The Moslem New Year, Momentum kebangkitan dakwah Al-Islam bil-Qolam di tengah keterpurukan zaman

Dalam memperingati perubahan tahun Islam dari tahun 1429 ke tahun 1430 H, kita perlu kembali mengingat nostalgia keteladan dan hikmah dari peristiwa hijrah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wassalam dan para sahabat Al-Muhajirin Radlillahu ‘anhu dari kampung halaman sendiri  kota Mekkah ke kota Yatsrib (Madinah). Mereka melakukana migarasi (moving) dari tempat kelahiran demi menyelamatkan agama baru yang mereka yakini dan imani dengan sepenuh hati dan sebuah usaha untuk melahirkan momentum dalam kebangkitan dakwah Al-Islamiyyah ke seluruh pelosok dunia. Proses hijrah (migarasi) mereka yang didasarkan Allah dan rasul-Nya selalu dijadikan barometer atau tolak ukur bagi generasi-generasi sesudahnya. Proses tersebut juga dianggap sebagai periode dan babak baru dalam penyebaran dakwah al-Islamiyyah , yaitu : periode Madinaj. Pembentukan komunitas masyarakat muslim yang madani yang mulai memiliki kekauatan, kewibawaan dan pengaruh (influensi) di mata dunia pada waktu itu. Dalam pergantian metode dakwah dari yang lalu (periode  Mekkah) yang lebih mengarahkan pada keimanan dan terfokus pada kaum musyrik Quraish dan sekitarnya ke metode yang baru (periode Madinah) yang mengarahkan pada syariat dan hukum-hukum Islam dan terfokus ke seluruh bangasa yang ada pada waktu itu.Pergantian metode dakwah selalu dijadikan evaluasi dan muhasabah sebagai sebuah peringatan tahun baru Islam (The moslem new year) setiap tahunnya. Patokan dalam pembuatan kalender Islam Hijriyyah mulai diresmikan sejak pemerintahan kholifah kedua Islam, Amirulmukmin Umar bin Khattab Radlillahu ‘Anhu (13-23 H) sampai saat ini.

Dengan pergantian tahun baru Islam, kita perlu memiliki semangat yang baru dalam menyeramakkan dakwah islam terutama tradisi tulis-menulis yang merupakan warisan para ulama Salafush-Soleh dan para ulama Khalaf  sejak beberapa abad yang lalu sampai sat ini. ditengah keterpurukan zaman, dimana berbagai lini kehidupan mulai dipengaruhi budaya kapitalisme global, syariat dan kebudayaan Islam mulai tersingkir dan dipandang sebelah mata oleh sebagian kaum muslimin sendiri sehingga orang-orang nonmuslim tidak memiliki sikap gentar dan takut untuk melakukan agresi militer dan penjajahan secara fisik dan budaya kepada ummat Islam seperti yang telah menimpa saudara-saudara kita di tanah palestina, Irak dan Afganistan. Dengan semangat dan himmah tahun baru, Marilah kita menghidupkan kembali bara api semangat yang berada dalam dada-dada para pemuda islam untuk menarik perhatian mereka terhadap pengembangan karya-karya sastra yang Islami baik yang berupa prosa seperti : novel dan cerpen ataupun puisi-puisi yang memiliki makna dan tujuan serta background kehidupan masyarakat muslim yang sebenarnya. Ketika media-media massa dan eketronik mulai menancapkan akar-akarnya ke dalam kehidupan masyarakat muslim dalam penyebaran gaya hidup materialisme dan hedonisme dan paham-paham yang tak islami, Maka sudah saatnya kita sebagai kaum Ghuroba’ (kelompok marginal) muslim mulai mengimbangi  upaya-upaya penyebaran paham-pahamyang tidak islami dengan membuat media-media  massa dan elektronik yang berfokus mengenai pendidikan, gaya hidup, syariat dan kebudyaan Islam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: