Ad-Din An-Nasihah

Oleh : Miqo (Gus Ahmad Aly Imron) Dia adalah salah seorang sahabat seperjuanganku sewaktu di ponpes Nurul Anwar, Parengan. Dia adalah adik gus Alwy Muhammad. Sekarang dia sedang merantau di Rushaifah melakukan rihlah ilmiah bersama sang kakak. Dia seorang penulis yang produktif dan memiliki kreativitas dan seni dalam penulisan dan penguasaan teknologi internet. Selain itu, dia anak yang gaul dan menyukai seni musik. Dia memiliki blog http://www.Ahmadaliblogspot.com.

Begitu mulia Sayyiduna Muhammad, sebuah nama yang dalam artinya, adalah yang terpuji dan selalu terpuji. Tak ada satu detik pun, dari dirinya yang menunjukkan kekurangan. Tak ada satu detikpun dari dirinya yang berlalu tanpa guna. Beliau, yang selalu menunjukkan kasih sayangnya, yang tak pernah putus kasih sayangnya. Bayangkan, ketika beliau di Thoif, ketika para malaikat menawari beliau, haruskah gunung-gunung itu kami jatuhkan ke atas mereka? Belaiu pun melarang, “Semoga ada dari keturunan mereka yang menerima Islam.” Beliau berkata, setelah beliau dilukai. Beliau hanya mengeluh pada Alloh, bukan lainnya. Beliau, seorang yang sangat disayang oleh tuhannya, bahkan makhluk yang paling disayangiNya. Ingatlah, ketika Nabi Adam menengok langit-langit Arsy, dipilar-pilar surga, tertulis Laa Ilaaha Illalloh, Muhammad Rosululloh. Beliau pun berkomentar, “Ya Robb, Engkau tak akan menempatkan nama seseorangpun disanding namaMu, kecuali dia adalah orang yang paling Engkau sayangi!”. Begitu pula saat Sang Kekasih mendengar sahabat-sahabatnya berbicara, siapakah makhluk yang paling Dia sayangi? Sebagian berpendapat, Ibrahim, karena beliau Kholilulloh. Sebagian berpendapat, Musa, karena beliau Kaliimulloh. Sebagian berpendapat, Isa, karena beliau Ruhulloh… Maka Rosululloh pun membenarkan, bahwa yang paling Dia sayangi adalah Sayyiduna Muhammad, dan beliau adalah Habiibulloh… Shollallohu Alaika Yaa Sayyidii Yaa Rosulalloh… Ruhii fidaak!! Beliau yang namanya selalu disandingkan dengan namaNya… Wa Rofa’naa Laka Dzikrok. Suatu hari, Sayyiduna Jibril mendatangi beliau dan berkata, “Wahai Rosulalloh, tuhanku dan tuhanmu bertanya kepadamu, bagaimanakah Aku menangkat namamu?” beliau menjawab, “Allohu a’lam?” Sayyiduna Jibril pun menjawab seperti yang diperintahkan tuhannya, “Aku tidak disebut, kecuali engkau juga disebut bersamaKu…” Cukup bagi beliau izzan wa fakhron, bahwa Alloh selalu bersholawat kepada beliau, selalu menambah kemuliaan… Perhatikan ayat tersebut, bagaimanakah Alloh begitu mencintai beliau. Alloh meng-ikhbarkan, bahwa Dia sendiri pun bersholawat, dengan firmanNya, Innalloh. Dia memilih namaNya yang termulia tentang sholawatNya kepada Sang Kekasih… Lalu, Dia juga memerintahkan semua malaikatNya untuk bersholawat pula… Mereka semua meminta kepada Alloh agar Dia selalu menambah kemuliaan beliau… Dan Dia pula memberitahu kita, dengan kata-kata Yushollun, dalam bentuk fiil mudlori’, yang berarti selalu bersholawat… Bukan dalam bentuk fiil madli. Ya, Dia dan Para MalaikatNya selalu dan seterusnya bersholawat pada Sang Kekasih. Alannabiy… Begitu mulianya Rosululloh! Bahkan dalam ayat sholawat, beliau bukan disebut Muhammad… Bandingkan dengan Sayyiduna Adam, Yaa Aadamu-skun anta wazaujuka… Atau dengan Sayyiduna Ibrohim, Yaa Ibroohiimu qod shoddaqta-rru’ya… Atau dengan Sayyiduna Musa, Yaa Muusaa innani Ana-lloh… Atau dengan Sayyiduna Isa, Yaa Iisa innii mutawaffik. Begitu mulianya Sang Kekasih. Hingga seorang penyair menggubah: Fada’aa jamii’arrusuli kullan bismihi * wada’aaka wahdaka birrosuli wabinnabiy. Lalu, Dia pun memerintahkan kita, untuk selalu menyenandungkan sholawat kepada Beliau… Kafaaka izzan wa fakhron ya Rosulalloh… Bishsholaah minal ‘aalamain, assufla wal ‘ulwy. Beliau begitu Mulia. Ketika Sayyiduna Musa mengatakan Inna ma’iya Robbii Sayahdiin, Rosululloh menjadikan ma’iyyahNya bersama semua, innalloha ma’anaa. Ketika Sayyiduna Musa meminta Robbi-syroh lii shodrii, maka tanpa beliau meminta, Alloh telah memberinya, Alam nasyroh laka shodroka? Ketika Sayyiduna Ibrohim berkata Hasbiyalloh, maka Sang Kekasih pun berkata Hasbunalloh… Ketika Sayyiduna Ayyub menahan sakitnya selama 20 tahun tak meminta kepadaNya karena malu, dan akhirnya beliau meminta kesembuhan lalu dikabulkan olehNya, wa Ayuuuba idz naada Robbahu Anni massaniya-dzdzurru wa Anta Arhamur-roohimiin, maka Sang Kekasih, tanpa memintta karena beliau malu, pun Dia beri… Qod naroo taqolluba wajhika fissamaa’.. Falanuwalliyan-naka qiblatan tardloha. Ketika yang lain harus meminta, maka beliau pun diberi hingga beliau puas, walasaufa yu’thiika Robbuka fatardlo. Ketika Sayyiduna Dzunnun harus berdoa didalam perut paus, Musa berbicara di gunung Thur Saina, maka beliau berbicara denganNya dihadapanNya… dihadapanNya yang Jibril pun tak pernah kesana, “Aku akan terbakar, wahai Muhammad, jika aku nekat pergi kehadapannya…” padahal Jibril sudah berada di Sidroh al Muntaha.. Ketika Sayyiduna Musa di Thur Saina, di perintahkan untuk melepas alas kakinya, Fakhla’ Na’laik, naka beliau tak diperintahkanNya untuk melepas alas kakinya dihadliratNya! Apalagi yang kurang dari beliau? Tak ada… Hingga Sayyiduna Jibril pun mengakui, bahwa dia sudah melihat semua makhluk dimuka bumi ini, taa makhluk yang lebih mulia daripada Rosululloh… Begitu mulianya beliau, tapi tak ada satu kesombonganpun hinggap dihati beliau. Hingga beliau tetap sholat malam hingga tawaromat qodamaah. Sayyidatunaa Aisyah pun bertanya, buat apa beliau hingga seperti itu, “Bukannya semua dosamu telah dimaafkan?” beliau dengan segala kemuliaannya, pun menjawab, “Afalaa akuunu ‘abdan syakuron?” Begitu mulia dirinya… Hingga kita, sebagai ummat beliau, pun menjadi mulia. Sayyiduna Musa pernah bertanya kepada Alloh, “Apakah ada ummat yang lebih mulia dibandingkan ummatku, yang Engkau telah menurunkan kepada mereka almanna wassalwa?” maka Alloh pun menjawab, “Wahai Musa, apakah kamu tak tahu, bahwa kemuliaan Ummat Muhammad dibandingkan ummat lainnya, seperti kemuliaanKu diantara semua makhluk ciptaanKu?” Yaa Rosulalloh… Fidaaka Abii wa Ummi.. Wa Ruuhii… Roqobatii duuna roqobatik ya Rosulalloh! Begitu mulia beliau, apakah masih saja tak bisa menempatkan beliau dihati kita, dalam tingkatan pertama? Apakah masih ada yang lain yang lebih kita kagumi dan kIta cintai dibandingkan beliau?? Bukan berarti beliau kurang mulia… Tapi hati kita masih kotor dan rusak, penuh dosa… Hawa nafsu masih menyetir kita… Apakah kita harus selalu disetir hawa nafsu kita terus? Apakah kita selalu mau dikalahkan oleh hawa nafsu? Ya Rosulalloh.. Adriknaa.. Qod dloqot hiilatuna. Ingin bisa selalu merindukannya. I

Mekkah Mukarramah, 19 februari 2009

1 Response so far »

  1. 1

    husein99 said,

    Assalamu’alaikum, gus. memang mahabbah kepad trasulullah shallahu ‘alaihi wassalam harus ditingkatkan lebih baik lagi bukan sekedar merayakan maulid saja, tapi meneladani akhlaknya.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: