Pengakuan Cinta 3

Prinsip yang lahir dari iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in dapat mengantarkan kita kepada kepada kesadaran (yaqodhoh). Kemudian kesadaran itu akan membuka mata bathin (bashiroh). Mata batin ini diperoleh dari limpahan cahaya ilahi.Sedangkan penglihatan mata bathin akan bekerja sebagai penjernih diri dari setiap kekeruhan,kekalutan dan kebingungan yang terjadi.Ia berasal dari pancaran imana yang diyakini, menembus tabir dimensi manusiawi (kasyf).Ia juga diperoleh dari proses kontemplasi,tafakkur atau tadabbur akan keajaiban penciptaan alam semesta (‘iyan).

Dan penglihatan mata batin di atas, akan menyusul kemudian adanya kemauan (irodah) sebagai hasil dari proses kontemplasi yang terjadi pada saat, atau sesudahbashiroh tersebut. Setelah itu disusul pula munculnya tekad yang kuat (‘azam) sebagai spirit bagi perjalanan ruhani kita selanjutnya. Hingga tergeraklah jiwa raga ini menuju jalan yang lurus, shirothol mustaqim, dan inilah yang disebut dengan qoshd.
Diantara sela waktu berlangsungnya qoshd, biasanya akan menghadirkan buah pikiran yang mengoreksi diri. Hal ini dikenal dengan istilah muhasabah.Perannya sangat penting sebagai lat pengontrol qoshd yang sedang berlangsung, agar tidak salah arah hingga menjadi sebab terjadinya futur (lemahnya semangat) ditengah jalan.Karena itu senantiasalah kita berdo’a ihdinash shirothol mustaqim, sirothol ladzina an’ amta alayhim, ghoiril maghlubi ‘alayhim wa ladl dlolin.
Akhi fillah, Ukhti Fillah ! Sampai di sini, jujur rasanya semua masih jauh dari kondisi batin kita. Keadaan jiwa masih saja tak menentu, berada diantara racun dalam lemak yang menjangkiti tubuh. Kita masih menurutkan syhawat dalam hati dan jiwa. Meski demikian tetaplah berkata bahwa , “Sungguh aku adalah seorang pencinta.” Katakanlah , karena kita berharap adanya setetes kebeningan obsesi yang perlahan mengaliri kerontang jiwa untuk bertaubat, kembali kepad Alloh, walau setetes saja!
Dengan bertaubat berarti kita telah mengarahkan perjalanan ini menuju Alloh, benar-benar menuju Alloh Ta’ala.Dan dengan bertaubat kita dapat menyatukan dua titik tumpu, sinergi muhasabah dan khouf. diharapkan dari kekautan dua sinergi ini, muncul kemudian energi cinta. energi yang dibutuhkan setiap mukmin, yaitu setiap orang yang menyatakan kesetiaannya dan memasrahkan kehendak dirinya kepad kehendak Alloh.
Cinta memiliki ragam kualitas yang bertingkat.Pertama adalah ‘Alaqoh, disebut demikian sebagai gambaran atas kondisi bathin, yang saat itu hati sedang terhubung oleh iktan cinta dengan Sang Kekasih. Kedua adalah Irodah, yaitu kecendurungan dan keinginan hati kepada Sang Kekasih. Ketiga adalah shobabah, yaitu kerinduan hati kepada Sang Kekasih laksana tertuangnya air ke tempat yang lebih rendah.Keempat adalah ghorom, yaitu cinta yang begitu lekat di hati, tak dapat terpisahkan darinya. Cintanya menyala-nyal, disebut demikian sebagai gambaran kedekatan hati dengan sang kekasih laksana dekatnya orang yang berhutangkepad orang yang berpiutang. Kelima adalah widad, yaitu kemurnian dalam mencintai Sang kekasih. Keenam adalah syaghof, yaitu puncak luapan cinta. Ketujuh adalah ‘Isyq yaitu cinta yang teramat sangat, cinta yang melampaui batas. Kata ‘isyq berasal dari akar kata ‘asyaqoh, yakni sejenis tumbuh-tumbuhan yang melilit. Maka orang yang cinta melampaui batas diumpamakan lilitan tersebut kepada timbuhan, pohon, atau benda lain yang dililitnya.Kedelapan adalh tatayyum, yaitu menghambakan dan menghinakan diri, perasaan cintanya yang membuat demikian.Kesembilan adalah ta’abbud, yaitu penghambaan diri, posisi lebih tinggi dari tatayyum tadi. Penghambaan yang dimaksud di sini adalah kebebasan dan kemerdekaannya telah dimiliki penuh oleh Sang Kekasih, sehingga ia merasa tak memiliki suatu apapun pada dirinya, lahir maupun batin. Inilah cinta yang kamil, sempurna. Dan yang kesepuluh adalah khullah, yaitu persahabatan sejati yang mengikat ruh pecinta dan hatinya bagi sang kekasih, sehingga tak sejengkalpun di sana ada tempat bagi yang lain.
Akhi fillah, ukhti fillah! Dimanakah kita dari ragam kaulitas cinta yang sepuluh itu, meski hanya satu? malu rasanya bila mengaku sebagai seorang pecinta, namun tak satupun kualitas cinta yang ada hadir dalam diri, dalam jiwa, mengikuti hirup hembus napas, menjadi aliran darah dan hati kita. Lalu apa yang seharusnya dilakukan?
Maka bismillah, mulailah dengan keikhlasan, insafi diri dengan taubat, atau setidaknya berkhayallah untuk meraih cinta sejati.karena mungkin suatu hari mimpi menjadi kenyataan. Berdo’alah sebagaimana kalimah yang pernah diucapkan oleh Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi dalam munajatnya :

“Sesungguhnya aku bersaksi kepada-Mu, kepada malaikat-malaikat-Mu, dan kepada pembawa ‘arsy-Mu, bahwa aku mencintai-Mu dan mencintai kekasih ini (baginda Muhammad SAW).Karena cinta-MU. BIla aku benar dengan apa yang telah kuakui, maka kebenaran itu adalah Kekasih-Mu.Namun bila apa yang telah kusebut itu hanyalah menjadi khayalan bagiku, kumohon kepada Engkau ya Alloh, engkau jadikan khayalan ini jadi nyata, yang menjadi sebab diriku menyusul bersama orang-orang yang benar. Wahai sebaik-baik Dzat Penyayang diantara para penyayang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: