Jembatan Suramadu hampir selesai, Dampak sosial keagamaan bagi masyarakat Madura yang Agamis

Jembatan Suramadu yang pertama kali direncanakan tahun 202, kemudian mengalami proses pasang surut. Pada tanggal 1 April 2009 jam 23.30. sudah mulai terpasang main spain (bentang tengah). ini merupakan kali pertama dalan sejarah, kedua pulau tersebut, yaitu : Jawa dan Madura terhubung. Jembatan Suramadu yang memiliki total panjang 20,9 km (jembatan dan dua jalan akses), berukuran lebar 30 meter (2×15 meter). Jembatannya sendiri memiliki panjang 5,4 km. Kemungkinan, Insyallah tanggal 12 Juni mendatang pembangunannya kan tuntas dan diresmikan. Kita tinggal menghitung jari, kurang lebih 70 hari lagi. Jembatan tersebut diprediksikan akan bertahan sampai 100 (seratus) tahun. Dengna terbangunnya jembatan Suramadu, Jalur transportasi dan distribusi semakin lancar dan tidak akan mengalami kemacetan lalu lintas seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika terjadi arus mudik atau arus balik lebaran (hari raya Idul Fitri). Ditinjau dari segi Ekonomi dan teknologi Industri , pembangunan pabrik-pabrik Industri atau proses industrilisasi di pulau Madura semakin berkembang dan meningkat. Setiap orang asing  atau orang dari luar pulau Madura akan lebih mudah berlalu lalang memasuki pulau Garam tersebut. Akan tetapi pembangunan jembatan Suramadu akan memiliki dampak negatif dalam sosial, budaya dan keagamaan  bagi masyarakat madura yang dikenal sebagai kaum santri dan agamis. Proses Industrilisasi dan pembangunan objek-objek wisata akan semakin ditingkatkan dan berkembang. Dampaknya budaya-budaya prostitusi (pelacuran) akan mudah memasuki pulau tersebut dengan seiring terhubungnya pulau Jawa dan Madura melalui jembatan Suramadu. Selain itu, proses masuknya budaya-budaya Barat semakin meningkat melalui kunjungan-kunjungan wisatawan asing dari mancanegara, sehingga terjadi percampuran dan benturan budaya orang Madura yang agamis dengan budaya Barat yang liberal dan bebas. Akibatnya nilai-nilai budaya ISlam dan norma-norma kesusilaan  atau akhlaqul-Karimah mengalami degradasi atau penurunan dalam pengamalannya. Terjadinya degradasi moralitas mengarah kepada perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih konsumtif dan materialistik di daerah-daerah industri dan obajek-objek wisata di pulau Madura. Maka sebelum terjadi proses degradasi akhlak yang semakin parah, sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban bagi para da’I baik dari kalangan Ulama, cendikiawan Muslim, penulis dan penyair Islam serta tokoh masyarakat untuk mengantisipasi dan melakukan penetrasi atau memberikan  imun (daya kekebalan) bagi masyarakat Madura yang agamis terhadap budaya -budaya yang akan merusak nilai-nilai sosial budaya dan keagamaan di pulau tersebut. Peranan aktif dari para da’i tersebut untuk membentengi ummat dari serangan budaya-budaya yang negatif  dan merusak moralitas dengan cara meningkatkan ukhuwah al-Islamiyyah (persaudaraan Islam) , kepedulian terhadap sesama muslim. Seharusnya mereka tidak ikut terjun ke dalam dunia politik, berebut kursi-kursi jabatan dan kekuasaan. Efeknya krisis ketidakpercayaan dan sikap apatis ummat terhadap para da’i semakin meningkat karena citra buruk yang diperbuat oleh sebagian oknum dari mereka. Sangat ironis sekali, Namun Hal ini adalah fakta yang telah terjadi dalam masyarakat Madura yang agamis. Adapun solusi untuk meminimalisir (memperkecil) kerusakan moral dan budaya keagamaan dalam masyarakat madura yang agamis adalah kesadaran dari para da’i terutama para ulama dan tokoh masyarakat untuk mengisi kembali kursi-kursi yang telah ditelantarkan sebagai penegak amar-ma’ruf nahi munkar, pengayom dan pembimbing ummat ke jalan yang benar seperti yang telah dikerjakan oleh para ulama Salafus-sholeh. Kesadaran tersebut timbul dari setiap hati nurani yang mau mendengar dan menerima kebenaran dan hidayah, yaitu : hati yang bersih dari penyakit-penyakit hati. Mungkin hanya orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah SWT yang dapat menerimanya. Kedua, Media penyebaran dakwah lebih diperlebar dan diperluas jangkauannya secara intensif dan kontinyu (istiqomah) baik dakwah bil-Lisan, dakwah bil-Hal, maupun dakwah bil-Qolam. Ketiga,  Peranan setiap kepala keluarga (rumah tangga) untuk membimbing dan mengajak setiap anggota keluarganya untuk memperhatikan dan mepergunakan moral dan akhlaqul-Karimah dalam moralitas Islam termasuk tugas dan warisan yang selalu diamanatkan oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam kepada para pewaris dan ummatnya untuk menjaganya : ” Bu’itstu li Utammima makarimal-akhlak “. “Saya diutus tiada lain untuk menyempurnakan akhlak.” Tulisan ini sekedar untuk  wacana dan pandangan dari penulis mengenai prospek sosial-keagamaan yang akan menimpa masayarakat Madura yang agamis, ketiak proses industrilisasi terjadi di pulau tersebut. Bagaimana tanggapan dan pendapat Anda mengenai wacana? Wallahu A’lam.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: