedang mendirikan sholat jum’at, sebab saat itu, doa mereka mengiringi kita, kita bertempur dengan senjata doa seluruh umat islam, addu-a silaahul mu’min, doa adalah senjata orang yang beriman”, sultan berkata dengan sangat tenang, kata-kata beliau menggetarkan seluruh sendi tubuhku.

Dan saat matahari tepat berada di titik kulminasinya, dengan lantang sultan bertakbir dan memerintahkan melakukan serangan. Segera pertempuran hebat itu berkecamuk, pertempuran yang ternyata pada akhirnya nanti merubah peta sejarah.

Dengan gagah berani sultan bertempur, akupun tidak mau kalah, dengan pedang terhunus yang haus darah, aku sabetkan ke sana kemari membabat kepala tentara tartar, kulihat juga Ruknuddin beybars bertarung laksana singa. Entah kekuatan apa yang mendorong tentara Islam saat itu, aku sendiri tidak tahu, kurasakan tubuhku memiliki tenaga sepuluh kali lipat dari biasanya, sabetan pedang musuh yang mengenai lenganku berkali-kali tidak terasa apa-apa.

Dan di saat yang tepat, jenderal Qolawun memimpin pasukan yang sejak tadi bersembunyi di balik bukit. Kini tentara tartar benar-benar terjebak, barisan mereka mulai kacau, mereka tidak memperhitungkan sama sekali jebakan maut itu, tentara tartar terjebak di tengah-tengah. Dengan susah payah Keitbuga berusaha menyatukan kembali pasukannya yang mulai tercerai berai, satu persatu tentara Tartar roboh dengan sangat cepat.

Entah telah berapa jam perang berkecamuk, sore telah merambat, namun tidak ada tanda perang akan berakhir, andai saja dari arah timur tidak terdengar teriakan-teriakan pilu tentara tartar yang satu persatu tewas. Sebuah kabar gembira tersebar di tentara Islam, Keitbuga, jenderal andalan hulagu itu, telah tewas dengan kepala terpenggal. Serentak tenaga baru segara menyapa kembali umat Islam. Pembantaian terhadap tentara tartar terjadi. Dan yang tersisa pun melarikan diri, rupanya mereka baru pertama kali ini mengalami kekalahan. Mental mereka runtuh total.

Dengan penuh kesemangatan terus aku ayunkan pedangku, entah sudah berapa darah yang di minum pedang kesayanganku ini. Hingga tanpa sadar aku rasakan ada benda tajam dingin yang menusuk uluk hatiku, ya, seorang tentara tartar berhasil menancapkan pedangnya menembus baju besiku, walau masih sempat juga aku ayunkan tanganku memenggal lehernya, namun tak urung, akupun terjatuh dari kudaku. Ku rasakan pandangan mataku kabur, sementara pasukan tartar yang tersisa, dari 60 ribu yang terbunuh, telah melarikan diri.

Samar sempat kulihat Sultan bersujud seraya menangis bahagia, dia taburkan debu medan Ain jalut di kepala dan wajahnya, yang sejak pertengahan pertempuran tadi tidak lagi memakai topi baja, aku pun turut tersenyum, pedang itu masih menancap di dadaku. Kurasakan saat itu, entah dari mana, bau harum menelusup ke indera penciumanku, sebelum ku rasakan sebuah tangan menopang leherku dan berusaha mendudukkan tubuhku, berusaha aku kenali pemilik tangan itu dengan sisa pandangan mataku.

“Ruknuddin Beybars,” aku berucap lirih seraya tersenyum, kurasakan setetes air mata jatuh di pipiku, “sampaikan salamku pada Syeikh Izzuddin, dan Sultan Mudhoffar, Saifuddin Qutuz…Allohu..Akbar”. setelah itu, tak ku dengar lagi teriakan Beybars, dan sultan yang juga menghampiriku. Yang kurasa adalah, medan yang gersang dan penuh dengan jasad-jasad tentara bergelimpangan itu, berubah menjadi taman yang sangat indah, taman yang tak pernah kulihat sebelumnya, dan di sudut lain, ku lihat ada istana megah, dengan gadis-gadis cantik yang telah menunggu kedatanganku.

Aku sangat bahagia, dengan bergegas aku berjalan ke sana. Namun, sejenak aku berhenti, kuraba dadaku, pedang itu tidak ada, tapi tanganku basah, kulihat, darah segar masih mengucur dari ulu hatiku, dan berbau wangi kesturi (*)

Hayy Al-Raseefa, Makkah, 22 Rojab 1429 H

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: