Abuya Sayyid Muhammad al-Mâlikî

Abuya Sayyid Muhammad al-Mâlikî

dalam Kenangan

Oleh | WAA. Ibrahimy

Kami – Penulis dan belasan orang seangkatan lainnya – boleh dikata sebagai generasi santri yang hidup menuntut ilmu dalam transisi suatu masa, hidup pada akhir masa Abuya Sayyid Muhammad Alwi al-Mâlikî rahimahullâh, dan berlanjut pada awal masa Abuya Sayyid Ahmad Muhammad al-Mâlikî hafidhahullâh. Sebagaimana banyak ditemukan dalam peristiwa sejarah, bahwa generasi yang hidup diantara transisi dua masa tertentu memiliki sisi keunikannya tersendiri, demikian pula halnya dengan kami. Ada banyak peristiwa penting yang harus tercatat rapi dalam buku memoar kehidupan kami, yang hal itu – sangat mungkin sekali – akan menjadi epilog bagi riwayat hidup tokoh yang satu pada masanya, dan sekaligus prolog bagi riwayat hidup tokoh yang lain pada masa selanjutnya.

Diawali dari kisah pengalaman pribadi, dan mungkin juga kisah-kisah pengalaman serupa yang dialami oleh sahabat sengkatan lainnya dalam merasakan kesan spesial bersama Abuya Sayyid Muhammad Alwi al-Mâlikî rahimahullâh, dari sejak awal mengenal sosoknya, mengidolakan, berjumpa, sampai mendampinginya detik-detik menjelang kewafatan. Dilanjutkan kemudian dengan kisah pengalaman menyaksikan pembai’atan Abuya Sayyid Ahmad Muhammad al-Mâlikî hafidhahullâh sebagai khalifah sang ayah tercinta.

Kesan Pertama

Kisah ini bermula dari peristiwa besar yang tercatat rapi dalam ingatan pribadi kami, dan mungkin akan menjadi “lipatan pakaian” pengalaman yang tertata indah untuk diabadikan dalam “rak-rak almari” hidup ini.

Untuk sekedar dimaklumi sebelumnya, diantara kami ada yang sejak dalam kandungan telah bertrade-mark al-Mâlikî, yakni lahir dari pasangan orang tua yang notabene keduanya santri Abuya Muhammad al-Mâlikî. Namun ada pula yang baru mengenal sosok Abuya ketika menginjak usia remaja, mengenalnya lewat lingkungan yang telah berwarna Abuya al-Mâlikî, atau berguru kepada alumni Abuya al-Mâlikî. Sejak itulah nama Abuya Muhammad menjadi sangat dekat di hati kami.

Bila mengingat pengalaman pribadi Penulis, kurang lebih tiga puluhan tahun yang silam, ketika suatu hari yang berkah terjadi bagi kehidupan kami sekeluarga, saat ramah tamah sedang berlangsung di kediaman Kakek demi menyambut kedatangan Abuya Muhammad al-Mâlikî yang kala itu berkunjung ke pesantren kami di Situbondo. Sesosok bayi lelaki mungil – yang baru berusia beberapa minggu – dibawa ke pangkuan yang mulia Abuya untuk dimintakan doa barokah, sebagai bentuk pengamalan ajaran agama yang telah mentradisi di kalangan masyarakat santri pada umumnya, agar kelak menjadi generasi yang shalih, berbakti kepada agama dan bangsa, kepada orang tua dan keluarga.

Dari peristiwa bersejarah itulah, perlahan namun pasti, ternyata sentuhan pertama Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Mâlikî tersebut telah benar-benar menembus kedalaman jiwa Penulis, meresapkan rahasia makna, dan bertambah dalamlah kesan yang diperoleh tatkala Abuya Sayyid berpesan, “Bila anak ini kelak telah dewasa, biarkan ia ada bersama saya!” Demi mendengar langsung pesan ucapan dari Abuya tersebut, Kakek pun segera saja menyetujui permintaan beliau dengan rasa penuh haru dan suka cita.

Kekaguman yang Memekarkan Rindu

Penulis ingat, ketika di masa remaja dahulu potret Abuya Muhammad al-Mâlikî yang terpampang di dinding kamar telah mengalahkan berbagai poster dari tokoh-tokoh terkenal, artis atau kelompok band yang lagi beken lainnya di masa itu. Di hati dan pikiran kami sosok Abuya telah menggantikan keberadaan orang-orang tersebut, mengalahkan dalam ketenaran dan pesona mereka, tidak seperti umumnya remaja lain yang seusia, dan kami merasa bangga dengan hal itu.

Karakter ketokohan, kharisma pribadi, pemikiran, dan manhaj perjuangan Abuya yang dibawa dan disebarluaskan oleh para alumni santri dan pecintanya telah benar-benar mewarnai kami, menjadi jiwa bagi hidup kami, yang untuk selanjutnya menumbuhkan rasa kagum dalam diri kami. Dan dari kekaguman yang mendalam inilah kerinduan-kerinduan pun bermunculan satu persatu, rindu ingin menjadi pengikut setianya, rindu ingin menjadi santri sejatinya, atau setidaknya rindu ingin menatap dekat wajah Abuya yang memesona, mencium tangannya yang mulia, bahkan bila dapat memeluk erat tubuhnya yang berwibawa, pasti akan kami lakukan penuh suka cita.

Dengan tanpa bermaksud melebih-lebihkan, sungguh, setiap tanah yang dipijak oleh para alumni Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Mâlikî di persada Nusantara ini sebagai medan perjuangan dakwah mereka, pelan namun pasti, tempat tersebut telah berubah menjadi “serupa” atau setidaknya “mirip” dengan tanah kediaman Abuya di Makkah al-Mukarromah. Sebut saja semisal Pujon Malang, Parengan Lamongan, Tambak Madu Surabaya, Koncer Bondowoso, Lenteng Proppo Pamekasan, atau Raci Bangil, semua tempat tersebut telah berubah cita rasa ruhani dan aura keberkahannya menjadi seperti ‘Utaibiyah – kediaman pertama Abuya – atau Rushaifah yang terletak nun jauh di tanah haram sana.

Konsentrasi Pemikiran

Di hari-hari berikutnya, madrasah demi madrasah, pesantren demi pesantren, ketika itu pun harus kami tempuhi, sebelum akhirnya nanti bersama Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Mâlikî di Makkah yang penuh berkah, sebagai langkah untuk merentas jalan ke masa depan yang dicita.

Jika ditanya, maka hampir seluruh santri yang berproses berangkat ke Abuya tentu pernah bermukim mondok di Ma’had Nurul Haromain Pujon Malang. Hal itu karena syarat yang seringkali diberlakukan Abuya kepada kandidat muridnya adalah harus tinggal lebih dahulu disana, menunggu sampai ada bisyâroh panggilan dari beliau selanjutnya.

Abi M. Ihya’ ‘Ulumiddin – demikianlah beliau biasa dipanggil – adalah santri senior dari Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Mâlikî yang diamanati untuk mengelola Ma’had tersebut. Hari-hari semasa kami bersamanya, berkhidmah dan mengaji kepadanya, serasa ruhani Abuya ada bersama di setiap kehadirannya, ada di setiap jejak perjuangan dan jalan hidup yang dipilihnya. Maka hadirlah dalam kehidupan kami sosok yang berkharisma nama dan maknanya, jasad dan ruhnya, yang telah menjadi teladan semasa hidup dan panutan ketika mati nanti. Seorang guru yang menjadi penyambung risalah Baginda Nabi, pewaris ilmu dan pendekar aqidah sejati, juga sanad ilmu yang lain dalam mengokohkan keyakinan diri.

Kisah dari Pengalaman Serupa

Pengalaman Penulis dan sebagaimana juga banyak dialami oleh teman seangkatan lainnya ketika berangkat ke Makkah adalah munculnya perasaan tak karuan, haru campur suka, gelisah namun bahagia, semua menyatu padu, dan tak dapat terucapkan oleh kata-kata sekalipun saat itu.

Atau ketika berada di Bandara misalnya, kami biasanya menatap setiap sesuatu dengan tatapan kosong tanpa arti, sampai pada saat mengurus pengambilan boarding pass atau apapun dalam melangkah, selalu saja dihantui oleh rasa gamang. Semua itu adalah gejala kejiwaan yang hampir menjadi “wajib” dirasakan dan dialami oleh kami semua. Batin ini seolah tak tahu manakah yang harus dipikirkan, dan manakah yang harus tak dipikirkan?

Pada umumnya, sesaat setelah kami berada di dalam pesawat, suara mesin yang menderu disertai tekanan menjejak seolah memberitahukan kepada kami bahwa pesawat telah lepas meninggalkan landasan. Ketika melirik ke luar jendela, gumpalan-gumpalan awan putih menyerupai kapuk pun perlahan mulai tampak terlihat sejajar dengan tempat kami duduk. Maka saat-saat seperti itulah batin kami berteriak “Aku benar-benar terbang sekarang!” Demikianlah halnya yang telah Penulis alami ketika itu, sembari meyakinkan diri sendiri, meyakinkan bahwa diri ini telah benar-benar terbang meninggalkan tanah air tercinta.

Ya, saat itu kami benar-benar sedang terbang bersama impian, atau lebih tepatnya sebuah asa yang pelan-pelan bergerak menjadi cita yang diniatkan. Bukankah niat itu qoshd al-syai’ muqtarinan bi fi’lihi, dan saat itu kami benar-benar melakukannya. Kami sedang terbang menuju masa depan yang diharapkan, lepas landas tinggalkan masa silam.

Di atas pesawat, tak ada yang lebih setia menemani pikiran demi pikiran yang terus mengalir tanpa mampu terbendungi lagi, kecuali seberkas sinar matahari di ufuk barat yang waktu terbenamnya lebih lambat dari saat kita berada di permukaan bumi. Ketika para pramugari memperagakan cara mengenakan fasilitas keamanan yang tersedia di pesawat, Penulis pun tak begitu konsentrasi memperhatikannya. Saat itu, sekali lagi Penulis benar-benar tak tahu manakah yang harus dipikirkan, dan manakah yang harus tak dipikirkan?

Pertemuan yang Dirindukan

Di suatu pagi yang ceria, di hari yang telah disepakati antara Penulis dan seorang sahabat untuk sama-sama pergi ke Rushaifah, kami pun berangkat kesana. Membayangkan saat perjumpaan nanti dengan maha guru sejati, maha guru murobbi, kekasih para kekasih. Ya, perjumpaan itu beberapa waktu lagi.

Detik-detik berjalan seolah sangat lambat sekali, sedangkan “ombak” itu tak juga reda berdeburan di dalam hati. Ah, waktu itu, kapan tibanya?

Entah, mengapa kaki ini berat dilangkahkan, sedangkan rindu di dada sudah membuncah tak karuan, ketika menaiki satu persatu anak tangga yang mengantarkan ke ruang utama, memasuki pintu yang menghubungkan ke ruang cahaya, berorama mawar dan gaharu yang mahal harganya. Ruang yang berkah itu disebut dengan ruang “Mâ Syâ Allâh“. Entah, mungkin karena di atas pintu masuk terdapat pigura bertuliskan lafadz tersebut, ataukah ada makna lain yang menyimpan rahasia. Ada bias aura di dalam sana, Penulis merasakan itu, ya sangat kuat diri ini sekali merasakannya…

Assalâmu’alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh!”

Di depan pintu kamar, dengan suara bergetar Penulis memberanikan diri mengucapkannya. Ada suara khas berwibawa menjawab dari dalam, sangat berwibawa, namun terdengar begitu ramah. Penulis kikuk sambil mencari-cari asal suara tersebut, dan ternyata sosok berpakaian serba putih, berwajah tampan, berpostur besar, duduk di sebuah kursi berbalut kain serba hijau tua. Pandangannya menatap lekat ke arah Penulis.

Ah, pandangan itu, pandangan memesona yang telah diri ini rindukan bertahun-tahun silam, pandangan kekasih yang telah sekian lama terimpikan. Abuya…

Guru sejatiku, ajaranmu adalah denyut nadiku. Ketika aku melamarmu dengan kebodohanku, engkau menerimaku dengan kepandaianmu. Ketika aku melamarmu dengan kerendahanku, engkau menerimaku dengan kemuliaanmu. Dan ketika aku melamarmu dengan kerinduanku, engkau menerimaku dengan seribu cintamu. Guru sejatiku ajari aku tentang makna nafasmu agar hidupku berharga sepertimu. Engkau memelukku, aku dekat merapat kepadamu, engkau memangku kepalaku. Aku memasrahkan niat ke haribaanmu, lalu engkau membelai lembut janggutku, aku pun menatap mesra bersih wajahmu. Guru sejatiku, ajari aku mencinta dan dicinta. Tanganmu menggenggam erat tanganku, aku pun membalasnya dengan senyumku. Guru sejatiku, sungguh, ajarilah aku!”

Subhânallâh

Sungguh tak terbayangkan. Tak pantas rasanya Penulis yang kotor ini duduk berlutut di hadapannya, dan tiba-tiba tangannya yang mulia membimbing Penulis untuk lebih dekat lagi dengannya, lalu memeluk, mendekap erat tubuh yang hina ini, dan membiarkan kepala pecintanya ini berada di atas pangkuannya yang mulia, menciumi tubuhnya yang semerbak mewangi, menebarkan tidak hanya sekedar aroma lahiri, namun juga maknawi.

Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Mâlikî… sosok yang sangat dirindu, seorang kekasih sejati, kekasih Allah Rabb al-‘Izzati, yang diyakini sebagai wali terbesar dan mujtahid yang hadir di kurun ini. Sungguh tak berlebihan bila kami para pecintanya mencintai dengan sepenuh hati, karena hakikat wujudnya adalah bendera Allah yang mengibarkan syiar agama-Nya yang suci.

Hari-hari terakhir Bersama Abuya

Mentari pagi hangat menciumi bumi, langit Makkah begitu bersih, kicau nyanyian burung-burung Rushaifah terdengar merdu menyambut hari berganti, dan bunga-bunga berwarna ceria pun bermekaran di taman hati. Sejak ketika itulah tanah pasir bernama Rushaifah, rumah perkampungan yang menawarkan kedamaian bagi jiwa nan lelah, setiap nafas menjadi lebih berarti, seperti kata demi kata yang terangkai dalam sebuah puisi.

Qul, katakan dengan kalimat benar, yang dirangkai dari kata-kata pilihan, pada deretan huruf-huruf indah, dan suarakan dengan bersih, dengan semangat membakar. Hâdzihi, inilah, tepat disini, di dalam hati, di detak jantung, di denyut nadi, dialirkan pikiran, diolah jiwa, digerakkan badan. Sabîlî, jalanku ini, pilihan hari-hari yang lahir dari rahim musim berganti, dalam pergantian waktu, dalam perubahan sejarah, bergerak seperti tulisan yang mencatat keyakinan, melangkahi setiap keraguan.”

Inilah hari-hari saatnya tanamkan biji maknawi dalam kehidupan kami, untuk menjadi akar, tunas, batang, dahan, ranting dan daun, hingga menjadi buah yang memberkahi. Bila suatu saat nanti menjadi kering menguning, jatuh berguguran ke bumi, maka yang tersisa hanyalah biji maknawi untuk ditanam kembali.

Ketika menjadi akar, itu berarti saatnya menyerap air jernih ketulusan, agar meresap ke dalam jiwa makna bening setiap hasrat tujuan. Ketika menjadi tunas, itu berarti saatnya menghirup udara bersih kesadaran, agar tersimpan seluruh tekad

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: