Pengakuan Cinta 2

Akhi fillah, ukhti fillah ! Sebenarnya ada yang sangat mengkhawatirkan bila kita hnya mampu mengaku sebagai pecinta sejati, namun syahwat masih saja kita turuti. Kekhawatiran itu adalh predikta kemunafikan yang akan distempel pada lembaran jiwa dan hati kita. Mohonlah perlindungan kepada Allah dari hal yang demikian. na’udzu billah min dzalik !Dan berdoalah sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi SAW allahumma alhimni rusydi wa a’udzubika min syarri nafsi!
dari mana kita harus memulai. Bila kenyataan masih saja seperti ini? dari mana kita harus melangkahkan jiwa raga ini? Bukankah kita meski bergerak, karena diam berarti mati?!
Bismillah, mulailah dari keikhlasan, ikhlas karena dzat yang disembah. Dengan ikhlas kita dapat merealisasikan makna iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in yang telah diucapkan. Sedangkan realisasi iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in merupakan obat penyakit hati dan motivasi. Rangkaina kalimta ini terdiri dari bagian yang tak boleh dipisahkan. Bagian yang pertama adalah hak Tuhan dan bagian kedua adalah hak hambanya, iyyaka na’budu adalah milik Allah, sedangkan iyyaka nasta’in adalah milik hamba-Nya.
Keikhlasan haruslah tumbuh dari biji tauhid. Timbuh dari dua kalimat syahadat, Laa Ilaaha Illalah Muhammad-ur Rosullulloh. Ikhlas keran mentauhidkan Alloh, dan ikhlas sesuai ajaran Rasululloh.Pahamilah, letakkan setiap maknanya di dalam kalbu, jadikanlah ia bersama ucapan lisan dan kalbu, bersama perbuatan badan juga kalbu. Maka rasakan dengan pasti, ketika gumpalan-gumpalan kemunafikan menjadi luntur, jatuh tinggalkan kalbu (semoga saja, Amin!)
Ketika ucapan lisan dan kalbu dihadirkan dengan keikhlasan. Kemudian perbuatan badan dan kalbu juga dipersembahkan dengan keikhlasan, maka kalimat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in menjadi lebih bermakna, lebih nyata atau lebih hidup. iyyaka na’budu menyembuhkan penyakit riya’ dan iyyaka nasta’in menyembuhkan penyakit takabbur dan congkak. iyyaka na’budu adalah ibadah dan iyyaka nasta’in adalah isti’anah (permintaan tolong). Ibadah di dahulukan oleh isti’anah, karena ia merupakan tujuan seorang hamba, sedangkan isti’anah hanyalah media yang menyampaikan ke tujuan yang didamba ( lihat Madaarij al-salikin Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah Juz I hal. 51 , Dar al-Hadits, Cairo).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: