Metode Pendidikan wanita

Oleh : Ahmad Al-Adib

Shohabatku pernah bilang padaku ” Bila anda mendidik seorang pria berarti anda mendidik seorang manusia, tetapi bila nada mendidik seorang wanita, berarti anda mendidik seluruh keluarganya.”

Peran orang tua dalam mendidik anak wanitanya bukanlah maslah sepele dan bukan pula tidak penting, malhan harus diutamkan dan didahulukan. Tujuan pokok mendidik seorang wanita ada 4 season, Menjadikannya “BINTAN MUKARRAMAH, ZAUJATUN SHOLIHAH, UMMAN MUROBBIAH, DAN JADDATAN MUADZILAH.”

“Bintan mukarramah” yakni bagaimana seorang wanita remaja itu bisa menjadi terhormat, wanita yang bisa menjaga harga dirinya, mejaga kesucian akhlaqnya, ini tak hanya sekedar memperkenalkan dengan ini itu dan lain sebagainya, salah satu cara yang paling jitu adlah menyuguhkan pendidikan Agama dengan seksama, tidak stengah-stengah. Sungguh disayangkan apabila ada seseorang (terutama santri) tidak bisa menjaga komitmen ini, berarti ia tak mengiakan tugas yang harus ditempuh, Padahal (sebagaimana yang kita ketahui) seseorang yang sudah mengandung nama “santri”  baik santri tetap (mukim di pondok) maupun santri kalong (tidak tetap) tentu tahu akan hal ini, bahkan tak jarang pesantren menjadikan anak didiknya seperti apa yang diharapkan.

satu hal yang menunjukkan akan keteledoran kita adlah membiarkan anak wanita kita bergaul tanpa terkontrol alias pergaulan bebas (free sex). Entah itu kita sadari dengan sesadar-sadarnya atau tidak, hingga tidak jarang di sana- sini terjadi sesuatu yang tak sedap di pandang mata,  memang kita tidak bisa membendung maksiat ayang ada ini. Tetapi kita masih mempunyai tugas untuk menjaga diri kita sendiri, keluarga kita dari sentuhan api neraka sebagaimana yang sudah tersinyalir dalam Al-Qur’an “Quu anfusakum wa ahlikum naaro” Jagalah dirimu sekalian dan keluargamu dari sentuhan api nerka. terus apa maksud dari kata ” jagalah”? maksudnya kita menjaga diri kita, keluarga kita dengan pengajaran dan pendalaman Ilmu Agama yang matang, Apakah ilmu yang kita peroleh di sekolah umum tidak mampu untuk itu? Kami rasa belum, karena kita hidup tak hanya di dunia saja, kita masih mempunyai kehidupan lain, kehidupan yang kekal abadi yakni kehidupan akhirat. Sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk itu ? sudah cukupkah bekal kita untuk menhhadapinya ? Pendidikan umum haruslah didampingi dan didasri dengan pendidikan agama, sudah mengertikah wanita kita kan tugas kesehariannya, mulai masalah haidz (mentruasi), cara berpakaian, pergaulan dan tugas-tugas lain yang tidak harus dsebut dengan detail di sini.

Pendidikan wanita yang kedua adalah menjadikannya ” Zaujatun Sholikhah”, ini masih erat hubungannya dengan pendidikan poin pertama, kalau kita sudah menanamkan pada jati diri wanita kita kan pendidikan ” Bintan Mukarramah” maka kelanjutannya akan mudah terwujud, akan tetapi pada diri wanita kita belum 9katakanlah tidak) terdapat pendidikan Bintan Mukarramah, jangan harap pendidikan pendidikan jenjang kedua akan mulus tercapai, pasti badai kesumat yang sulit dilalui, karena dalam dirinya belum terpondasi dengan pendidikan Bintan Mukarramah, bisa dimungkinkan lirik sana lirik sini.

bahkan kadang tak menolak tangan jahil yang berkeliaran. wanita yang dalam keadaan sudah tertanam pendidikan Bintan Mukarramah sendiri, tidak bisa dengan sendirinya mengerti prohal zaujtun Sholikhah.

Dia masih tetap diberi pengajaran tentang hal itu, yakni dia harus mengeti bagaimana dia hrus bersikap sebagai istri yang sholihah, istri sholihah adalah suatu fenomena yang dibanggakan oleh agama, ” Ad-Dunya mataa’ wa khoiru mataih zaujatun sholikhah” Dunia adalah suatu harta benda yang tidak ada gunanya dan sebaik harta dunia adlah istri sholihah.

Kalau kita sudah melirik dan mencanagkan dua pendidikan yang sudah di sebut maka dua pendidikan sterusnya , yakni Ummu Murobbiah (sosok ibu sebagai pendidik) dan ” Jaddatan Mu’adzommah (nenek yang diagungkan oleh cucu-cucunya) kan mulus tercapai. Sosok ibu sebagai seorang pendidik yaitu dengan tidak menyibukkannya dengan urusan-urusan lain, seorang ibu hanya disibukkan merawat, meperhatikan dan mendidik anak-anaknya dengan sekasama, kalau sudah begitu anak-anaknya serta cucu-cucunya pasti akan mengagungkannya, suatu rumah kalau menerapkan pendidikan seperti itu maka akan aman dan tenteram, kalaua setiap rumah sudah seperti itu, maka daerahnya kan aman dan tenteram, dan setiap daerah aman tenteram, maka negerapun aman dan tenteram. Apakah semua itu tugasnya orang tua dan walinyaMemang itu tugas orang tua dan walinya, Namun anak wanitanya sendiri harus mempunyai niatn yang sama. dan jika sebaliknya, wanita tidak memiliki niat yang untuk seperti itu, maka tak kan terwujud.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: