Bayu Kerinduan

oleh : Muhammad An-Naqib

Mamak menjanda di lahad kubur

Tiada lagi Kekasih

Namun abu kerinduan yang terbakar halus dari cendana

Masih terabaikan dalam guci

Liang mamak bukanlah persinggahan Abadi

Suatu saat,  kuasa isrofil jualah yang melapukkan

Bila mamak jenuh

Akan kukatakan kepada kamboja

Agar tetap segar menjaga kuncup

Bila mamak rindu,

Akan ‘kulayangkan kepada Bumi

Secarik kertas tentang senyum kami di situ, menanti

Dan katakanlah !”Betapa kematian telah menyisakan setumpuk kardus sesal

Rindu kamu sekuntum Mawar,

Kian merekah seiring tangis

*********

Malam itu kepenatan bagi mamak,

Vonis Tuhan tertitahkan kepada Izrail

Barangkali, rangkul hangat mamak di suatu sore adalah pertanda

Bahwa senja kala itu sudah mewasiatkan kabar kematian  kepada gagak-gagak

dan angin mulai merangkai serumpun melati bercampur mawar

Hidup itu mimpi

Sehingga nampak wajar

Jiakalau ada setetes kecewa atau

Sederet senyum mengembang

*******

Serumpun mawar belum layu

dalam genggaman kenangan

Pun bayangan duka masih membumbung

Sesaki atapan, perlahan arakkan

mendung sehingga

ada tetesan sedih

terkadang kematianmu kembali

Asahkan belati, guna menyanyat-nyayat belembar s surat Tuhan

sampai ruang kalbuku terbakar berabu

Perkenankan saya duhai Tuhan!

Sebingkai kebahagiaan terhias lagi

Diatas bilik kalbu

******

Diasamping ‘kutuangkan

Segar air mawar dari segelas kaca bening

nanda pula bersimpuh senandungkan bait do’a

Diatas persinggahanmu

Sementara keping-keping kenangan

Tercecer sungguh hingga

melantai dan kian menyudut-nyudut

Rinduku inginkan senyum

itu terhias lagi

Membiusku di atas

ranjang ketenangan

Bukankah senyum bunda

Seleras pelangi, yang tiadakan

Gerimis mendung sedih

*******

Nisan itu,

Belumlah usang

Kendati harus basah-basah

tertetes gerimis dan sesekali petir menderakkan

Nisan itu,

setia menemani Bunda

Menjalani masa janda

di setiap gerak detik penantian

*******

senja temaram

kafilah-kafilah dara kembali

menuju persinggahan

dedaunan luruh pasrah pada belaian bayu, sebelum terkapar

mengambang di atas danau

Diatas sajadah senja

Nanda menyulam permadani

Merajut sehelai demi helai

benang pahala Tuhan

Untuk mamak Ful disana , semoga senantiasa tersenyum, Amin !

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: