Sepanjang jalur Gaza

Oleh Moh. Naqib (Najah Naqib) , salah seorang sahabat seperjuangan ketika di ponpes  Nurul -Anwar, Parengan, Maduran, Lamongan. Sekarang dia hijrah ke bantul,Yogyakarta, mengembangkan bakat dan skill sebagai seorang penyair dan sastrawan.Berikut ini crepen karyanya yang dimuat di batam pos.

Bukanlah Tuhan sesuatu yang
paling dekat di kota ini, namun
adalah kematian, tuan.

Kabar apa yang lebih menakjubkan ketimbang berita duka? Hari-hari di kota ini, adalah hari-hari neraka yang tak bisa lepas dari derita. Dentum roket yang menghantam permukaan kota, derak suara pesawat di setiap sudut cakrawala, tangis anak-anak, jeritan seorang ibu, itulah neraka yang tuhan sediakan sebelum akhirat menjelang.

Maka setiap hari aku menatap asap yang menggumpal seram itu. Tujuh hari sudah, dan asap itu tetaplah asap ledakan roket yang menyeberangkan beberapa penduduk menuju kematian: ayahku, (ah, ayah, tak akan kuucap sesuatu apapun, kecuali, ‘Tuhan memberkatimu selalu’), adikku Hussen, (boneka beruangmu masihlah tertinggal di antara reruntuhan bangunan, adik), Fayyad, (di akhirat, kita pasti bisa bertemu lagi, kawan. Kita habiskan hari-hari bahagia kita dengan segala macam permainan).

Cobalah tuan perdalam pikir jernih yang tuan miliki, bahwasanya dendam yang tuan-tuan simpan, (yang katanya hanya akan menghancurkan sekelompok tertentu, dan tidak membuat lecet secentipun kulit penduduk) telah mengundang duka yang mendalam. Mungkin tuan sulit mempercayai perasaan kami. Dan terlalu biasa menganggap sebuah kematain.

“Bukankah negara ini memang wilayah yang seorang malaikat pencabut nyawa terlalu sering mendatanginya?”

Betul, tuan! Negara ini telah menjadi bidikan utama malaikat Tuhan. Seperti juga bidikan utama sekelompok tak tahu perasaan. Sekelompok yang hanya peduli dengan dendam: Yahudi.

Aku lalui setiap bangunan. Kubaca reruntuhan kaca. Bangunan yang kemarin berdiri kokoh, ah, terlalu hebat sedetik ledakan itu membinasakan keindahan kota ini. Ya, kota ini memang indah. Tuan akan merasakan deru angin yang menerbangkan debu-debu, dan itulah tiupan angin (yang sekalipun terasa gersang) namun membuat setiap orang merindu persaingan. Angin itu, bila aku bermain bersama beberapa kawan, maka bisa menerbangkan baling-baling setinggi yang kami mau.

“Lemparkan dengan keras, Fayyad!” teriakku kepadamu, Fayyad. Lantas dengan sekuat tenaga kau melemparnya. Baling-baling terbang, rianglah seluruh kawan mengejar.

Seraya kita tunggu baling-baling itu jatuh, kadang aku dorong tubuhmu. Kau tersungkur, tertawalah kita. “Hidungmu, hay, Fayyad, tak ubahnya seorang badut,” begitu celetuk Yasmin, satu-satunya gadis di antara kita-kita yang jantan. “Fayyad-Fayyad, kau tampak lucu sewaktu hidungmu yang mirip paruh rajawali belepotan dengan debu.”

Rafah, inilah kotaku, tuan. Kota yang ‘terima kasih’ tuan telah merubahnya sedemikian rupa. Bila datang sebuah pertemuan, rasanya ingin kupukul muka tuan-tuan. Akan kutendang tubuhmu, tuan. Akan aku kerahkan seluruh tenagaku untuk melempari kepalamu yang layaknya batu dengan kerikil-kerikil Rafah. Itulah bukti kelapangan batinku, bukti ucapan ‘terima kasih’ atas kebengisan tuan-tuan.

Jalur Gaza….. Jalur Gaza….. Jalur Gaza….. Jalur Gaza….. Jalur GAZA!

Jalur kematian….. Jalur kematian……. Jalur kematian…. Jalur KEMATIAN!

Ah, mengapa aku selalu mencium aroma kematian di sini. Jalur ini, betapa pantasnya bila kusebut dengan jalur kematian saja. Jalur yang sebagai pembatas antara hidup dan mati, bukan pembatas antara dua kubu yang saling berseteru.

Di jalur ini, suatu sore, ketika senja di ufuk barat nampaklah damai, aku bersama seorang ibu sedanglah berjalan. Perjalanan yang nikmat, ibu memperlihatkan kepadaku, (juga kepada Hussen yang beliau dekap dalam gendongan) keindahan bangunan-bangunan kota. Seraya berjalan, diceritakannya kepadaku hikayat-hikayat masa lalu. Tentang Jerusalem, tentang sabda sang Nabi yang mengatakan bahwa selamanya negeri ini tak akan sepi dari keriuhan dendam.

“Hussen, Khudz hadzil li’b!” ambil boneka ini, adik! Maka diremaslah boneka beruang yang kuberikan. Hussen, adik kecil berambut keriting sepertiku. Berkulit putih, bermata tajam layaknya bulatan mata ayah. Bila mendengar dia mengeluarkan sepatah kata, rasanya aku ingin memaksa kedua mulutnya untuk berucap sepatah kata lagi. “Menggemaskan sungguh kau, Hussen!”

“Rasul sudah mengatakan bahwa negeri ini tak mungkin lepas dari serangan yahudi?”

“Benar sekali, anakku. Namun ada massanya di mana kita akan merasa tenang.” Jawab ibu.

“Kapan itu, wahai ibu? Kapan kita bisa lepas dari suara-suara ledakan?”

Ibu diam. Mengelus pipi Hussen. Dan bisa kau bayangkan sendiri, betapa riangnya seorang anak menunggu jawab tentang kedamaian. Maka kutunggu kedua bibir ibu bergetar mengucap kata.

“Itulah massa ketika malaikat Isrofil meniupkan terompetnya!”

Ternyata kiamat yang akan mengakhiri perseteruan ini. Dan mulai hari itu, dalam kepalaku tak kutemukan sebuah kerinduan kecuali rindu kiamat. Sebab telingaku terlalu bising dengan tangis anak-anak. Dengan jeritan seorang ibu di sudut Rafah. Sebab senja itu juga, terdengarlah derit pesawat-pesawat angkasa. Terdengarlah ledakan dahsyat yang berakhir tangis kedua mataku, tangis ibuku.

Kau tahu, di mana aku dan ibuku mencari Hussen? Aneh sekali Tuhan menulis skenario. Mengapa harus anak kecil yang belumlah sanggup memanggil ayah-ibu? Mengapa harus kematian yang mengakhiri perjalan sore itu?

Aku mencari Hussen. Aku masuki gumpalan asap. Ledakan bom itu menggetarkan bumi Rafah sangatlah keras. Mungkin Hussen terlepas dari pelukan ibu, sejurus ibu yang juga terguling-gulingkan menghindari reruntuhan bangunan.

Namun apa yang aku dapat, tuan? Aku telah menginjak beberapa jasad manusia. Hitam, suram, tak bisa laju nalarku mengenali. Bila kutemui sekujur tubuh mungil, maka bersiaplah kedua mataku mengucurkan air mata yang panjang. Yang tak mungkin selesai di esok hari. Dan nyata-nyata air mata itu selalu gugur dari kedua mataku. Sampai keesokan hari, dan tak kudapati kabar seseorang yang menyebutkan selamatnya anak usia tiga tahunan di antara robohnya kota.

Aku, ibuku, larilah menapaki jalan menuju rumah. Ah, aku dan ibuku tidaklah sendirian. Bukankah seluruh warga juga menggerakkan kedua kakinya cepat-cepat. Seolah ada yang sedang mereka cari. Ya, mereka memang sedang mencari. Mencari kabar bagiamana keluarga di rumah. Mencari kabar bagaimana seorang kawan di sepanjang jalur Gaza. Mencari kabar bagimana sahabat yang barulah usai melemparkan baling-baling. Mencari kabar bagaimana nasib manusia esok hari. Ketika asap kematian tak bisa hilang. Ketika negeri dirundung ledakan.

Dan ketika itulah kutemui seluruh bangunan rumahku hancur. Tempat di mana aku teduhkan tubuhku sehabis bermain dengan banyak kawan. Tempat yang… ah, biarlah detak jantung yang gemuruh gelisah ini yang akan menceritakan kepadamu.

Ibuku mencari ayah. Bisa kau menjawab kalimat ibu yang memanggil-panggil ayah? Lihatlah seorang perempuan yang meraup reruntuhan bangunan. Bergulung-gulung di atasnya. Berteriak. Mengacak-acak rambutnya. Sebelum kemudian datang seorang anak sebelas tahunan merangkul pundaknya. Mencoba menenangkannya dari segala gelisah. Dan bocah kecil yang juga tak bisa lepas dari air mata itu adalah aku.

Aku eratkan rangkulanku. Kucium aroma tubuh ibu yang berkeringat. Kudapati pada setiap bau ibu, aroma duka yang dalam. Aroma duka seorang ayah yang (jelas) tertimbun di antaran reruntuhan bangunan. Ayahku, adalah ayah yang tak pernah menulusuri jalan. Ayahku adalah suami yang menaruh ketergantungan pada sebentuk alat bernama kursi roda.

“Sudah ibu katakan kepadaku, kematian adalah perihal biasa di negeri ini!” mendengar kalimatku, berhentilah ibu meraup-raup reruntuhan.

Cerita sore itu, aku kesudahi dengan kematian ayahku. Dengan kematian Hussen.

***

Jangan kau anggap diriku sama seperti kemarin hari, tuan. Aku hari ini, bukanlah aku yang terlalu mudah menitikkan air mata. Sengaja aku dan ibuku menelusuri sepanjang kota Rafah. Batu-batu berserakan, samahalnya ketakutan yang hinggap pada setiap jiwa. Namun, bukan jiwaku dan jiwa ibuku.

Maka di sepanjang jalan Rafah, aku berbisik dengan batinku, “jangan menangis! Sebab tangismu tak akan berubah apa-apa. Kecuali penyesalan sebentuk luka.”

Berhentilah ibu di samping tiang listrik. Tiang yang sedikit condong, dan kabel yang menggelantung lemah. Bila seseorang tak hati-hati, tentunya akan menghantam kabel tersebut. Lantas bisa kau perkirakan sendiri apa akibatnya: kabel putus, mengeluarkan aliran listrik yang ganas. Ah, bukankah kota ini sudah padam dari listrik? Genjatan senjata sedemikian ganas, jelas-jelas pemerintah memutuskan segala bentuk aliran listrik. Ya, namun itu bukan daerah sekitarku berdiri sekarang. Ini daerah pusat, tuan! Mampuslah bila listrik dipadamkan. Mampuslah penduduk yang dirawat di Mustasyfa.

Tiang listrik yang condong ini, kudapati di atasnya burung-burung dara. Kelabu, seperti warna langit sekarang. Datanglah pada tempat ini, tuan. Pertemukan wajah tuan dengan burung-burung di atas. Pertemukan batin tuan dengan sisa nyala api di pinggir-pinggir jalan. Lantas bicarakan kepadaku, perasaan apa yang tuan dapat?

“Ketika kau menapaki jalan yang menurun, Jangan kau terburu-buru tersenyum, anakku! Sebab kelengangan kemarin hari adalah pertanda keriuhan esok. Dan di hadapan kita, nampaklah tanjakan yang panjang.”

Aku mendengar kalimat itu. Telah kutanam, dan tak mungkin hilang dalam ingatan. Ayahkulah yang mengajariku akan hal itu. Mungkin, ajaran tersebut juga tertanam dalam benak anak Rafah. Kota yang berdiri di atas jalur Gaza, jalur yang kukatakan lebih pas dibilang kematian.

Tuan, hebat sekali kekuatanmu. Di dekat nyala api itu, aku temukan sesuatu yang amatlah kental dalam nalarku: boneka beruang. Semoga tuan masih ingat, boneka siapa itu. Semoga juga tuan ingat, dua besi yang saling bertautan membentuk lingkaran itu adalah tempat mengasyikkan buatku bermain. Hussen, bila ibuku pegal menggendongnya, akan dilepaskan bermain di sekitar lingkaran besi itu. Hussen memegang lingkaran tersebut sebagai penyangga tubuhnya, dan aku berlari-lari kecil menakutinya dengan senapan.

“Mut ya, Hussen!” matilah kau Hussen. Dia berlari. Lari yang lambat, seraya dia genggamkan tangannya di lingkaran besi itu.

“La, la!” tidak-tidak. Ucapmu yang renyah.

Di sepanjang jalan Rafah, di sebuah lorong kecil, lorong yang penuh dengan tulisan Harrik Yadak, Harrik Yadak! Allah Fiina, Allah Fiina,* bisa aku kisahkan kepada tuan, bahwasanya tempat itulah lahan yang paling mengasyikkan buatku bersembunyi. Ketika hitungan seorang kawan sampai pada angka ke tiga, larilah aku menuju lorong itu. Dan bisa dipastikan Fayyad, Yasmin, atau kawan yang lain tak bisa menemukanku. Kecuali ketika aku lelah bersembunyi, maka bergeserlah aku sedikit keluar. Dan, “Hadzil asra, hadzil asra!” berteriaklah Fayyad mengatakanku sebagai tawanan.

Sudah kukatakan, tuan. Kota ini terlalulah dekat dengan kematian. Maka hendak kuundang dirimu pada hari kematianku. Tunggu saja suatu hari di mana kupersembahkan darahku untuk pertempuran. Sebab perjuangan rakyat Rafah adalah percuma, sebab Rasul sendiri telah mentakdirkan kemenangan Jerusalem di ujung hari yang manusia sebut kiamat.

Dan janganlah kau bilang Gazaku sekedar derita, sebab tuan akan menemukan banyak kisah berupa darah. Di sini!***

Yogyakarta, 5 Januari 2008

Catatan:
* Gerakkan tanganmu, gerakkan tanganmu. Allah menyertai kita, Allah menyertai kita

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: